1. Setapak Jalan Suram
Sunyi, hening dan sepi. Gelap gulita tak satupun nampak sinar bercahaya yang menerangi jalan setapak itu, termasuk bintang dan bulanpun tak bersahabat di malam yang menyedihkan bagiku. Kenapa? Karena cuaca mendung tebal telah menyelimuti jagad selama kurang lebih satu bulan berlalu. Yang ada hanya suara jangkrik, katak dan kedipan lampu kunang-kunang di sela-sela pepohonan dalam hutan lebat. “Bress...” suara hujan turun dengan lebatnya disaat aku, ibu dan ayahku detik pertama kali menginjakkan setapak jalan kecil itu demi menuju suatu desa, hanya dengan sepeda ontel, ya, sepeda ontel kesayangan ayahku. Anggap saja sepeda itu adalah jimat kehidupan satu-satunya milik ayah.
Jalan itu tak nampak indah selayaknya jalan desa yang terletak diperkotaan saat ini. Jalan itu suram bagiku, sangat suram. Di kanan-kiri jalan itu dihiasi hutan belantara yang berdiri pohon-pohon besar, dan di bawahnya tumbuh lebat ranting-ranting yang membuat hutan itu nampak makin suram dan sangar ketika malam tiba. Sekali lagi saya beritahukan, hutan belantara itu terletak di kanan-kiri sepanjang jalan setapak untuk menuju suatu desa. Tak ada lagi jalan lain untuk menuju desa itu, tidak ada jalan lain, hanya jalan itu lah satu-satunya jalan utama. “Kok peteng ndedet ngeneki to mas?” , tanya ibuku pada sang ayah karena ketakutan. “La piye meneh to dek, gak enek dalan liyo” , jawab ayahku dengan nada yang sedang kasihan melihat aku dan ibuku yang dibonceng sepeda ontelnya. Aku yakin, di batin ayahku dia tidak tega melihat kami berdua yang dirasanya mungkin kurang bahagia, namun bagaimanapun juga, ayahku adalah kepala rumah tangga yang patut kubanggakan. Aku, yang dibonceng dengan posisi terjepit di tengah-tengah ayah dan ibu. Posisiku berdiri di boncengan sepeda itu, karena memang sudah menjadi kebiasaanku ketika dibonceng ayah naik sepeda, aku selalu berdiri di belakang, aku tidak suka duduk kecuali ada alasan yang kuat untuk membuatku duduk diboncengnya.
Akhirnya, ditengah-tengah hutan belantara, di tengah suasana gelap gulita, dibawah hujan lebat, “aaa...mae...pa’e...!” , mulutku menjerit tak karuan memanggil nama ayah dan ibuku. Karena ada kelebatan hitam yang melintas di depan mukaku tepat, bahkan hampir saja kelebatan itu menyambar mukaku yang sedang berdiri di boncengan sepeda ayah. Kontan, karena saking terkejutnya ayahku membanting setir sepeda yang sedang dijalankannya. Akhirnya kami bertiga terjatuh di pinggiran jalan setapak itu. Aku terplanting megikuti kemana ibuku terbuang dari sepeda, karena reflek ibuku sempat langsung mendekap aku disaat aku teriak tadi. Sedangkan ayahku, ayahku melesat jauh kedalam hutan dan jauh dari posisi sepedanya. “Enek opo lo le...?”. Yang aku sangat bangga pada ayahku disaat itu adalah, ketika setelah jatuh ayahku tidak mengurus bagaimana kondisinya dan bagaimana sepedanya, namun spontan yang pertama kali dia datangi adalah aku, ya, akulah yang pertama kali di introgasi tentang ada apa tadi, bagaimana kondisiku dan lain sebagainya. Baru kemudian dia tanya bagaimana keadaan istri tercintanya, ibuku.
Aku sempat beberapa menit tak sadarkan diri, pandanganku kosong entah apa yang aku pikirkan saat itu, mataku terbuka lebar tak ubahnya seseorang yang sedang kesurupan. Aku tahu dan mendengar apa yang ditanya ayah padaku, begitu juga aku mendengar apa yang dibicarakan ayah pada ibu yang sedang kebingungan atas kejadian yang menimpa diriku. Namun aku tak kuasa berbuat apa-apa, termasuk manjawab dan menjelaskan pada ayah-ibuku tentang kejadian yang menyebabkan aku berteriak dan akhirnya kami terjatuh. Aku berada di dekapan ibu yang sedang menutupi wajahku, dengan maksud menghalangi jatuhnya air hujan di mataku yang sedang tak mampu kukedipkan. Sedangkan ayahku sedang bingung membuka bontrotan untuk mengambil tutup wadah makanan guna menadah air untuk diminumkan padaku.
Kejadian itu berjalan hanya beberapa saat, ya, beberapa saat namun membuat kedua orang tuaku kebingungan tak karuan. Mungkin disitulah letak jati diri seorang ayah dan ibu terhadap anaknya, yang kata ibu disaat mengudangku ketika masih kecil “kontol geong-kontol geong...cok lek gede pintel cekulah...! ico ngopeni wong tuwek mamak kalo bapak...” . Intinya, bahwa kasih sayang kedua orang tua tidaklah mampu diukur dengan harta dan benda apapun, kecuali dengan pengertian sang anak yang diberikan kepada orang tua ketika mereka sudah usia lanjut. Karena anaklah pangkuan dan sandaran hidup kedua orang tua ketika usia tua tiba. Itu pitutur yang selalu disampaikan ibu padaku. Makasih ibu.
Lalu beberapa saat kemudian aku sadar dari kejadian itu, tak ada hal lain yang kulakukan kecuali mendekap erat tubuh ibu, dan kami berduapun akhirnya saling mendekap. Aku melihat kedua mata ibu meneteskan air mata yang aku sendiri waktu itu tidak tahu apa arti tetesan air mata itu. Mungkin itu air mata kebahagiaan karena aku telah sadarkan diri, atau juga itu air mata berarti kesedihan melihat petualangan perjalanan kami bertiga, demi menyusuri suatu desa yang belum pernah kutemui, begitu pula dengan ibuku. Jangankan kulihat sebelumnya desa itu, untuk mengetahui nama desanya saja belum. Tangisan ibuku tak begitu kuhiraukan, karena dalam usia itu aku belum paham akan makna sebuah pengalaman. Yang kutahu setelah aku sadar adalah ketakukan karena kami berada dalam jalan setapak yang dikelilingi hutan belantara, gelap gulita dan di bawah deras hujan yang tak mungkin kami tebak kapan redanya. Ah...suasana yang seakan benar-benar tak bernyawa saat itu.
Setelah sesaat aku mendekap ibu, baru kemudia hati merasa benar-benar sadar dan merasakan ketenangan, meskipun kami bertiga sedang berada di sebatang pohon besar yang menjadi bagian dari penghuni hutan belantara itu dan sekaligus mampu membuat kami bersandar sesaat. Entah apa yang tersembunyi di balik dekapan sang ibu, sehingga selalu membuat segalanya jadi tenang. Wallaa hua’lam (hanya Allah yang tahu). Kemudian muncul suara dari bibir ayahku “enek opo lo mau le?”, tanya ayah padaku. Kemudian baru aku diam sejenak untuk tidak menjawab pertanyaan ayahku. Waktu sejenak itu kugunakan untuk mengatur dari mana aku mengingat segalanya dan dari mana pula aku harus mengawali mulutku berucap. “Enek lowo lewat ngarepku pas lopak, dadi’e aku kaget” , jawabku menjelaskan pada ayah dan ibuku. Yah, akhirnya mereka berdua menarik napas panjang-panjang setelah mendengar penjelasan dariku. Namun tak sedikitpun mereka kecewa, karena mereka berdua paham akan situasi dan kondisi saat itu. Tapi aku yakin, di dalam hati mereka berdua ingin tertawa lepas, selepas-lepasnya. Karena hanya kelelawar yang melintas di depanku mampu membuat semua jadi tegang.
Padahal, sebelumnya ayah sudah memberi sedikit penjelasan kepada ibu, bahwa mungkin saya terkejut saja melihat sesuatu hewan yang melintas di depanku. Sekaligus penjelasan itu sebagai penghibur ibu agar tidak panik akan situasi yang menimpa. Namun ibu setengah mengelak dan tidak percaya, karena ibu percaya akan insting anak kecil seusia saya. Ibu menganggap bahwa sesuatu yang dilihat dan dirasakan oleh seorang anak adalah mayoritas benar dan kenyataan. Semisal, adanya makhluk halus yang melitas disekitar anak kecil yang tidak dapat dilihat oleh orang dewasa, namun dapat dirasakan oleh anak kecil tersebut. Itulah pemahaman ibu akan suatu hal yang menimpa saya saat itu. Namun, sekali lagi saya katakan, bahwa kasih sayang orang tua sangatlah berat dan mahal harganya. Meskipun kelelawar penyebab segalanya, namun kekhawatiran orang tua tetaplah tercurah untuk sang anak.
Jalan setapak, selain jalan ini gelap tanpa sebutir cahaya lampu, mengerikan dikarenakan kanan-kiri jalan ini hanya hutan belantara, begitu susah dilewati sebab jalan yang belum ber-aspal dan belum ber-koral tetapi murni tanah merah yang membuat jalan ini sangat licin ketika turun hujan. Jauhnyapun berjarak kurang lebih empat sampai lima kilometer dari jalan lintas kota sampai pada desa yang akan kami tuju. Yah, empat sampai lima kilo meter panjang jalan setapak yang mengerikan itu. Ditambah lagi suara hewan penghuni hutan itu pastinya yang selalu mengumbar suaranya; kera yang bergelantungan di sisi bibir jalan yang kami telusuri, babi dan harimau yang selalu melintas di jalan yang kami tempuh. Itu masih hewan yang kami temui disaat kami lewat, belum lagi yang berada di dalam hutan yang belum sempat menyapa kami bertiga dimalam itu.
2. Bumi Agung (Umbol Mutong)
Waktu itu tahun 1989, sayangnya telah kulupakan tanggal, hari dan bulannya. Usiaku katika itu katakanlah lima tahun, yah, lima tahun dan tak lebih bahkan kurang dari lima tahun. Awalnya panjang, kenapa kami bertiga harus menyusuri jalan setapak yang mengerikan itu untuk menyusuri sebuah desa yang belum kukenal. Hanya ayah yang tahu sekilas tentang desa yang akan kami tuju. Dan panjang pula kenapa kisah ini harus menyedihkan, terutama buat sang ayah yang harus mengayun sepedanya menempuh sekian jauh perjalanan dengan memboncengkan kami bedua; aku dan ibu. Namun apa boleh buat, semua ini demi menyambung hidup keluarga kami. Demi mendapatkan tempat tinggal yang nyaman dan sejahtera buat kami bertiga. Begitulah sedikit kabar yang kudengar samar-samar dari perbincangan ayah dengan sang ibu. Secara tidak sadar aku mendengar perbincangan itu dan terekam sampai sekarang, dan mungkin takkan bisa hilang dari ingatanku. Sampai kapanpun.
Biasalah, pemahaman orang kebanyakan tidak menyadari bahwa daya kekuatan rekam seorang anak sebenarnya sungguh begitu kuat. Begitu pula yang kupahami dengan kedua orang tuaku waktu itu. Mungkin aku hanya dianggap anak kecil yang tidak perlu tahu dan mungkin aku dianggap belum menerima apa yang ayah dan ibu bicarakan. Namun semua itu banyak hikmahnya untukku.
Bumi Agung, dulu tahun 1988 adalah sebuah desa yang belum terjamah oleh lampu listrik, anggap saja orang menyebut desa tanpa PLN. Hanya saja, desa ini tetap nampak ramai oleh deru kendaraan mobil dan motor. Karena Bumi Agung adalah desa yang sangat bersentuhan dengan jalan raya, jalan Lintas Timur. Yaitu jalan yang menjadi jalur utama untuk mobil perjalanan lintas profinsi (Jawa-Sumatra). Bumi Agung kota yang bertetangga dengan kota Tugu Mulyo. Perbedaannya dengan sekarang adalah, bahwa jalannya yang dulu hancur dan belum dibangun dengan baik, sekarang telah megalami kemajuan pesat. Begitupun dengan jumlah penduduk yang dulu masih terhitung sedikit sekarang telah padat dengan pendatang dari berbagai penjuru. Begitu juga dengan semakin banyaknya bangunan yang berdiri di desa itu. Bukan suatu hal yang aneh dan patut dibanggakan, justru menjadi hal yang wajar dan memang harus menjadi kewajiban kalau suatu wilayah harus mengalami peningkatan; baik dari segi moral, ekonomi, pembangunan dan kebudayaan.
Tak perlu panjang saya menceritakan profil dan perkembangan desa Bumi Agung, yang jelas, Bumi Agung sekarang bukan lagi desa. Namun telah menjadi kota yang ramai penduduk dan kendaraan. Hampir mendekati kota-kota besar seperti Ibu kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya yang pengap dengan kehidupan penuh polusi. Silahkan, bayangkan sendiri.
Yang paling penting bagi saya dan akan tertorehkan disini adalah, bahwa saya berhutang budi pada Bumi Agung. Bahkan mungkin kedua orang tuaku merasa berhutang budi pula pada desa itu. Hutang yang tak tahu harus dibayar dengan apa. Karena di tempat itulah bertemunya ayah dan ibuku, ditempat itulah berakhirnya perjalanan dunia lelaki preman yang menjadi pelarian dari kota Air Hitam, Fajar Bulan, Lampung Barat. Ayahku si mantan preman. Di Bumi Agung pulalah aku dilahirkan untuk menatap dunia yang asyik penuh fenomena ini, benar-benar asyik dan menyenangkan. Selama kurang lebih lima tahun ayahku tinggal di Bumi Agung ini bersama ibuku.
Singkat cerita, setelah ayah dan ibuku dipertemukan oleh Tuhan yang Maha Esa, tak lama mereka berdua menjalin pacaran, dan mungkin orang dulu belum paham akan arti sebuah pacaran. Ha ha ha...! Namun mereka berdua langsung saja melanjutkan kisah perjalanan hidupnya dalam sebuah rumah tangga. Akhirnya, rumah tangga itu berjalan katakanlah harmonis. Karena setahun kemudian alhamdulillah lahirlah aku ke muka bumi ini. Ayah dan ibu dikaruniai aku. Gak tahu lah, mereka berdua senang atau tidak mendapatkan aku, karena kondisi wajah yang jelek, tubuh yang kecil dan pendek. Kalau aku sih selalu bersyukur dengan kondisi apapun. Tapi apapun itu, yang jelas orang tuaku pasti bangga mendapatkan aku. Buktinya, aku dididik hingga sekarang. He he he...! begitulah cerita yang kudengar dari sang ibu tentang perjalanan kisah cintanya.
Usiaku empat tahun kurang tiga bulan, diusiaku itu ayah mendapatkan informasi dari salah satu temannya, tentang desa yang akan kami tuju disaat kami melalui jalan setapak tadi. Namanya Pak Mul. Begitulah aku sering memanggilnya. Beliau adalah pemburu binatang buas, apapun itu jenisnya asalkan hasil buruannya laku dijual; babi, harimau, kera, kancil, kijang dan lain sebagainya.
Dari Pak Mul itulah ayahku tahu tentang keberadaan desa itu. Pak Mul pun tahu keberadaan desa itu dari petualangannya berburu binatang buas di desa yang akan kami tuju. Akhirnya, ayahku menyempatkan diri untuk ikut bersama Pak Mul berburu binatang buas di hutan dekat desa yang dimaksud.
Selang dua minggu dari ayahku survey lokasi bersama Pak Mul, tidak tunggu lama ayahku langsung berangkat menuju desa itu bersama aku dan ibuku dengan sepeda ontelnya. Bukan jarak dekat yang ditempuh kami bertiga untuk sampai pada desa yang akan kami tuju, seribu kilo meter. Yah, seribu kilometer ayahku harus mengayun sepeda ontelnya dengan memboncengkan kami berdua. Kalau kamu tahu tempat wisata Teluk Gelam, nah dekat situlah tujuan kami bersepeda, mulai dari Tugumulyo kota. Hanya dengan perbekalan nasi dan sayur untuk cukup kami makan di jalan. Tentunya, setiap satu jam perjalanan ayahku harus berhenti untuk sejenak mengistirahatkan kakinya yang tak henti-henti untuk mengayun sepedanya itu. Sepanjang jalan mulai dari Tugumulyo sampai Teluk Gelam bukanlah jalan yang dipenuhi dengan nuansa pedesaan ataupun perkotaan masa itu. Namun semua masih hutan belantara pula. Sungguh menyedihkan.
3. Ayahku Mantan Preman
Desa Air Hitam, Fajar Bulan, Lampung Barat. Di desa itulah pertama kali ayahku tinggal bersama kedua orang tuanya. Pedasaan yang benar-benar bernuansa pegunungan. Yah, benar-benar bernuansa pegunungan. Desa ini sama sekali belum dijangkau oleh lampu listrik, yang ada adalah ublik sebagai penerang rumah di malam hari. Rumah tempat tinggal ayahku adalah tepat sekali di bawah lereng gunung. Gunung yang benar-benar masih alami. Di puncak gunung tersebut, waktu itu masih hutan belantara yang seakan belum pernah dijamah oleh manusia. Hutan yang masih penuh dengan binatang bernama Gajah. Binatang itulah yang menghuni hutan itu, meskipun banyak binatang lain, namun gajah lah yang menjadi kekhawatiran warga setempat dan sekaligus berkuasa di hutan itu.
Cerita nyata tentang gajah di desa Air Hitam ini. Pernah suatu ketika, biasalah penebang hutan liar yang tidak mengerti nilai-nilai pemeliharaan alam. Demi kepuasan untuk mendapatkan uang, demi nafsu negatif manusia yang tidak tertahankan tanpa melihat sisi negatif yang bedampak pada orang lain. Akhirnya mereka menyusuri setapak demi setapak jalan menuju puncak bukit gunung itu, dengan maksud untuk menebang pohon-pohon besar yang tumbuh subur di puncak gunung. Entah, antara tahu dan tidak tahu, kalau di hutan itu masih dihuni ratusan bahkan ribuan gajah liar. Namun mereka nampaknya tam memperdulikan semua itu. Memang, keburukan yang termanaj mampu menghancur leburkan sebuah keyakinan yang benar.
Benar kata Pak Waris, seseorang setengah baya yang sempat menyapa para grombolan penebang hutan liar itu saat tadi mendaki bukit gunung yang mereka tuju, di kebun kopi milik Pak Waris. Kata Pak Waris pada grombolan itu, “awas lo kang, neng jeru alas kae jek akeh gajahe. Lek iso ojo nebang terlalu akeh” . “Iyo kang, Suwon” , jawab segrombolan penebang itu. Namun nampaknya mereka lupa atau memang tergiur dengan begitu banyaknya pohon besar, yang menurut mereka layak untuk di tebang dan menghasilkan banyak uang. Sehingga ucapan Pak Waris seakan hilang dari ingatannya.
Baru lima batang pohon besar yang usai mereka tebang, dengan menggunakan sejata andalannya, singso . “Aung...aung...!”, tiba-tiba ramai suara gajah yang nampaknya lebih dari ratusan. Gajah itu bubar. Namun anehnya, bukan bubar dan menyerang segrombolan penebang hutan tadi. Gajah itu justru turun dengan jumlah yang sekian banyak, bak pasukan gajah yang dikendalikan oleh tuannya untuk menyerang musuh-musuhnya. Siap menerkam dan membanting setiap mangsa yang ada di hadapannya. Ribuan pohon kopi warga setempat mutlak menjadi korban keganasan gajah itu. Mereka turun menuju warga setempat yang tepat sekali di bawah lereng gunung tersebut. Kehancuran dan kematian, sebagian warga yang masih memiliki sedikit kesempatan, kontan langsung mengungsikan diri menuju kota Fajar Bulan. Kocar-kacir dan porak-poranda. Itulah suasana desa Air Hitam saat diserbu pasukan gajah, termasuk keluarga ayahku salah satu korban pengungsian. Lalu tak tahu kemana kabar segrombolan penebang hutan tadi, warga Air Hitampun nampaknya kesal dan tak mau tahu tentang segrombolan itu. Mungkin do’a jelek yang keluar dari batin mereka. Semoga tidak.
Kembali pada profil desa Air Hitam, seperti yang saya katakan tadi, bahwa tepat di bawah lereng gunung itu adalah ladang sebagai penghasil ekonomi warga setempat. Kopi, itulah penghasil utama warga Air Hitam, termasuk keluarga ayahku. Tahu sendiri berapa harga kopi. Masa itu harga kopi adalah masa kejayaan, begitulah warga setempat bilang. Rp. 50.000-Rp. 60.000 adalah harga yang membuat orang dalam sekejab kaya mendadak.
Bujang, masa itu adalah masa bujang ayaku. Anggap saja masa kenakalan sang ayah. Musim panin kopi tiba, tentu saja warga setempat banyak duwit, dan barang isi rumahnya banyak yang baru. Si bujang (ayahku), bersama lima orang temannya berinisiatif untuk mencuri harta di desa tetangga. Semua strategi telah disusun sebaik mungkin, bagi tugas telah usai dibicarakan. Berbagai kemungkinan, baik dan buruk telah diperhitungkan. “Siap mati! Siap di user teko omah! Siap mlebu penjara!” , teriak lek To selaku komendan tertua dalam pasukan perampok kere ini pada ke-lima pasukannya itu. Semua menjawab dengan ucapan yang sama, termasuk ayahku.
Tugas; Tukiman bagian jaga pintu belakang, tugasnya memberikan tanda bahaya pada yang lain jika ada hal-hal mencuriakan dari arah belakang rumah sasaran. Lihen bagian jaga sisi kiri rumah target sasaran, tugasnya adalah memberikan tanda bahaya jika ada hal mencurigakan dari arah kiri rumah. Tarom bagian sisi kanan rumah, tugasnya memantau dan memberi kode bahaya yang datangnya dari sisi kanan. Lek To bagian yang beroperasi untuk masuk ke dalam rumah sasaran untuk mengambil seluruh barang berharga yang layak untuk di bawa. Bujang atau ayahku, yang namanya adalah Sari bagian pengawas di pintu gerbang besi tepat pintu masuk, yaitu memberikan kabar pada yang lain jika dari jalan besar nampak suatu hal yang mencurigakan.
Nampaknya adalah ayahku yang bertugas paling menentukan terkait adanya bahaya. Soalnya gerbang tempat ayahku jaga adalah gerbang yang sangat berdekatan dengan jalan lintas. Biasa dilalui warga yang bertugas ronda malam sekaligus sebagai jalan utama masyarakat berlalu lalang.
Tiga puluh menit operasi berlalu, tiba-tiba petugas ronda melintasi rumah yang sedang mereka berlima operasi. Konta si Sari terkejut setengah mati. Karena sebelumnya dia terlalu tegang mengintip suasana di dalam rumah yang sedang jadi sasaran. Yang ada dalam pikiran si Sari adalah antara berhasil dan gagal. Yang jelas dia panik. Sehingga sampai-sampai tak sempat untuk memperhatikan situasi sekelilingnya. Dia teledor. Yang dilakukannya bukan memberikan kode bahaya, teriak ada pasukan ronda ataupun kode lainnya yang membuat teman yang lain harus segera kabur dan meninggalkan rumah sasaran. Dia pikir tak ada waktu lagi untuk semua itu. Langsung saja si Sari ini kabur terbirit-birit meninggalkan rumah sasaran dan juga ke-empat rekannya yang lain. Ha ha ha...! dasar Pak Sari, payah! Akhirnya para peronda berteriak “maleng...! enek maleng...!” . Apapun alasannya, meskipun si Sari menjadi sasaran buruan paling utama para peronda, yang jelas dirinya selamat.
Lalu bagaimana dengan rekannya yang lain? Semua selamat, kecuali Lek To. Dia memang yang sedang berada pada situasi paling genting dan bahaya saat itu. Dia sedang berada dalam kamar dimana penghuni rumah sedang tidur. Mungkin uang yang akan menjadi sasaran Lek To. Namun sayang, teriakan “maling” tadi sempat membangunkan si penghuni rumah. Hingga membuat nasip Lek To apes. Akhirnya jeraji besi milik pak Polisi menjadi rumah sementaranya. Begitulah bagusnya lek To, dia tidak memberi tahu siapa saja rekan-rekannya. Apapun yang terjadi dan apapun yang akan dilakukan oleh pak Polisi. Eh, kok bagus to, berarti mendukung pencuri dong. Terserah lah, kalian mau menganggap itu bagus atau tidak.
Kejadian kriminal tersebut bukan hal pertama kali dilakukan oleh ayahku dan sahabatnya, namun entah berapa kali kejahatan serupa telah dilakukan sebelumnya. Namun cerita yang inilah yang menurutku menarik. Karena ada nuansa ngeri yang bercampur kejadian lucunya, bagiku. Tak hanya mencuri, namun perkelahian bukanlah menjadi hal yang asing bagi kehidupan ayahku waktu itu. Mungkin masalah kebranian dan kenekatan, pemuda jaman sekarang belum ada apa-apanya dibanding kenakalan pemuda pada masa ayahku dan teman-temannya. Lihat saja bagaimana kenakalan dan kebranian pemuda sekarang, mereka hanya mengandalkan kebranian teman-temannya. Tanpa teman mereka bungkam, ada teman mereka nampang. Begitulah ucapan yang pantas untuk kupersembahkan kepada pemuda yang nakal zaman ini.
Usai kejadian pencurian yang dilakukan ayahku dan teman-temanya itu, desa tempat tinggal ayahku selalu ramai didatangi banyak polisi, jelas mereka ingin menyelidiki gembong pelaku perampokkan yang terjadi di tetangga desa sebelah. Akhirnya, suasana itu membuat ayahku dan ke-tiga temannya tak nyenyak tinggal di desanya sendiri. Mereka memilih untuk memutuskan pergi dari desanya, mengungsi. Mereka ber-empat berpencar dan tak tahu kemana ke-tiga temannya itu pergi.
Yang jelas, si Sari terdampar di sebuah desa yang bernama Bumi Agung, ataupun warga setempat sering menyapanya Umbol Mutong. Aku sendiri tidak tahu kenapa nama Umbol Mutong itu sebegitu melekatnya dengan desa Bumi Agung. Susah sekarang untuk mencari orang yang mengetahui secara jelas asal muasal sebuah nama yang sebenarnya memiliki filosofis begitu dalam, begitu juga untuk mencari siapa pencipta nama itu, dan mengapa pula harus disebut Umbol Mutong. Yang kutahu dari ayah dan ibuku, tak lain bahwa nama itu juga sebutan dari orang-orang jawa yang kebetulan transmigrasi ke desa itu. Begitulah.
Sari, pemuda yang hidup sebatang kara. Maksudnya hidup mandiri tanpa biaya hidup dari kedua orang tuanya, bukan di tinggal kedua orang tuanya menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Dia harus mempelajari bagaimana skill menjahit pakaian, yang diselingi pula dengan bercocok tanam di sawah. Semua itu dia peajari bersama pemilik rumah yang dia ikuti. Yah, hidup ikut orang, begitulah. Tak lama kemudian, skill membuat pakaian dan bercocok tanam padi dan sayur-sayuran telah dia kuasai. Lalu, pemuda berdarah Banyuwangi ini memutuskan untuk mengenal lebih jauh tentang Wasinah. Wasinah, wanita berdarah Tulungagung, Jawa Timur dialah ibuku yang sekaligus menjadi sandaran hidup ayahku tentunya. Wanita berkulit hitam, gemuk dan tak karuan. Yah, begitulah sepasang suami istri yang sama-sama berbasis non pendidikan. Tak perlu kuceritakan kenapa mereka berdua tidak mengenyam bangku sekolah, pastinya kalian tahu sendirilah.
Sari dan Wasinah, yang juga ayah dan ibuku tercinta. Yang kurasakan, mereka berdua menjalani hidup itu hanya berdasarkan pengalaman hidupnya, mengalir bak air yang mengalir tanpa henti seakan tak memiliki tujuan, selalu berjalan berdasarkan logika. Logika pun yang tanpa didasari filsafat. Yah, jadinya begitulah. Namun hebat, mereka berdua benar-benar hebat.
Kembali ke ayahku seorang preman. Ayahku seorang perokok, dan juga bukan perokok. Jangan bingung. Ayahku akan merokok selama dia mampu untuk beli rokok sendiri; artinya, ayahku pantangan merokok dengan uang dari orang tuanya, dan juga pantangan merokok jika meminta rokok milik teman. “Mendingan rasah ngrokok le’ raiso tuku rokok” . Itulah prinsip perokok sejati, kata ayahku kini sambil senyum tanda meledek pemuda masa kini. Begitulah kata ayah. Karena masa-masa ini aku belum tercipta, namun sudah terdaftar dalam buku lauh makhfudz .
4. Di Mana Kami Harus Menumpang?
Desa Air Hitam sebagai tempat masa muda sekaligus kenakalan ayahku, desa Bumi Agung sebagai tempat bertemunya ayah dengan ibuku, semua telah kuceritakan. Kini kembali pada sebuah desa, desa yang akan kami susuri melalui setapak jalan suram. Setelah kejadian demi kejadian yang menimpa kami bertiga; aku, ayah dan ibuku di jalan setapak yang dikelilingi hutan, becek dan mengerikan sepanjang empat kilo meter. Akhirnya, kami menemukan satu rumah yang berdiri di tengah-tengah hutan. Yah, satu rumah tanpa teman di tengah-tengah hutan, hanya saja beridirnya rumah itu dipinggir jalan setapak yang kami lewati, sehingga kami dapat melihat dengan jelas adanya dirian rumah itu.
“Iki desone dek, dewe wes teko” , kata ayahku pada ibu. Sungguh, aku benar-benar tidak menyangka kalau kami bertiga sudah sampai pada desa yang dimaksud oleh ayah. Benar-benar itu bukan desa, itu hutan, hutan belantara yang pantas dihuni oleh para binatang buas. Aku kaget, bingung dan terheran-heran dengan kenyataan itu. Namun apa boleh buat, itu adalah sebuah kenyataan yang harus kami hadapi bertiga. Bukan untuk dielak, namun harus kami jalani. Mulanya aku dan ibu menganggap bahwa ayah sedang bercanda, bercanda sekedar untuk menghibur hati kami yang dari awal sangat begitu tegang, karena menempuh sepanjang jalan yang benar-benar tidak kami harapkan sebelumnya.
Tidak ada bedanya, antara sepanjang jalan setapak yang kami tempuh sebelumnya sepanjang empat kilo meter, dengan tempat yang kata ayahku adalah desa yang kami tuju. Karena aku masih tetap belum percaya. Suasana sama. Tempat itu hanya diramaikan dengan suara katak yang lagi asyik menikmati dinginnya suasana hujan di malam itu, jalan dan pinggiran hutan yang sesering mungkin dilalui hilir-mudiknya para binatang buas. Wah, benar-benar tidak berbeda dengan suasana sepanjang jalan yang kami susuri sebalumnya. Aku tidak merasakan perbedaan, sedikitpun.
Setelah dalam sekejab, namun otakku telah memutar sekian banyak pertanyaan; antara benar dan tidaknya kalau itu adalah sebuah desa. Hal yang tak jauh beda dengan apa yang ada dalam benak ibuku. Lalu, tiba-tiba ayah membelokkan setir sepedanya di rumah yang kami maksud tadi, rumah tanpa teman, hanya perteman dengan sepi, berteman dengan hutan, berteman dengan binatang. Begitulah. Dengan dibelokkannya setir sepeda ayahku ke rumah itu, sedikit, hanya sedikit dalam benakku untuk mempercayai bahwa kami bertiga telah sampai pada tujuan. Lama semakin lama setalah berbelokkan setir sepeda kami, bukan semakin keras laju sepeda, namun justru semakin pelan dan semakin pelan dan akhirnya sepeda ayah berhenti di sebelah kiri rumah itu. Rumah? Tak ku sangka kalau itu rumah. Serasa itu adalah kandang kambing milik orang jawa.
Maaf kawan Sumatera, ini bukan menghina. Tapi jujur, itulah pikiranku yang ada di usiaku yang dulu masih terlalu dini. Aku belum tahu apa arti dari tradisi dan adat sahabat setempat.
Bangunan yang semuanya terbuat dari kayu, atapnya dari daun ilalang, temboknya terbuat dari anyaman puron . Bangunan itu nampak klasik, benar-benar klasik. Sampingnya bertetangga dengan hutan yang masih murni hutan. Belum sedikitpun ada pohon besar yang rusak oleh tangan-tangan manusia jail. Bangunan panggung, bangunan yang disangga degan tujuh tiyang; depan dua tiyang, belakang dua tiyang dan tengah tiga tiyang. Yang serupa sekali dengan bangunan kandang kambing. Bentuk itulah yang membuat otak saya pribadi menganggap kalau itu adalah kandang kambing. Ternyata, memang begitulah adat bangunan warga pribumi, warga Pedamaran. Bagor , nama binatang yang menggonggong sebagai sambutan pertama kali buat kami bertiga. Gonggongan anjing itulah yang membuat pikiran saya lebih yakin kalau itu kandang kambing. Saya berfikir kalau anjing itu binatang yang digunakan untuk menjaga kambing pemiliknya.
Ternyata semuannya salah. Apa yang ada di pikiranku semua salah. Tak lama kemudian, ternyata keluar sesosok manusia dari arah pintu bangunan itu. Keluarnya orang itu, ternyata mampu meyakinkan pikiranku, bahwa bangunan itu memang benar-benar rumah, rumah sebagai tempat tinggal manusai, bukan kandang kambing. Sosok lelaki yang bertubuh tinggi, berpawakan kecil dan setengah baya. Dia keluar bukan karena melihat kedatangan kami bertiga, namun dia keluar karena mendengar gonggongan anjing peliharaan sekaligus kesayangannya itu. Namun aku yakin, dengan tanda gonggongan anjing itu, lelaki yang setengah baya dan kelihatan masih muda itu berfikir bahwa ada sesuatu di luar rumahnya. Karena anjing memiliki kepekaan yang kuat, akan adanya sesuatu yang manusai tidak ketahui. Begitulah.
Namanya Pak Ayup. Begitulah ayahku memanggil beliau. Pak ayup adalah penduduk pribumi. Di dalam hutan itu hanya berdiri satu rumah, milik Pak Ayup itulah. Beliau tinggal bersama empat kepala. Ditambah satu ibu Ayup selaku ibu rumah tanggan. Jadi enam dengan Pak Ayup sendiri selaku kepala rumah tangga. “Siapo?” , sapa Pak ayup sekaligus menanyakan siapa yang datang bertamu malam-malam di rumahnya, setelah beliau melihat sosok kami bertiga yang jelas pasti manusia, bukan hantu dan bukan binatang. “Ini aku Pak Ayup”, lanjut ayahku menjawab teguran pak Ayup agar tidak cepat-cepat dicurigai. Jangan salah, pak Ayup sudah keluar dengan mamegang parang panjang di tangan kanannya, orang setempat menamakan itu parang tebas. Parang yang biasa digunakan untuk menebas rawa. Karena situasi dan kondisi tempat tinggalnya itulah yang membuat pak Ayup harus selalu waspada dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
“Oe, kao Ri!” , sapanya lagi dengan memanggil nama akhir dari nama ayahku, Sari. Ayahku hanya menyambut suara itu dengan senyumannya yang tak begitu manis, mungkin karena capek. “Payo naik sini, masok ruma kito” , lanjutnya. “Iya pak, trimakasih”, jawab ayahku yang menggunakan bahasa Indonesia, karena memang ayahku asli Banyu Wangi, Jawa Timur. Jadi maklumlah, bisa dibilang memang belum menguasai bahasa daerah setempat. Kemudian kami bertiga mendaki satu demi satu tangga yang terbuat dari kayu, kayu yang masih utuh, bundar. Hanya kayu tersebut dikelupas kulitnya hingga nampak agak rapi. Setelah tangga demi tangga kami lalui, akhirnya sampailah kami pada teras rumah itu. Ternyat rumah panggung adat setempat juga dibuat teras tepat di depan pintu ruangan tamunya. Mungkin sebagai tempat bersantai ketika keluarga Pak Ayup ingin melepas lelah usai bekerja.
Lalu, kamipun menyusuri remang-remang ruangan tamu yang hanya diberi penerang lampu ublik. Lampu itupun mulanya digantungkan pada sebuah paku yang tertancapkan pada salah satu tiyang kayu sebagai pelekat anyaman dinding yang terbuat dari puron. Kemudian diturunkanlah lampu itu karena kedatangan kami, dengan maksud agar suasana nampak terlihat lebih terang dari sebelumnya. Sejenak kami sempurna memasuki ruangan tamu itu, tak lama kemudian Pak Ayup mempersilahkan kami bertiga duduk, lalu kamipun duduk. Tak lama kemudia, “Lok, ambi’ke aik buat tamu kito” , perintah Pak Ayup pada salah satu putri terbesarnya. Nama panjang dari panggilan itu adalah Golok Sos, sebenarnya bukan nama aslinya. Sarida Husnil, itulah nama sebenarnya. Golok Sos adalah nama panggilan yang biasa digunakan untuk anak pertama dari warga pribumi. Sitiap urutan dari anak warga setempat selalu memiliki nama panggilan tersendiri. Seperti Monde, yang aku sendiri tidak tahu siapa nama yang sebernya, yang jelas ada. Dan Monde adalah nama panggilan buat anak perempuan Pak Ayup yang nomer dua. Kemudian Cakok, adalah nama panggilan yang diberikan kepada anak lelaki pak ayup yang nomor tiga. Satu lagi, saya lupa siapa anak lelaki yang terakhir Pak Ayup.
“Wah, ternyata mereka berdua sudah saling mengenal”, pikirku dalam hati. Sebab, dari awal kami bertemu saja, antara ayah dan Pak Ayup sudah saling panggil namanya masing-masing. “Yo jelas”, bagitlah jawab ibu setelah apa yang ada dalam pikiranku saya tanyakan pada ibu. Ternyata, ketika ayah dan Pak Mul berburu binatang buruan dan sekaligus bermaksud men-survei tempat desa ini, mereka berdua sudah saling kenal dan sudah janjian kalau ayahku akan datang dalam waktu yang tidak lama dari pertemuannya dengan pak Ayup sewaktu dengan Pak Mul itu. Jadi maklum, kalau ayah dan pak Ayup sudah akrap dari awal. Kini tinggal ibuku yang harus mengakrabkan diri kepada keluarga mereka, termasuk apa yang harus dilakukan keluarga kami terhadap keluarga pak Ayup. Sedangkan posisi kami adalah sebagai penumpang yang harus korban perasaan dan mental untuk menghadapi semuanya
Baik, keluarga pak Ayup sangat baik. Meskipun kami dari begroun dan latar belakang yang sangat jauh berbeda, namun perbedaan situ serasa tak ada. Sedangkan putra-putri pak ayup, justru mereka merasa memiliki adik satu lagi, yaitu aku. aku yang masih berusia empat tahun kurang dikit, adalah usia paling kecil di rumah itu. Akupun tak begitu merasakan perbedaan yang begitu menyolok anatara kebiasaan keluarga kami dengan keluarga pak Ayup. Perbedaan dalam ukuran memberi garam, cabe, memotong bawang merah, bawang putih dan lain sebagainya yang terjadi di dapur antara ibu dengan crew perempuan di keluarga pak Ayup. Hanya itu mungkin yang sering terjadi perbedaan. Ah, hal biasa. Ibukupun sering heran melihat model masakan ala keluarga Pak Ayup, begitu pula sebaliknya dengan keluarga pak Ayup, mereka juga merasa aneh melihat masakan ala ibuku. Namun hal seperti itu tidak pernah dipermasalahkan sedikitpun antara keluarga kami berdua. Justru pengetahuan kami semakin bertambah. Kami berdua hidup harmonis.
5. Merintis Rumah Baru
Meskipun banyak orang bilang, kalau dua keluarga hidup menyatu, maka akan muncul permasalahan antara dua belah pihak. Namun tidak demikian yang terjadi pada keluarga kami dan keluarga Pak Ayup. Justru sebaliknya, kami hidup bersama tanpa konflik, sampai akhirnya keluarga kami mampu mendirikan tempat tinggal sendiri. Atas kebaikan Pak Ayup dan keluarganyalah kami dapat numpang di kediaman beliau. Kurang lebih satu bulan setengah. Waktu itulah yang kami gunakan untuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk dapat mendirikan sebuah gubuk kecil, di kampung halaman baru.
Disamping ayahku memantau tempat yang strategis guna mendirikan gubuk kami, atau rumah kecillah lebih pantasnya, namun sesempat mungkin juga ayah dan ibuku berusaha untuk membantu aktifitas keluarga pak Ayup dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Menyadap karet. Itulah penghasilan keluarga Pak Ayup dalam memenuhi segala kebutuhannya sehari-hari. Namun jangan dikira pohon karet yang disadap Pak Ayup dan keluarganya adalah kebun karet yang selayaknya kebun karet saat ini. Jika sekarang kebun karet sudah tersusun rapi dan bisa dibilang benar-benar kebun karet. Karakter kebun karet sekarang adalah; kebun luas sekitar satu, dua, tiga dan bahkan sampai puluhan haktar tanah perkebunan yang lapang, kemudian baru ditanami sekian ratus bahkan ribuan bibit karet. Sehingga murni dari ladang lapang tersebut penuh dengan pohon karet, dan tak ada tumbuhan lain selain karet. Namun lain halnya dengan pohon karet yang disadap oleh Pak Ayup dan keluarganya saat itu. Sudah kuceritakan dari awal, bahwa hutan sekaligus dikatakan oleh ayahku adalah sebuah desa itu, benar-benar masih murni hutan belantara. Namun di balik dari hakikat hutan tersebut memiliki jasa yang begitu berharga bagi kehidupan Pak Ayup sekeluarga. Di dalam hutan tersebut, tak hanya ditumbuhi oleh pepohonan biasa. Karet, adalah salah satu pohon yang ternyata tumbuh dengan subur di hutan itu. Karet alam, Begitulah orang bilang. Karena pohon karet tersebut tumbuh tanpa ditanam oleh tangan manusia, tapi murni dari tanaman alam. Tumbuh dengan sendirinya. Begitulah kira-kira.
Namun semua orang tahu, bahwa setiap tumbuhan yang hidup dengan sendirinya justru akan lebih baik berkembangannya, dibandingkan hasil tanaman manusia. Dan perlu diketahui, selama Pak Ayup mengambil keuntungan dari getah karet itu, tak sekalipun Pak Ayup menaburkan pupuk pada akar-akar pohon karet yang setiap harinya beliau ambil getahnya. Namun alam selalu memberi pupuk secara murni kepada pohon itu. Hebatnya, getah yang mengalir tak kunjung surut. Untuk mendapatkan sebatang pohon karet, keluarga Pak Ayup harus menelusuri semak-semak hutan belantara itu, guna mencari di mana pohon karet itu berada. Karena tumbuhnya pohon karet, bercampur baur dengan sekian juta pohon besar yang ada di dalam huta itu.
Selama ayah dan ibuku membantu aktifitas itu, meskipun mulanya tak seberapa kelihatan bekas dari pekerjaan orang tua kami, karena mereka harus belajar mulai dari nol. Tak begitu lama, tiga sampai empat hari aktifitas itu mampu dikuasai oleh kedua orang tuaku. Hingga bekas dari kerja mereka berdua dapat dilihat. Sungguh pengalaman kerja baru yang mengasyikkan bagi ayah dan ibukku, katanya.
Jelasnya, keluarga kami adalah keluarga yang terbentuk dari dua anak adam yang transmigrasi. Semua dari pulau Jawa, Jawa Timur tepatnya. Karena demi meraih penghasilan ekonomi yang dirasa mungkin akan lebih baik, akhirnya samapilah mereka pada damparan pulau Sumatera, tepatnya hutan rimba inilah kami harus tinggal, Pak Ayup sebagai sadaran hidup kami. Waktu-demi waktu, ditemukanlah se-petak tanah. Maaf, bukan se-petak tanah tepatnya, namun tetap hutan rimba. Hanya saja, menurut ayahku, hutan dibagian itulah yang tepat untuk didirikannya gubuk kami.
Suatu malam, lagi-lagi di kegelapan malam, keluargaku bersama keluarga Pak Ayup berada ditengah-tengah remang cayaha lembut yang dipancarkan oleh lampu ublek. Usai shalat Maghrib, usai makan malam bersama, diselingi obrolan santai oleh keluarga kami dan keluarga Pak Ayup, saat itu pula ayahku bermaksud membicarakan tentang lokasi yang menurut ayahku strategis untuk didirikan gubuk kecil bagi keluarga kami.
“O...bak itu Ri! Payo man ba’ itu. Man kami sekeluargo ni ngikut bae apa kato kao. Asak kau la mantap bae. Jangan gek la bediri rumah, laju kau tak betah...! man kao sekeluargo la mantap nian, payo secepatnyo bae kita bikin rumah tu. Biar kau tak segan-segan lagi samo keluargo kito. Yo dak!” , tanggapan pak ayup dan pastinya sekeluarga, dengan bahasa logat daerahnya, membuat aku selalu senang menatap dan menikmati gaya bahasa keluarga itu, yang menurutku masih terlalu asing dalam diriku. Tanggapan itu keluar dengan manisnya setelah ayahku mengungkap apa yang ada dalam benaknya. Aku tahu, mulanya pasti ayahku memendam rasa sungkan terhadap keluarga Pak Ayup. Karena, dalam sekilas ayahku seakan menyampaikan sesuatu yang hanya sekedar minta tanah milik keluarga Pak Ayup. Namun, itulah kenyataan. Tanah itu didapat ayahku tanpa mengulurkan sepeser uangpun dan kepada siapapun. Jadi, wajar saja kalau ayahku benar-benar bangga dan lega setelah mendapat respon demikian itu dari keluarga Pak Ayup.
Lalu paginya, benar-benar bagi masih buta ayahku sudah tiada lagi terlihat di kediaman Pak Ayup. Satupun dari kami semua tak ada yang mengetahui kemana ayahku pergi dan berada, termasuk Pak Ayup yang setiap harinya selalu bersama kemanapun pergi. Kami semua kebingungan, terlebih ibuku yang double bingung pastinya. Maklum, hidup sebagai seorang istri, tempat tinggal numpang, suami malah hilang. Sedangkan aku hanya bingung yang kuselingi dengan tangisan kecil karena takut kehilangan ayahku. Tangisanku malah membuat ibuku makin bingung, kalang kabut tak karuan. Namun aku tak peduli, karena aku tidak tahu. Namun di tengah kekhawatiran itu, ibuku tetap tidak meninggalkan aktifitasnya membantu keluarga Pak Ayup menyiapkan sarapan pagi. Pak Ayup, lagi-lagi Pak Ayup yang sibuk untuk menelusuri sela-sela hutan rimba, di tengah embun pagi yang menempel pada dedaunan hutan, guna mencari di mana ayahku berada.
“Tak-tok tak-tok tak-tok”, suara kayu yang ditebang (dipotong) oleh seseorang. Pak Ayup dengar suara itu, langsung saja beliau menuju di mana suara itu berada. Setelah ditemukan siapa penebang pohon itu, baru lega hati Pak Ayup. Ternyata penebang pohon itu adalah ayahku. “Aedah Ri...! kau tu la bikin anak bini kau khawatir bae. Sangkonyo kau kemano bae! Awak dak biasonyo kao ni pergi pagi-pagi nian” , teriak Pak Ayup yang sekaligus menyapa ayahku tiba-tiba dari arah belakang. Kontan, benar-benar terkejut dan hampir saja Pak Ayup dilempar golok oleh ayahku. Untung saja ayah langsung melihat bahwa yang datang menyapa adalah sahabat sejatinya. “Woe kak! Bikin kaget bae!” , lanjut ayahku setelah tahu siapa yang datang.
Yah, ternyata ayahku bermaksud untuk menyicil sedikit demi sedikit keperluan kayu untuk mendirikan gubuk kami. Karena, ayahku harus membagi waktu untuk membantu menyelesaikan aktifitas keluarga Pak Ayup. Pikir ayahku, setelah sarapan pagi dia harus tetap membantu melakukan pekerjaan keluarga Pak Ayup. Oleh seba itu ayahku harus mengumpulkan sedikit demi sedikit kayu untuk pendirian gubuk, meskipun harus mengorbankan waktu yang seharusnya untuk menikmati suasana dipagi hari, sambil menyruput secangkir kopi di serambi rumah panggung milik keluarga Pak Ayup.
Aku yakin, pasti karena senangnya ayahku akan telah didapatkan tempat untuk mendirikan gubuk, sehingga semalaman, sebelum tidur yang ada dalam pikiran ayahku adalah kebahagiaan dan bagaimana mengkonsep langkah selanjutnya. Itulah yang menyebabkan ayahku harus bekerja keras, rela menerjang hutan belantara yang mesih dipenuhi dengan embun-embun pagi.
6. Masa itu, Masa Pemerintahan Soeharto
Orang tua banyak bilang, “bahwa dari seluruh kepemimpinan yang ada di Indonesia, Negeri tercinta ini, tak lain adalah hanya kepemimpinan Bapak Soeharto yang bagus”. Begitulah bahan perbincangan yang sering terlontar dalam obrolan orang-orang yang pernah ketemui pada masa dulu. Bahkan diperkuat lagi dengan perkataan, “tanpa Bapak Soeharto, kita tidak punya rumah sebagai tempat tinggal sekarang ini”. Dan begitu pulalah seorang bapak kepala rumah tangga meyakinkan seluruh anak dan istrinya ketika obrolan santai dalam makan malam bersama keluarganya, termasuk ayahku. Dalam usiaku waktu itu, katankanlah usiaku lima tahun. Jelas, tak ada sedikitpun perasaan dalam hati ini untuk menolak dan membantah apa kata sang ayah. “Pak Harto ki apik yo mak! Mbeneh karo wong deso” , kataku waktu itu dengan lugunya pada sang ibu yang baik hati. Kulontarkan dengan bahasa asli keluarga kami, Jawa. Yah, bahasa sehari-hari dalam keluargaku adalah bahasa Jawa. “Heem...!”, jawab ibu dengan santainya. Seakan dalam batinnya mengatakan “ngerti opo to awakmu le...” .
Bahkan ketika setiap bangsa Indonesia ini menggelar momentum terbesarnya setiap lima tahun sekali, Pemilu (Pemilihan Umum) Presiden Indonesia. Aku selalu mendukung partainya Bapak Soeharto, Golkar (Golongan Karya). Terlebih kedua orang tuaku. Hatikupun merasa bungah, riang dan gembira ketika penghitungan telah usai, dan deal dimenangkan oleh partai Golkar. Andaikan aku punya teman yang sepantar denganku, mungkin aku berteriak “hore...! Golkar menang...! Pak Harto menang...!”, begitulah kegembiraan yang terpendam dalam perasaanku. Entah kenapa, semasa kecilku, aku terkenal dengan sifat pendiam dan pemalu. Hingga tak sekalipun aku pernah bercerita tentang apapun yang ada dalam pikiranku kepada putra-putrinya Pak Ayup. Yang ada justru mereka yang cubit sana-cubut sini ke pipiku. Katanya sih, aku imut gitu...! he he he...! bukan aku yang menilai, tapi mereka.
Kembali, mungkin ayahku akan marah, jika ada orang masa itu mencela kebusukan Pak Harto. Meskipun ayahku seorang diri dan menghadapi sekian banyak orang yang mencela, ayahku tetap berani. Begitulah aku membaca pikiran ayahku waktu itu. Seakan ayahku merasa, bahwa dari sekian juta orang di Indonesia, hanya ayahkulah yang paling beruntung, dan tak ada orang lain yang lebih beruntung darinya.
Entah, apa yang tersembunyi dibalik politik yang terjadi pada masa itu. Aku tak tahu, bukan karena gak mau tahu, tapi memang aku sendiri belum tahu apa-apa waktu itu. Yang kutahu, Pak Harto harus menang. Karena setiap Pemilihan Umum tiba, aku selalu berdo’a semoga Golkar menang dan Pak Harto jadi presiden RI lagi. Terlepas dari politik masa itu busuk ataupun jujur, yang jelas kebanggaan yang dirasakan oleh kedua orang tuaku, adalah karena keluarga kami dapat mendirikan tempat tinggal dengan lahan yang gratis tanpa sepeser rupiah-pun. Dan kurasa bukan hanya ayah dan ibuku yang merasakan kebanggaan demikian, namun setiap orang yang menjalani proses transmigran (dari Jawa ke Sumatera) pada waktu itu. Pak Ayup hanya menjelaskan, bahwa tanah itu bukan miliknya, tetapi milik pemerintah setempat, tepatnya di bawah kekuasaan pemerintah Kecamatan Pedamaran. Namun, siapapun dapat meggunakan lahan dalam hutan itu. Begitulah penjelasan penjelasan Pak Ayup kepada ayahku. Tak lebih, karena mungkin keterbatasan pengetahuan Pak Ayup akan prosedur pemerintahan dalam penggunaan tanah milik negara. Selebihnya tak masalah, yang penting keluarga kami dapat hidup dan bertempat tinggal di rumah atau gubuk baru kami. Meskipun hutan belantara dan sekian banyak binatang buas adalah tetangga dalam satu warga bersama kami.
Yang kutahu dari ayah, tak sekalipun ayah bertemu dengan pemerintah kecamatan Pedamaran. Baik itu ketemu, bertemu ataupun ditemui. Keluarga kami dapat hidup dengan perasaan tenang, tanpa resah dan gundah. Waktu itu, tanah kosong, baik berupa hutan belantara, maupun tanah kosong yang lapang tanpa ditumbuhi pepohonan, asalkan tanah itu secara pribadi belum dimiliki oleh seseorang, maka berhaklah tanah itu untuk ditempati siapapun yang belum memiliki tempat tinggal. Lebih enaknya, mungkin tanah yang semacam itu adalah disediakan sebagai fasilitas untuk rakyat Indonesia yang belum memiliki tempat untuk hidup mapan.
Meskipun demikian, detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan, itulah yang menjadi tanda dan batasan sebagai kode penantian yang ada dalam benak ayah dan ibuku. Penantian yang mejadi kegelisahan setiap menjelang tidur mereka berdua. Penantian, yah, penantian siapa tahu petugas keamanan utusan dari pemerintah kota akan mendatangi keluarga kami, lalu diusirnya keluargaku dari tempat itu. Sungguh gelisah kedua orang tua kami. Mungkin tidak demikian dengan yang dirasakan oleh Pak Ayup dan Keluarganya. “Kak Ayup ngono, de’e warga pribumi asli. Masio diusir, paleng-paleng Kak Ayup nduwe dulor neng kecamatan. La le’ dewe! Lek diuser gak enek pilihan lio, kecuali lungo”, gerutu sang ayah pada ibu dalam menjelang tidurnya, yang tak pernah kulupakan sampai sekarang.
Mungkin dalam beberapa minggu dan bahkan bulan yang menjadi ukuran, ayahku tak sempat memikirkan dan membuat konsep dalam otaknya, bagaimana langkah hidup keluarga kami ke depan. Padahal, waktu menjelang tidur adalah waktu yang paling jitu dan paling tepat dan nikmat untuk memikirkan sesuatu yang mampu memunculkan gambaran-gambaran baru dalam melangkah menyusuri kehidupan ini. Apalagi diiringi dengan irama merdu suara ratusan jagkrik, suara katak yang jika musim hujan tiba, sesekali suara binatang ganas yang melintas samping gubuk kami. Namun sayang, kondisi belum memungkinkan. Yah, karena itu tadi, bahwa yang ada dalam benak ayahku adalah kegelisahan. Yang dirasakan oleh ayah dan ibuku adalah, bahwa keluarga kami ini sudah mencuri, menempati dan merampas hak orang, tanah orang untuk kami dirikan gubuk baru guna tempat tinggal kami ala kadarnya.
Kegelisahan itu terus menghantui pikiran ayah dan ibuku. Memang, menggunakan fasilitas milik orang tanpa seizin pemiliknya adalah hal yang tidak menyenangkan. Meskipun tradisi telah mengizinkan. Entah, sampai kapan kegelisahan itu terus menghantui sang ayah terutama. Yang jelas kegelisahan itu kini semua telah terbayar.
7. Desaku dan Geografisnya
Desaku, adalah perbatasan antara Kecamatan Pedamaran dengan Kecamatan Tanjung Lubuk, Ulu. Namun berada dalam satu wilayah Kabupaten, Ogan Komering Ilir. Desa Bunut, adalah satu-satunya desa yang menjadi tetangga dengan desaku, desa yang hanya dihuni oleh dua keluaga. Namun jangan dikira, meskipun Bunut adalah satu-satunya desa yang berdekatan dengan kami, lalu kemudian bisa menjadi teman bermain dan curhat. Tidak. Tidak seperti itu kenyataannya.
Wilayah Bunut sudah memiliki batasan wilayah yang tetap dan luas. Namun, tanah yang berada dalam wilayah bunut hanya sekian kecil yang dihuni oleh peduduk. Hanya tanah yang lokasinya berdekatan dengan jalan lintas timur, atau jalan raya yang menjadi jalan utama mobil lintas profinsi lalu-lalang. Selain itu, lokasi lain yang berada di sekeliling desa itu berdirilah hutan belantara. Tidak ada perumahan lain selain ngeblok pada satu tempat tersebut. Sungguh.
Tanah Bunut yang berdekatan dengan desaku adalah hutan belantara, salah satunya adalah jalan setapak yang dilewati kami bertiga saat pertama kali datang ke tampat tinggal baru kami. Jadi, jika setiap orang yang akan datang dari arah jalan lintas atau perkotaan ke desaku, berarti mereka harus melewati desa Bunut yang hutan belantara dan jalan setapak itu. Tidak bisa tidak. Sepanjang empat kilo meter kurang lebih.
Bunut berada di sebelah selatan desan kami. Sedangkan arah utara desaku hanya dipenuhi dengan hutan dan lebung atau rawa, yang kurang lebih luasnya adalah sepuluh kilometer. Rawa ini dibelah oleh jalan setapak yang menjadi jalan utama untuk menuju kota kecamatan kami, Pedamaran. Ya, tak ada jalan lain untuk menuju kota kecamatan ini. Tak ada. Rawa-rawa itu sangat luas bak luasnya padang pasir, hanya luasnya, bukan sama dalam segi terangnya.
Rawa-rawa ini seakan rawa yang belum pernah dijamah oleh tangan dan kaki-kaki manusia. Tumbuh-tumbuhan masih sangat subur tumbuh diatas gambus yang begitu tebal. Rumput blembem, bakong, puron, eceng gondok dan banyak lagi sebangsa tetumbuhan yang hidup tanpa gangguan bangsa manusia. Begitupun hutan, lagi-lagi hutan yang memenuhi sepanjang jalan mulai dari desaku sampai pada kota kecamatan. Sungguh memuakkan, tapi itulah kenyataan. Pun demikian, tak ada bedanya dengan yang berada di sebelah barat dan timur rumah kami, hutan. Hutan, hutan dan hutan.
Sedangkan, desaku berada di tengah-tengah antara desa Bunut yang penuh sesak dengan hutan belantara dan kecamatan Pedamaran yang labih parah penuh dengan hutan dan rawa-rawa. Aku bingung, sebenarnya wilayah yang menjadi tempat tinggal kami itu “desa” atau “hutan”? Yang jelas, apapun itu yang penting posisi kami berada pada tengah-tengah hutan belantara. Jadi tidak bisa kukatakan seberapa luas desaku. Namun bisa kuperkirakan, mungkin hutan tempat tinggal kami itu seluas lima kilometer persegi. Ya, lebihpun tak sampai dari enam kilo meter, dan kalau mau dikatakan kurang dari empat kilo meter tidak mungkin. Jalannyapun berlumpur. Bagaimana tidak, tanah lempung menjadi aspal di sepanjang jalan yang akan kami lewati untuk menuju wilayah perkotaan. Mungkin pengap, menjenuhkan dan melelahkan.
Namun tak bisa dipungkiri, bahwa itulah jalan hidup yang harus kami jalani dengan penuh ikhlas dan tanggungjawab. Ya, tanggungjawab yang tak bisa kami lepaskan. Jika tanah itu adalah mutlak akan menjadi milik kami, berarti tanggungjawab keluarga ayahku utuk mengemban tanggungwajab bagaimana desa kami menjadi desa yang benar-benar menjadi harapan anak bangsa. Mungkin begitulah suara pemeritah pada kami. Namun sayang, sampai detik inipun belum ada keputusan yang dapat membuat ketenangan hati ayahku. Meskipun bulan-demi bulan telah berlalu, tetaplah kepastian menjadi penantian.
Kali kecil mungkin tepanya, adalah menjadi pembelah desaku. Ya, desa yang sekecil itu dibelah oleh anak rawa. Begitulah mungkin aku menyebutnya. Anak rawa itu memang tidak besar dan tidak pula luas. Nampak suram. Disekelilingnya ditumbuhi pepohonan besar yang mungkin tak seorangpun berani mengganggunya. Kata Mbak Goloksos, putri pertama Pak Ayup, hutan itu ada penunggunya, setan dan sebangsanya mungkin yang dimaksudkan. Hingga membuat orang harus berpikir seribu kali untuk menjamah pohon-pohon disekeliling jembatan itu.
Bagitu pula pepohonan yang dirasa angker dan mengerikan di dalam hutan yang kami tempati. Begitulah belau cerita padaku disetiap saat kami bermain siang hari dan melewati kali kecil itu. Aku tak mampu berfikir dan mencerna apapun cerita yang disampaikan oleh sahabat-sahabat kecilku itu. Ya, sahabatku hanya putra-putrinya Pak Ayup, tak ada yang lain. Yang ada di otakku hanya percaya, percaya dan pecaya. Lalu takut, takut dan rasa takut yang selalu menggeluti pikiranku disaat apapun aku beraktifitas di tengah hutan itu. Ternyata, Tradisi dan mitos demikian tak mudah hilang dan mungkin takkan pernah hilang.
Dan ternyata, tak hanya orang Jawa yang mempercayai mitos demikian, namun orang-orang pripumi asli sama kuatnya memegang kekuatan mitos itu. Benar-benar kali kecil yang nampak suram. Jembatan yang hanya setapak tak melebihi jalan di desaku itu nampak suram. Suram dikarenakan situasi dan kondisi sekelilingnya tidak mendukung menurutku, ditambah dengan kondisi jembatan yang reyot tak karuan. Kami harus bergantian kalau ingin melewati jembatan itu. Jika tidak, tamatlah kami terperosok dalam kali yang benar tak lebar dan tidak pula luas, namun dalamnya bisa menghilangkan orang dewasa seukuran ayahku dan Pak Ayup.
Tak kusangka, ternyata kali kecil itu menjadi jalan aliran air utama dari rawa besar yang membelah jalan lintas timur, atau jalan besar yang menjadi jalan utama kendaraan bus lintas Jawa-Sumatera. Air dari rawa besar itu mengalir dan terus mengalir menelusuri kali kecil yang sesak penuh dengan tumbuhan gambus, bakong, puron, eceng gondok dan tumbuhan rawa lainnya yang tak pernah dibersihkan oleh tangan-tangan manusia. Kasihan, air itu mengalir dengan terpaksa pastinya, karena harus menerobos sekian banyak rintangan untuk sampai pada tujuannya, yaitu rawa besar pula yang menjadi penampungan air dibawah sana. Ya, di bawah pedasaan kami ternyata ada rawa yang tak kalah luasnya dengan rawa pusat yang dekat dengan jalan lintas.
Wah, kini aku baru tahu, ternyata selain desaku dikelilingi oleh hutan belantara, ternyata desaku juga dikelilingi oleh sekian luas rawa-rawa yang nampaknya tak pernah dijamah tangan-tangan manusia. Kini baru kusadari, bahwa kali kecil yang membelah desaku, adalah kali kecil namun menjadi pelantara lewatnya air dari rawa atas menuju rawa bawah. Tanpa adanya kali kecil yang membentang di desaku, mungkin saat hujan tiba, seadanya air di rawa atas akan meluber naik kejalan raya hingga mobil-mobil takkan mampu meneruskan perjalanannya karena banjir. Dan aku yakin, seluas apapun rawa itu, tetaplah tidak akan mampu menampung air sebanyak itu dikala hujan turun. Kali kecil di desaku berarti penyelamat. Begitulah aku menyimpulkannya.
Disaat musim hujan mengguyur desa kami. Kondisi kali kecil itu nampak lebih sangat mengerikan. Ya, lebih mengerikan dari kondisi biasanya. Luas dan kedalamannya yang tak mampu menampung sekian banyak air; air yang mengalir dari rawa atas, ditambah lagi dengan air curahan hujan. Banjir, seluruh air yang tak tertampung oleh kali sekecil itu naik membanjiri hutan disekelilingnya, sepanjang jalan sampai depan rumahku. Untungnya tidak sampai pada rumah kediaman Pak Ayup. Karena memang rumahku dan rumah Pak Ayup berjarak kurang lebih lima ratus kilo meter. Sedangkan rumah Pak Ayup berada pada dataran lebih tinggi dibandingkan rumahku, dan rumahku pula yang berjarak lebih dekat dengan kali kecil itu. Oh, sungguh mengerikan bagiku. Sungguh.
Belum lagi dengar suara air yang mengalir dengan kerasnya di kali itu. Serasa tak mampu membuatku cepat tidur. Suasana yang mungkin mengalahkan kondisi ibu kota, Jakarta. Deru mobil bagiku belum seberapa, namun deru ombak ini lebih membuatku tak mampu tidur karena ribut dan membuat kondisi lebih mengerikan di tengah-tengah hutan.
8. Awal dari Penghasilan Keluargaku
Tujuh ratus lima puluh meter persegi, atau telong prapat , itulah luas lokasi yang menjadi tempat tinggal keluargaku. Sepuluh meter persegi adalah luas rumahku, dan selebihnya masih hutan belantara. Mungkin ayahku bingung, apa yang menjadi langkah selanjutnya untuk menyambung hidup keluarga, menafkahi anak dan istrinya. Kuakui, kondisi memang yang menuntut ayah dan ibuku bingung. Maklum, adap tasi masih dalam proses untuk mencari celah bagaimana kami harus bisa bertahan hidup.
Rumah saja baru didirikan, itupun belum lepas dari ketenangan. Ditambah lagi dengan tanggungjawanya sebagai seorang suami, yang berarti harus menyadari akan tanggungjawabnya sebagai seorang kepala keluarga. Mungkin berbeda dengan Pak Ayup, bukan berarti membeda-bedakan. Tapi jelas, dilihat dari segi pendapatan ekonominya beliau telah mapan, meskipun pendapan itu hanya didapat dari menyadap sekian pohon karet yang ada dalam hutan tempat kami. Jelas tidak mungkin, kalau keluargaku juga harus mengikuti jejak keluarga Pak Ayup. Lagi pula, bukanlah skill sejati yang dimiliki oleh seorang ayah dan bahkan ibuku.
Pertama yang menjadi pertimbangan orang tuaku adalah, tak mungkin ayahku harus merebut lahan penghasilan yang menjadi sumber utama suatu keluarga yang telah menyelamatkan dan menolong keluargaku sendiri. Bagi kami, Pak Ayup telah meng”iyakan” dengan suka rela kepada keluargaku untuk tinggal ditempat yang kami dirikan rumah saja sudah sangat beruntung. Tak mungkin kami harus menjalankan pepatah jawa yang berbunyi “dikei ati jalok rempelo” , yang setidaknya bermakna seseorang yang telah ditolong dengan apa adanya namun selalu ingin minta yang lebih dari itu. Selalu tidak berterimakasih. Itu tak mungkin bagi ayahku.
Ayahku adalah sosok yang berjiwa tegar, tegas dan sangat suka bekerja keras. Maklum, hidupnya semenjak pergi dari rumah ibunya, nenekku, ayah telah menjalani hidup sebatang kara. Tak pernah sekalipun mengharapkan apapun yang datang dari ayah maupun ibunya. Ya, hal itu terbawa sampai pada jenjang pernikahannya. Tak sepeserpun ayahku mengharap biaya pernikahannya dari nenek dan kakekku. Meskipun pernikahan pada zaman itu sekedar ecek-ecek, namun pernikahan adalah hal yang sangat berarti dalam seumur hidup. Meskipun tak menghabiskan dana besar dan mewah, namun ibuku benar-benar memaknai momentum itu sebagai momentum yang sangat bersejarah dalam seumur hidupnya. Entah, apa sih mesrahnya dari ayahku, apa sih indahnya dari ayahku. Tubuh pendek, badan kecil, kulit hitam dan wajah biasa-biasa saja. Wallaahu a’lam (hanya Allah yang tahu).
Yang keduan kenapa ayahku bingung apa yang harus menjadi sumber utama penghasilan keluarga kami adalah, perlu diketahui bahwa latar belakang kedua orang tuaku adalah dari darah dan keturunan petani. Ya, petani asli. Apalagi asli keturunan dari tanah Jawa, pastilah kental dengan seluk beluk pertanian. Masa mudanya juga hampir dihabiskan dalam dunia pertanian. Sedangkan untuk menggarap usaha yang menjadi mata pencaharian keluarga Pak Ayup bukanlah skill dan bakat kedua orang tuaku.
Mereka mampu mengerjakan pekerjaan Pak Ayup pun baru saja dikuasai setelah kami menginjakkan tanah kami yang baru ini. Memang, skill mudah didapatkan dan mudah pula dikuasai dikala seseorang tersebut mau dan bekerja keras untuk menguasai. Namun, jika sesuatu hal tersebut dijalankan dengan sebuah keterpaksaan, maka tetaplah bukan menjadi hal yang baik.
Ayah dan ibuku tetap bertekat untuk terus mendalami apa yang menjadi bakatnya, yaitu bertani. Bagaimana tidak, lalu mau apalagi? Sekolah saja tidak, tentu tidaklah punya ijazah dan lain sebagainya yang terkait dengan kependidikan, kecuali pendikan pertanian yang diperolehnya secara otodidak semasa mudanya.
Akhirnya, sisa tanah yang ada di sekeliling rumahku ditebang oleh ayah. Wah, benar-benar bukan pekerjaan yang gampang. Pohon-pohon besar sangat menyulitkan ayahku didalam proses penebangannya, dan semua itu di kerjakan dengan sendiri. Namun ibukupun tak lebas dari membantu ayahku, namun tentunya tak seberapa hasil kerja dari kerja ibuku. Ya, aku memaklumi tentunya. Karena ibuku wanita, dan aktifitas ibuku terjun ke hutanpun tentunya setelah selesai menyiapkan kebutuhan sarapan pagi dan usai bersih-bersih rumah. Dengan setianya sang ibu membawakan ayah serantang nasi dan sayur secukupnya guna sarapan ayah setiap ibu berangkat ke hutan. Aku sangat kasihan, jujur, namun apa yang bisa kulakukan.
Dalam usiaku yang begitu dini, aku tak mampu berbuat apa-apa, kecuali penonton setia ayah dan ibuku dalam penebangan hutan. Mungkin justru aku malah menjadi perusuh dalam mereka bekerja. Karena tidak sekali dua kali aku menangis setiap melihat binatang-binatang yang sangat sering kutemui dikala menemani ayah dan ibu bekerja. Babi, kera, ulat, ular dan binatang lainnya. Terutama kera, kera yang sangat sering melintas di ranting-ranting pohon tepat di atas kami. mungkin mereka takut, takut kalu anak dan rumahnya dirusak oleh ulah ayah dan ibuku. “Maaf kera, bukannya aku mengganggu, namun inilah jalan kami”. Mungkin begitulah suara batin ayah dan ibuku.
Memang, binatang disekeliling rumahku masih teramat banyak, banyak sekali. Suatu ketika, malam hari tiba. Usai keluargaku makan malam, ibuku ingin (maaf) buang kotoran atau beol, dan kami memang tidak punya WC yang bagus selayaknya WC di rumah perkoataan. Toilet kami ya di belakang rumah, mungkin berjarak kurang lebih lima puluh meter dari rumahku. Toiletnya indah bagiku, namun mengenaskan bagi orang perkotaan.
Toilet yang terbuat dari galian tanah yang mungkin lebarnya satu meter persegi dengan kedalaman satu meter. Kemudian bagian atasnya kami tutup dengan kayu yang masih utuh bulat dengan berdiameter lima centi meter. Lalu kami kasih lubang kecil di bagian tengah dari galian itu untuk lubang pembuangan kotoran kami. ya, begitulah. Dengan kondisi sekelilingnya belum beraling-aling atau masih terbuka.
Waktu itu, sengaja aku diminta ibu untuk menemaninya. Tak lama kemudian setelah beberapa menit ibu duduk manis di atas toilet indah kami, tiba-tiba “grok-grok-grok-grok” , suara itu datang dari arah belakang ibu, mungkin mereka mampu mencium bau kotoran ibuku. Wah, kontan aku nangis seketika dan ibukupun terkejut tak karuan. Tapi ketakutan ibu bukan karena beliau tahu akan adanya tamu kurang ajar itu, namun terkejut karena mendengar teriakan dan tangisanku. Ibu ini gimana. Mungkin masih menikmati aktifitasnya dalam meneluarkan kotoran, jadi tidak sadar akan adanya binatang itu. Ternyata sama, setelah ibu mengetahu keberadaan babi yang datang, ibupun lari terbirit-birit dengan menggendongku disamping lambungnya. Babi...babi...! Memang bikin sial orang saja.
Singkatnya, setelah ayah dan ibuku selesai kerja payah, yaitu menebang hutan yang berisi pohon kecil maupun besar, semua ditebang tanpa terkecuali. Ingat, aku tak rela jika keluargaku dibilang seorang penebang hutan liar. Semua itu dilakukan ayahku demi menyalurkan bakatnya dalam bertani. Usai ditebang semua pohon, lalu ayahku mengumpulkan kayu-kayu yang dapat kami manfaatkan; seperti kayu yang berukuran besar, yaitu bisa untuk perbaikan rumah kami, dan sempat pula ayah menyimpan kayu-kayu besarnya untuk persiapan masa depan kalau memang kami butuhkan untuk apapun itu, yang jelas ayahku berfikir pasti suatu saat akan bermanfaat.
Tak lupa pula kayu-kayu yang berukuran kecil dikumpulkan oleh ibuku untuk bahan bakar ketika memasak. Karena kami menanak nasi dengan tungku yang bahan bakarnya kayu yang sudah kami keringkan. Tak mungkin dengan kompor, karena minyak tanah saja jauh, dan untuk menghidupkan lampu penerang di malam hari saja kami harus mengirit persediaan minyak tanah kami. Bagaimana tidak, keluar ke perkotaan untu mencari minyak tanah saja harus memakan waktu sekian banyak. Tentunya kami harus memperhitungkan waktu, karena melihat pekerjaan yang sangat menumpuk. Nampaknya semua itu dijalani kedua orang tuaku dengan tulus, tanpa mengeluh. Bangga yang pasti. Keluarga Pak Ayup apa lagi, karena keluarga Pak Ayup justru menjadi tauladan kedua orang tuanku dalam memotivasi bekerjanya.
Setelah kayu yang dikira dapat dimanfaatkan oleh keluargaku dan keluarga Pak Ayup terkumpulkan, maka mulailah tebasan kayu tersebut dibakar oleh ayahku setelah melihat kondisinya telah kering. Dalam proses pembakaran ini, ayah harus meminta bantuan semua orang yang ada untuk membantu membakarnya. Semua. Ya, meskipun semua tetaplah tidak lebih dari ayah dan ibuku, Pak Ayup berseta istrinyapun harus terjun. Itupun sebenarnya masih sangat kurang.
Dalam pembakaran itu, harus dijaga di setiap pinggiran antara hutan yang telah kami tebas dengan hutan belantara yang masih utuh. Jika tidak dijaga, maka jangan dikira sepele. Apalagi waktu pembakarannya ketika itu waktu kemarau, benar-benar kemarau. Panasnya luapan api membara membakar hutanku, bukan membakar hatiku. Kecuali pemerintah waktu itu melarang kami, baru hati kami terbakar. Api membumbung tinggi memadati lintasan awan di atas sana, asap mengepul menggelapkan jalannya pesawat terbang milik para bejabat yang melintasi atas hutan kami. Benar-benar mengerikan.
“Huruk-huruk-huruk...! huruk-huruk-huruk...!”, begitulah suara yang kudengar dari bibir Pak Ayup, bagitu pula ayahku yang mengimbanginya. Dulu, aku sendiri belum tahu apa maksud teriakan itu, namun itu sepertinya sudah menjadi tradisi bagi setiap orang yang tinggal diperhutanan, terutama dipergunakan dikala orang tersebut membakar hutan.
Yang kutahu, dikala bara api megarah ke arah utara dengan ganasnya seakan ingin menyambar hutan yang masih tumbuh segar di sampignya, pak ayup meneriakkan suara huruk-huruk-huruk tadi dari arah selatan. Begitu pula ayah yang menjaga bagian timur, dikala bara api mengarah kebarat, maka ayah meneriakkan huruk-huruk-huruk dari arah timur. Begitu pula sebaliknya. Dan hal itu dilakukan terus-menerus selama api belum padam. Nampaknya dari situ dapat kusimpulkan, kalau suara itu untuk memanggil api agar mengarah pada suara itu. Begitulah kiranya. Terlepas itu benar atau tidak, tergantung bagaimana anda memahami tradisi dan budaya mitos.
Hati-hati, jeli dan teliti. Semua itu harus benar-benar diperhatikan ketika mambakar hutan yang telah ditebas oleh ayah. Jika secuil saja arang yang terbang dan jatuh ditengah hutan yang masih tumbuh subur, maka dalam sekejab cuilan arang yang masih berapi itu akan melumat sekian lebar hutan itu. Dan itu pasti akan berurusan dengan pemerintah. Ribet, pasti ribet urusannya. Dan penjagaanpun tak cukup setelah api padam, ayah harus tetap menjaga situasi sampai kondisi benar-benar menunjukkan bahwa api semua telah padam dan mengisyaratkan aman.
Selang dua hari dari pembakaran, langsung ayah dan ibuku bekerja untuk mengumpulkan bakaran-bakaran kayu itu. Kayu yang sudah menjadi arang, namun tidak semua kayu itu terbakar sampai benar-benar menjadi arang. Ada banyak kayu yang masih dapat dimanfaatkan sekedar untuk mengisi tungku pemasakkan ibuku. Ayah dan ibu bekerja sama dengan rukun, sampai semua pekerjaan tebasan itu tuntas. Gundul. Ya, gundul tujuh ratus lima puluh meter persegi dari luas hutan belantara itu. Orang tuaku memang pelakunya. Terserah ayahku mau dibilang apa, yang jelas situasi dan kondisi memang menuntut ayahku untuk melakukan semua itu.
Pagi yang cerah. Hutan yang di sekeliling rumahku mulanya hutan belantara dan sangat susah sinar matahari bisa memanasi rumahku. Matahari dan rembulan seakan tak pernah bersahabat bersama kami, seakan mereka pilih kasih, hanya orang-orang kota saja yang dapat menikmati karunia cahaya matahari dan bulan. Aku iri. Aku dan sahabat kecilku tak pernah dapat menikmati suasana di malam hari, apalagi bermain bersama. Tak mungkin. Jika waktu malam kami bertiga ingin main, tak ada tempat lain kecuali silaturrahim ke rumah Pak Ayup. Ayah yang selalu setia mengantongi senter model lamanya itu untuk bekal kemanapun ayah pergi dikala malam menyapa.
Namun suasana kini beda, jika pagi tiba, matahari benar-benar seakan menyapa keluarga kami. Ayah jadi semangat. Cerah dan sejuknya suasana pagi seakan mampu membawa jiwa hidup ayahku kembali tergerak. Aku senang melihat wajah ayahku pagi itu. Usai waktu subuh menyapa, kami sudah dapat menatap indahnya dunia. Ya, benar-benar kami merasakan kalau kami memang berada di dunia dan di bawah langit ternyata. Sungguh, sebelum hutan di sekitar rumahku ditebang oleh ayah, rasanya kami seakan hidup di dunia fana, pengap dan hampa.
Ayahpun segera memakai pakaian dinasnya; celana yang warnanya sudah tidak tersedia lagi di toko, karena warna yang sudah berlumur tanah, arang dan lain sebagainya, dan sang kekasih tercintanyapun belum sempat untuk mencucikan pakaian dinasnya karena sibuk dengan pekerjaan rumah tangga. Baju lengan panjang yang sama dengan warna celananya. Tidak lebih bagus dari celana itu. Dipakainya caping gunung satu-satunya milik ayah, langsung disusul dengan meletakkan cangkul ajaib di pundak kanannya, sandal dilepas dan berangkatlah sang ayah untuk menuju tegalan samping rumah. Tegalan. Ya, kini lahan yang tadinya hutan belantara sudah dapat kami katakan tegalan.
Tanpa menunggu sarapan pagi dihidangkan oleh ibu, ayah tetap semangat untuk bekerja. Kata ayah, makan setelah lapar itu akan sangat nikmat. Makanya ayah sangat suka bekerja dulu baru sarapan atau makan. Ayahku memang tidak tahu ajaran-ajaran agama, karena memang masa mudanya kuakui tidak pernah belajar, sekolah maupun mengaji. Tapi prinsipnya itu ada dalam hadist Nabi bukan? “makanlah setelah laparmu dan berhentilah sebelum kenyangmu”.
Sesekali ibu ketika mengambil kayu bakar di samping rumah, dikala sedang memasak untuk sarapan pagi menoleh ke arah ayah yang sedang mencangkul. Nampaknya ibu muarem banget melihat suaminya bekerja keras demi anak dan istrinya.
Karena ibuku bangga, maka dengan gayaku aku bertanya, “kae arep ditanduri opolo lo mak...?” tanyaku yang masih lugu sambil mempermainkan mobil-mobilanku yang terbuat dari kayu bikinan ayah spesial untukku. “Telo” , jawab ibu dengan sombong, cuek sambil jalan menuju dapur. Huh, gaya...”peh bojone mempeng’e gaya...!” ledekku pada ibu. Ibu tidak marah, justru malah tertawa sambil menuju ke arahku dan mencubitku dengan gemesnya. Pikirnya mungkin, anak sekecil ini kok sudah bermaksud meledek orang tuanya dengan sindiran seperti itu.
Ya, memang benar, lahan yang mulanya hutan belantara itu kini dicangkul oleh ayahku untuk ditanami ubi. Bukan suatu hal yang terpaksa bagi ayahku. Akhirnya, untuk mendapatkan pohon ubi yang bisa dijadikan untuk bibit awal di desaku, ayah harus mengayun sepedanya kembali sejauh seribu kilo meter demi menuju desa awal kami tinggal sebelum di tanah baru kami itu, Bumiagung (umbol mutong).
Singkatnya, setelah batang ubi diperoleh ayah, langsung ditanam pada lahan yang telah dipersiapkan ayah dengan cangkulanya beberapa hari itu. Caranya sederhana, batang pohon ubi yang masih berlajur panjang itu kemudian dipotong berukuran kurang lebih satu setengah jengkal tangan, kemudian potongan itu ditanam pada tanah di lahan yang telah ayah cangkul. Perlu diketahui, dalam menancapkan batang ubi tersebut jangan sampai keliru. Artinya, kita perlu teliti terhadap mata tunas yang terdapat pada batang ubi yang akan kita tanam. Sampai mata tunas batang ubi salah diarahkan ke bawah, maka kemungkinan besar batang ubi tidak akan bertunas atau tidak hidup. Meskipun batang itu tumbuh, kemungkinan akan terjadi pertumbuhan yang kurang sempurna. Kata ibu, jika dalam menanam ubi terjadi kesalahan seperti kasus demikian, maka buah ubi akan dapat meracuni bagi siapa saja yang memakannya.
9. Ayahku, Pendekarku
Belum lagi ayah sempurna menikamti kebahagian, dari terangnya pekarangan yang baru saja selesai dikerjakan, ayah dan ibu harus menghadapi cobaan yang mungkin sangat menyedihka. Aku yakin itu, karena aku sendiri yang belum tahu apa-apa pada masa itu, sudah merasakan kepiluannya. Sungguh, adalah hal yang menyenangkan sekaligus menyedihkan bagi keluarga kami.
Malam gelap gulita, bulan sedang persemayam dalam peranduannya. Ada kesalahan prosedur pada ayah dalam proses penanaman batang ubi yang kini sudah tertanam pada tanah subur, murni penuh pupuk alami. Ya, sama sekali tanah itu belum tercampur dengan pupuk buatan manusia, atau orang masa kini menyebutnya bahan kimia. Harusnya, sebelum ayah menusukkan batang ubi ke tanah subur itu, ayah harus mengelilingi pekerangannya dengan pagar. Namun hal demikian belum terlintas di benak ayah. Yang terjadi, malam itu para binatang buas menjadikan pekarangan kami yang telah ditanami batang ubi dijadikan sebagai tempat diskotiknya, atau lebih tepatnya sebagai tempat berfoya-foya.
Binatang babi dan kera seakan bersahabat rukun sekali malam itu. Permusuhan yang mungkin sering mereka alami kini telah damai meskipun sementara. Mungkin, lahan luas yang telah dicangkul dan ditanami batang ubi oleh ayah, dianggapnya sebagai lahan yang sengaja disediakan untuk berpesta pora babi dan kera yang bersemayam di hutan sebelah pekarangan kami. Lahan kami seluas itu, mungkin masih kurang luas menurut babi dan kera. Binatang berpesta.
Namun berbeda halnya dengan aktifitas ayah malam itu. Aku tahu ayah capek, hingga malam itu beliau tak kuat lagi menahan sirepnya suasana malam itu. Musim memang kemarau, namun cuaca sangat dingin sekali. Sangat dingin. Hingga mampu membuat setiap orang malas untuk beraktifitas apapun. Apalagi dengan situasi yang kami hadapi di desa yang baru saja dibuka beberapa meter, dihuni dua keluarga saja.
Usai maghrib berlalu, makan malam telah usai, ayah langsung membaringkan tubuhnya di ranjang kami yang terbuat dari rangkaian kayu, alaskan belahan bambu dan tikar yang terbuat dari puron ala masyarakat bribumi asli. Suasana malam itu memang sangat memungkinkan keluarga kami untuk menikmati alam mimpi penuh ironis. Ya, ironis. Karena tanpa diduga semua telah menimbulkan dampak yang membuat kami harus kecawa meski sesaat. Suara jangkrikpun setia menghibur keluarga kami dalam penghantar tidur, mereka bak ibu dan nenek yang setia mendongeng kepada putra-putri serta cucu-cucunya dikala sebelum tidur. Suara jangkrik memang adakalanya berjasa besar bagi kami, namun ternyata mampu membuat kami terbuai dalam keindahan suaranya yang merdu, ibarat petikan gitar yang dimainkan tuannya. Ingat, keindahan dan sanjungan memang mampu membuat seseorang jatuh dan terjatuh.
Pagi telah menyapa, ditandai dengan kokok ayam bangkok peliaharaan ayah satu-satunya. Ayam jago yang belum sempat dicarikan pasangannya oleh ayah, adalah juga penunjuk waktu bagi keluarga kami. Aku tak tahu, belum sempat atau memang tidak mampu pada saat itu ayah dan ibu untuk memasang satu buah hiasan dinding yang berlambangkan jarum sebagai detik waktu. Hingga kami belum memiliki jam dinding maupun jam tangan atau pula sejenisnya. Yang kami pakai hanya waktu perkiraan, dan maksmal adalah peliharaan ayah satu-satunya itu, ayam bangkok. Ayah begitu sayang dengan jagur. Ya, jagurlah panggilan ayam itu, karena ayahku selalu memanggilnya dengan sebutan itu dikala memberi makan sambil dielus-elusnya.
“Kuk ku rukuk...!”, pagi itu jagur berkokok. Menunjukkan bahwa jagur bangun lebih awal dibanding majikannya. Lantas ibu tidak tunggu lama, dengan keyakinan yang kuat bahwa ibu tahu kalau waktu sudah subuh. Jelas tidak meleset, karena semuatu itu sudah menjadi kebiasaan ibu. Jika sekarang kebanyakan orang bingung tanpa jam dinding maupun jam tangan, bahkan kini ditambah lebih modern, yaitu jam yang terdapat pada Hp masing-masing orang, namun ibuku pasti bingung jika ayam satu-satunya ayah hilang tak pulang kandang.
Ibu bangun, shalat subuh dan lalu memulai aktifitasnya dengan menyiapkan perlengkapan sarapan pagi. Berbeda dengan ayah dan aku, yang masih mendengkur di atas ranjang jelek namun tetap harus kami syukuri. Pelukan ayah di pagi itu benar-benar membuatku males ikut bangun bersama ibu. Berbeda dengan biasanya, aku yang selalu ikut bangun jika ibu beranjak bangun, lalu mengikuti jejak sang ibu untuk menjalankan shalat shubuh. Meskipun aku belum serutin mungkin, namun aku sering diajarin ibu untuk melakukan ibadah shalat. Namun, setahuku ibu belum pernah mengajari aku bacaan-bacaan shalat, begitu juga ayah. Aku hanya mengikuti gerak-gerik ibu dalam shalatnya. Kenapa ya...? ah, masa bodoh.
Pagi itu, dikala ibu mengambil kayu bakar untuk menghidupkan tungku masaknya di samping kiri rumah, tiba-tiba ibu dikejutkan dengan ramainya suara babi dan kera dari arah pekarangan kami, yang baru saja kemarin selesai ditanami batang ubi oleh ayah dan ibu. Sesaat ibu terdiam dan terpaku memikirkan suara apa itu. Namun tak perlu lama dalam memendam tanya, karena sudah peka terhadap suara binatang-binatang yang mungkin tak lagi asing bagi kami. Ibu sekedar ingin memastikan, apakah benar suara binatang yang seakan pesta itu tepat di pekarangan ubi kami? Karena dalam sekejab ibu langsung menebak, jangan-jangan pesta binatang itu berada pada lahan ubi. Tak melesat dugaannya. Ternyata benar, bahwa babi dan kera itu berpesta pora di lahan pekarangan milik kami. Ibu langsung memanggil suami tercintanya, “mas... mas...! enek babi karo ketek neng telo-teloan. Uakeh banget!” , teriak ibu setengah takut karena terlalu banyaknya dua jenis binatang bekumpul menjadi satu dalam satu tempat.
Ayah bergegas bangun dari tidurnya, seakan lupa kalau aku sedang berada dipelukannya. Bak orang kesurupan. Parang bancah yang panjangnya kurang lebih satu setengah meter terselip pada dinding rumah kami yang terbuat dari papan . Belum lagi dirasa puas dengan bersenjatakan parang bancah, ayah langsung menyambar tombak yang panjang pegangannya kurang lebih dari dua meter, dengan ujung busurnya kurang lebih satu setengah jengkal telapak tangan ayah. Tombak itu tersandarkan di sudut belakang rumah kami. Tombak yang sengaja dibuat ayah beberapa bulan yang lalu, ketika kami masih tinggal bersama keluarga Pak Ayup. Ujung tombak yang terbuat dari besi per mubil itu sangat menyerupai tombak baru klinting. Begitulah mungkin. Sengaja ayah membuat tombak itu untuk melindungi keluarga dari segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Melihat aksi bangunnya ayah yang belum pernah kulihat sebelumnya, aku sontak langsung bangun menuju ke arah dimana ibu berdiri. Bersama ibu aku berdiri di sudut pintu belakang dekat dapur. Aku hanya penasaran dengan tindakan apa yang akan dilakukan ayah terhadap binatang-binatang buas itu? Sama halnya dengan ibu, yang juga belum tahu apa yang akan dilakukan oleh sang suaminya. Dengan melihat cara ayah bertindak, kami berdua justru makin cemas, cemas dengan keadaan ayah selanjutya. Aku dan ibu hanya bisa berdo’a dan berharap, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan ayah. Dilihat dari tindakannya, seakan aksi itu mengisyaratkan ucapan sesuatu, andaikan dapat diucapkan, mungkin tindakan itu berucap “inilah aku. Jangan sebut namaku sari, jika aku tidak bisa melindungi istri dan anakku”. Ya, begitulah kiranya semangat aksi ayahku saat itu.
Akhirnya, pertempuran sengitpun terjadi, antara manusia dan binatang. Ya, ayahku langsung lari menuju segerumbulan binatang yang sedang asyik berpesta dan bergadang hingga pagi menjelang. Ayah tak pandang bulu apa yang akan terjadi, yang panting bagi ayah adalah tindakan yang kiranya mampu membuat para binatang itu kabur dari pekarang ubi kami. Matahari belum menampakkan sinarnya, namun remang-remang cukup menjadi saksi akan pertarungan kali ini. Ketika langkah demi langkah sang ayah makin dekat dengan sekumpulan binatang.
Sangat aneh, binatang itu bukannya kabur tapi justru mengimbangi ayah. Pertama, hanya dua ekor induk babi dan seekor induk kera yang maju ingin menghadapi ayahku. Aku dan ibu makin takut. Ya, gak mungkin ayah mampu menghadapi sekian banyak jumlah binatang itu, pikir ibu dan aku. Jangan-jangan justru ayah yang akan terluka kena siung babi yang sangat panjang dan tajam-tajam itu.
Dalam sekejap aku melirik ayah dalam suasana ketakutanku, ternyata golok yang tergenggam erat ditangan kanannya mampu menebas seekor induk kera yang pertama kali melompat ingin menyergap ayah. Leher, tepat sekali golok itu memotong leher sikera. Hebat batinku. Aku tak mampu berteriak untuk membuat ayah semangat dan untuk terus maju, yang mampu kulakukan adalah suara teriakan dalam batin. “Ayo pak...! maju terus...pantang nyerah...!”, begitulah batinku berteriak yang mungkin sama halnya dengan ibu. Kemudian untuk menghadapi dua ekor babi itu, tidak terlau sulit mungkin buat ayah, karena ayah nampaknya sudah tahu bagaimana cara menghadapi binatang yang satu ini. Usai goloknya menebas seekor induk kera, ayah langsung siaga hingga dapat melihat kedatangan seekor babi yang bertubuh besar, tiga meter dari sampingnya. Nampaknya paha ayah yang akan menjadi sasaran babi satu itu. Ayah dengan nyantainya dapat menghindari serangan babi itu, hanya dengan melompatkan diri ke arah kiri tubuh sibabi. Otomatis, babi itu akan bablas tersunkur.
Mungkin ayah teringat pesan gurunya, ya, gurunya adalah Pak Ayup yang telah meberikan ajaran ilmu baru tentang bagaimana cara menghadapi seekor babi yang menyerang. Karena babi tidak memiliki poros pada lututnya, sehingga babi juga susah untuk membelokkan dirinya baik kanan maupun kiri. Begitulah caranya. Jadi, dalam pertarungan itu ketika ayah diserang babi dari arah depan, maka ayah melompat ke kiri atau ke kanan. Begitu sebaliknya, jika babi datang dari arah samping kanan dan kiri, ayah menghindar hanya dengan melompat ke depan atau ke belakang. Setelah babi yang satu tadi menyerang ayah, dan ayah bebas dari serangannya, dengan cepat ayah menukar sejatanya. Tadinya ayah memegang senjata golok pada tangan kanannya dan tombak di tangan kirnya, kini posisi itu sudah berbalik. Tombak sudah berada di tangan kanan ayah dengan maksud, bahwa ayah ingin melemparkan tombak satu-satunya itu ke babi yang sudah berhasil dihindari serangannya. Lemparan ayah tepat sasaran, perut bagian kiri babi itu secara manis tertusuk tombak ayah. Aku senang, akhirnya dua binatang berhasil dibantai oleh ayahku.
Namun belum berakhir sampai di situ. Setelah tiga binatang mengawali serangannya tadi, tak lama kemudian yang lainpun ikut menyerang ayah. Dan lebih bahanya lagi, bersamaan dengan ayah melemparkan tombaknya, ternyata dibarengi dengan lompatan satu kera yang datang dari arah belakang ayah. Tepat sekali dipundak ayah, dengan cepat ayah berusaha untuk menyambar kera itu, namun sayang lebih dulu kera itu naik ke leher ayah, akhirnya ayah terluka di bagian lehernya. Aku takut, sangat takut melihat ayah terluka. Serangan babi untungnya tidak bertahan lama, karena melihat babi yang tertusuk tombak ayah tadi lari terbirit-birit dengan membawa tombak ayah, akhirnya yang lainpun ikut kabur meninggalkan pekarangan ubi kami.
Berbeda dengan kera, setelah mereka melihat satu kawannya yang tewas akibat tebasan golok panjang ayah, justru yang lain malah semangat untuk menyerbu. Sungguh, ayah benar-benar kualahan menghadapi serangan kera itu. Bahkan mereka rela menjatuhkan anaknya yang sedang digendong dibagian perut. Meskipun ayah sempat menebas beberapa ekor kera, tapi ayah harus mengorbankan bagian leher, tangan, kaki dan pundaknya terkena cakaran maupun gigitan banyak kera.
Sebelum semua terlanjur, karena ayah belum mengetahui bahaya atau tidak gigitan kera itu, ayah mengambil satu kesimpulan bahwa akibat dari gigitan kera adalah berbahaya. Ayahpun memilih untuk lari, ya, ayah harus melarikan diri dari serangan kera-kera itu. Sebelum ayah sampai pada pintu rumah belakang kami, aku dan ibu telah lebih dulu masuk rumah. Ya, rumah kamipun menjadi markas persembunyian dari serangan kera itu. Ayah memang pendekarku, tapi tentunya tetap kalah menghadapi serangan kera yang begitu banyaknya.
10. Nasi Tiwul
Setelah batang ubi ditancapkan ayah dan ibu di pekarangan kami. Tak henti-hentinya ayah dan ibu dengan rajin memelihara ubi tanaman kami itu. Selalu dibersihkan hingga hampir tak satupun tumbuh rumput-rumput di bawah ubi kesayangan keluarga kami. Subur, sangat subur sekali tanaman itu. Hingga membuat kami tak segan-segannya untuk menatapnya. Terlebih ketika suasana pagi menyapa.
Dengan dipagarinya pekarangan kami, semua binatang yang bersemayam di hutan sebelah pekarangan kami tidak lagi mampu merusak ubi-ubi yang menjadi kesukaannya itu. Hanya kera, kera yang memiliki kepandaian untuk melompat justru digunakan untuk kejahatan, itulah mungkin penafsiranku. Karena sang kera tak pernah mau dan mungkin memang selamanya takkan pernah mau untuk bersahabat dengan manusia. Mereka selalu berusaha keras untuk menerobos pagar-pagar yang telah dibuat ayah dengan kuatnya.
Namun yang namanya kera, bukan binatang yang bertipe mudah menyerah. Namun ayah juga mengimbanginya. Ayahku selalu menjaga kebun ubi kami setiap malamnya, semua itu rutin ayah lakukan meskpun dalam kondisi capek. Benar-benar belum pernah teledor, dan memang harus tidak boleh teledor. Mungkin, jika ayah teledor semalam saja, maka ubi kami akan berakhir sudah nasibnya. Ayahku selalu tidur disang hari pukul 12.00-14.00, itu menjadi agenda pentingnya. Karena ayahku harus rela tidak tidur dimalam hari demi batang ubi yang kami nanti-nanti buahnya.
Banyak trik-trik yang ayahku lakukan demi membasmi sedikit demi sedikit para binatang kera dan babi. Salah satu trik ayah, ayahku sering meminta buah pisang di tempatnya Pak Ayup, kemudian buah pisang itu dicampurnya dengan racun binatang, lalu ayah letakkan buah pisang yang telah bercampur dengan racun itu di piggiran kebun ubi kami. Setiap surup tiba, usai shalat maghrib ayah harus sudah meletakkan buah pisang beracun itu ditempat-tempat yang dikira strategis.
Sebenarnya, trik ayah yang satu ini sangat tidak sia-sia. Sering sekali aku dan ayah menemui kera-kera kurang ajar itu melahap dengan senangnya buah-buahan yang ayah pasang dengan campuran racun. Namun sayang, aku tidak dapat melihat kematian kera-kera itu secara langsung, namun yang jelas kera itu mati. Kasihan, justru matinya kera itu sangat perlahan-lahan yang membuat mereka harus merasakan sakitnya penderitaan sebelum ajalnya datang.
Tak jarang dan tak sedikit ayah, ibu dan aku menemukan bangkai kera yang telah membusuk di tengah-tengah hutan ketika kami sedang asyik mencari kayu bakar. Terkadang rasa kasihanku sangat besar terhadap kera-kera yang mati itu, namun terkadang juga aku sangat kesal sekali ketika melihat kera-kera itu beraksi melahap tanaman-tanaman keluarga kami.
Tanaman ubi kami sangatlah subur, hijaunya daun ubi mempu membuat suasana alam di sekeliling rumah kami nampak cerah, indah dan sempurna. Apalagi dipagi hari, dikala ayah memberi makan ayam jago kesayangannya, ayah tak henti-hentinya selalu memandangi hijaunya tanaman ubi itu. Rasa lapar seakan hilang seketika sebelum sarapan pagi disediakan oleh ibu. Sangat menyenangkan. Kehijauan hutan yang masih alami mampu menjadi penyeimbang keindahan di sekitar rumahku. Aku jadi senang saat ayah mengajakku jalan-jalan mengelilingi sekitar tanaman ubi.
Ubi itu berumur tidak lebih dari lima bulan. Kata pepatah, “siapa menanam, dia akan menua hasilnya”. Begitulah yang akan dialami ayah dan ibu dengan tanaman yang sekaligus penghias pekarangan kami. Setelah perjuangan panjang yang ayah dan ibu korbankan, dengan melalui berbagai banyak rintangan, tak lebih demi menjaga tanamannya yang sekian bulan dinanti-nanti.
Memang mudah menanam ubi, lebih mudah lagi seandainya ayah tidak disibukkan dengan penjagaannya dari para binatang yang menjadi satu-satunya penghalang. Selain perawatannya mudah, tidak perlu menggunakan pupuk ataupun obat hama dan lain sebagainya, daunnya pun dapat dimanfaatkan untuk kulupan . Ya, ibu sangat sering sekali membuat menu untuk makan malam hanya dengan merebus daun ubi, lalu di bikinkan sambal trasi. Wah, sungguh menu kesayanganku.
Cara melahapnya sangat mudah dan saderhana, tak sesulit menikmati hidangan menu yang sering disediakan pada setiap perkotaan ataupun di restoran-restoran ala Barat dan Cina. Terlalu ribet mungkin bagiku, yang harus memakai supit dan perlengkapan makan lainnya. Sebenarnya cara memakan menu yang satu ini juga memakai supit, tapi supitnya memiliki lima gigi, tangan kita pastinya.
Perhatikan caranya. Pertama ambil sepiring nasi sesukanya, ya kalau aku melihat menu yang disediakan ibu. Kalau selera bagiku, tentu nasi yang kuambil juga tidak karuan, bahkan mungkin piring itu bisa terpenuhi dengan nasi, belum ditambah dengan sayurnya. Makanku memang banyak. Oya, sebelumnya sambal calok sudah disediakan diatas lemper . Ingat, sambalnya jangan dipindahkan ke tempat yang lain, karena kata ibu akan mengurangi rasa menu aslinya. Memang benar menurutku. Kemudian ambil lalapan daun ubi atau kulop godong telo , letakkan di samping nasi yang sudah kita letakkan di piring. Wah, saat kami mengambil kulupan itu, aku sering sekali dulu-duluan dengan ayah. Karena ayah juga ternyata sangat doyan dengan lalapan itu. Bukan saja aku dan ibu. Lalu, tarik sedikit demi sedikit daun ubi yang sudah direbus itu, dan coletkan pada sambal terasi yang sudah siap untuk dilahap tadi. Jadi, sambal yang berada pada lemper atau coek tadi kita makan bersama-sama tanpa kita mengambil sedikit demi sedikit dan diletakkan pada piring masing-masing. Wah, cara demikian sangat nikmat kawan.
Aku tak bisa melupakan menu kesayangan ibu yang satu ini. Pohon ubi itu selain membuat kelurgaku senang dan merasa ditolongnya, ubi itu juga mampu membuat keluarku dan keluarga Pak Ayup makin romantis. Ya, sangat romantis. Tak jarang Bu Ayup dan terkadang kedua putrinya ketika suasana sore tiba mereka bermain ke rumahku. Usai bermain, mereka pulang dengan membawa segenggam dua genggam daun ubi untuk dikulubnya. Keluarga kami berdua nampak hidup rukun dari sebelumnya, namun bertambah rukun lagi dengan bertumbuh besarnya tanaman ubi kami. Semakin tinggi ubi, semakin tinggi pula ikatan emosional keluarga kami. Hidup di desaku penuh nuansa.
Memang harus demikian. Hijaunya daun ubi tak harus dibiarkan berlanjut. Sebenarnya sayang untuk memangkas daun ubi yang nampak terlihat indah dipagi dan sore hari. Namun apa boleh buat, tanpa dipangkas daunnya, kata ayah justru akan menghambat pertumbuhan ubi, dan buahnyapun akan lama besar. Tenunya, masa panen akan semakin lama.
***
Pagi menyapa. Perlahan sang surya dengan malu-malu kucingnya terus berusaha untuk menampakkan sinarnya. Sang surya pagi ini kembali menyinari jagad bumi kami dengan memberikan nuansa keindahan yang sulit kulupakan. Kami memang selalu tak dapat meninggalkan waktu-waktu pagi kami bersama ayah, untuk menyambut cerahnya matahar pagi. Kata ayah, “doso sejarah le, lek sampek dewe gak delok apie serngenge isuk metu, karo nyawang apie wet telone dewe...” . Wah, ayahku seperti mahasiswa pergerakan saja, bisa bilang dosa sejarah.
Mungkin perjuangan panjangnya selama mulai merintis hutan hingga mampu menghasilkan tanaman ubi itulah yang dimaksud ayah dengan sejarah, yang mungkin takkan pernah dilupakan oleh ayah. Jujur, aku tak maksud dengan istilah dosa sejarah kala itu. Hanya itulah yang mampu kucerna.
Pagi inilah ayah telah mendahului ibu untuk mencabut semua batang ubi yang telah ditanam ayah dan ibu sekian bulan. Setelah rencana pemanenan ini dibicarakan malam sebelumnya bersama ibu, ayah seakan tidak sabar untuk segera melihat hasilnya. Karena ibu harus melakukan aktifitas rutinnya sebagai ibu rumah tangga, maka ayah harus mencabut tanaman ubi sedapatnya sambil menunggu sarapan pagi dihidangkan oleh ibu.
Ya, seperti biasa. Aku hanya sebagai pengamat setia dari apa yang dilakukan ayahku. Jangan dibilang aku jadi anak seng ra beneh kepada orang tua ya. Karena nampaknya ayah sangat senang dengan melihat aku diam tak mengganggu kerjanya. Ya, mungkin bagi ayah justru aku adalah hiasan dinding dari hasil beliannya yang sangat sesuai dengan hati nuraninya. Begitulah.
Ayah sering cerita pada orang-orang ketika kami masih tinggal di Bumiagung, tempat pertama kali aku tinggal. Katanya, semasa aku masih berusia satu tahun, aku selalu bikin susah orang tua. Diajak ke sawah, tidak ada yang bisa kulakukan, kecuali nangis, nangis dan nangis hingga membuat ibu tak dapat melakukan satu pekerjaanpun di sawah. Sampai-sampai, pernah aku dibiarkan begitu saja menangis di atas gubug kecil di tengah sawah, yang telah dibuat ayah untuk berteduh dikala capek. Sedangkan ibu terus melanjutkan pekerjaannya menanam padi. Tangisku seakan mengajak berlomba dengan ibu, siapa yang tahan? Aku akan terus menangis apa ibu akan datang padaku untuk menggendongku hingga aku diam?
Setelah suara tangisku mengeluarkan nada yang seakan membuatku pingsan, tahu sendiri, suara tangis anak kecil kala terlalu lama, suaranya akan nampak seperti anak itu akan terjadi apa-apa yang tidak dinginkan oleh orang tua. Dikala itulah, baru ibuku menghampiriku. Mungkin ibu takut kalau akan terjadi apa-apa denganku. Selain itu, diusia yang sama, aku juga anak yang paling rajin sakit.
Sakitku tak pernah tanggung-tanggung. Hampir semua harta milik ayah dan ibuku hangus hanya untuk biaya rumah sakit. Tak ada harta yang tersisa, termasuk sapi satu-satunya hewan peliharaan ayah. Itupun gado punya tetangga. Kecuali gubuk kecil sekaligus rumah kami. Luar biasa penderitaan yang kupersembahkan pada ayah dan ibuku.
Makanya, kini ayah bangga kalau melihat aku dengan kondisi diam dikala menatap ayah dan ibu sedang bekerja. Dalam melakukan pekerjaannya, dari kejauhan aku melihat ayah dan ibu tak jarang menatapku. Sekali dua kali muka ayah dan ibu beradu sambil tersenyum saat aku terdiam sambil mempermainkan apa yang dapat kumainkan. Mungkin yang beliau katakan adalah, “bocah kok beling eram. Lek kadong karep kok ra kenek di pengeng” . Ya, mungkin nada itu yang beliau lantunkan sambil mencibirkan bibirnya.
***
Tak cukup waktu tiga-empat hari buat ayah dan ibu menyelesaikan pencabutan tanaman pohon ubi. Lima hari tanaman ubi kami seluas kurang lebih tujuh ratus tiga puluh meter yang mengitari rumah kami baru tuntas dipanen hanya dengan dua orang saja. Usai pencabutan, maka buah ubi dipotongi dari batangnya. Sangat memuaskan hasilnya. Benar-benar pupuk alami yang sangat sempurna, hingga membuat tanaman ubi kami berbuah dengan hasil yang memuaskan. Kami bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa tentunya.
Usai dipotong, buah ubi itupun langsung dimasukkan ke ruangan dapur tentunya, karena tiada tempat lagi semacam gudang yang dapat kami gunakan untuk mengamankan hasil panen kami. Semua itu harus tetap kami lakukan, tak lain demi menghindari dari serangan binatang-binatang penghuni hutan belantara yang menjengkelkan itu. Tentunya kami tak ingin, jika hasil panenan kami yang sudah nampak di depan mata harus hangus hanya karena sikera dan sibabi. Tidak lucu bukan...!
Esoknya, seperti biasa ayah mendahului ibu untuk melakukan aktifitas kerjanya. Kini ayah memulai hal paling utama dari suatu proses pembuatan. Ya, pembuatan nasi tiwul atau nasi oyek. Meskipun secara tekhnis, ayah dan ibu belum pernah melakukan pekerjaan pembuatan nasi tiwul ini dengan sendiri tanpa pendamping. Ayah dan ibu sering membuat nasi semacam ini sebelumnya, namun selalu didampingi oleh instructurnya, nenekku atau ibunya ibuku, begitu pula ayah yang didampingi oleh ibunya, atau juga nenekku dari ayah.
Namun demikian, kapan ayah dan ibu akan dapat melakukan semua itu jika tidak harus dicoba mulai sekarang. Meskipun semua dijalankan karena keadaan, namun dengan senang hati nampaknya beliau menjalankan pekerjaan ini dengan sungguh-sungguh. Namun, nampaknya dalam hal ini ibu lebih hebat dibanding ayah disaat-saat proses selanjutnya dalam pembuatan nasi tiwul. Wajar saja, mungkin karena ibu seorang wanita, hingga dulunya lebih tekun dan lebih sering membantu nenek dalam pembuatan nasi tiwul. Sedangkan ayah, beliau seorang laki-laki yang mungkin agak sedikit dablek dikala membantu nenek dalam pembuatan nasi ini.
Aku selalu mengamati kinerja mereka berdua, mulai dari proses awal hingga akhir pembuatan nasi tiwul. Ya, itulah yang dapat kusimpulkan, bahwa ibu nampaknya lebih mahir dibanding ayah. Hal itu dapat kulihat dari nada ayah yang selalu tanya tentang langkah selanjutnya kepada sang ibu. Ayah hanya menjalankan pekerjaan-pekerjaan yang dirasa berat dan tidak mungkin dilakukan oleh ibu. Seperti melupas kulit ubi, memindahkan ubi ketempat satu ke tempat yang lain dan sejenisnya.
Proses pembuatan tiwul sebenarnya mudah. Mungkin yang tidak mudah adalah karena jumlah ubi yang sekian banyak. Bahkan dalam pelupasan kulit saja tidak dikerjakan oleh ibu dan ayah saja, namun Bu Ayup juga sehari dua hari ikut mambantu kinerja keluargaku. Mereka sangat baik. Untungya, ubi yang ditanam ayah adalah ubi yang berjenis ubi martopuro, ah, seperti nama daerah saja. Aku sendiri tidak tahu ubi jenis apa kalau bahasa yang lebih umum dipakai, yang jelas ayah dan ibu menyebutnya dengan nama itu.
Kelebihan dari ubi jenis ini adalah, lebih mudah untuk dikupas kulitnya. Ada beberapa jenis ubi yang sulit dikupas. Jadi harus menyayat kulit ubi itu dengan pisau satu persatu, hingga memutar sampai kulit ubi benar-benar hilang dari badan ubi. Berbeda dengan ubi martopuro, cukup dengan memberi garis tengah pada kulit ubi sampai tembus pada dagingnya dengan pisau, setelah itu cukup dikupas dengan tangan dengan mengambil celah pada belahan kulit ubi yang sudah dibelah tadi. Sangat mudah bukan!
Jika ubi telah selesai semua dikupas, maka dengan melihat jumlah ubi yang lumayan banyak ayah memerlukan karung yang lumayan banyak pula jumlahnya. Yaitu berfungsi sebagai wadah ubi untuk direndam. Untuk merendam ubi tersebut memakan waktu kurang lebih satu minggu atau enam sampai tujuh hari. Namun dalam perendaman ini ibu sepertinya lebih kondisional dalam menentukan waktunya. Jika dirasa ubi sudah blotong , maka ibu akan mengangkat ubi tersebut. Bahkan sebaliknya, jika ubi masih keras maka waktu perendaman akan ditambah.
Setelah waktu yang digunakan untuk merendam ubi cukup, maka ubi diangkat dari air lalu dibawa pulang oleh ayah dan ibu. Kebetulan persedian tempat untuk merendam ubi ditempat kami tidak kesulitan. Sungai kecil yang pernah kuceritakan, ternyata sangat membantu keluargaku dalam proses pembuatan nasi tiwul ini. Tentunya harus di sungai itulah kami merendam, karena memang tidak ada tempat lain selain sungai kecil itu. Sumur yang kami miliki hanya berukuran tidak lebih dari empat meter dalamnya. Itupun teris air jika musim hujan tiba. Sedangkan panin ubi kami jatuh pada musim kemarau.
Setelah ubi selesai direndam, maka ubi yang sudah blotong itu ditumbuk sampai lembut, kemudian dimasukkan pada karung dan diletakkan pada tempat yang sudah disediakan. Dimana tempat itu sudah dilengkapi dengan alat penjepit. Kalau ibu cukup sederhana, hanya dengan menggunakan kursi panjang yang terbuat dari kayu, lalu letakkan ubi yang sudah ditumbuk ke atas kursi. Di ujung kursi tersebut telah dipasang kawat sebagai penahan kayu yang nanti akan digunakan untuk menjepit ubi di dalam karung tersebut.
Setelah semua alat siap digunakan, ubi yang sudah diletakkan di atas kursi tadi dijepit dengan kayu yang panjangnya kurang lebih tiga atau empat meter. Yaitu dengan tujuan agar air yang masih terlalu banyak pada ubi dapat hilang. Nah, usai ubi dijepit, buka tutup karungnya dan keluarkanlah ubi dari dalam karung. Lalu, hasil dari jepitan tersebut, ubi sudah lembut dan agak sedikit kering. Setelah itu ubi diintir-intir agar membentuk bundaran kecil. Setelah ubi menjadi bundar kemudian dijemur hingga kering. Setelah kering, maka ubi tadi kini sudah menjadi oyek atau towul. Yang namanya nasi tiwul atau nasi oyek. Selesai kan...! kalau kita ingin menikmatinya, maka tinggal kita rebus saja oyek yang sudah kering tadi. Ayah dan ibu melakukan tugasnya itu sampai semua selesai. Sangat banyak kawan!
Ada banyak cara untuk menikmati oyek ini. Pertama kita bisa menikmati nasi tiwul dengan mencampurnya bersama nasi beras. Sekaligus rasanya nikmat, juga dapat mengurangi pemborosan jumlah beras yang harus kita masak. Wah, rasa masakan dengan cara satu ini akan lebih nikmat kalau ibu memberi pelengkap sayur ikan yang disambal.
Ada cara satu lagi yang kutahu. Nasi tiwul direbus, lalu cukup dinikmati hanya dengan mencampur nasi tiwul tersebut dengan ampas kelapa yang diparut. Namun sebelumnya, ampas kelapa tadi kita campur dengan garam lembut, ingat, secukupnya. Agar rasa nasi tiwul dapat lebih terasa gurih dan nikmat. Wah, ternyata dalam menikmati menu baru, di desa yang baru dapat membuat aku dan ayah selalu berebut selera menu satu ini. Terutama ayah, beliau yang berjuang keras melewati berbagai rintangan selama menunggu ubi dipanin. Semua perjuangan ayah tiada sia-sia. Kini, jerih payah ayah dan ibuku seakan terbayar sudah. Perjuangan panjang yang sangat melelahkan, semua itu seakan tiada terasa.
Namun, entah kenapa ayah selalu menatap lahan yang kini gundul tanpa sebatang tanaman. Namun dapat kubaca apa yang menjadi peta pemikiran ayah saat itu. Dia, selain menatap sejarah panjang masa perjuangannya, beliau juga merenungkan apa yang akan menjadi sasaran selanjutnya terhadap lahan yang untuk sementara masih kosong itu.
Lagi-lagi ayam jago, dia seakan menjadi sahabat setia ayahku juga dikala suasana pagi menyambut kami. Suasana di sekeliling rumah kami memang tepat untuk memunculkan sejuta inspirasi.
Ya, begitulah kawan tentang nasi tiwul atau nasi oyek. Keluarga Pak Ayup nampaknya belum pernah menikmati menu dari kami yang satu ini. Nampaknya nasi oyek ini memang bikinan orang-orang Jawa, dan tidak ada oyek yang dibuat oleh orang sumatera. Nampaknya begitu. Karena sebelumnya aku tidak menemukan satupun nasi tiwul yang dibuat oleh orang pribumi. Untuk keluarga Pak Ayup, mereka tentunya baru pertama kali ini menikmati nasi tiwul.
Dan yang menjadi satu rahasia dalam nasi tiwul adalah, ternyata nasi itu dapat membuat rasa kenyang lebih tahan lama dibanding nasi beras. Hal ini dapat kusimpulkan dari kata-kata ayah yang selain membertahu ibu dan aku, tetapi juga memberitahu keluarga Pak Ayup. Ya, ayahku seakan guru hebat tentang nasi tiwul ini di desa kecil itu. Kapan ya, kira-kira ayah mau diangkat sebagai guru ketrampilan di lembaga pendidkan? Ah, mimipi kali yach.
***
Kini, tiwul menjadi sumber ekonomi keluargaku yang lebih utama. Beras ibu, sekarang makin awet. Namun sayang, ibu pernah sekali mencoba untuk menjual tiwul itu di pasar, yang jauhnya tidak kurang dari tujuh kilo meter dari desa terpencil itu. Namun apa hasilnya, tak satupun orang yang membeli tiwul buatan ala ibu. Kasihan, ibu harus koar-koar mempromosikan tiwul buatannya itu pada seluruh penghuni pasar. Tetap, karena penghuni pasar mayoritas orang pribumi. Hasilnya, justru yang ada ibu malah seakan dikira orang aneh yang menjual sesuatu yang tidak layak jual. Ibu pulang dengan hasil yang mengecewakan.
Setelah ibu pulang dari pasar, bukan sambutan hangat dan manis dari sang suami. Hal yang sangat aneh mungkin bagi ayah jika melihat ibu pergi ke pasar. Karena agenda ke pasar secara otomatis seakan terjadwal dengan sendirinya. Ternyata, kepergian ibu ke pasar tidak atas persetujuan ayah, bahkan izinpun belum. Ayah marah. Ya, ayah sangat marah ketika mendengar ibu pergi ke pasar, dengan tujuan untuk mencoba menjual tiwul hasil usaha keras mereka berdua.
Sebenarnya, ibu tidak lebih dari ingin tahu, apakah laku atau tidak tiwul itu dijual di daerah kami, ingin tahu sejauh mana masyarakat setempat tentang tiwul. Keingin tahuan ibu itu kini lunas sudah. Ternyata hasilnya sama sekali masyarakat setempat tidak mengetahui apa itu tiwul dan oyek. Ibu tidak untuk menjadikan tiwul sebagai penghasilan uang utama kami. Hanya ingin mencoba, tidak lebih dari itu. Namun sayang, kesalah pahaman akhirnya terjadi.
Ayah memang pantangan dan anti untuk menjual hasil dari paninnya yang berjenis makanan pokok; seperti beras dan oyek. Selama ini, untuk menghasilkan uang, ayah rela untuk mengayun sepedanya ke tempat kelahiran kami, Bumiagung. Kebetulan di sana ayah masih memiliki sedikit pekarangan, yang sangat strategis untuk ditanami tanaman sayur-sayuran. Sehingga hasil paninnya dapat ayah jual di pasar Tugumulyo yang tidak begitu jauh dengan Bumiagung, tetangga tepat.
Ayah merasa, ibu tidak menghargai kerja keras ayah. Mengayun sepedanya dengan sejauh seribu kilometer mungkin hal yang biasa bagi ayah, karena setiap musim ayah selalu melakukan itu. Demi uang dan demi keluarga. Aku tahu, ayah dalam kondisi capek. Karena dari pagi ayah mengawali cangkulannya lagi di pekarangan bekas tanaman ubi itu. Namun sarapan pagi jauh beda dengan biasanya. Nasi yang sudah dingin, teh tidak dihidangkan dan sayur sisa malamnya. Namun itu masih layak makan.
Kenapa ayah tidak suka dengan menjual jenis makanan pokoknya? Ternyata hal demikian prinsip yang sangat bagus bagiku. Ayah berfkir, bagi seorang petani, beras dan oyek waktu itu adalah hal yang menjadi makanan utama bagi keluarga. Ayah hanya mengantisipasi, jika suatu saat seandainya seorang petani kelaparan dalam konsdisi tidak punya uang, maka mereka masih dapat menanak nasi atau tiwul yang menjadi makanan pokoknya itu. Untuk sayuran tidak begitu bermasalah, makan alakadarnya hal yang biasa. Apa lagi kami tinggal di desa, apapun dapat dikerjakan dengan bermasyarakat dan kerjasama yang baik. Demikian dengan kebalikannya, jika suatu saat nanti seorang petani kelaparan dan kondisi kepepet dalam keadaan tidak memiliki uang, begitu juga makanan pokoknya telah habis terjual, lalu apa yang akan mereka makan?
Ibu kini paham dengan maksud ayah. Ibu minta maaf pada ayah lalu semua damai kembali. Ibu sangat bangga dengan suaminya dan berusaha untuk tidak mengulangi kembali. Kumis tebal, mata merah, pipi bagian atas nampak jelas tulangnya, itulah kondisi ayah ketika sedang marah. Aku sangat takut. Apalagi sorotan matanya, marah atau tidak tetap merah. Aku sendiri heran. Apapun benda yang ada di sampingnya hancur dan berantakan ketika ayah sedang marah. Keras, emosi dan tegas. Begitulah ayah memimpin keluarganya. Namun, dikala sinar Malaikatnya tiba semua jadi manis, kecuali matanya yang tetap memerah.
11. Ayahku Beli Sawah
Kini bulan bersahabat dengan kami. Usai shalat maghrib aku, ibu dan ayah duduk di lincak depan rumah kami. Menikmati indahnya malam yang penuh dengan cahaya rembulan, terangnya seakan siang, dan bahkan indahnya melebihi permainan yang ayah selalu buatkan untukku, atau permainan yang pernah kutemui seumurku.
Meskipun hutan belum berubah dari sebelumnya, namun kini suasana malam nampak lebih indah dari sebelumnya. Pekarangan di sekeliling rumahku yang baru saja ditanami pohon ubi baru oleh ayah nampaknya mapu ikut berperan dalam menghiasi indahnya malam ini. Oya, kini ternyata ayah sudah tidak lagi susah mencari pohon ubi untuk bibit. Karena sekarang kami telah memiliki banyak bibit ubi dari hasil panin lalu.
Bahkan, kini Pak Ayup mencoba untuk ikut menanam pohon ubi. Ya, meskipun tidak seberapa yang beliau tanam, tapi sekedar untuk memuaskan rasa ingin menikmati ubi rebus cukuplah. Karena Pak Ayup nampaknya memang bukan bidangnya untuk menggeluti lebih dalam tentang nasi tiwul.
Dalam suasana malam yang indah itu, suatu kebanggaan bagi kami ketika melihat keluarga Pak Ayup berkunjung main ke rumahku. Semua. Ya, keempat putra-putrinyapun ikut peran dalam bermain ke rumahku. Aku jadi senang, karena aku dapat bermain bersama mereka malam itu. Kebetulan, karena biasanya yang lebih sering main adalah keluargaku. Karena ayah merasa muda dan merasa punya hutang jasa yang tidak tahu keluarga kami harus membayarnya dengan apa. Kecuali, slaturrahim kuat yang harus tetap berjalan dan tetap menjaga ikatan persaudaraan antara keluarga kami berdua.
“Oe kak...! payo masuk sini...! wah... jadi tak lemak man ba’ini, harusnyo yang mudo main ke rumah tu.” , sapa ayah menyambut kehadiran Pak Ayup sekeluarga, dengan nada bahasanya yang sudah mulai mahir. “Ah, kau ni Ri...biaso bae” , sambung Pak Ayup yang nampaknya menanggapi kikuk-kikuknya ayahku biasa-biasa saja.
Setelah kami semua masuk rumahku yang alhamdulillah cukup untuk menapung kami semua. Ibu langsung masuk ke ruangan untuk mengambilkan satu lampu ublik, jelas untuk menambah keterangan ruangan tamuku yang begitu sempit. Meskipun malam terang bulan, ternyata tetap saja ruangan rumahku gelap. Wajarlah, karena rumah yang dindingnya terbuat dari papan kayu sangat begitu rapat. Apalagi sama ayah tidak diberi satu cendelapun, kelupaan atau apa aku juga kurang paham.
Obrolan demi obrolan terus mengalir tanpa terasa. Bermainku bersama putranya Pak Ayup yang peling kecilpun hampir mencapai pada titik kecapean. Akhirnya kami berdua lari menuju pangkuan ibu kami masing-masing. Terang bulanpun masih setia mengiringi obrolan orang tua kami hingga pada satu titik inti dari pembicaraan Pak Ayup. Ya, inti. Ternyata keluarga Pak Ayup selain sekedar main ke rumahku, beliau juga membawa khabar yang tidak tahu baik atau buruk bagi ayah dan ibu yang lebih paham akan semua itu.
Pak Ayup menawarkan sesuatu kepada ayah dan ibuku, yaitu tanah persawahan yang luasnya satu hektar. Konon katanya, tanah itu dulu, sebelum kami tinggal di desa ini sudah pernah dibuka oleh pemiliknya. Dan Pak Ayup tidak hanya katanya, beliau bahkan pernah menyaksikan sendiri tanah itu dibuka dan ditanami padi oleh yang punya. Tanah itu memang bukan milik Pak Ayup, namun Pak Ayup bilang kalau tanah itu milik tetangganya yang tinggal di pusat kota Kecamatan Pedamaran.
Kali ini tawaran Pak Ayup tidak gratis kawan, namun harus beli. Keenakan ayahku kalau harus dapat tanah dengan tanpa uang. Menskipun demikian, dalam batin ayah dan ibuku sangat kuat untuk memiliki tanah persawahan itu. Ayahku memang tipe petani asli, apapun yang dirasa itu akan membawa kecerahan dalam skillnya, maka harus ayah dapatkan, entah bagaimanapun caranya. Apalagi keinginan untuk memiliki tanah, sangat kuat.
Akhirnya, perbincangan malam itu cukup ditutup dengan informasi yang disampaikan oleh Pak Ayup dan segenap keluarganya. Maka, tak lama dari kepulangan keluarga Pak Ayup kamipun masuk pada peraduan tidur. Malam ini aku tidak dipeluk ibu, karena suasana malam yang cerah itu menghantarkan kami pada suasana yang panas.
Ketika kami bertiga berbaring di atas tikar puron yang sangat dingin itu, ternyata mampu juga mambantu kami dalam sedikit menghilangkan rasa panas yang agak menekan. Kami lama tidak bisa tidur. Namun aktifitasku berbeda dengan ayah dan ibu yang tetap saja nobrol ngalor-ngidul tidak karuan bagiku, namun penting mungkin bagi orang tua. Rapatnya keluargaku adalah ketika menjelang tidur, bukan di ruang tamu atau ruang kerja yang duduk manis di atas suprai dan sejenisnya. Bukan rapat formal tapi non formal.
Sebenarnya aku belum juga tidur, namun ayah dan ibuku mungkin mengira aku telah terbuai dalam mimpi. Tidak. Bukannya nguping pembicaraan orang tua, tapi justru dari obrolan mereka itulah aku dapat tahu banyak ilmu dari prinsip-prinsip ayah dan ibu dalam menghadapi realita. Karena jujur, secara langsung ayah sangat jarang menyampaikan kata-kata mutiaranya yang sangat manjur untukku. Makanya, dari situlah aku mendapatkan banyak wawasan dan teori seorang petani dalam menghadapi hidup.
“Pokoe dewe ki lek iso tuku lemah, lan ojo sampek deweki ngedol lemah. Soale lemah ki mundak suwi mundak larang. Tur Gunane yo akeh. Mendeng nduwe dari pada ra nduwe” , itulah ilmu yang kudapatkan dari malam ini, dan takkan kulupakan sepanjang hidupku. Selain ilmu milik ayah kudaptkan dengan cara mencuri atau mendengarkan pembicaraan ayah dan ibu, ibulah yang lebih dekat denganku dan selalu mentransformasikan prinsip-prinsip ayah kepadaku. Sehingga banyak yang kutahu tentang ayah dari ibu.
Entah kini aku mimpi atau realita, antara sadar dan tidak sadar, dalam kondisiku yang belum jelas kuketahui. Ada ucapan yang keluar dari bibir ayah, “opo duwek seng ko gone embok kae ditukokne lemah kui ae dek?” , begitulah ayahku bilang pada ibu yang sekaligus nampaknya minta pendapat pada istri tercintanya. Setelah itu entah apa jawaban ibu dan apa obrolan mereka berdua aku tidak lagi menyimaknya. Yang jelas aku sudah tidak sadar lagi dan yang kutahu pagi yang cerah menjelang. Kini bangunku kesiangan dan tak sempat menemani ayah memberi makan bangkok kesayangannya, bersama menikmati munculnya sang surya.
Ketika aku bangun dan keluar menuju tempat dimana ayah biasanya memberi makanan peliharaan kesayangannya itu, ternyata ayah sudah tidak ada dan ayamnyapun sudah senam pagi mengelilingi pekarangan kami. Sebenarnya aku harus malu, karena aku kalah dengan seekor ayam jantan peliharaan ayah yang baru saja minggu kemarin dibelikan saudara, ayam betina pastinya. Karena ayah ingin peliharaannya itu berkembang lebih banyak.
Namun, aku melihat ayah berjalan menuju pulang dari arah selatan, yang berarti dari arah rumah Pak Ayup. Wah, tumben ayah jalan-jalan pagi. Ayah tidak lupa akan sarungnya, ya, sarung yang menjadi teman setianya dikala malam hari. Ternyata pagi itu belum terlepas dari lehernya. Begitulah ayah jalan-jalan pagi itu. Tidak memakai sandal, berkalungkan sarung yang bagian atas dan bawahnya ada per otomatisnya. Hebat.
Padahal, biasanya aktifitas pagi ayahku adalah memberi makan ayam, setelah itu mencangkul atau mengerjakan pekarangan di sekeliling rumahku sambil menanti menu sarapan pagi dihidangkan oleh ibu. Kalau tidak mengerjakan pekarangan, pasti pagi-pagi ayah minum teh lalu membersihkan rumput-rumput yang tumbuh di sekitar rumahku. Ya, lagi-lagi tetap cangkul pegangannya, kalau tidak, pasti sabit.
Tidak lama kemudian, datanglah Pak Ayup menuju rumahku. Aku belum tahu apa maksud kedatangannya ke rumah. Tidak biasanya pagi-pagi antara ayah dan Pak Ayup saling berkunjung. Ternyata, kedatangan Pak Ayup adalah untuk menghampiri ayahku. Mereka berdua nampaknya akan melihat kondisi lokasi persawahan yang semalam ditawarkan Pak Ayup kepada ayah. Dan ternyata benar juga, bahwa kepergian ayah pagi-pagi tadi tidak lain adalah datang ke rumah Pak Ayup, dengan maksud dan tujuan minta tolong Pak Ayup untuk diantarkan pada lokasi persawahan tadi. Untuk men-survey lokasi pastinya. Begitulah berita yang kudapat dari ibu.
Berarti dugaanku kini semakin kuat, bahwa apa yang kudengar semalam bukanlah mimpi atau mengigau. Ternyata ayah memiliki uang simpanan dari nenekku. Ya, nenekku dari ayah. Wah, mungkin aku sih tidak begitu heran kalau nenek dari ayah dapat memberi uang kepada ayah. Karena nenekku yang satu ini tinggal di Lampung, yang berpenghasilan kopi. Jadi tentunya banyak uang dan tidak keberatan mungkin kalau harus memberi uang alakadarnya kepada salah satu putranya yang satu ini.
Yang aku tidak tahu, entah bagaimana dan kapan uang itu diberikan atau didapatkan ayah. Setahuku, selama ayah menikah dengan ibu, tidak sekalipun ayah pernah main atau menjenguk ibunya, ataupun nenek yang berkunjung ke rumahkupun belum pernah, setahuku. Ah, itu mungkin urusan orang tua.
Kesimpulan yang diambil oleh ayah adalah, bahwa lokasi persawahan itu memang bagus dan kondusif untuk ditanami padi. Bukan hanya padi, bahkan tanaman polowijo pun jika musim kemarau datang sangat bagus menurut ayah. Meskipun kesimpulan itu tidak seratus persen sama dengan apa yang ada dalam pikiran Pak Ayup. Karena, menyimak apa yang telah diterangkan Pak Ayup akan penghasilan padi, dikala sawah itu ditanami oleh pemiliknya, hasilnya biasa-biasa saja dan tidak memuaskan.
Ayah bilang pada ibu, yang intinya bahwa lokasi itu sangat bagus. Ya, aku percaya ayah. Karena ayah orang yang menurutku adalah pakar petani asli. Sedangkan pemiliknya adalah orang pribumi asli. Ada skill masing-masing ternyata dari individu dan tradisi setempat. Sederhana ayah memahami perbedaan kemampuan dalam bertani antara orang jawa dengan orang pribumi asli (Pedamaran). Mereka memang lebih condong pada perdagangan dan perkebunan. Berbeda dengan orang jawa yang bidangnya pertanian. Menurut ayah, “kalau aku yang mengerjakan sawah itu, pasti hasilnya bagus dan memuaskan”, begitulah mungkin kalau dibahasakan.
Survey tempat selesai dilakukan. Kini, musyawarah kultural antara ayah dan ibu sedang berlanjut. “Piye dek? Di duiti gak?” , begitulah ucapan terakhir ayah sebagai penghujung dari pemaparannya tentang lokasi persawahan itu. “La peye! Manut ae to. La kiro-kiro piye! Lek terai mantep, yo di duwi’i kenek” , begitulah ibu menjawabnya selaku istri yang tidak pernah menantang kodratnya sebagai seorang wanita. Asalkan masih pada koridor keagamaan.
Akhirnya, tanah persawahan itu kini menjadi milik kami. Tidak mahal. Eh, salah. Mungkin harga itu sangat mahal bagi kami, apalagi dulu. Tapi memang, jika ada yang menganggap harga tanah yang dibeli ayah adalah murah, tapi memang itu adalah harga standarnya tanah di tempat kami ini. Aku sendiri kurang paham lebih jauh tentang harga tanah waktu itu, apakah harga yang dibeli ayah itu hanya berlaku bagi ayahku atau memang harga tanah ditempat lain memang sama. Yang jelas aku kurang paham.
Tiga juta rupiah. Ya, itulah jumlah uang yang dikeluarkan ayahku untuk mendapatkan satu hektar tanah persawahan yang ditawarkan Pak Ayup. Tapi ingat, jika ibaratkan montor kendaaan, mungkin tanah itu ibarat montor yang sudah mati, yang artinya motor itu sudah tidak lagi ada STNK, BPKB dan surat-surat kendaraan lainnya. Begitu juga dengan kondisi sawah yang kini dibeli ayah. Sama, sawah itu tidak ber-sertifikat. Aku tahu, ayah pasti tidak mau tahu harga itu mahal atau murah. Bagi ayahku, asalkan punya uang dan tidak menghutang sama orang lain, dan merasa dapat penggantinya dengan yang lebih baik, maka semua itu dianggapnya hal yang murah. Titik.
Dulu memang urusan persoalan tanah tidak begitu ketat. Kini orang tua bilang, “lawong kepemimpinannya Soeharto...!”. Entahlah apa maksudnya. Apa karena tanah itu memang murni diberikan kepada rakyatnya, atau memang diharuskan tanah tidak perlu bersertifikat. Banyak yang tidak kutahu tantang itu. Rasanya banyak yang tersembunyi dan masih kucari.
Tanah yang tidak ber-sertifikat itu sangat rungkut . Jelas, karena bertahun-tahun tanah itu tidak disentuh oleh pemiliknya. Mungkin orangnya sudah kapok setelah melihat hasil garapan padinya menghasilkan panin yang dirasa kurang memuaskan. Lahan itu bagi ayahku belum bisa dikatakan sempurna sawah. Mungkin lebih tepatnya adalah semi sawah. Dengan melihat letak geografisnya yang memang berdampingan dengan bagian rawa-rawa yang masih memiliki kedalaman luar biasa.
Sepakat, kalau lokasi semi sawah itu kini milik kami. Dikatakan semi sawah, karena bagian lokasi itu kebetulan tidak memiliki kedalaman seperti halnya rawa-rawa yang berdampingan dengan lokasi milik kami. Lalu, ketebalan abuk-abuk atau bakungnya yang tumbuh di lokasi itu tidak setebal yang ada pada rawa disampingnya. Ditambah lagi dengan lokasi ketinggian yang lebih dibandingkan dengan lokasi sekelilingnya, sehingga jika musim kemarau tiba lokas ini akan lebih cepat kering disaat yang lain belum mampu terhindar dari air. Disebelah barat semi sawah ini terdapat sungai kecil tembusan sungai kecil yang terdapat didekat rumahku. Mungkin suatu saat air pada sungai itu dapat bermanfaat bagi kami.
Meskipun musim hujan mengguyur bumi, tapi semi sawah ini masih dapat ditanami padi, dengan syarat bahwa bibit padi yang ditanam harus bibit padi yang berjenis pohonnya tinggi. Bibit padi yang sejenis itu, biasanya akan lebih memiliki ketahanan yang tinggi untuk hidup di perairan, sehingga akan tetap dapat bertahan lama meskipun semi sawah itu dipenuhi dengan air.
Lokasi persawahan yang jaraknya tidak lebih dari satu setengah kilo meter dan tidak kurang dari satu kilo meter dari rumahku itu tidak menjadi persoalan bagi ayah dan ibuku untuk mengerjakannya. Yang penting kami punya. Itulah intinya. Jarak itu sebenarnya tidak jauh, hanya saja kami harus memutari jalan setapak yang sekaligus menjadi jalan utama didesaku. Sehingga perjalanan kami menuju sawah itu nampak sedikit jauh. Andaikan ada jalan alternatif, maka jarak yang tidak kurang dari satu kilo meter itu akan nampak terwujud.
Namun yang masih menjadi sedikit kendala adalah, jalan yang pantas untuk kami jadikan jalan alternatif masih berupa hutan belantara. Disamping kanan dan kiri persawahan itu adalah rawa yang luasnya tak terhingga. Seluas mata memandang. Jika itu adalah laut, mungkin sering orang menyebutnya dengan sebutan laut lepas, tapi ini adalah rawa lepas. He he he...! Sedangkan disalah satu sisi lokasi persawahan itu adalah hutan belantara. Yang mana dibalik hutan itu adalah letak rumahku dan rumah Pak Ayup. Jadi, sebenarnya lokasi persawahan itu dengan rumahku hanya dibatasi dengan hutan belantara yang luasnya satu kilometer atau lebih sedikit tepatnya.
***
Dalam hal ini lagi-lagi ayah tidak mau kalah dengan yang namanya hutan itu. “Dewe kudu gawe dalan trobosan cilik-cilik an songko alas dek. Men cedek lek neng sawah” , begitulah gumam ayah pada ibu dikala ngobrol sambil menunggu sarapan pagi dihidangkan. Kini butuh banyak konsep strategi yang harus disusun oleh ayah. Karena ayah sangat senang dengan sawah barunya ini, apapun akan dia lakukan demi itu. Tak ada yang tak mungkin.
Kebetulan, pekarangan di sekeliling rumah telah selesai dikerjakan oleh ayah dan ibu. Tinggal menunggu proses selanjutnya untuk membersihkan rumput-rumput yang tumbuh di bawah pohon ubi. Namun itu nampaknya masih lama, melihat baru dua bulan batang ubi itu ditanam. Didukung dengan tanah bekas hutan, yang menyebabkan tumbuhnya rumput tidak secepat di tanah persawahan. Jadi, kini ayah dapat selingan baru dalam bekerja.
Ayah tidak mau menganggur. Prinsip itu nampaknya banyak digunakan oleh kalangan petani. Aku jadi ingat kata-kata nenek dari ibu, beliau yang kata-katanya selalu berisi pitutur dan nasehat yang sangat menyentuh kalbuku. Karena memang beliaulah yang tinggalnya paling dekat bersama kami. Berbeda dengan nenekku dari ayah, karena tinggalnya jauh yang membuat nasehatnya tidak sesering nenek dari ibu. Tipe nenek dari ibu ini, orangnya memang tidak mau menganggur. Beliau ingin selalu beraktifitas, apapun itu. Beliau pernah bilang pada ibuku, “embok ki li leren malah awak e loro kabeh” . Bagiku terasa aneh waktu itu, orang suruh istirahat kok malah badannya sakit semua, grutuku pada ibu. Hal demikian tidak berbeda sedikitpun dengan nenekku yang dari ayah, justru beliau lebih giat bekerja dibandingkan dengan nenek yang dari ibu.
Mungkin tepatnya bukan perbandingan dari segi giat bekerja dan pemalas. Yang membedakan adalah lokasi dan hasil pencaharian yang berbeda. Kalau nenek dari ayah penghasilannya adalah kopi, yang membuat nenek ini memang harus membutuhkan waktu agak padat dan pekerjaannyapun terlihat lebih keras. Sedangkan nenek dari ibu penghasilannya adalah petani padi, jadi terlihat lebih ringan dibandingkan dengan yang berpenghasilan kopi. Tapi bagaimanapun juga tetap tergantung pada yang memaknai dan yang menjalani saja.
Ayah tidak tunggu lama dan tak banyak bicara. Setelah punya inisiatif untuk membuat jalan alternatif untuk menuju lokasi persawahan kami, dan itu telah disepakati oleh ibu, maka semua itu langsung dikerjakannya dengan sendiri. Ya, sendiri. Ibu belum berani untuk ikut serta bersama ayah menyusuri lorong demi lorong yang terdapat pada hutan belantara itu. Suatu hal yang berbahaya mungkin bagi wanita.
Pertama ayah harus menyusuri lorong demi lorong, lalu hanya memberi tanda apa saja yang bisa membuat ayah tidak lupa akan jalan yang telah dilaluinya. Ya, tidak jauh berbeda dengan bagaimana guru pramuka mengajari muridnya cara ber-kemping itu. Salah satunya yang paling sederhana adalah, ayah cukup dengan menebas pohon-pohon kecil pada jalan yang telah dia lalui. Tujuannya adalah supaya ayah tidak terjebak dalam hutan. Dan yang paling utama yaitu jika jalan yang telah dilaluinya itu adalah benar menembus pada lokasi persawahan, maka jalan yang telah dilalui itulah yang akan ayah jadikan jalan alternatif.
Sinar matahari disiang bolong tidak bersahabat dengan ayahku. Mekipun sinar matahari disiang itu tidak membuat ayah kepanasan, karena daun dan ranting-ranting pohon di hutan mampu menjadikan payung disaat kerja ayah. Waktu shalat dhurur telah menyapa, mungkin sebagai isyarat bahwa ayah disuruh pulang oleh waktu. Namun ayah tidak sadar akan itu. Orang tua jawa pernah bilang yang mungkin itu sudah menjadi mitos atau sejenisnya yang sudah menjadi keyakinan. Nampaknya ayah belum pernah mendengar berita tentang itu, atau lupa, ataupun memang tidak percaya dengan mitos. Aku tidak tahu. Bahwa ibu pernah bilang, ibu juga diberitahu oleh nenek. Katanya, jika seseorang berada dalam hutan belantara, dan dikala waktu dhuhur masuk belum keluar dari hutan itu, maka akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Apa karena mitos itu, ayah mendapatkan sial disiang bolong yang tidak menyatu dengan ayah. Nampaknya iya. Tapi aku membacanya dari sisi agama saja. Karena yang pernah kudengar, bahwa Tuhan mempersilahkan kepada hambanya agar bertaburan di muka bumi ini untuk mendapatkan rizki yang hamba-Nya inginkan. Namun, dikala waktu shalat tiba, hamba tersebut diperintahkan untuk pulang menjalankan ibadah terhadap-Nya.
Mungkin ayah teledor dengan hal itu. Mata ayah seakan dikaburkan oleh sesuatu yang dia sendiri tidak tahu apa itu. Yang jelas, ayah seakan benar-benar tidak tahu mengapa dirinya seakan linglung seperti orang yang tidak tahu tentang apa-apa. Apa lagi jalan menuju pulang. Sama sekali tidak ia ketahui. Untuk mengingat tanda-tanda yang dia buat sendiri disaat ayah menyusuri lorong-lorong untuk menuju lokasi persawahan saja ia tidak mendapatkan.
Ayah bingung tanpa seorang teman. Meskipun dalam kondisi siang, namun hutan itu tidak dapat sempurna untuk menujukkan hakikat kesiangannya. Remang-remang itulah yang dapat ditemukan oleh setiap manusia dikala berada didalamnya. Suara adzan tidak menggema untuk dijadikan sebagai tanda untuk menuju suatu desa. Itu hal yang tidak mungkin. Karena desaku memang belum terdapat masjid. Jangankan masjid, mushala alakadarnya saja belum ada.
Ayah hanya terus berjalan tanpa arah ditengah kebingungannya itu. Meskipun dalam benaknya mengharapkan ada sesuatu yang dapat ditemukan sebagai tanda dia untuk keluar dari hutan itu. Namun tak kunjung datang.
Ibu panik tak karuan. “Bapak kok ugong balek to le! Enek opo-opo sanokno neng alas?” , begitulah gumam ibu padaku ditengah-tengah kepanikannya. Tak ada yang dapat ibu lakukan, kecuali menanti dan terus menanti kepulangan ayah yang diharapkan tidak akan terjadi apa-apa. Untuk mencari dalam hutan adalah hal yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh ibu.
Semua kejadian yang pernah menimpa keluarga kami, yang berkaitan dengan binatang buas terlintas kembali dalam kekhawatiran ibu. Kejadian yang menimpa ayah ini seakan kembali membuka memori ibu tentang semua bahaya yang pernah menimpa kami, khususnya yang terkait bahaya hutan dan binatang buas. Banyak hal yang sudah menimpa; mulai dari ibu beol dan ditemui seekor babi sampai pada ayah yang bertarung dengan para binatang buas di pekarangan ubi. Semua itu kembali terngiang di ketakutan ibu sambil menunggu ayah kambali.
Penantian ibu ada batasnya, begitu juga dengan usaha ayah nampaknya sudah tidak dapat menemukan jalan keluar lagi di hutan sana. Kini hanya ibu yang memang harus mencari bantuan.
Waktu shalat ‘ashar telah tiba, namun ayah tak juga pulang. Akhirnya, lagi-lagi ibu melangkahkan kaki menuju kediaman Pak Ayup. Tak lain meminta bantuan kepada beliau untuk mencarikan jalan keluar yang dapat sedikit melegakan pikiran ibu. Memang, beliaulah orang satu-satunya yang dapat kami mintai tolong. Ibu tidak peduli dengan rasa sungkan yang menghinggap dipikirannya, yang penting kondisi ayah dapat diketahui.
Untung Pak Ayup orangnya baik, kalau tidak, entah apa yang akan kami lakukan lagi untuk semua ini. Matahari perlahan menuju kepulangannya diperanduan. Suasana di luar hutan sudah mulai samar-samar, awan dihiasi dengan warna kekuningan oleh sinar matahari disore hari itu. Kini, Pak Ayup melangkahkan kaki menuju hutan belantara mulai dari arah yang telah diceritakan ibu kepadanya. Kronologi kehilangan ayah telah diceritakan oleh ibu. Hasil dari cerita itu dapat dijadikan sedikit penunjuk jalan bagi Pak Ayup untuk memulai dari mana beliau harus menyusuri langkah demi langkahnya.
Kebranian Pak Ayup memang tidak diragukan lagi. Pengetahuannya tentang hutan itu juga tidak membuat kami harus ragu terhadapnya. Bicara tentang kebranian, sebenarnya ayahku juga bisa kubilang pemberani. Namun bicara tentang wawasan dan pengetahuan tentang kehutanan, ayahku masih jauh dibawah Pak Ayup. Mungkin sampai kapanpun. Buktinya, ayah masih hilang ditelan kondisi hutan.
Anehnya bagiku, yang kuketahui, Pak Ayup tidak menggunakan tanda-tanda apapun disetiap memasuki hutan belantara di daerah kami itu. Heran aku. Ah, mungkin beliau memiliki insting yang kuat tentang wilayah hutan, atau bahkan hutan beserta isinya suda bersahabat dengan beliau. Tuhan memang memberikan suatu kelebihan yang berbeda-beda pada setiap orang. Dan itu mungkin adalah salah satu kelebihan Pak Ayup.
Hanya sebilah golok yang menyerupai pedang tergenggam ditangan kirinya. Sebagai teman dan sekaligus mengantisipasi adanya sesuatu yang tidak diinginkan. Tangan kiri Pak Ayup adalah tersimpan kekuatan utama, bukan tangan kanan. Ini kebanyakan menjadi tradisi dan kebiasaan masyarakat pribumi. Berbeda dengan ayah, yang tersimpan kekuatan supernya terletak pada tangan kanan.
Suasana gelap sedikit demi sedikit mulai merayap, langkah Pak Ayup kini mulai pada titik pertengahan pada hutan belantara itu, namun belum sedikit tanda ditemukan tentang keberadaan ayah. Langkah demi langkah terus beliau susuri, hingga waktu menjelang malam tiba.
Di rumah, aku dan ibu menanti kepulangan mereka berdua di kediaman Pak Ayup. Kami tak henti-hentinya diselimuti rasa takut yang tak kunjung surut. Dalam keheningan malam yang mencekam, sunyi tanpa bernyanyi. Hanya sekumpulan keluarga yang sedang dilanda pilu dan syahdu. Kini bukan hanya ibu yang khawatir akan kehilangn sang suaminya, tetapi istri Pak Ayup pun demikian. Melihat waktu menjelang malam terus berlalu, namun semua tak kunjung datang. Semua resah dan gelisah.
Kami lebih banyak terdiam dan berdo’a ketimbang ngobrol. Dasar manusia, kalau sedih selalu bedo’a, tapi kalau senang seakan lupa akan Tuhannya. Ya, pikiran itu kini terlintas di benak ibu, mungkin juga keluarga Pak Ayup demikian. Sepinya suasana malam menjadi penantian, munculnya suara yang menuju kearah rumah Pak Ayup menjadi harapan. Ya, kami menanti datangnya suara langkah kaki yang menuju rumah kecil itu.
Tak lama kemudian, apa yang menjadi penantian kami terwujud. Tiba-tiba terdengar suara langkah kecil menuju rumah Pak Ayup. Ya, itu suara ayahku ternyata. Namun, kenapa ayah pulang seorang diri tanpa sahabat baiknya, Pak Ayup yang pasti. Ayah sengaja mencari aku dan ibu, karena setelah sampai di rumah ayah tidak melihat keberadaan kami berdua.
Aku dan ibu sangat bersyukur, tapi istri Pak Ayup beserta putra-putrinya kini bertambah panik. Jelas, kamipun bertabah panik pula ketika mendengar cerita ayah yang pulang memang benar tanpa bertemu dengan Pak Ayup sama sekali.
Kini, apa yang akan ayah lakukan untuk menemukan sahabat sejatinya? Tak ada pilihan lain, kecuali harus menyusuri lorog demi lorong hutan belantara itu lagi. Ya, yang ada saat ini adalah cari-carian atau saling mencari. Kami takut, istri Pak Ayup beserta keluarganya semua akan marah dengan keluargaku. Karena semua ini terjadi tak lain atas ulah keluargaku tentunya.
Berdasarkan logika, memang susah kalau ayah dan Pak Ayup akan bertemu di tengah hutan yang luas itu. Bagaimana tidak, pak ayup menelusuri jejak ayah lewat jalan dimana ayah masuk hutan belantara pertama kali. Jelas pada ujungnya Pak Ayup akan sampai pada lokasi persawahan kami. Itu yang terjadi pada Pak Ayup. Sedangkan ayahku, dia tersasar pada arah dan tujuan yang tak pasti. Menelusuri jejak lorong hutan yang sangat asing bagi ayah, hingga ayah sampai pada danau yang sangat luas di ujung hutan sebelah selatan. Sedangkan lokasi tempat tinggal kami terletak di hutan sebelah utara.
Luar biasa ayah. Dia hampir mengelilingi seluruh hutan di sebelah timur desa kami. Ayah pulang bukan dari arah persawahan kami yang terletak menyudut ke arah utara dan timur, tetapi ayah pulang melewati jalan setapak dari arah desa Bunut, yaitu tetangga desa kami yang terletak disebelah selatan desaku.
Setelah ayah bilang pada kami untuk keluar mencari Pak Ayup. Langsung dia bertindak turun dari rumah panggung itu untuk mencari dimana Pak Ayup berada. Namun ayah khawatir akan terjadi hal yang serupa. Maksudnya, janga-jangan nanti setelah ayah masuk hutan lagi, tiba-tiba Pak Ayup sudah berada di rumah. Sambil berjalan tentunya ayah berfikir untuk menemukan strategi yang tepat untuk menyiasati masalah ini.
Langkah pertama yang ayah ambil, ayah akan langsung menuju lokasi persawahan kami. Karena mungkin Pak Ayup berfikir kalau ayah berada disana. Kalau di sawah tidak diketemukan, maka langkah kedua dalam pleaning ayah adalah, harus menelusuri jalan setapak yang dia buat siangnya tadi, sekaligus jalan yang membuat dirinya terjebak. Jika langkah itu belum ditemukan, maka ayah tetap tidak akan masuk hutan lebih dalam ketika malam mencekam saat ini. Tapi ayah hanya ingin mencari Pak Ayup di lokasi pinggiran hutan. Dan mungkin esoknya baru ayah akan menelusuri hutan belantara itu.
Namun pleaningnya cukup sampai disitu. Tiba-tiba, setelah ayah berjalan sampai di depan rumah kami, ayah mendengar suara kecil seseorang yang berjalan dari arah depannya. Nampaknya ayah akan berpapasan dengan seseorang yang belum jelas siapa dia. Karena gelapnya malam membutakan semuanya. Balum sempat diantara mereka berdua menyalakan senternya, dengan cepat ayah menyembunyikan diri dibalik semak-semak hutan di pinggir jalan. Yang menjadi keingintahuan ayah adalah, siapa tahu itu adalah pencuri, yang berarti dia harus ditebas lehernya dari belakang oleh ayah.
Namun perkiraan itu salah, justru setelah ayah menyembunyikan diri, orang tersebut menyalakan senter yang diikatkan di kepalanya. Ya, ayah pasti paham betul kalau itu adalah sahabatnya, Pak Ayup. Senter ala baru bagiku itu sangat unik memang. Senter yang sebenarnya untuk ngobor itu oleh Pak Ayup menjadi senter yang multi fungsi. Tentunya belum ada dipasaran. Senter itu dirakit sendiri oleh Pak Ayup, yaitu berdasarkan kreatifitas yang muncul dari kebutuhan beliau.
Akhirnya, tegur sapapun terjadi. Ayah menahan rasa gembira karena ujian telah berhasil dilaluinya. Kami tak ada yang mempermasalahkan kejadian itu. Semua memang terjadi diluar dugaan dan tanpa disengaja pastinya.
12. Desaku Bertambah Penghuni
Dalam kondisi desaku yang masih hutan belantara, desa kecil mungil terdiri dari dua keluarga ini, ternyata lambat laun baunya telah tercium juga oleh manusia dari luar sana. Belum sempurna, bahkan bisa dibilang masih dalam tahap awal ayah dan Pak Ayup merintis sebuah desa ini. Tapi, syukurlah ada tamu yang hendak merekatkan diri kepada kami. Nampaknya suatu anugerah dari Tuhan, karena rasanya memang orang tua di desa itu membutuhkan sedikit dan kalau ada justru banyak bantuan. Tak lain untuk merintis sebuah desa yang layaknya pantas untuk pedesaan dengan penghasilan kebun dan pertanian.
Pakde Sakimen. Itulah beliau yang datang bertamu kepada kami. Pakde adalah penggilan yang diajarkan ayah dan ibu kepadaku untuk memanggil orang yang usianya lebih tua dari ayahku. Dan biasanya, orang tersebut sudah terlalu dekat dengan ayah atau keluarga kami. Sebenarnya yang lebih resmi, sebutan pakde adalah untuk saudara yang posisinya berada diatas ayah atau ibuku. Semisal, kakak laki-laki dari ayahku dan kakak laki-laki dari ibu, mereka itulah yang dalam lingkup keluarga aku panggil pakde. Dan itu adalah sebutan yang lazim digunakan oleh orang Jawa.
Kenapa aku harus memanggilnya Pakde? Sebenarnya beliau tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga kami, tetapi desa Tugumulyo dengan Bumiagung tidaklah jauh. Sehingga membuat nenekku dari ibu sering main ke ruah ibunya Pakde Sakimen. Hubungan mereka terus berlanjut, dan bahkan bisa dibilang keluarga kami ibaratkan saudara dekat.
Ya, hubungan bermasyarakat dipedesaan terkadang memang bisa mengalahkan hubungan saudara sendiri. Namun juga sebaliknya, karena dekatnya terkadang juga bisa memunculkan banyak fitnah. Jadi teringat dengan pesan ajaran Islam, yang kutahu bahwa hubungan persekawanan yang terlalu dekat dapat memunculkan fitnah. Tapi bagiku tergantung pada kita yang memainkan drama kehidupan.
Berlanjutnya hubungan tersebut turun temurun hingga pada anak cucu nenekku, termasuk ibuku. Sedangkan ayahku hanya terbawa dari ibu. Semua itu tak terasa bagiku, seakan kami adalah saudara.
Pakde Sakimen dapat info lebih lanjut tentang desa pelosok kami, yaitu dari nenekku yang tinggal di Bumiagung. Mulanya hanya sekedar lewat obrolan biasa antara nenek dengan ibunya Pakde Sakimen. Biasa, sambil ngerumpi gitu mungkin. Akhirnya sampai pada satu titik tentang kehidupan keluargaku yang tinggal di desa pedalaman ini.
Mulai dari bagaimana cara mendapatkan tanah sebagai tempat tinggal keluarga kami, sampai pada bagaimana kami mendapatkan hasil perekonomian. Semua diceritakan, hampir tak ada yang terlewatkan. Ngerumpi adalah kebiasaan masyarakat pedesaan. Makanya, harus hati-hati hidup di tengah-tengah desa. Salah sedikit tentang perjalanan hidup pribadi maupun keluarga, maka dalam sekejap berita itu akan membuming di tengah-tengah masyarakat.
Informasi lebih gampang dari pada diperkotaan. Tapi tentang wawasan dunia, masyarakat jauh labih tertinggal. Ya, mungkin memang sengaja tidak diperhatikan oleh pemerintah tentang perkembangan teknologi. Hingga sampai kini masyih banyak masyarakat yang Gaptek alias Gagap Teknologi.
Tapi, terkadang juga ada sisi baiknya ngerumpi itu. Contohnya, kini Pakde Sakimen tahu di mana keluarga kami tinggal. Jadi, tidak perlu harus buka-buka di internet segala. Lagian, mana bisa Pakde Sakimen buka internet. Tahu namanya saja tidak. Begitu juga dengan desaku, tidak mungkin desa itu muncul di internet. Kayak kota besar saja.
Setelah berita dari obrolan nenek itu sampai pada Pakde Sakimen, maka tumbuh benih-benih keinginan untuk survey lokasi tepat kami tinggal. Surveypun berlanjut, dan bertemulah Pakde Sakimen dengan ayah dan ibu dikediamanku yang kecil dan mungil itu. Kini obrolan terus berlanjut, dan bahkan tak hanya satu hari Pakde tidur di gubuk kami. Ya, survey membutuhkan analisis kuat dan harus mendapatkan data valid untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan. Wah, orang desapun tahu bagaimana cara meng-analisis.
Kini maksud kedatangan Pakde telah diketahui oleh ayah dan ibu. Namun, untuk memutuskan satu kebijak yang akan dipersembahkan kepada Pakde, antara “iya” dan ”tidak” bukanlah wewenang keluarga kami. Namun, Pak Ayuplah yang memegang kendali atas semua itu. Hanya respon dan tanggapan positif yang dapat diberikan ayah kepada Pakde. Namun ayah tahu, bahwa Pak Ayup adalah sosok yang bijaksana yang akan memberkan satu jawaban memuaskan pada Pakde.
Ternyata benar, bahwa Pak Ayup mengatakan, sebenarnya beliau sendiri bukanlah apa-apa, dan bukan pula siapa-siapa di desa ini. Namun beliau hanya merasa yang sebenarnya bukanlah keinginannya, kalau beliau di tuakan di desa ini, baik saat ini dan nampaknya akan sampai kapanpun, asal beliau masih menginjakkan kaki di desa ini.
Keputusan telah disetujui oleh Pak Ayup. Sehingga semua itu telah melegakan hati Pakde pastinya, meskipun secara individu ayah agak sungkan dengan Pak Ayup yang telah terlalu banyak membantu kami. Namun semua ini telah menjadi kesepakatan untuk berusaha memajukan desa kecil ini. Pakde pun pulang ke Bumiagung dengan hati yang lega, telah mendapatkan keputusan sekaligus lokasi yang akan dijadikan sebagai bangunan rumah kecil.
Namun anehnya, kenapa lokasi yang akan didirikan bangunan rumah Pakde Sakimen tidak berdekatan dengan lokasi di mana kami tinggal? Hal itu sejenak manjadi pertanyaan dalam batinku. Namun hanya mampu kulontarkan pada sang ibu yang baik hati, meskipun jawabannya hanya “emboh, mamak yo ra ngerti.” Ya, meskipun jawaban itu yang kudapat, tetaplah itu menjadi jawan yang sangat berarti bagiku. Lewat itu mungkin aku disuruh untuk menganalisis kenapa Pakde harus memilih lokasi yang agak jauh dari kami.
Namun aku tetap yakin, kalau beliau tidak ada maksud sama sekali untuk menjauh dari kami. Kedekatan hubungan persaudaraan sangatlah penting, namun bukan berarti hanya diukur dari segi tempat tinggal. Lokasi bukan menjadi jaminan untuk terus eratnya ikatan persaudaraan. Terlalu banyak mereka dekat dalam segala hal, tapi akhirnya hanya fitnah yang terus melanda. Dan sebaliknya dengan persaudaraan yang bertempat tinggal jauh, mereka akan terus menemukan keharmonisan dalam perjalanan saudara. Sekali lagi saya katakan, semua itu tergantung pada manusianya yang menjalankan sandiwara kehidupan. Ya, meskipun ada sebagian orang bilang, kalau setiap gerak manusia tidak lepas dari kendali Tuhan.
Tanah pinggir rawa ternyata lebih menjadi minat Pakde ketimbang tanah yang berlokasi di tengah hutan yang ayahku tempati. Nampaknya, calon rumah Pakde Sakiman akan lebih dekat dengan lokasi persawahan ayah yang belum lama dibeli ketimbang dengan rumah kami. Hanya saja, lokasi itu berada pada lokasi yang lebih tinggi dari rawa-rawa disampingnya. Sangat cukup dan strategislah tempat itu untuk didirikan sebuah bangunan rumah atau gubuk.
Lokasi rumah Pakde berada disebelah utara lokasi rumahku dan rumah Pak Ayup pastinya. Kali kecil yang terletak didekat rumah kami harus menjadi jalan penyebrangan ketika harus menuju rumah Pakde. Setelah menyebrangi kali harus melewati belukar atau lokasi kosong yang ditumbuhi banyak rumput dan pohon-pohon kecil, kurang lebih satu kilo meter baru sampai pada rumah Pakde Sakimen.
Rumahku dan rumah Pak Ayup dikelilingi oleh hutan belantara, sedangkan rumah Pakde Sakimen dikelilingi oleh rawa-rawa. Ya, memang lokasi pertanahan itu berbeda. Lokasi tempat kami memang berada pada lokasi yang paling tinggi dibandingkan lokasi lainnya, sedangkan tempat Pakde berada pada lokasi yang bisa dikatakan paling bawah di desa kami. Wajar jika kondisi tetumbuhan harus memberi nuansa yang berbeda pula.
Yang menjadi pertimbangan Pakde bukanlah lokasi yang akan didirikan rumah, akan tetapi lokasi yang dapat dijadikan sebagai penghasilan utamanya. Memang, jika dilihat dari segi itu Pakde benar. Pakde lebih mengutamakan persawahannya ketimbang perkebunan seperti halnya ayah. Sebenarnya sama, hanya saja kondisi yang membuat ayah harus dituntut untuk membuka lahan perkebunan guna ditanami ubi terlebih dahulu. Ah, sudahlah, semua itu pasti ada hikmahnya masing-masing. Kembali kepokok awal, memiliki tanah lebih baik dari pada tidak punya, apalagi menjual tanah.
Kurang lebih satu hektar tanah kini menjadi milik Pakde Sakimen yang berada di tengah-tengah rawa. Di situlah berdiri bangunan gubuk kecil yang menyerupai kandang kambing pula. Ya, Pakde sengaja berminat membangun rumah seperti rumah Pak Ayup. Dengan pertimbangan, pertama memang jatuh cinta sama rumah Pak Ayup yang karena dirasa agak unik menurutnya. Kedua untuk mengantisipasi adanya bahaya binatang-binatang ganas yang tidak dikenal. Ketiga guna mengantisipasi datangnya banjir yang siapa tahu musim hujan datang gubuk itu bisa terendam air.
Pakde Sakimen yang memboyong ke-lima putra-putrinya ini memang harus membutuhkan kosentrasi penuh untuk melindungi keamanannya. Tanggungjawabnya sebagai kepala rumah tangga lebih berat dari pada ayah pastinya. Kang Supreh adalah putra pertamanya, Kang Erwan adalah putra kedua, Mbak Karmik putri ketiga, Kang Waluyo putra ke-empat dan Kang Eko adalah putra bungsu beliau.
Ya, ibu selalu mendidikku untuk memanggil orang yang usianya lebih tinggi diatasku dengan panggilan “kang”. Hingga kini ajaran itu tatap kuterapkan. Ya, jika ingin dihargai maka hargailah orang lain. Seperti itu yang kutahu dari ibu. Meskipun orang itu selisih satu tahun labih tinggi diatasku, aku tetap memanggilnya “kang”. Hingga rasanya ada yang mengganjal dihatiku, jika aku memanggil dengan sebutan namanya. Ajaran itu memang telah terpatri dalam sanubariku.
Ajaran mulia itu di desa kecil ini masih kuterapkan kepada putra-putrinya Pak Ayup dan Pakde Sakimen. Karena memang tidak ada lagi yang lain. Dulu, ketika di Bumiagung aku mampu mempraktikkan ajaran-ajaran ibu pada banyak orang. Tapi kini di sini belum. Kang Supreh, Kang Erwan dan Mbak Karmik sengaja kupanggil kang dan mbak karena usianya memang berada diatasku. Sedangkan berbeda dengan Kang Waluyo yang sebenarnya dia adalah seusia denganku, begitu juga dengan Kang Eko yang justru usianya berada dibawahku.
Namun Kang Waluyo dan Kang Eko tetap kupanggil “kang”, hal ini bukan dilihat dari segi tingkatan usiaku dan usia mereka berdua yang berbeda. Akan tetapi dilihat dari usia orang tua kami yang memang lebih tua Pakde Sakimen dari pada ayah dan ibuku. Jauh malahan. Entah, kenapa hal demikian bisa terjadi. Tapi bagiku tetap enjoy-enjoy saja tanpa ada rasa iri atau apapun yang membuat kami ribut gara-gara panggilan. Justru aku lebih merasa diriku terus menjadi orang kecil dan awet muda. He he he...! Mungkin semua itu sudah menjadi hukum tradisi sekaligus hukum alam.
Satu hektar tanah yang telah menjadi kesepakatan kami bersama untuk dijadikan pegangan Pakde Sakimen itu, hanya seklumit lokasi yang dijadikan sebagai lahan untuk mendrikan rumahnya. Ya, karena hanya gubuk kecil model panggung itu tempat tinggal Pakde untuk menampung seluruh keluarganya yang berjumlah tujuh orang itu. Pakde Sakimen, Mbokde Parni dan kelima anaknya. Ya, Mbokde Parni adalah istri dari Pakde Sakimen.
Kalau untuk yang laki-laki aku panggil Pakde, maka istrinya aku panggil Mbokde. Mungkin itu serangkaian penggilan yang sering kuterapkan melalui ajaran-ajaran dari ayah dan ibu. Begitu juga orang jawa umumnya, mungkin. Karena semua itu tidak lepas dari tradisi dan budaya setempat.
Lahan milik Pakde, selain yang didirikan sebagai tempat bangunan rumah adalah dijadikan sebagai lahan persawahan. Ya, semuanya. Jika lokasi di sekeliling rumahku adalah semuanya perkebunan ubi, berbeda halnya dengan di sekeliling rumah Pakde yang semuanya sudah bisa dijadikan sebagai lahan persawahan untuk ditanami padi. Turun dari tangga rumah, langsung sawah. Kalau rumahku yang kebetulan rumah ala jawa yang tidak ber-panggung, keluar dari rumah langsung kebun ubi. Jika rumah Pak Ayup, turun dari rumah langsung hutan belantara. Begitulah kondisi nyata.
Jadi, tidak perlu kuuraikan panjang lebar tentang penghasilan Pakde Sakimen. Yang jelas petani padi itulah penghasilan untuk menghdupi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Ya, sama persis dengan keluargaku. Hanya saja ayah dapat menggarap lahan yang dapat menghasilkan ubi sebagai makanan tambahan kami.
Ngomongin ubi, wah, ternyata keluarga Pakde juga sama hobinya dengan keluargaku tentang nasi tiwul atau oyek. Wajar kali, memang kami nampaknya satu ledeng . Jika diruntut, ternyata keluarga Pakde Sakimen ini berasal dari tanah Yogyakarta. Namun kurang tahu tepatnya daerah mana. Yang jelas ketika mendengar ceritanya, beliau pernah menginjakkan kaki di daerah Sleman, Bantul, Magelang dan Klaten. Jelasnya beliau juga oang Jawa tulen.
Waktu terus berlalu dengan kehidupan sosial kami yang terus membaik, ekonomi yang terus kami jalani dengan tulus ikhlas apa adanya. Nampaknya kami hanya wajib berdo’a dan berusaha, selanjutnya tergantung pada Yang Kuasa.
***
Masa kecilkupun terus enjoy dengan bermain bersama putra-putrinya Pak Ayup, begitu juga dengan putra-putrinya Pakde. Nama-nama mereka telah kuhafal, bukan sekedar kuhafal namanya tetapi bahkan sampai pada sifat-sifatnyapun telah kupahami dengan baik. Mbak Karmik yang bertubuh kecil mungil dengan rambut sebahu, alis tipis bak bidadari yang turun dari hutan kayangan, hidung bangir dan dihiasi wajah putih bersih, muka bulat nan sempurna sangat cantiknya. Pantatnya tak perlu kugambarkan, yang penting aduh hay...!
Berbeda dengan Kang Waluyo, aku yang menyebutnya dia si penyandang gelar drum bodol . Seperti ini kira-kira gambarannya; kepala bulat dengan rambut pendek dan selalu berdiri, tubuh hitam dan jarang mandi, meskipun mandi juga semaunya. Matanya memiliki bola yang besar, tubuhnya sangat gemuk dagel yang aku tak mampu melilitkan tanganku pada tubuhnya. Luar biasa Kang Waluyo. Nampaknya dia mewarisi tubuh ayahnya yang sama besarnya. Sedangkan Mbak Karmik mewarisi tubuh ibunya yang juga kecil mungil.
Untuk Kang Eko, dia juga sama bertubuh hitam seperti kakaknya, Kang Waluyo. Cara mandinya juga sama, namun profil tubuhnya yang jauh beda. Dia mewarisi ibunya yang bertubuh kecil dan tak segemuk Kang Waluyo. Dalam bermain bersama mereka, aku dan putra-putrinya Pak Ayup sering tertawa habis melihat tingkah Kang Waluyo dan Kang Eko. Bagaimana tidak, dalam bermain ataupun bercanda mereka berdua selalu berantem. Bayangkan, Kang Eko yang memiliki poster tubuh kecil mungil seperti itu dibantai sama Kang Waluyo yang tubuhnya jelas gemuk laksana gajah, kami juga sering menyebutnya itu.
Dan tidak tanggung-tanggung pelajaran yang diberikan Kang Waluyo kepada adiknya itu. Kalau emosinya sudah memuncak, tidak sekali dua kali Kang Eko dibantingnya. Namun selalu tak ada perlawanan yang signifikan dari Kang Eko, jelas. Itulah ulah kami dalam bermain. Bodohnya, aku dan teman-teman yang lain tidak memisah mereka berdua, yang kami lakukan justru menonton yang menurut kami itu adalah pertunjukkan seru.
Kenapa ya? Apa karena kami selalu tinggal di hutan yang tidak pernah melihat realita seperti itu. Ah, bodoh lah. Karena tidak ada perlawanan dari Kang Eko, maka akhir dari sebuah pertunjukan itu selalu di tutup dengan suara tangis Kang Eko yang begitu keras. Sangat keras. Terkadang justru kami malah sengaja mengejek Kang Eko atau memanas-manasi mereka berdua.
Jika perkelahian mereka berdua bertahan lama, dan Kang Eko tak kunjung mengeluarkan tangisnya, terpaksa kami harus turun tangan. Disaat melihat mata Kang Eko sudah mulai memerah, langsung kami semua berteriak “nangis...nangis...! nangis...nangis...!”. Maka tidak usah kita menunggu lama lagi, Kang Eko Pasti nangis kalau mendengar suara kami itu. Dasar anak kecil.
Sedangkan Mbak Karmik, yang usianya kebetulan berada diatas kami semua, mungkin selisihnya sektar dua tahun-nan lah. Dia yang kuanggap sebagai dewan penasehat ketika ingin mengambil keputusan apapun dalam bermain. Jika dia bilang “iya”, maka kamipun ikut. Dan sebaliknya jika dia bilang “tidak”, maka kamipun tidak melakukannya. Dia orang yang kuanggap paling bijaksana diantara teman-temanku yang lain, mungkin pertama karena faktor usia dan profil yang sedikit memiliki kedewasaan.
Namun yang bikin aku bingung, kenapa Mbak Karmik selalu diam ketika melihat pertengkaran yang terjadi pada kedua adiknya itu, Kang Waluyo dan Kang Eko. Hanya saja Mbak Karmik tidak ikut tertawa ketika kami menertawakan mereka berdua. Dia hanya selalu menonton. Ah, aku tidak yakin kalau Mbak Karmik tidak memendam sesuatu dibenaknya ketika melihat kejadian itu. Buktinya, setiap diakhir pertengkaran mereka berdua, setelah Kang Eko mengeluarkan tangisnya, Mbak Karmik selalu berucap meskipun itu sepatah dua patah kata. Yang selalu kuingat, dia selalu bilang, “Waluyo ki nakal men to. Ora melas karo adik’e”
Aku yakin, sebenarnya Mbak Karmik tidak tega melihat pertunjukan itu. Masak ada sih kakak yang tega melihat adiknya berantem dan di biarkan saja. Namun, mungkin dia malu dengan kami untuk melerainya. Dan disisi lain, kedua adiknya itu memang agak sedikit dableg alias susah dibilangin.
Sedangkan Kang Supreh dan Kang Erwan, kedua putra Pakde Sakimen yang pertama dan kedua ini sangat jarang mereka bermain bersama kami. Bahkan bisa dibilang tidak pernah. Kang Supreh yang usianya sudah dewasa seakan menuntut dirinya untuk berfikir bagaimana membantu meringankan beban orang tuanya untuk mencari nafkah dan kebutuhan lainnya.
Dia sudah banyak menggenggam wilayah lain selain desaku. Petualangannya sudah tidak bisa lagi diterka oleh anak seusia kami. Setiap musim panen tiba, Kang Supreh selalu melenyapkan diri dari desa kami, yaitu untuk pergi buroh . Derep adalah pekerjaan yang sudah menjadi makanannya setiap musim panin padi menyapa.
Empat sampai lima bulan dalam perantauan, baru Kang Supreh pulang ke tempat tinggalnya. Pastinya dengan membawa hasil dari kerja kerasnya selama berbulan-bulan dan diberikan kepada kedua orang tuanya. Hasil yang diperolehpun tidak dapat dipastikan berupa nominalnya. Jelas, namanya saja orang perantauan.
Untuk Kang Erwan telah memilik bagian tugas sendiri dalam kelurganya. Ya, meskipun terkadang sekali dua kali Kang Erwan ini masih mau nimbrung bersama kami, tetapi dia tetap lebih memfokuskan diri pada tugas untuk membantu orang tuanya menggarap pekerjaan di sawah. Sama dengan lokasi persawahan milik ayahku. Jika musim hujan tiba, maka sawah itu ditanami padi, begitu juga ketika musim berganti kemarau sawah itu ditanami polowijo atau tanaman sayur-sayuran.
Untuk tipe Kang Erwan ini, dia tidak memiliki peran yang berarti dalam lingkup anak seusia kami. Keikutsertaannya dalam bermain sangat jauh berbeda. Apa yang menjadi minat kami sama sekali tidak masuk dalam kategori hobynya. Begitu juga dengan sebaliknya apa yan menjadi permintaan dia kepada kami untuk mengikuti apa yang ia inginkan tidak pernah kami turuti. “Ya...dolanan opo ngono kuwi ki. Gak asyik kang-kang” , ucapan itulah yang sering kuucapkan ketika mengomentari apa yang menjadi permintaannya kepada kami.
13. Marga Ngapak
Tidak selang begitu lama setelah kedatangan Pakde Sakimen ke desa kecil itu, mungkin kami baru mengalami satu musmim panin padi. Aku tanpa sengaja gitu, mendengar obrolan yang sedang berlangsung antara para sesepuh di desaku; ya pastinya Pak Ayup, ayahku dan Pakde Sakimen. Tak lupa pula para istri-istri tercintanya.
Kebetulan siang mencekam itu ayahku membutuhkan bantuan tenaga kepada kedua keluarga yang ada di desaku. Yang tak lain untuk sambatan gejek kacang brol . Karena musim padi telah berlalu dan kini berganti musim kemarau telah menyapa. Berarti, penduduk desa itu mulai menyiapkan segala kebutuhan untuk menanami ladangnya dengan berbagai sayur-sayuran dan sejenisnya. Yang penting berbau tanaman yang cocok untuk musim kemarau, tak lupa juga harus menyesuaikan tanahnya dengan jenis tanaman yang cocok.
Setelah munculnya lokasi persawahan di desaku, kini hubungan persaudaraan kami makin erat. Salah satunya kami wujudkan dengan agenda gotong royong bergiliran setiap kami membutuhkan bantuan tenaga. Misalnya seperti tadi, ketika ayahku ingin menanam kacang tanah, keluarga kami meminta bantuan kepada keluarga Pakde Sakimen dan keluarga Pak Ayup. Kami tidak memberinya uang, tetapi keluargaku hanya menyediakan makan dan fasilitas yang berkaitan dengan perut saja.
Siang itulah, ketika guyuran panas menyengat kulit membuat para pekerja itu harus istirahat barang sejenak, untuk meneduhkan tubuh di bawah pohon yang tumbuh dipinggiran sawahku. Aku yang sedang bermain bersama tetan-teman lainnya juga tak luput untuk mengikuti jejak dimana para orang tua kami istirahat. Ya, kami selalu mengikuti kemana orang tua kami pergi, jika itu jauh dan kondisinya memang harus memungkinkan kami untuk ikut kemana orang tua pergi.
Begitupun dengan saat ini, para bocah cilik itu harus mengikuti orang tuanya pergi ke sawahku tak lain untuk menuai bibit kacang tanah. Yang kudengar disela-sela obrolan mereka adalah, Pak Ayup yang mendengar isu kalau desaku akan kedatangan tamu lagi. “Wah Ri, nampaknyo kito nak kedatangan kawan lagi ni Ri!” , begitulah sapa Pak Ayup ditengah-tengah perkumpulan kami, tak lain dengan menyebut nama ayahku.
Mungkin sampai saat ini Pak Ayup masih lebih dekat dengan ayahku ketimbang Pakde Sakimen. Wajar, ayahkukan lebih dulu dari Pakde, dan rumahkupun lebih dekat dengan Pak Ayup dari pada Pakde. Hal itu mungkin sedikit mempengaruhi tentang keakraban. “Siapo Kak?” , lanjut ayah bertanya balik pada Pak Ayup.
Namun sayang, Pak Ayup nampaknya belum tahu pasti tentang siapa tamu yang akan datang itu. Karena konon beliau juga mendengar kabar dari tetangganya dikota kecamatan, Pedamaran. Berdasarkan info yang beliau dengar, katanya salah satu tetangganya ada yang menikah dengan status blasteran alias orang prbumi menikah dengan orang Jawa. Itupun belum diketahui Jawanya daerah jawa mana tepatnya. Hanya sekedar itu kabar yang didengar.
Beberapa hari kemudian, datanglah tetangga Pak Ayup itu ke desa kami. Dia datang dengan dua orang lelaki yang mungkin itu saudaranya yang dimaksudkan Pak Ayup akan menetap di desa kecil ini. Mereka datang dengan maksud mencari lokasi yang diperkirakan akan cocok untuk didirikan rumah. Nampaknya, tetangga Pak Ayup ini sudah memahami seluk beluk dan mekanisme bagaimana harus menetap di wilayah kami.
Dilihat dari gaya bicaranya yang seakan tidak lagi kebingungan, dan tanpa rasa rikuh lagi kepada kami yang katakanlah lama menetap di kawasan mungil ini. Wajar. Memang, jika dilihat dari situasinya, nampaknya semua orang pribumi ini seakan-akan berkuasa penuh akan wilayah ini. Mungkin karena tanah itu adalah masuk dalam kawasan kecamatan Pedamaran, dan tetangga Pak Ayup itupun orang Pedamaran asli. Berbeda dengan ayahku dan Pakde Sakimen dulu, mereka berdua harus memenuhi proses survey dan lain sebagainya, dan juga harus diliputi rasa sungkan.
Tak masalah, yang penting desaku bisa ramai dengan penduduk itu kami sangat bersyukur. Sangat tidak rumit proses peninjauan tetangga Pak Ayup ini, dalam beberapa hari mereka sudah berbondong-bondong ke rumahku untuk menitipkan segala bentuk perlengkapan yang akan dipergunakan untuk pembangunan gubuk kecil. Baik itu bentuk material semacam gergaji, paku, parang dan lain sebagainya, sampai pada perlengkapan memasak untuk kebutuhan para pekerja yang bergotong royong membangun rumah mereka.
Dan tak lupa pula, sebagian perlengkapan tidurpun sudah dibawa. Rumahku sangat penuh, benar-benar penuh dengan berbagai perlengkapan calon tetangga baru kami itu. Ya, maklum, akukan anak kecil. Jadi kapan dan dimana mereka izin dengan ayah dan ibuku aku tidak tahu, yang jelas orang tuaku nampak enjoy-enjoy saja menerima semua kehadiran tamunya.
Yang membuat kami tertarik, adalah mereka yang akan pindah ke desaku ini tidak hanya satu maupun dua keluarga, akan tetapi sak anak putune katut . Mulai dari ibu yang bernama Mbah Pariem, kebetulan nenek ini sudah tidak bersama suami tercintanya ketika datang ke desaku. Kemudian anaknya empat yang sudah berkeluarga dan satu masih berjaka. Belum ditambah cucu-cucunya yang lumayan banyak juga. Dan rata-rata cucunya itu seusia denganku. Wah, jadi banyak tambah teman nih aku.
Pakde Warjum adalah putra pertama dan istrinya adalah Mbokde Partinah. Yaitu dengan anaknya; Mbak Indah, Mang Pendi, Kang Dinok, Mbak Isah, Handoko dan Lenik. Putra keduanya Mang Darman dengan putra-putrinya; Rudin, Dakim dan Yatik. Putra ketiga Lek Tamjit dengan dua putra; Wiwin, Mudik ditambah satu putri yaitu Maya. Putra keempat Mang Darsok yang kebetulan pengantin baru nampaknya, sehingga belum memiliki putra. Mang Rohmat adalah putranya yang masih berjaka.
***
Pakde Warjum, beliau menetap di gubuk dan tepatnya di hutan yang berada di ujung desa kami. Yaitu perbatasan antara wilayah desaku dengan tanah yang menjadi wilayah Tanjung Lubuk. Jadi, kalau orang ingin masuk ke desa kami, maka pertama kali rumah yang dijumpai adalah rumah Pakde Warjum. Ya, beliau membuka lahan diujung hutan desa kami sebagai tempat tinggalnya.
Untuk Mang Darman, beliau tidak terlalu jauh dengan rumah Pakde Warjum maupun rumah Pak Ayup. Katakanlah tengah-tengah diantara rumah Pakde Warjum dengan Rumah Pak Ayup. Membuka hutan disitulah yang menjadi pilihannya.
Sedangkan Mang Darsok, dia orang aneh kayaknya. Masak kakak-kakaknya yang lain memilih lokasi yang tepatnya di pinggir jalan sebagai tempat didirkannya rumah, dia justru berbeda sendiri. Beliau memilih lokasi di pedalaman hutan yang sangat tepat di belakang rumah Pak Ayup. Tapi masih dibatasi dengan hutan yang kurang lebih tujuh ratus meter dari rumah Pak Ayup. Sehingga dia harus kerepotan sendiri membuat jalan untuk masuk ke lokasi rumahnya. Entah apa yang membuat Mang Darsok ini memilih lokasi itu, padahal masih sangat luas lahan-lahan yang berdekatan dengan jalan setapak yang sekaligus jalan utama desaku. Entahlah, aneh.
Kalau Lek Tamjit, kebetulan beliau memilih lokasi katakanlah tepat di depan rumah ayahku. Hanya saja agak sedikit serong menyudut kearah kiri dari rumahku. Hanya jalan sempit itu yang membatasi rumahku dan rumah Lek Tamjit. Sangat dekat, atau berhadap-hadapan, sederhananya begitu.
Dalam jangka kurang lebih dua puluh hari ke-empat rumah tetangga baruku itu selesai didirikan dan dapat dipergunakan oleh pemiliknya. Sangat cepat bukan! Bagaimana tidak cepat, rumah yang hanya alakadarnya, bahkan mungkin tidak jauh beda dengan orang membangun rumah kambing atau sapi. Rumahku juga dulu proses pembangunannya begitu. “Ribet-ribet temen” , cletusan Lek Tamjit yang sering keluar disaat membangun rumahnya bersama dengan ayahku dan orang-orang yang bergotongroyong membantunya.
“Seng penteng keno ge ngiyop” , lanjutnya. Namun aku yakin, itu hanya ucapan beliau yang sedikit agak sungkan dan kasihan pada orang-orang yang ikut membantu proses pembangunan rumahnya. “Kasihan, mereka pasti sudah capek dan aku telah menyita banyak waktu yang seharusnya bisa mereka gunakan untuk bekerja di sawah”, mungkin sepert itu batinnya jika disuarakan. Disatu sisi, “ini untuk sementara, suatu saat pasti akan kubangun yang jauh lebih baik dari ini”, begitulah mungkin suara hati yang paling dalamnya. Begitu juga dengan semua orang yang ada di desaku itu, yang sementara ini masih membangun rumah serba alakadarnya.
Kini teman bermainku bertambah; Handoko, Wiwin dan Rudin dan Dakim adalah teman yang usianya setara denganku. Mbak Isah memiliki usia yang sepadan dengan Mbak Karmik, jadi kini Mbak karmik memiliki satu teman seusianya. Kebetulan mereka berdua tetap enjoy bermain bersama kami, karena selisih usia kami yang tidak terlalu jauh. Secara otomatis dewan penasehat kami dalam bermainpun bertambah satu. Sedangkan, Yatik, Lenik dan Maya adalah berusia dibawahku, jauh.
Sedangkan Kang Dinok, dia adalah sepadan dengan Kang Erwan. Ya, sangat sepadan sekali usianya. Tak hanya kami ternyata yang bertambah teman, ternyata Mbak Karmik dan Kang Erwan juga bertambah teman. Meskipun masih satu-satu. Sedangkan yang namanya tidak kusebutkan dalam sejarah bermainku ini, seperti Mang Rohmat dan Mbak Indah, berarti mereka sudah tak layaknya Kang Supreh alias anak pertamanya Pakde Sakimen yang pertama. Mereka sudah sibuk di dunia perantauan. Jarang sekali mereka pulang, sekali pulang lima-enam bulan dan bahkan bisa sampa lebih dari batas waktu itu.
Wah, ternyata kini aku tahu dari mana sahabat baruku ini datang. Ternyata mereka datang dari negeri ngapak. Ya, ngapak tulen mbok lah. Jika sebelum kami berjumpa dengan sahabat-sahabat kecil baruku ini, kami selalu menertawakan polah tingkah Kang Waluyo dan Kang Eko. Tapi kini nuansa baru lagi yang kuhadapi untuk beradaptasi dengan kawan sekaligus sahabat kecil. Handoko, Wiwin dan Rudin selalu menjadi harapan kami dalam bermain, yaitu untuk menanti aksi tawa ngakak kami melihat logat bahasa yang menurut kami sangat-sangat aneh.
Ya, sama seperti halnya dulu ketika aku baru saja datang di desaku ini. Aku seakan ingin terawa dan merasa hal yang aneh ketika melihat logat bahasanya Pak Ayup sekeluarga. Hal yang wajar. Tapi aku sangat salut dengan mereka bertiga yang kebetulan bersanak saudara. Tak pernah marah sedikitpun ketika aku menggojloknya habis-habisan bersama teman yang lain, yang ada malah mereka bertiga ikut tertawa ngakak.
Bahasa sehari-sehari keluarga Mbah Pariem adalah bahasa ngapak. Duh, aku jadi ingat dengan teks Sumpah Mahasiswa Cilacap, yang tak lain bunyinya,
SUMPAH MAHASISWA CILACAP
Satu Nusa, Nusakambangan
Satu Bangsa, Bangsa Cilacap
Satu Bahasa, Bahasa Ngapak
Yang dilengkapi juga dengan lagu cilacap yang berjudul “Lagu Cilacap Bercahaya”
LAGU CILACAP BERCAHAYA
Cilacap Bercahaya
Sesanti Kita Semua
Pembangkit Semangat Juang
Bangun Daerah Kita
Bersih dan Elok
Rapi Ceria dan Hijau
Serta Aman dan Jaya
Pasti Berkilau
Landasan Pancasila
Membangun Etos Kerja
Berisi Nur Ilahi
Disanubari
Bangun Terus Daerah Kita
Menuju Sejahtera
untuk Seluruh Rakyat
Cilacap Tercinta
***
Berbicara tentang sauadara ngapak ini, banyak cerita yang menurutku lucu oleh tingkahku sendiri. Mungkin keluarga Mbah Pariem itu sempat terheran dan kebingungan ketika melihat tingkah kami yang selalu tertawa ngakak tiada henti-hentinya ketika bermain dengan cucu-cucu beliau.
Karena Mbah Pariem tak jarang untuk memantau jalannya permainan kami. Beliau selalu mengawasi apapun dan kemanapun kami bermain. Ya, beliau memang sudah berusia lanjut, itulah mungkin yang membuatnya harus selalu tinggal diam di rumah untuk menyibukkan dirinya buat kami.
Kebetulan nenek ini tinggal bersama putra ketiganya, Lek Tamjit. Sedangkan rumah Lek Tamjit adalah lokasi yang sering kami gunakan untuk bermain. Kesehariannya, Mbah Pariem selalu bersih-bersih rumah. Ya, menyapu halaman rumah, cuci piring dan pekerjaan lain asalkan beliau kuat melakukannya. Bernah kuceriakan sebelumnya, kalau orang tua desa itu memang tidak mau menganggur, maunya tetap utik ae .
Pekerjaan rumah semacam itupun bukan menjadi suruhan dan bukanlah menjadi keinginan dari Lek Tamjit dan Bek Tarsem selaku istri, untuk deberikan tugas kepada ibunya. Namun semua itu dilakukan karena memang keinginan beliau sendiri. Usai Mbah Pariem menyelesaikan tugas yang biasa beliau kerjakan, aktifitas selanjutnya adalah duduk manis di depan pintu rumah kecil itu dan siap mengawasi kemana dan apa yang kami lakukan.
Setiap ada polah tingkah permainan kami yang menurutnya mengerikan, Mbah Pariem langsung mengingatkan kami dengan teriakannya yang manis. Kira-kira begini, “he he he, aja kayak kuek. Seng sare bae yak, aja kasar-kasar. Mbok nangis mengkonek” , itulah suara yang selalu beliau teriakkan pada kami, tak lain menegur dengan bijak akan sesuatu yang dianggapnya permainan kami salah.
Heranku, bukannya aku, Kang Waluyo, Kang Eko, Mbak golok Sos dan yang lain langsung menuruti kata-kata beliau, tapi justru tawa habis yang kami lakukan karena terlalu lama harus mencerna dan mentranstool bahasa dulu diotak kami. Ya, bagiku hal itu sangat sulit. Antara memadukan pemahaman kami dengan pemahaman ucapan yang dimaksudkan Mbah Pariem.
Suatu hari, kami sedang bermain di halaman rumahku. Ya, semua komplit dan tak ada yang tertinggal sama sekali. Kami semua sengaja melakukan permainan yang baru saja diajarkan Mbak Karmik kepada kami selaku adik-adiknya, mungkin. Kami menamakan mainan itu dengan jumpritan, atau nama lainnya adalah delik-delik’an .
Cara mainnya mudah, kami biasa menggunakan metode hunsom untuk menentukan siapa yang akan menjaga benteng sebagai pusat yang harus kami jadikan patokan. Biasanya, istilah benteng itu hanya sekedar pohon apapun untuk nanti disentuh oleh peserta yang sedang bersembunyi. Sedangkan yang menjaga benteng, itulah dia yang kalah dalam hunsom tadi.
Tugas penjaga benteng adalah; pertama dia harus menjaga sepenuhnya atas keselamatan benteng tersebut dari serangan maupun sentuhan tangan para peserta yang bersembunyi. Kalau diibaratkan dalam sebuah kerajaan, mungkin tegasnya adalah menjaga penuh benteng tersebut dari serangan lawan. Kedua, si penjaga benteng harus mencari kemana dan di mana para musuhnya bersembunyi. Kalau dia menemukan, maka harus segera lari menuju benteng untuk menyentuh benteng dan menyebutkan nama yang baru dia temukan.
Misalnya, kalau aku yang sedang jaga dan menemukan Kang Waluyo, maka aku harus memegang benteng sambil menyebutkan nama Kang Waluyo, “Kang Waluyo jomprit...!”. Seperti itulah.
Dan tugas musuh atau yang sedang bersembunyi adalah, dia harus berusaha sembunyi serapat mungin untuk tidak bisa ditemukan oleh si penjaga benteng. Disamping itu, para musuh ini selain bersembunyi juga harus berusaha atau bahkan wajib untuk menyentuh benteng tanpa sepengetahuan si penjaganya. Kalau sampai ketahuan, maka antara sipenjaga dan musuhnya tadi harus berusaha keras siapa yang lebih dulu memegang benteng. Yang lebih dulu, dialah yang menang. Kalau misalnya musuh yang kalah, maka kemungkinan dia akan gantian bertugas menjaga benteng. Tinggal nanti bagaimana akhir dari permainan rounde pertama.
Kalau si penjaga benteng berhasil menemukan dan mengalahkan lebih dari satu musuh, maka musuh yang kalah tersebut harus di undi untuk menentukan siapa yang akan menjaga benteng. Namun, kalau si penjaga sama sekali tidak dapat menemukakan satupun musuh-musuhnya, maka dia harus mendapatkan hukuman untuk menjaga benteng tersebut. Tanpa toleransi, kecuali sampai dia berhasil menemukan dan mengalahkan musuhnya, meskipun satu.
Bagiku, yang membuat kesel disaat mendapat tugas penjaga benteng adalah, teman-teman yang benar-benar tidak melihat akibat dari semua permainan kami itu. Bagaimana tidak, mereka kalau bersembunyi tidak pernah tanggung-tanggung. Baginya, permainan ini tidak seru kalau harus bersembunyi di sekelilng lokasi benteng atau lokasi tempat bermain itu.
Bayangkan, lokasi bermain kami kali ini adalah di halaman rumahku yang berarti juga melibatkan halaman rumh Lek Tamjit. Tetapi berbeda dengan di mana lokasi persembunyian para musuh penjaga benteng. Mereka harus mencari lokasi sejauh mungkin yang kira-kira susah untuk ditemukan oleh penjaga benteng itu. Dasar, padahal sama saja, mau sembunyi di manapun ada hutan lebat disekitar rumahku maupun rumah Lek Tamjit yang susah untuk ditemukan jejaknya oleh penjaga benteng, tapi maunya tetap yang sejauh mungkin.
Rumah Pak Ayup yang bisa dikatakan kalau untuk ukuran permainan jenis ini sudah melewati radius permainan. Akan tetapi, semua itu sudah menjadi kesepakatan tanpa melalui perdebatan panjang. Tapi itu belum cukup, menurut kami rumah Pak Ayup itu masih menjadi tempat yang mendekati lokas di mana benteng berdiri. Ukurannya adalah rumah Pakde Warjum. Ya, ujung desaku adalah menjadi batas kesepakatan lokasi bermainnya kami, terutama jenis permainan ini. Mungkin kalau dilombakan, para musuh ini sudah di diskualifikasi oleh panitia.
Hari inilah, muncul ide gila dari kak Cakok, anak Pak Ayup yang nomer tiga untuk membawa jagur alias anjing peliharaannya, kesayangannya lagi. Sambil tertawa dia menggendong anjingnya yang bernama jagur. “Ku bawo bae yo...! ha ha ha...!” , dia tahu kalau kami semua takut dengan anjingnya itu, makanya seakan tanpa maksud dia tertawa ngakan sendiri. Karena dia bangga melihat kami lari yang sambil teriak “jangan oe kak...! idak kuajak main geg kau...!”, begitulah teriak kami, terutama Kang Waluyo yang sambil mengancam kak Cakok untuk tidak diajak main kalau sampai dia bawa si jagurnya.
Tapi yang namanya Kang Waluyo, pasti Cuma sekedar gertakan, badan dan omongnya saja yang gede. Buktinya, kak Cakok tetap bawa anjingnya sampai permainan kami berakhir. Saat dibawa, aku seakan tidak mampu bergerak bebas seperti biasanya. Seakan ada yang selalu mengikuti kemanapun aku pergi. ya, jelas jagur itu yang kutakutkan. Aku Cuma khawatr kalau anjing itu mengkuti dan menggigitku.
Akhirnya, kekhawatiran itu tak sekedar kekhawatiran. Tak lama kemudian setelah aku bersembunyi di belakang rumah Lek Tamjit dalam permainan jumprtitan ini. Aku bersama Kang Eko, dan yang jaga benteng kali ini kebetulan kak Cakok. Aku tidak tahu, apa itu karena anjingnya, atau memang kebetulan dan atau memang nalurinya sendiri yang menunjukkan kalau aku dan kang Eko bersembunyi di belakang rumah Lek Tamjit.
Penyebab yang tak kutahu. Cuma, kata orang anjing itu memiliki indra penciuman yang luar biasa. Tapi, masak mungkin sih mampu mencium bauku, kalau kang Eko mungkin...! Ya, aku tidak tahu soal itu, yang jelas kak Cakok tahu dimana kami bersembunyi. Aku dan kang Eko serba bingung, serba salah mau berbuat apa ketika melihat kak Cakok ada di samping tempat persemunyian kami berdua. Hanya saja dia belum mengetahui bahwa disampingnya ada kami. Belukar samping rumah Lek Tamjit sepertinya tidak mendukung kami kali ini.
Aku dan kang Eko hanya mampu saling berbisik, “asem, piye iki kang? Lawong kiri’e panggah digowo ae kok!” , bisikku pada kang Eko, setelah melihat kami berdua sudah kebingungan, disisi lain kami harus tetap berjuang keras untuk mendapatkan benteng itu lebih dulu dari kak Cakok. Tapi, anjing yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi selalu menghembus apapun yang ada disampingnya. Hal itu benar-benar membuatku tak mampu berkutik.
Bagiku, “maju kena, mundurpun kena”. Tak kuhiraukan dengan apa yang akan dilakukan sahabat satuku yang ini, kang Eko. Apakah dia mau mengikuti jejakku, dan atau dia mau tetap sembunyi disemak belukar itu. Namun, firasatku mengatakan kalau dia akan tetap diam dan tak beranjak selangkahpun dari tempat duduknya. Karena kulihat dari kondisinya yang sama sekali tak berucap apapun kepadaku. Jangakan berucap, menjawab sepatah kata dari pertanyaanku saja tidak. Hah, dasar penakut.
Akhirnya, aku hanya menunggu leher kak Cakok yang kuharap dia akan memutar sedikit lehernya ke pandangan lain selain sekitar persembunyianku. Jika itu ia lakukan, maka aku akan segera mengambil tindakan. Tak kuhiraukan apapun resikonya; mungkin antara kalah dulu untuk mendapatkan benteng yang akan kami perebutkan dengan kak Cakok dan digigit anjing yang menurutku kurang ajar miliknya itu.
Setelah aku berfikir untuk berbuat nekad, maka mataku tak pernah kualihkan pada pandangan lain, selain mata kak Cakok. Setelah tak lama kemudian harapanku terkabulkan, lehernya mengarah pada semak yang berada di samping kirinya. Tunggu apa lagi, kesempatan di depan mata. Tak perlu ada lagi yang harus dipikirkan. Ibarat pepatah jawa, “kucing tawani gereh, langsung pangan!” . Begitulah mungkin tepatnya yang ada dipikiranku.
Namun sayang, nampaknya kesempatan tidak memihak padaku. Disaat aku lari yang tanpa memperhitungkan arah dan resiko dari samping kang Cokok, ternyat hal itu dapat membuat kak Cakok terkejut bukan kepalang. Bahkan dia sempat tadak melakukan apa-apa dalam beberapa detik karena terkejut. Namun tak lama. Dia kemudian berusaha menyusulku dengan tenaga larinya yang begitu hebat.
Kehebatan dalam berlari bukan menjadi hal yang begitu mengherankan bagiku, tapi kini ada yang membuat arah lariku tidak menuju benteng yang dari awal ingin kutuju. Benar-benar sial, ternyata bukan hanya kak Cakok yang kaget karena ulahku, tetapi si jagor alias anjingnya bukan sekedar kaget, dia marah terhadapku pastinya. Lariku yang dari awal sama sekali tidak menoleh kanan-kiri apalagi belakang, ternyata anjing itu mengikutiku dari belakang dari awal setelah kukagetkan.
Benar kata ayahku, dia bilang, “angger diuber kirek ajo malah mlayu lo le” . Itu yang pernah ayah bilang padaku ketika aku pernah melihat ayah akan dikejar anjing yang sama milik Pak Ayup ini, kemudian dia mengajariku seperti itu. Namun kondisi yang terjadi padaku kali ini nampaknya tak semudah itu. Dalam instingku seakan mengatakan, andaikan aku berhenti, maka anjing ini pasti akan menyerang dan menggigtiku. Ulahku tadi mungkin dinilai seakan menantangnya. Oh, padahal tidak sama sekali.
Pertama aku melihat anjing itu lari dengan kencangnya, yang seakan tidak mungkin dia berhenti sebelum mangsa ada ditangannya. Bahkan ketika dia pernah kubelokkan dengan berlari memutar pohon besar, dia sempat rela membantingkan tubuhnya demi berbelok kemana arahku pergi. Sangat mengerikan dan benar-benar anjing itu marah.
Tak henti-hentinya aku berteriak memanggil majikan mudanya, kak Cakok. Dengan harapanku yang begitu tinggi agar kak Cakok mampu menghentikan anjing kesayangannya itu. Namun dia memang sudah kerasupan setan penghuni hutan belantara didesaku itu nampaknya. Bagaimana tidak, melihat aku sedang ketakutan habis karena dikejar anjingnya, ya, dia malah tertawa habis-habisan sampai tidak mampu membangunkan tubuhnya karena lemas dikuran tawa.
Kini aku harus bagaimana? Aku sendiri tidak tahu. Orang tua kami semua pergi ke sawah maupun ke kebun masng-masing, memang pagi adalah waktu-waktu orang tua kami bertebaran di muka bumi untuk mencari nafkah. Sebenarnya aku sangat berharap Mbak Golok dapat muncul di hadapanku, karena dia yang lebih dewasa yang seakan lebih mampu memahami kondisiku saat ini. Tapi pikiranku itu nihil.
Sedangkan teman-temanku lainnya, mereka masih berada pada persembunyian masing-masing, mungkin tidak ada yang tahu sama sekali tentang yang terjadi padaku. Kecuali satu, aku yakin betul kalau temanku yang satu ini dia benar-benar tahu keadaanku. Tapi apalah arti keberaniannya, sama sekali tidak bernyali. Apalagi harus membantuku untuk berhadapan dengan anjing sialan ini. Dialah kang Eko. Sedang apa seaat inipun aku sendiri tidak tahu, namun jelas sekali nampaknya dia masih mendengkur di semak yang tempat kami bersemunyi tadi.
Pikiranku itu benar, bahkan dia justru bebas dari buruan kak Cakok. Karena lariku tadi seakan-seakan trik untuk mengelabuhi kak Cakok agar menjauh dari tempat persembunyian itu. Wah, diam-diam kang Eko cerdas juga otaknya. Tapi entah itu disengaja atau tidak yang jelas begitulah faktanya. Mendengkur sampai permainan selesai.
Kini aku yang masih dalam bahaya, hanya mampu mengharap datangnya sang dewa. Dewa penyelamat yang mungkin mampu menghembuskan bisikan padakuku agar melakukan sesuatu yang dapat menyelamatkanku. Dewa penyelamat. Lariku sebenarnya tidak jauh, hanya mengitari pekarang rumahku, pekarangan rumah Lek Tamjit serta seluruh jalan setapak yang.
Aku terus lari, hingga kini lariku sampai pada halaman rumah Lek Tamjit. Di halaman rumah ini, harapanku datang. Malaikat yang kutunggu-tunggu telah menjelma. Ya, menjelma dalam bentuk maleh rupo . Namun jelmaan itu tidaklah cantik dan tidak pula tampan, karena raga yang digunakan untuk bersemayam adalah raga Mbah Pariem. Ha ha ha...!
Setelah sekilas aku melihat kehadiran nenek bijaksana yang satu ini berdiri de depan pintu rumahnya, dia mungkin kasihan melihat raut wajahku yang seakan telah menangis dan kecapekan. Akhirnya dia meneriakkan suara lantang dan terdengarlah jelas ditelingaku. “Menek...menek...! he, menek nak...!”, begitulah nenek pariem berteriak.
Sedikit kita membahas bahasa. Dalam bahasa jawa, “menek” adalah “munggah”, yang dalam bahasa Indonesianya adalah “naik”. Sedagkan bahasa ngapaknya, “menek” kalau dibahasakan Indonesia adalah “kesini”, kalau dalam bahasa Jawa “rene” yang berarti sama yaitu “kesini”.
Nah, disinilah terjadi kesalah pahaman dari pemaknaanku terhadap bahasa yang dipakai Mbah Pariem. Yang kupahami bahasa “menek” yang keluar dari bibir mbah adalah “munggah” atau “naik”. Jadi, tidak ada hal lain, apapun itu yang kupikirkan dalam kondisi kalut seperti ini. Yang ada adalah bagaimana aku bisa menemukan pohon agar bisa kugunakan untuk memanjat dan mengamankan diri dari kejaran anjing itu.
Disamping itu, mbah Pariem tak heti-hentinya terus berteriak, “menek...! rika menek...!”, menurutnya, aku ini tidak mau menuruti kata-katanya. Padahal, aku sangat da’dzim (taat) terhadap perintahnya. Namun sayang, aku salah mengartikan maksud Mbah Pariem. Yang diharapkan belau adalah, aku disuruh untuk datang kepadanya, karena menek yang dimaksudkan beliau adalah “kesini”. Dan kalau aku sudah berada disamping Mbah Pariem, kemungkinan besar anjing itu akan berhenti dan tidak berani mendatangiku yang berada dekat mbah yang baik hati ini.
Tapi sayang, aku salah paham. Dasar bodoh. Tapi yang namanya “innama a’malu bin niyat” (semua itu tergantung pada niatnya), semua jadi terkabulkan oleh Tuhan. Aku jadi teringat cerita salah satu sahabat Nabi yang dulu mengamalkan lafadz “yaqawiyu ya qayum” ketika ingin menyebrangi samudra lautan. Beliau minta amalan gurunya, dan dikasihlah amalan lafadz itu. Namun dalam mentransformasi ucapan lafadz itu, beliau salah dalam melafalkan. Akhirnya ketika beliau ingin menyebrangi lautan tadi, beliau mengucapkan lafadz “ya kayuku ya kayumu”. Namun, karena semua itu dilakukan berdasarkan niat yang tulu karna-Nya, maka terkabulkanlah apa yang beliau inginkan.
Setelah suatu saat belau bertemu dengan gurunya, beliau ditanya tentang bagaimana hasilnya setelah mengamalkan lafadz itu. beliau menjawab “ahamdulillah bisa guru”, kemudia ditanya lagi, “coba bagaimana bunyi lafadznya?”, dijawabnya “ya kayuku ya kayumu”. Setelah gurunya mendengar jawban itu, gurunya hanya mampu tersenyum manis dengan menjawab, “baguslah, tapi itu perlu kamu sempurnakan. Lafadznya bukan ya kayuku ya kayumu, tapi yang lebih sempurna adalah ya qawiyu ya qayum”.
Setelah lafadz itu dibenarkan oleh gurunya, beliau sangat susah untuk melafalkannya. Pertama karena beliau bisa dikatakan orang yang belum tahu alias orang awam, yang hanya dilandasi dengan kamauan serta niat yang baik pun kuat untuk melakukan perbuatan yang baik pula. Kedua memang sudah menjadi tradisi pe-mlesetan bahasa arap dengan bahasa yang lain yang mudah dipahami oleh daerah setempat. Begitu juga dengan beliau.
Karena sulitnya beliau dalam melafalkan lafadz yang baru itu, ketika beliau ingin menggunakan lafadznya untuk menyeberang lautan lagi, beliau sudah tidak konsen dan akhirnya tercebur ke dasar lautan. Ya, semua itu memang tergantung pada niatnya. Baegitu jugalah denganku pada saat dikejar anjing milik Kak Cakok ini.
Mbah Pariem yang memberikan komando padaku dan kuterima apa yang sesuai dengan maksudku, asalkan yang kumaksudkan itu baik semua akan membaik pula. Meskipun aku naik pohon yang sebenarnya tidak sesuai dengan intruksi mbah Pariem, namun buktinya ada benarnya pula. Aku naik pohon karet lokal yang berada tepat dihalaman rumahku. Kebetulan pohon karet itupun belum terlalu besar dan banyak ranting di batang bagian bawahnya. Sehingga hal itu memudahkan aku untuk mendakinya. Syukurlah, setelah aku berada di atas pohon karet itu, anjing kak Cakok hanya ¬plonga-plongo di bawah pohon sambil menatapku.
Ah, tidak masalah dia menatapku dengan tatapan yang sangar seakan menyimpan dendam di hatinya, yang penting aku selamat dari buruannya. Karena aku yakin, kalau lama-kelamaan aku main uber-uberan sama anjing itu, lama-lama aku yang kena dan bakal bahaya. Di atas pohon karet itulah aku melantunkan terimakasih kepada Mbah Pariem yang seakan memberikan jalan padaku.
***
Ada banyak manfaat yang dapat kurasakan dari permainan kami jenis jumpritan ini. Pertama, kami sangat merasakan seakan kami sedang berada pada zaman kerajaan. Hal itu dikarenakan kami menggunakan simbol “benteng yang dilengkapi dengan penjaga bentengnya, kemudian terdapat musuh yang sedang bersembunyi di berbagai medan laga pertempuran untuk memperebukan benteng yang akan dikuasai oleh si pemenang”.
Dan tak hanya itu, yang lebih memperkuat ikatan emosional dan mendekatkan kami antara yang satu dengan yang lain adalah, ketika si penjaga benteng menemukan musuhnya, dia harus menyebutkan nama musuh dan sambil mengatakan “jumprit” disertai dengan memegang benteng. Di sini, sering terjadi kesalahan pada teman-temanku maupun aku sendiri bahkan dalam menyebutkan nama teman sendiri. Metode permainan yang menyangkut mengingat nama teman selalu dipakai hingga sekarang dalam tingkatan universitas dalam acara out bound maupun acara lainnya.
Semisal yang pernah kualami, ketika aku menemukan musuh secara bersamaan, secara otomatis mereka semua akan berusaha sekuat mungkin untuk berusaha lebih dulu dari pada aku untuk menuju benteng yang kami rebutkan. Namun apalah dayaku, dalam waktu sekejab yang sekaligus disertai dengan keterkejutanku terhadap teriakan mereka, aku jadi grogi, bingung tak karuan sehingga hal itu membuatku susah untuk mengingat nama satu-satu dari mereka. Apalagi harus kupikirkan yang mana dulu harus kesebutkan.
Pada kasus seperti ini juga, sering sekali kami terjadi konflik. Karena mereka secara bersamaan untuk berusaha memegang benteng, sehingga bingung mana yang lebih dulu memegang benteng dan siapa yang harus bertugas menjaga benteng selanjutnya. Di satu sisi si penjaga benteng bersikeras tidak mau menjaga benteng selanjutnya dengan orientasi bahwa dia telah lebih dulu menyebutkan beberapa nama musuhnya sambil mengucapkan “jomprit”. Namun di sisi lain, si musuh semua mengaku bahwa dirinya telah lebih dulu memegang benteng. Semua mementingkan egonya.
Sedangkan dalam permainan ini tidak terdapat wasit sayangnya. Sehingga kami harus belajar untuk memecahkan “konflik sosial” yang polisi sendiri klabakan menyelesaikan. Dari sini jugalah kami dapat belajar dari menghadapi berbagai masalah, meskipun itu masalah dalam permainan. Tapi jangan salah, tidak jarang dari kami yang sering menangis karena mereka merasa disakiti atau merasa dihina oleh orang-orang diantara kami.
Tapi, meskipun kami menangis sekuat apapun tangisan itu, tak satupun dan tak sedikitpun orang tua kami ikut campur. Baginya, ini adalah permainan anak-anak yang berarti harus kami selesaikan sendiri. Mungkin sekedar “awas ojo tukaran, rasah nangis-nangisan barang lek dolanan” , begitulah bekal nasehat yang selalu orang tua kami berikan kepada putra-putrinya ketika izin untuk keluar bermain.
Kejelian dan belajar memikul tanggungjawab yang kuat juga menjadi nilai yang terkandung di dalam permainan jenis jumpritan ini. Apalagi permainan ini dimainkan di desaku yang masih plosok dan deso yang sekaligus hutan lagi. Sehingga hal tersebut membuat tidak semua anak berani melakukannya. Terutama yang mendapat bagian jaga benteng, dia harus dituntut untuk berkeliling memutari lokasi yang dirasa ada musuhnya yang sedang bersembunyi. Intinya si penjaga benteng tidak boleh ngendok .
Kang waluyolah yang paling sering melanggar peraturan ini. Sehingga membuat kami selaku musuh susah untuk mendapatkan benteng. Peringatan selalu diberikan kepada Kang Waluyo, tetapi jawabannya hanya berupa kata-kata “iya, iya dan iya”, namun tak pernah dijalankan. Ya, kami sih sebenarnya maklum, dengan melihat kondisi tubuhnya yang gemuk membuat dia tidak bisa memungkiri kemampuannya. Namanya teman dan persahabatan, apapun yang terjadi harus tetap main bersama. Di sisi lain, kami selaku musuh juga harus kebingungan bagaimana mencari strategi untuk memegang benteng kami.
Ulahnya yang menjengkelkan itu, ternyata masih ada yang membuat kami lebih kesal lagi karena tingkahnya. Dia memang sudah dicap si jago ngendok, dan itupun sudah disadarinya bahwa teman-teman memberi julukan itu kepada dia. Tapi karena akalnya yang busuk, akhirnya dia pernah suatu saat menerapkan strateginya yang baru.
Ketika dia bertugas menjaga benteng, dia tahu bahwa teman-temannya pasti berfikir kalau dia akan ngendok di tempat lagi, maka disaat teman-temannya sudah bersembunyi semua dan dia sudah membuka mata, apa yang dia lakukan? Diapun tidak bergegas mencari di mana musuh-musuhnya bersembunyi, justru dia malah ikut bersembunyi di samping rumah Lek Tamjit yang masih terdapat semak belukar. Posis dia bersembunyipun sangatlah dekat dengan posisi benteng yang dia jaga. Gila bukan
Jadi, aku dan yang lain sempat tertipu oleh akal busuknya itu. Tanpa berfikir panjang karena dia tidak terlihat olehku di dekat benteng, maka aku, Wiwin dan mudik langsung saja berlari menuju benteng dengan santainya bermaksud mengejek Kang Waluyo kalau nanti dia nongol. Pikir kami, dia pasti kalah berlari dengan kami kalau dia muncul nanti.
E...malah ternyata tiba-tiba dia nongol dari baik semak yang posisinya sangat dekat dengan benteng itu. Jelas, dengan kilat dia dapat mengenakan kami. meskipun secepat-cepatnya kami lari, jelaslah tidak mungkin bisa menembus jarak yang harus kami perjuangkan dibandingkan Kang Waluyo. Dan kami bertigapun harus siap menentukan siapa yang akan jaga benteng selanjutnya.
Marah, itu pasti ada dalam perasaan kami bertiga. Tapi percuma jika hal itu kami lakukan. Yang ada mungkin Kang Waluyo cuma cengar-cengir gak jelas. Kami bertiga Cuma bisa melontari dia dengan cacian yang gak jelas.
14. Penyelamat Kebodohan
Setahun kemudian setelah keluarga Lek Tamjit menetap di desaku, datanglah lelaki setengah baya. Usianya diperkirakan tidak lebih dari empat puluh tahu. Lelaki ini per-kepala dua; putra pertama bernama Jamalin dan yang bungsu sering di panggil Nur. Ya, aku sendiri lupa siapa nama panjangnya, yang jelas panggilan sehari-hari cukup dengan Nur.
Sepeperti biasa, di desa kami memang selalu menggunakan nama akhir untuk memanggil salah satu dari teman kami. Namaku saja yang orang banyak bilang paling pendek dibanding temanku yang lain, tapi tetap saja tidak pernah dipanggil lengkap namaku, Khoirom. Tapi hanya kata Rom yang selalu diberikan untukku. Ah, biarlah, itu tidak masalah.
Yang lebih parah adalah Wiwin, nama lengkapnya adalah Winarko. Namu sayang, kami semua lebih kental dengan memanggilnya, “Mentok ”. Dan diapun tetap enjoy dengan menerima panggilan yang telah mengkristal pada dirinya. Mungkin dalam bahasa ilmu nahwu nama julukan itu dinamakan asma laqob, dan itu diperbolehkan asalkan orang yang dijuluki menermanya dengan lapang dada tanpa adanya unsur merasa diremehkan.
Mulanya begini. Matahari telah menyingsing ke Barat, segrombolan kecil anak-anak belantara itu telah di oprak-oprak agar cepat-cepat mandi oleh orang tuanya masing-masing. Para tuyul itupun tak menolak dengan penuh tantangan, mereka segera menghamburkan diri berlarian menuju kali kecil disebelah utara rumahku, yaitu kali kecil yang membelah antara desa lor dan desa kidol .
Desa lor berarti penghuninya hanya keluarga Pakde Sakimen, tanpa teman. Sedangkan desa kidol penghuninya; keluargaku, keluarga Pak Ayup dan kumpulan keluarga Lek Tamjit. Di kali kecil ini kami harus mandi untuk yang kesekian kalinya, karena kemarau panjang menghantam desaku. Namun, kali kecil itu hanya mampu untuk dijadikan sebagai tempat penampungan anak-anak semacamku, tak lain hanya memenuhi nafsu untuk ciblonan di kali kecil nan mengalir lembut ini.
Sedangkan untuk mencuci, memasak dan merebus air minum, kami semua sepakat untuk kerja bakti membuat sumur kecil didekat rawa-rawa yang mungkin kurang lebih satu kilo meter dari rumah kami. Karena dari lokasi desaku, rawa-rawa itu harus melewati hutan belantara dulu baru sampai pada sumur kecil yang menjadi central perairan desa.
Sedangkan tugas kami selaku anak-anak orang tua desa ini, disaat mandi ke kali harus membawa masing-masing satu ember. Hal itu seakan menjadi kewajiban yang tak pernah diharuskan oleh orang tua. Hanya saja rasa dan perasaan kami selaku anak merasa perlu akan adanya kesadaran tentang ember.
Ember itu akan kami gunakan untuk membawa air yang dapat digunakan untuk mencuci piring oleh ibu dirumah. Kan sekalian, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sambil mandi, tapi juga dapat air untuk kegunanaan yang lain. Setiap itu kami lakukan, orang tua seakan merasa bangga dengan kesadaran kami yang sudah menjadi tradisi. Terasa beratpun tidak bagi kami. “Tresno jalaran songko kulino”, mungki istilah pepatah jawa itu yang tepat untuk kami, sehingga tidak sedikitpun merasa terpaksa maupun susah untuk kami lakukan.
Nah, ketika kami sedang asyik mandi sekaligus bermain kejar-kejaran di dalam air. Ya, seperti baiasa kalau kami bermain di kali, jenis pemainan kami adalah kejar-kejaran. Kejar-kejaran adalah jenis permainan yang tidak jauh beda dengan jumpritan.
Dalam permainan ini mekanisme tidak rumit. Dari seluruh peserta yang ikut bermain harus ada satu diawal permainan yang “jaga”. Petugas jaga ini memiliki tugas dan tanggungjawab yang cukup berat untuk mengejar kemanapun musuhnya. Dan tak hanya mengejar, tetapi harus sampai memegang tubuh atau bagian dari anggota tubuh musuhnya. Setelah musuh berhasil dipegang, maka si musuh harus dinyatakan untuk ikut jaga dan membantu si penjaga pertama tadi mendapatkan musuh-musuhnya yang lain.
Nah, sampai disini tugas penjaga makin agak rumit. Meskipun tambah teman jaga, tetapi tugasnya justru makin berat. Mudahnya, mungkin dilihat dari segi pengejaran dan pengepungan musuh makin mudah. Namun, jika mereka sampai berpencar arah, maka akan sangat rumit untuk menangkap musuh yang menjadi sasaran.
Soalnya begini, jika salah satu dari penjaga dapat menangkap salah satu musuh, maka penjaga yang lainpun harus ikut memegang musuh yang tertangkap. Dan disini, ketika musuh sudah ditangkap oleh si penjaga, si musuh berhak dan diperbolehkan untuk berusaha melepaskan diri dari tangkapan itu. Entah apapun itu cara yang digunakan oleh si musuh yang pada intinya dia berhasil meloloskan diri. Oleh karena itu, jika si penjaga yang lainnya tidak segera datang dan memegang musuh dan musuhnya telah lepas dari genggaman, maka si musuh tidak dinyatakan tertangkap.
Berbeda halnya dengan ketika si penjaga masih satu orang. Dia cukup mengejar dan memegang sedikitpun tubuh si musuh, maka musuh sudah dinyatakan tertangkap. Berbeda dengan setelah bertambah teman. Susahnya lagi kalau yang jaga makin bertambah banyak, dalam artian tidak hanya satu, dua dan tiga. Karena setiap musuh yang sudah tertangkap, dia harus ikut jaga. Dan begitu seterusnya sampai musuhnya habis.
Yang lebih susah, ketika para penjaga dableg semua . Karena terkadang mereka susah untuk diajak kerja sama, jadi pada mementingkan egonya masing-masing untuk mendapatkan musuh. Harusnya yang lebih mudah adalah, si penjaga harus bekerja sama dan selalu menyatu untuk mengepung musuhnya satu persatu. Sehingga dengan demikian dapat mempermudah penangkapan dan tidak kerepotan untuk memegang musuhnya jika berhasil ditangkap.
Memang tidak mudah melakukan penangkapan ini. Intinya tidak semudah main kejar-kejaran di daratan. Pasti tahu kan, orang desa itu pandai berenang semua. Kalau membicarakan soal berenang, jangan bandingkan dengan orang kota. Orang kota belum ada apa-apanya dengan orang desa dalam segi berenang. Meskipun otodidak, tapi kami mampu menerapkan berbagai bentuk gaya berenang; gaya katak, kaya kupu-kupu, gaya tidur dan sebagainya.
Setiap kami melakukan permainan ini, yang selau paling terakhir ditangkap adalah kak Cakok. Putra Pak Ayup yang satu ini memang pandai betul dalam berenang. Terutama berenang jenis slulup kalau kami sering menyebutnya. Dia memang lincah, gesit dan licin untuk dipegang. Tubuhnya kecil dan hitam, tapi lari dan menyelamnya sangat luar biasa dan tahan lama di dalam air.
Entahlah, apa memang keturunan keluarganya, atau juga memang bawaan orang bribumi yang sering tinggal di perairan sehingga membuat dia memiliki langkah seribu dan lembu sekilan dalam permainan ini. Kami semua selaku temannya hampir selalu kualahan menangkapnya. Meskpun semua sudah tertangkap dan ikut jaga, itupun masih klabakan menangkap kak Cakok.
Dikala dia sedang memainkan renang, jangan harap dalam sekejab bisa menangkapnya. Misalnya dia berada di satu tempat, kemudian kami mengejar arah di mana dia sedang berada, maka dalam sekejab dia sudah berada pada posisi tempat yang jauh dari semula dia berada. Para musuhpun jadi clingukan mencari keberadaan dia. Yang bikin kami kesel, ketika dia menyelam dan sengaja muncul d bawah abuk-abuk yang sangat lebat dan tebal, lalu dia diam tidak memunculkan diri sampai musuhnya habis tertangkap. Itulah trik dia yang paling aku tidak suka. Dasar kak Cakok.
Di tengah-tengah permainan inilah kenapa temanku Wiwin kemudian diberi julukan mentok atau hewan sejenis bebek itu. Wiwin memang tidak memilki kepandaian renang yang luar biasa dibanding teman-temannya yang lain. Olehnya dia paling takut ketika berada posisi menjadi musuh atau yang akan diburu oleh si penjaga. Wiwin memang selalu sering tertangkap lebih awal daripada yang lain. Oleh sebab itu dia harus jaga pada permainan selanjutnya. Sistemnya memang sama dengan jumpritan, siapa yang tertangkap lebih dulu, maka dia yang akan jaga giliran selanjutnya.
Karena ketakutannya itulah, akirnya Wiwin sering melakukan trik-trik konyolnya untuk menghilangkan jejak dari pandangan kawan-kawan yang lain. Kali kecil ini selain sebagai tempat pemandian dan bermain kami, ternyata mentok dan itik peliharaan ayahku yang sekarang makin bertambah banyak sering main dan membasahi tubuhnya di kali kecil ini pula. Justru sangat sering bebek milik ayah ini bertelur di semak-semak belukar pinggir kali.
Tahukan, bagaimana kebiasaan bebek dan sejenisnya itu? Dia memang hobinya bermain di air. Makanya tak heran kalau kami juga sering dikatakan mandinya mandi bebek. Ya, karena mandi cuma sekedar mandi yang tanpa membersihkan tubuh dengan serius.
Nah, mentok milik ayah itu selalu bermain di kali bawah, yang tidak begitu jauh dari tempat yang sering kami gunakan untuk bermain, ya mungkin berjarak tidak lebih dari seratus meter dari lokasi kami. Disaat Wiwin harus melarikan diri untuk menjauh dari si petugas jaga pada permainan kejar-kejaran ini, Wiwiwn selalu mencari lirikan tempat yang kira-kira strategis untuk dia bersembunyi.
Nah, disaat itulah mungkin matanya melihat sekerumpulan mentok yang sedang mendengkur sehabis ciblon di kali. Mungkin pikir Wiwin, si penjaga tidak bakalan tahu kalau di sekrumpulan mentok itu terdapat salah satu manusia, yaitu dia.
Memang triknya itu mampu membutakan mata si penjaga. Buktinya, setelah si penjaga pertama sengaja mencari Wiwin yang bermaksud ingin di kenakan lebih dulu, dengan demikian dia akan bisa dijadikan alat bantu penangkapan musuh selanjutnya. Tapi sayang, usaha itu selalu gagal, entah siapapupun yang jaga pertama, tapi yang jelas berulang kali selalu mengalami kegagalan.
Sampai pada suatu saat, akhirnya aku sempat melihat keberadaan dia yang sedang mendengkur dengan nikmatnya di tengah-tengah sekrumpulan mentok dan bebek itu. Dia sedang tengkurap dan kepalanya memang sengaja di tidurkan. Sehingga dia agak terlena dan mungkin sempat tertidur.
Mulanya aku juga tida tahu kalau dia ada di tempat yang menurutnya sangat aman itu. Tapi ayahku memang membukakan jalan. Tanpa disengaja tiba-tiba ayah berniat menggiring sekerumpulan peliharaannya itu. Padahal tidak biasanya ayah melakukan aktivitas ini, dan peliharaannya selalu pulang ke kandangnya masing-masing.
Nah, disaat itulah Wiwin tidak menyadari akan situasi sekelilingnya. Sehingga aku dapat melihat kalau dia sedang tidur tengkurap di antara sekerumpulan hewan itu. Akhirnya aku langsung berteriak “he...Wiwin neng kene...!” , aku berteriak memanggil teman-teman jaga yang lain, memberitahukan tentang keberadaan Wiwin.
Kontan Wiwin kaget lalu berusaha berdiri dengan sigapnya dan pantang menyerah. Dalam situasi yang genting seperti itu, dia masih sempat untuk berusaha melarkan diri di tengah-tengah kepungan orang banyak. Dia tahu, kalau dia sampai masuk ke dalam air, dia pasti akan cepat tertangkap. Dia memilih jalan untuk tidak masuk ke dalam air, meskipun kami selaku petugas jaga merasa sedikit tidak terima dengan apa yang dia lakukan itu.
Permainan inikan permainan kejar-kejaran di air, jadi bagaimanapun juga dia harus jebur di air dong. Tapi itu tidak kami hiraukan, masak sih kami ber-enam tidak mampu menangkap seorang Wiwin saja. Namun yang bikin sedikit ramai dan kemudian Wiwin di beri julukan “mentok”, adalah permainan kejar-kejaran ini tidak hanya terjadi antara si penjaga dan si Wiwin. Tapi hebatnya, si bebek, mentok dan ayahkupun ikut berperan dalam permainan ini.
Bagaimana tidak, bebek dan mentok milik ayahku jelas ikut lari kalang kabut karena takut melihat Wiwin yang larinya sambil berteriak “a...”, entah apa simbol dari teriakan yang dimaksud itu. Jelas ayahku ikut kaget dan memperumit ayah dalam menggiring peliharaannya. “Hoy...! O...dasar cah kurang ajar!” , teriak ayahku pada kami semua.
Nah, setelah kejadian itulah, akhirnya dalam obrolan sehari-hari yang ada hanya menggojlok Wiwin. Sehingga dengan sendiri Wiwiin dipanggil mentok. Pertama yang membumingkan panggilan itu adalah Kang Waluyo, akhirnya kami semuapun mengikuti jejak itu. Hingga jadi tradisi sampai sekarang.
***
Lek Parmen. Beliaulah pendatang baru yang kami anggap sebagai “penyelamat kebodohan”. Beliau datang dengan membawa sedikit ilmu, begitu mungkin beliau bilang kepada orang-rang tua kami. Karena tidak mungkin dia akan menyumbarkan ilmu pengetahuannya kepada orang lain dengan mengatakan, “aku punya banyak ilmu”. Rasanya tdak mungkin, kecuali dia orang sombong.
Semakin orang itu pintar dan banyak ilmu, maka semakin bijaksanalah dia dan semakin merendah di mata orang. Lek Parmen juga orang blasteran, alias Lek Parmen sendiri orang Jawa Timur, Ponorogo dan strinya orang pribumi.
Beliau mendirikan rumah di dekat rumahnya Pakde Sakimen. Jadi tempat tinggal Lek Parmen ini agak jauh juga dengan rumah kami yang agak banyak penduduknya dibanding lokasi Pakde Sakimen yang hanya dua keluarga. Tapi tak apalah. Lek Parmen datang dengan inisiatif yang sangat tinggi, yaitu mendirikan langgar sebagai pusat informasi agama dan pengajaran agama Islam bagi anak-anak di desa mungil ini.
Inisiatifnya untuk mengajak orang tua kami mendirikan mushala bukanlah suatu hal kesombongan semata untuk memamerkan kepandaiannya dalam berilmu agama. Tetapi tidak lain berangkat dari kegelisahan beliau ketika melihat aktifitas kami yang hari-harinya hanya bermain, bermain, bermain dan bermain. Tanpa yang lain.
Dan selama ini bukan berarti orang tua kami tidak memperdulikan apa yang namanya pendidikan dan sejauh mana pentingnya pendidikan dalam kehidupan kami sekarang dan saat jauh ke depan nanti. Tapi memang kondisi benar-benar harus menuntut kami seperti ini adanya. Bayangkan, orang tua kami semua “nol putol, babar blas ra rengerti panganan pendidikan” , apakah bisa disalahkan? Menurutku tidak.
Yang kutahu tentang kedua orang tuaku dalam dunia keagamaan, tak lain hanya shalat dan shalat, itupun ibu yang paling rutin mengerjakan aktifitas wajib ini. Sehingga mampu mengenalkan aku dan sebagai proses pendidikan shalat untukku. Selainnya tidak. Itu saja mungkin ibu masih salah-salah dalam membaca lafadz dalam shalat. Karena memang ibu juga tidak tahu tentang ilmu yang lain. Sedangkan ayah, beliau hanya “dong-dongan, byar pet-byar pet” dalam melakukan shalat.
Mungkin tak jauh beda dengan saudara-saudaraku yang lain tinggal di desa kecil ini. Aku tahu betul bagaimana kehidupan mereka sehari-hari, dan bagamana pula aktifitasnya setiap hari. Karena kami memang satu atap dan satu rumpun hidup dalam kegelapan ilmu, wawasan dan pengetahuan.
Hidup kami seakan buta, hanya dibelenggu dengan kesibukan aktfitas kerja yang tak kunjung membawa kami pada tingkat kekayaan. Entah kenapa. Apakah ini takdir dan garis Tuhan? Bahwa manusia tak hanya dituntut untuk memenuhi kesibukan dunia semata, melainkan adanya garis vertkal putih yang tak perah kami temukan dan tatap dalam kehidupan. Tuhan memang hebat, Tuhan memang luar biasa.
“Man aradad dunya fa’alaihi bil’ilmi, waman aridad akhirah fa’alaihi bil ‘ilmi, waman arodahuma fa’alaihi bil’ilmi”, (barang siapa mengharapkan kebahagiaan dunia, maka harus dengan ilmu, dan barang siapa yang mengharapkan kebahagiaan akhirat, maka harus dengan ilmu, dan barang siapa mengharapkan keduanya, maka juga harus dengan ilmu). Begitulah pentinya ilmu, yang begitu agung dan mulianya ilmu itu dalam kehidupan manusia. Belum pernah kami sadari selama ini.
“I’mal lidunyaka ka annaka ta’isu abadan. Wa’mal lil akhiratika ka annaka tamutu khaddan”, (bekerjalah untuk duniamu, seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya. Dan bekerjalah untuk kepentingan akhiratmu, seakan-akan engakau akan mati esok hari). Dan ini adalah betapa pentingnya manusia harus mampu menyeimbangkan antara kepentingan dunia dan akhirat. Bukan hanya dunia yang harus bersemayam dalam-dalam di otak manusia. Hal ini juga mungkin belum pernah disadari oleh sekian orang di desaku.
Kebodohan bukanlah harapan keluarga kami semua, meskipun kegiatan kami bermain setiap hari, membantu orang tua kami setiap hari, sebenarnya itu semua adalah menjadi ruang kelas sebagai sarana pendidikan. Tapi kami tak pernah sadar akan itu, Karena mungkin daya tangkap kami memang dangkal. Tapi aku yakin, bahwa kami semua bukanlah orang bodoh, hanya kami butuh bimbingan dan keseriusan. Kami butuh motivasi. Kami bukan orang bodoh, bukan dilahirkan untuk bodoh, dan bukan pula kehendak kami jika kami dinilai orang bodoh.
Kami sendiri selama ini ternyata tidak pernah merasa kalau kami berada pada duni yang jauh dengan namanya dunia pendidikan, entah makanan apa lagi pendidikan itu. Yang kutahu hanyalah permainan yang selama ini terus kami jalankan bersama teman-teman. Yang kutahu adalah sedikit bekerja membantu orang tua, yang sebenarnya seberapa banyak sih hasil dari bentuanku dalam usia yang sekecil ini. Mungkin tidak begitu terlihat. Yang ada justru nyriwuti wong tuek megae , itu kata-kata yang sering keluar dari ibu tatkala ada sedikit salah dari pekerjaan yang kulakukan di sawah.
Mungkin tidak begitu terlihat hasil kerjaku, namun sebagai proses pembelajaran untuk berbakiti terhadap orang tua itulah hasilnya. Itu sebagai sedikit bukti, bahwa anak seusia kami memang masih dalam usia yang harus digembleng dalam dunia pendidikan. Entah apa itu media yang harus digunakan, yang penting sarana pendidikan.
Usaha yang ditawarkan Lek Parmen adalah usaha yang mulia, bijaksana dan banyak guna. Orang tua kami semua antusias terhadap tawaran itu, mereka semua justru bangga dan berusaha keras untuk menjaga, merawat dan merasa memiliki bersama mushala yang meskipun kecil, lebih kecil dari rumah-rumah kami.
Mushala itu dibangun dengan menggunakan dana yang sangat begitu minim. Ya, anggap saja tidak mengeluarkan dana. Cuma untuk membeli paku, ya, itulah dana yang kami gunakan untuk membangun mushala indah ini. Lantai, kami cukup menggunakan anyaman tikar dari puron yang dibuat sendiri secara bersama oleh istrinya Pak Ayup dan dibantu oleh ibu-ibu di desa kami. Sangat sederhana namun mempesona, begitu sajalah kesannya.
Berdirinya mushala ini kebetulan disepakati oleh orang tua kami semua di lokasi pekarangannya Lek Parmen. Dan tanah sekecil itu resmi diwakafkan oleh beliau khusus untuk kepentingan bersama dalam bidang keagamaan, maupun kepentingan bersama. Tolong jangan lihat kecilnya tanah yang diwakafkan, tapi kami melihat sejauh manfaat tanah wakaf dari beliau itu.
Setiap tiang bangunan mushala itu seperti biasa orang tua kami sambatan untuk mencari kayu dalam hutan belantara yang masih terlalu banyak kayu untuk bisa dimanfaatkan oleh kami. Dinding-dinding mushalanya cukup kami hiasi dengan anyaman bambu kerdil . Ya, bambu kerdil itu memang teramat banyak tumbuh di tengah hutan desaku.
Bambu itu tumbuhan alami yang tanpa ditanam oleh tangan manusia. Kusucian Tuhanlah yang menumbuhkan batang bambu itu beberapa tahun yang lalu. Mungkin tak seorangpun tahu, apa, untuk apa dan siapa yang akan memanfaatkan tumbuhan bambu ini. Tapi, ternyata kini memang terungkap salah satu rahasia Tuhan yang selama ini seakan terpendam oleh manusia, yang memang memiliki keterbatasan pengetahuan.
Semua yang ada di bumi ini ternyata saling membutuhkan, itu benar dan kuyakini kebenarannya. Kini orang-orang penghuni desaku telah membuktikan, bahwa kamilah yang ternyata menikmati buah dari tanaman yang ditanam oleh sang Khaliq.
Reng sebagai penyangga atapnya juga bukan terbuat dari kayu yang telah diolah sebagus rupa, namun reng itu kami memanfaatkan belahan bambu yang agak besar, lalu kemudian dipasanglah belahan bambu itu sebagai penyangga atap mushala kami.
Begitu juga dengan atapnya, daun ilalang yang setia melindungi kami sekaligus melindungi bangunan mushala itu agar terlindung dari terik matahari dan guyuran hujan. Yang suatu saat akan menghancurkan tiang-tiang penyangga andaikan tidak dilindung oleh daun ilalang yang bak hati itu.
Aku teringat betul bagaimana bentuk mushala kami ini. Mungkin sampai kapanpun gambaran mushala ini takkan pernah hilang dari ingatanku. Bagaimana tidak demikian, mushala inilah yang menjadi lembaga paling utama seumur hidupku dalam mengenal pentingnya pendidikan dan ilmu keagamaan. Mushala yang mengandung sisi historis paling dalam dan paling besar dalam sejarah hidupku.
Meskipun bangunan ini kecil, namun memang oleh orang tua kami didesign sebaik rupa dan menyerupai layaknya mushala. Apapun dan bagaimanapun kondisinya, kami tetap menghargai tradisi dan budaya yang kini makin mengalami perkebangan peradaban.
Bangunan yang memoncong ke arah kiblat tidak dilupakan keberadaannya. Sebagai penunjuk bahwa moncong itu adalah arah kemana orang shalat harus menghadap. Di depan moncong itu, oleh orang tua kami diberi simbol berbintang lima. Sehingga ketika kami, anak-anak kecil ini melakukan shalat berjama’ah bersama lek Parmen yang sekaligus untadz kami, yang kulihat selalu bintang berjumlah lima itu.
Entah apa yang dimaksud dengan simbol itu, dulu aku tak mengerti akan simbol-simbol yang dimaksud. Tapi kata lek Parmen, beliau yang memiliki inisiatif itu, sambil mengerjakan itu belau berkata, “di sukani bintang limo mawon kang Sari wonten ngriki” , begitulah katanya sambil menyebut nama ayahku. Bahasa romo inggilnya lumayan.
“Rumiyen poro wali kan lek dakwah damel simbol-simbol ngeten niki. Lek bintang limo niku meh sami kalian blimbing. Engkang nunjukaken makna shalat, engkang jumlah ipun limang reka’at” , lanjutnya dengan mengarah ke muka Pakde Parmen yang usianya lebih tua dari orang tua kami yang lain, kecuali Pakde Warjum yang mungkin usianya sepantaran.
Ternyata aku baru tahu, kalau makna simbol bintang lima itu menunjukkan makna shalat yang berjumlah lima reka’at. Untuk mengetahui maksud itupun tidak dengan cepatnya kami temukan. Hampir setiap malam ketika kami sedang mengaji, di bawah bimbingan beliau, Lek Parmen. Kami selalu di suruh menatap sejenak ke arah bintang lima itu. “Delo’en kae le...! bintang limo neng kono kae ndudohne lek dewe ki menungso dikon nglakoni shalat, seng jumlahe limang reka’at. Mulo kuwi, sampean kabeh kudu shalat yo...!” .
Begitulah, dengan bijaksananya beliau selalu menuturi kami dengan nuansa islami. Cerita dan dongeng yang sebelumnya belum perah kudapatkan. Yang membuat kami heran, entah kenapa kami tak pernah bosan ketika mendengar apa yang beliau sampaikan pada kami. Entah itu dalam bentuk apapun; baik cerita maupun pitutur-pitutur yang berbau islami.
Padahal, biasanya banyak anak-anak, terutama anak-anak zaman sekarang, mereka maunya Cuma sekedar cerita, cerita dan cerita. Kalau diberi nasehat yang ala islami mereka seakan enggan dan jenuh. Apa karena anak zaman sekarang sudah mulai kritis dan sok kritis, zaman yang sudah berubah, atau apalah namanya. Yang jelas semua sudah berubah.
Apalagi Kang Waluyo, dia yang bertubuh gendut itu selalu terpatung mendengar cerita dan pitutur Lek Parmen. Dengan posisi songgo uwang , yang belum jelas apakah pikirannya benar-benar memperhatikan Lek Parmen yang sedang memberikan pituah itu, atau justru sedang melayang-layangkan pikirannya pada hal lain yang tak pernah kami mengerti.
Soalnya sangat sering terjadi dia yang sedang clingukan gak jelas gitu. Gara-garanya, Lek Parmen yang sedang cerita panjang lebar, dan ceritanya telah usai bahkan sudah ditutup dengan ucapan salam. E...dia menjawab sepatah katapun tidak. Jangankan menjawab, dia masih duduk dengan posisi yang sama sekali tidak berubah dari songgo uwangnya itu. Akhirya, dia dibentak oleh kak Cakok yang memang agak usil juga orangnya. “Dar...! Mikerne opo kowe...?” , kak Cakok yang sudah sedikit menguasai bahasa jawa itu selalu diterapkan pada kehidupannya sehari-hari kalau sedang bermain besama kami. kecuali dalam bahasa keluarga, dia tetap komitmen dengan bahasa pribuminya.
Akhirnya kak Cakok kena tegur oleh Lek Parmen, “le...Cakok...! terokne lelek, sam-pe-an” , begitulah Lek Parmen mengeja kata sampean, dengan maksud menegur kak Cakok dengan penuh lembutnya. Lek Parmen mengharap kami semua tidak memanggil sesama kawan dengan sebutan “kowe”, tetapi dengan sebutan “sampean”. Karena dalam bahasa jawa, kata kowe adalah kata yang kasar. Kowe itu sebutan untuk anak kera. Akhirnya, kami semua terbiasa dengan sebutan sampean, hingga saat ini.
Yang lebih konyol lagi adalah kang Dinok, putra Pakde Warjum satu ini memang agak sedikit mbeling . Meskipun dia dan kang Erwan adalah pemuda yang paling tua dibanding kami semua di desaku, tapi dia tetap aktif untuk ikut mengaji bersama kami semua. Ya, anggap saja mereka berdua adalah remaja masjid yang menegndalikan anak-anak seusiaku. Mereka berdua memang diberi kepercayaan itu oleh Lek Parmen.
Disuatu malam suasana terang benderang oleh cahaya rembulan. Nampaknya, kini kami para pencari ilmu tak ubahnya para pancari Tuhan. Ke-khusu’an kami seakan menembus remang-remang sebuah kebenaran yang sulit untuk terungkap. Lek Parmen, guru ngaji yang tidak berkenan para muridnya memanggil dengan sebutan “ustadz” itu setia menghantarkan kami pada ilmu ke-ma’rifatannya melalui dongeng-dongeng dan alunan nada bicaranya yang harmonis menyentuh sukma.
Usai dongeng dan pitutur, seperti biasa kami mulai menyiapkan dampar untuk memulai mengaji. Kang Erwan dan kang Dinok, memang sengaja selalu diawalkan ngajinya kepada Lek Parmen, karena mereka berdua diminta untuk membantunya mengajari kami banyak hal teantang ilmu, karena Lek Parmen yakin bahwa kedua kakak kami ini lebih memiliki wawasan keilmuan yang lebih dibandingkan kami semua.
Ingat, kang Erwan dan kang Dinok hanya dituntut untuk mengajari ilmu akhlaq kepada kami; seperti cerita islami, berbakti pada kedua orang tua, pentingnya beramal dan lain sebagainya, kecuali mengajari kami membaca turutan . Karena Lek Parmen sendiri mengharapkan kalau kami harus pandai membaca Al-qur’an dengan fasheh dan baik. Jadi kami harus langsung belajar kepada ahlinya. Begitulah maksud Lek Parmen yang bukan berarti tidak percaya kepada kakak kami berdua ini. Nanti pasti ada waktunya tersendiri untuk megajari kami membaca Turutan.
Nah, ketika ditengah-tengah kang Dinok menyampaikan nasehatnya kepada kami, ternyata yang sedang mengaji sama Lek Parmen tinggal satu, Mbak Karmik adik kang Erwan. Gadis kecil nan manis ini nampaknya sedang khusuk melafalkan ayat per-ayat dari turutan yang sedang dihadapnya. Bibirnya nan lembut, tipis dan imut itu selalu melambai bak ombak dilautan. Membuat suasana ngaji kami lebih sempurna dengan kehadirannya. Mungkin begitu yang muncul dibenak lelaki yang agak dewasa. Mungkin kalau sekarang lagi dirasakan oleh kang Dinok ini.
Akhirnya muncul ide gila kang Dinok yang mungkin bisa dibilang ide kurang segar. Tiba-tiba dia memanggilku, “Rom-rom, reneo tak omongi!” , panggilnya padaku dengan nada lirih penuh maksud yang belum kumengerti. “Nyapo kang? Males aku” , jawabku bimbang untuk memenuhi panggilan yang masih menyimpan rahasia itu. “Heh, westo reneo. Diomongi kok” , Dia terus memaksaku dengan nada yang agak meyakinkan yang dapat membuatku tertarik juga nampaknya.
Akhirnya aku datang memenuhi panggilannya, mendekat dan ditarik agar merapat pada mulutnya. Lalu dia membisikkan beberapa kata di telingaku, “mbak Karmik ayu gak?” , begitulah yang dia bisikkan padaku. “Hayo...! seneng yo sampean...? tak andakne pokoe...!” , ledekku dengan setengah mengancam kang Dinok. “Hust...! guoblok, meneng ojo banter-banter” , lanjutnya dengan sedikit malu tapi cuwek aja kayaknya.
“Ngene le, awakmu ombungen mbak Karmik, engko tak kei permen gelem gak? Permene akeh wes” , sambungnya masih tidak mau kalah dengan ancamanku. “Yo emoh lah. Engko aku diseneni Lek Parmen” , jawabku agak menolak. “enggak-enggak, engko aku seng tanggungjawab lek diseneni. Sampean mbrobos lewat ngesor dampar, nah engko jedule pas neng ngarepe mbak Karmik. Baru langsung diambung. Sarate kudu pipine loyo, baru tak kei permen. cepet” .
Setelah dia berucap yang sekaligus dilengkapi dengan metodenya, herannya aku bisa terbuai dengan rayuan gombalnya, yang tak lain menjanjikan sebuah permen. Ah, gila kang Dinok ini. Aku tidak pikir lama lagi, langsung saja kuturuti kata-katanya yang manis itu. Aku langsung menuju arah di mana dampar tempat mengaji itu berada.
Aku masuki kolong dampar itu dengan tanpa menimbulkan kecurigaan terhadap Lek Parmen. Yah, jelaslah dampar itu cukup untuk kumasuki tubuhku, karena tubuhku yang kecil. Aku sengaja masuk kolong dampar yang arahnya berhadapan dengan posisi duduknya mbak Karmik, sehingga kurasa lebih mudah melakukan apa yang diperintahkan kang Dinok.
Langkah demi langkahku terus menyusuri kolong dampar tanpa ada yang tahu satupun, kecuali kang Dinok yang memang dia dalangnya. Aku tahu, kang Dinok terus menatapku dan sambil senyam-senyum penuh arti yang tak kumengerti. Tapi lebih anehnya yang membuat aku tak mengerti, kenapa di samping kang Dinok adan kang Erwan yang justru kakak kandungnya mbak Karmik sendiri. Kang Erwan ikut mencibirkan bibirnya lagi. Ah, makin banyak tanda tanya di benakku.
Harusnya, kang Erwan marah kemudian melarangku dan sekaligus marah pada kang Dinok dong, tapi ini justru sebaliknya. Sama sekali dia tidak melakukan tindakan apapun sama kami berdua, justru kang Erwan ikut menyaksikan aksiku. Dasar dua bujangan tanggung yang konyol. Memang sih, mereka berdua selalu humoris dan sama sekali tidak pernah kontra dalam menjalani langkah hidup hari-harinya.
Jelas, karena mereka berdua memang dua lelaki pasangan yang tiada tiganya. Tidak ada bujangan yang seusia mereka, oleh karenanya harus saling menyadari dan saling memahami antara satu dengan yang satunya. Jika tidak, tentu pertengkarang akan sering terjadi dan mereka akan kehilangan salah satu temannya.
Ah, masa bodoh dengan apa yang dilakukan kang Dinok dan kang Erwan. Yang jelas tidak mungkin kalau aku nanti akan dimarahi oleh kakaknya mbak Karmik, kang Erwan. Karena aku sendiri sekedar mengikuti perintah sahabatnya itu.
Langkahku sudah berjalan jauh, bahkan sudah mencapai ujung tanduknya mbak Karmik, tidak mungkin aku akan kembali lagi hanya karena setelah melihat adanya kang Erwan di sisi kang Dinok. Tidak mungkin, aku harus terus melangkah karena langkahku semakin dekat.
Akhirnya, jelas aku tidak bisa berpikir panjang dalam usia yang dini. Tapi rasa dredeg juga ada, tapi rasa dredeg itu bukan karena apa-apa kecuali aku hanya takut kalau nanti dimarahi oleh Lek Parmen. Tapi hal itu tak kuhiraukan, yang penting aku lakukan tugasku dari kang Dinok, setelah itu aku dapat permen dari dia, selesai.
Setelah kususuri langkah dalam lorong dampar, sampailah aku tepat dihadapan mbak Karmik. Ya, langsung saja aku nongol dari arah samping mbak Karmik dan kutempelkan hidungku tepat di pipinya mbak Karmik. “A...! Khoirom...!”, teriak mbak Karmik sekuat-kuatnya sambil lari mengejarku dan meninggalkan turutan serta dampar yang dihadapnya. Lek Parmen, jelas tidak dihiraukannya lagi.
Akupun lari mengitari dampar tempat kami mengaji, begitu juga dengan Lek Parmen yang menjadi pusat untuk kuputari menghidari kejaran mbak Karmik. Ya, ustadzku ini malah nampak terlihat senyum manis melihat ulahku yang mungkin dirasa sangat nakal. Padahal batinku sangat takut kalau jangan-jangan kemudian Lek Parmen akan memanggil dan membentak-bentakku habis-habisan.
“He, le...Rom, rene sampean. Ndok Karmik barang rene, mandek kejar-kejarane. Cepet!” , begitu Lek Parmen memanggil kami berdua di tengah-tengah lari kami. “Erom nganu aku lek...” , mbak Karmik mengadu pada ustadz baik hati itu, mungkin memohon agar aku diadili dengan seadil-adilnya. Idih, emang kelihatan lebih cantik sih ternyata kalau mbak Karmik sedang ngambek.
Aku diam tertunduk takut, bukan tertunduk karena malu. Ya, aku heran juga pada diriku sendiri ini, kenapa aku tidak punya rasa malu sama sekali, baik itu sama mbak Karmik ataupun sama Lek Parmen. Yang ada, justru aku bangga karena aku dapat pujian sebagai anak pemberani dari kang Dinok, dia yang sedang duduk di dekat pintu mushala sambil tertawa ngekek sengekek-ngekeknya setelah melihat ulahku tadi.
Meskipun ustadz ini tadi nampak tersenyum manis melihat ulahku, tapi beliau tidak ingin melihat santri putri yang satu ini merasa kecewa karena ustadznya tidak mengadiliku. Aku tertunduk diam tak berucap, aku berubah culun, mungkin orang bisa tertawa habis melihatku. Buktinya kang Erwan dan kang Dinok mereka tertawa habis. Akhirnya sayapun ditanya oleh Lek Parmen, “nyapo sampean nglakoni ngonokui? ”. Masih dalam posisi tertunduk aku menjawab, “kulo dikengken karo kang Dinok Lek...!” , jawabku dengan bahasa jawa kromo yang belum sempurna kukuasai. Ilmu jawa itu kudapat dari yang ibu ajarkan padaku.
“O...dasar! Seng gerang malah marai terae” , lanjut Lek Parmen dengan menoleh ke arah kang Dinok yang sebelumnya sedang berdua dengan kang Erwan di depan pintu. Namun konyol, mereka berdua ternyata telah tiada di tempat yang semula berada. Mereka berdua kabur. “Ojo diulangi meneh lo yo. doso...!”, sambung Lek Parmen padaku dengan mengingatkan kalau perbuatan itu dilarang oleh agama. “Enggeh!”, jawabku agak ketus, karena aku sedang kesel dengan kang Dinok. Ternyata dia tidak berani mempertanggungjawabkan perbuatannya pada ustadzku. Boro-boro aku dapat permen, setiap hari setiap aku tagih selalu jawabannya besak, besok dan besok. Dasar, orang dewasa selalu membohongi anak kecil.
Beginilah perjalanan mushala kecil kami, penuh romantika yang luar biasa, tak pernah kulupakan meskipun andaikan suatu saat nanti semua akan berubah menjadi mewah. Menyimpan jutaan kenangan yang tidak mungkin akan dapat dibuang jauh-jauh dalam angan kami semua. Bagaimana orang tua kami selalu setia menghantar anak-anaknya menuju mushala kecil yang menyimpan sejuta harapan kepada putra-putrinya.
Tak pernah sama sekali mereka mengeluh, meskipun setiap akan berangkat, kedua orang tua kami terkadang belum sempat mandi, karena tak jarang orang tua kami baru pulang dari sawah menjelang maghrib. Tapi kami selalu merengek agar kami cepat-cepat dihantarkan ke mushala.
Dengan sepeda ontelnya mereka setia mengayun demi putra-putrinya, menyusuri setapak jalan yang kanan-kirinya masih penuh dengan hutan dan rawa-rawa. Gelap-gulita bukan menjadi kendala, cahaya senter para ayah masih setia menghantar kami pada mushala.
Kang Erwan, mbak Karmik, kang Waluyo dan kang Eko yang berangkatnya ke mushala paling dekat, karena rumahnya memang berdekatan dengan rumah Lek Parmen. Kang Waluyo, dia punya ide baru untuk menerangi jalannya untuk berangkat menuju mushala ketika bulan tidak menerangi bumi. Entah keluar dari mana dan dia dapat pegetauan dari mana, sehingga idenya keluar untuk membuat obor . Ya, hal yang tak pernah terlitas dibenak kami yang lain untuk membuat penerang ini.
Akhirnya kamipun meniru idenya itu. Lumayan, meskipun tidak satu dua kali obor itu mati di tengah jalan ketika kami di bonceng ayah naik sepedanya. Nampaknya agak susah juga kalau obor itu kami terapkan sambil naik sepeda. Apiya selalu berlawanan dengan angin, sehingga api itu tidak dapat terang dengan tenang dan mobat-mabit tidak mampu menerangi jalan depan. Ayah justru tidak bisa melihat jalan yang gelap di depannya.
Ayahku sering kesal sebenarnya dengan ulahku, yang selalu ngeyel untuk terus membawa obor ketika berangkat mengaji, sebenarnya ayah kurang suka dengan apa yang kuharapkan ini. Jelas, obor itu lebih tepat digunakan untuk penerang yang sedang berjalan kaki, bukan untuk orang yang sedang naik sepeda.
Ok lah kalau begitu, akhirnya lama kelamaan aku ngalah sama ayah, bukannya anak memang harus ngalah sama orang tua, toh itu juga demi kebaikan dan apa yang katakan ayah itu benar adanya. Namun aku tidak berhenti di situ, aku berhenti membawa obor disaat mengaji ketika ayah sudah benar-benar kesal dan sering mengancamku untuk tidak akan menghantarkan aku ke mushala. Ah, ayah tega. Tapi aku yakin kalau itu hanya sebuah gertakan agar aku menuruti permintaannya. Mana ada orang tua yang mau membiarkan anaknya bodoh dan hidup dalam kegelapan dunia.
Pokoknya kuturuti saja apa maunya ayah, yang penting aku bisa terus perkumpul dengan teman-teman di mushala saat mengaji. Titik. Tapi keesokan harinya jangan salahkan aku kalau ulahku akan lebih parah dan menghabiskan banyak minyak tanahnya ibu, yang seharusnya dapat digunakan untuk menyalakan lampu ublik setiap malam sebagai penerang rumahku.
Pertama aku cukup dengan Wiwin atau yang sering kami panggil mentok ini karena sebab yang pernah kuceritakan sebelumnya. Aku berinisiatif mengembangkan karya kang Eko ini dalam pemanfaatannya. Jadi, lampu obor itu tak hanya digunakan untuk menerangi jalan ketika seseorang mau berjalan kaki kemanapun dia mau pergi. Aku dan Wiwin harus menerangi jalan setapak yang berada tepat di depan rumah kami berdua, sehingga halaman rumahku dan sekaligus jalan depan rumahku bisa terlihat terang dan tidak gelap gulita yang mengerikan bak kuburan.
Kenapa aku harus dengan Wiwin? Ya, karena rumahnya yang paling dekat denganku. Hal itupun telah kami realisasikan dan halaman kami nampak terang. Wah, malam esoknyapun tak hanya kami berdua, tapi Handoko, Rudin bahkan mang Darsok yang sudah menikahpun mengikuti jejakku. Lumayan hebatlah kami, karena dapat mengkoordinir orang dewasa.
Tapi perjuanganku nampaknya tak bertahan lama. Meskipun dulu harga minyak tanah cuma Rp. 700, tapi harga itu seakan mencekik orang tua kami. Bagaimana tidak, setiap malam aku selalu mencuri minyak tanah ibu yang di simpan di kolong ranjang tidur kami. Karena ibu sudah berulang kali menegurku untuk tidak lagi menyalakan obor itu. Bayagkan coba, di depan rumahku terpasang lima obor yang berbaris dengan jarak tidak lebih dari lima meter. Lalu aku nyalakan obor itu sebelum aku berangkat ke mushala.
Tapi orang tuaku curang, sering sekali ketika kami pulang dari ngaji, obor itu selalu kulihat dalam kondisi mati. Sekali dua kali mungkin aku bisa menafsirkan kalau itu pasti ulah angin yang kencang, kemudian obor-obor itu mati dilahapnya. Akan tetapi jika itu berulang kali dan bahkan terjadi setiap malam berturut-turut selalu kuketahui mati, ini pasti ada yang tidak beres. Itu jelas ulah ibuku.
Tidak apa-apalah, lagi-lagi aku harus mengalah dan ideku ini justru tidak bertahan lama dibanding teman-temanku yang lain. Kasihan juga kan ibu dan ayah yang selalu cari minyak tanah harus mengayunkan sepedanya jauh-jauh ke pasar Bunut. Harus mengontel sepeda sekian jauh.
15. Marga “Ek”
Tidak perlu dicari dimana nama marga “ek” ini berada, karena tidak mungkin akan kalian temukan keberadaannya, kecuali di desaku. Kalau orang yang sejenis pasti banyak di daerah asalnya sana, Indramayu, Jawa Barat.
Ya, keluarga ini datang ke desaku dengan dua bersaudara; yang pertama kakaknya dengan nama mang Suryak dan adiknya bernama mang Karmin. Mereka berdua sudah berkeluarga dan bahkan sudah ber-putra. Mang Suryak berkepala empat lelaki semua dan mang Karmin, atau adiknya justru melebihi putra kakaknya. Mang Karmin ber-kepala lima, yaitu putra tiga dan putrinya dua.
Yang membuatku heran dan menyimpan tanda tanya, kenapa nama-nama putra keluarga ini selalu menggunakan kata “ek” di akhirnya. Yang tidak, hanya putra pertama mang Karmin yang bernama kang Udin. Selain dia, anak mang Surya dan mang Karmin selalu meggunakan kata “ek”.
Semisal; anak mang Suryak yang pertama bernama kang Tandek, adiknya bernama kang Rasmadek, adiknya lagi kang Sarkek, selanjutnya yang terakhir dengan nama Carwadek. Komplet sudah nama putra mang Suryak dengan nama akhir “ek”. Kemudian anak mang Karmin yang putra juga sama kecuali kang Udin. Seperti anak nomer dua yang bernama kang Midek dan adiknya lagi Asmadek. Sedangkan kedua putrinya memiliki nama yang menyimpang jauh dari kakak-kakaknya itu. Putri yang lebih tua bernama Rina dan yang paling bungsu bernama Tina.
Diantara sekian teman baru yang datang kedesaku; kang Tandek, kang Rasmadek, kang Sarkek, Carwadek, kang Udin, kang Midek, Asmadek, Rina dan Tina. Yang sepantaran dan amat sering bermain denganku dan bersama-sama dengan teman-teman yang lain hanyalah sebagian anak. Tak lebih dari empat anak; Carwadek, Asmadek, Rina begitu pula dengan Tina.
Selain dari itu, mereka semua sudah berusia dewasa yang mungkin sepadan dengan kedua kakak kami sebelumnya, yaitu kang Erwan dan kang Dinok. Apalagi dengan kang Tandek, beliau ini sudah jauh lebih dewasa dari kang Erwan dan kang Dinok. Mungkin tidak jauh beda dengan usia putra Pakde Sakimen yang pertama, kang Supreh. Kehadiran di tempat tinggalnya yang baru inipun jarang kutemui. Merantau, merantau dan merantau itulah aktifitasnya.
Kenapa sih, orang yang pindah dan datang ke desaku tidak ada yang langsung kaya dan bangun rumah megah semegah-megahnya? Heran deh aku. Yang ada selalu keluarga biasa-biasa saja dan bahkan kalangan ekonomi ke bawah. Memang, ini semua garis Tuhan agar kami si penghuni desa hutan harus berfikir bagaimana caranya untuk mengembangkan, menghasilkan dan mengelola lahan yang masih sempurna ini. Dan memang lahan di desaku membutuhkan sang tuan yang berkenan untuk menjamah dengan halus dan sabar, yang kemudian akan diberi hadiah dari kerjanya itu.
Namun tak cukup dengan terbuai dalam menikmati luasnya lahan yang begitu menggiurkan. Ingat, kalau seseorang tidak sadar dan tidak memiliki hati nurani yang terkendali, maka pasti dia akan terjerumus oleh perangkap setan untuk menguasai lahan kosong seluas-luasnya. Maka dia akan melakukan tindakan rakus yang akan menenggelamkan dirinya pada penyesalan.
Ya, untungnya diantara kami tiada yang terbuai dengan iming-iming syaithan yang jenis ini. Meskipun kami diperkenankan untuk menempati dan memanfaatkan lahan sebagai tempat tinggal dan sekaligus memilih lokasi sebagai lahan penghasil ekonomi dengan semaunya, tapi kami tetap sadar dan dapat mengendalikan nafsu keduniaan kami.
Sekarang, di samping selatan rumah lek Tamjit sudah dibangun rumah oleh mang Karmin, sehingga tidak lagi hutan belantara di samping rumah Wiwin, sahabatku ini. Halaman bermain kami secara otomatis juga akan lebih bertambah luas tentunya dengan dibukanya lahan sebelah rumah teman kami.
Hatiku senang dan riang, karena temankupun bertambah banyak. Aku berharap suatu saat temanku akan lebih banyak dari pada ini. Sehingga suasana mushala kamipun akan bertambah ramai dan sempurna. Itulah harapan kami anak desa hutan belantara.
Teman baru kami ini datang dengan memberi permainan baru pada kami, mereka membarinya nama slodoran. Slodoran adalah permainan berkelompok yang mengandalkan kerjasama dan saling percaya. Mereka; Carwadek, Asmade, Tina dan Rina ini dengan semangat mempraktekan permainan yang bagi kami masih baru. Mereka memulai mengajari kami dengan menggaris berbentuk kotak-koak di tanah yang kebetulan waktu malam terang bulan. Jadi garis kotak-kotan itu kami gunakan dengan air. Ya, kami hanya membantu mereka dalam pengambilan air di belakang rumahku.
Jumlah kotak yang kami buat, katanya harus menyesuaikan berapa jumlah pesertanya. Kebetulan kami hanya anak lima belas, itupun harus dibagi dua kelompok. Yang berarti harus ada salah satu dalam kelompok yang rela mengalah dengan jumlah teman kelompok lebih sedikit. Satu kelompok ada yang terdiri dari tujuh anak, dan yang satu kelompok terdiri dari delapan anak. Maka kotakpun hanya kami buat dua belas kolom. Sebenarnya dalam permainan ini tidak dibatasi berapa jumlah kotak dan berapa jumlah peserta. Namun apa boleh buat, karena kami hanya ada jumlah teman yang adanya cuma ini.
Dalam mekanisme permainannya sangat sederhana, pertama harus ditentukan siapa yang berugas menjaga garis kolom dan siapa yang akan berjuang menyusuri kolom demi kolom untuk sampai pada ujung kolom yang dijaga. Dan dalam penyusuran itu harus pulang pergi. Tantangannya bagi yang menyusuri adalah, mereka harus berhati-hati secermat mungkin untuk tidak bisa disentuh oleh si penjaga garis. Jika salah satu dari si penyusur tersentuh oleh penjaga dalam kolom, maka mereka satu kelompok harus bergantian untuk menjaga garis. Demikian pula dengan penjaga garis pertama akan melakukan penyusuran seperti halnya kelompok yang pertama tadi. Dengan tantangan dan syarat ketentuan yang sama.
Sekali lagi saya katakan, bahwa dalam permainan ini kunci utamanya adalah pada kerja sama yang baik dan saling percaya yang kuat. Kalau tidak, maka setiap kelompok yang dapat jatah menjaga garis akan terus menjaga garis selamanya. Begitu juga dengan yang sedang menyusuri kolom, kalau mereka tidak saling percaya dan saling kerjasama, maka yang ada hanya akan bertengkar dan saling menyalahkan yang tubuhnya terkena si penjaga garis.
Seperti halnya dengan kang Waluyo, dia yang bertubuh gendut membuat teman-teman yang lain enggan jika harus sekelompok dengan dia. Bagaimana tidak, dialah yang tubuhnya selalu paling mudah dipegang oleh lawannya. Dengan poster tubuhnya yang besar ternyata membuat kolom perkolom tidak muat untuk dimasuki tubuh segede dia. Kami serba bingung dalam membuat kolom ketika setiap akan bermain jenis slodor ini. Disatu sisi kami ingin buat kolom yang kira-kira agak luas untuk geraknya kang Waluyo, tapi teman kami yang lain selalu protes dan tidak terima. “La piye mengko lek pas seng jogo aku, jelas angel banget dikenekne seng awak’e cilik-cilik! Males aku” , sambar kang Eko yang tak lain adiknya kang Waluyo sendiri tidak terima dengan pembuatan kolom yang terlalu besar.
Disusul dengan Dakim yang memperkuat argumen kang Eko, “nyong ya emoh lah lek kolome gede-gede. Seng kaya biasane baelah” , begitulah anak kecil ini protes dengan nada ngapaknya yang sedikit lagi nampaknya akan punah. Akhirnya kolompun selalu kami buat dengan apa adanya dan seperti biasa. Dengan tidak mengurangi rasa hormat kami semua kepada kan Eko yang sering sekali di bentak teman-teman kami yang lain, terutama Carwadek yang agak kasar logatnya. “Lek ora gelem yowes ora usah melok lah” , begitu Carwadek selalu memarahi kang Eko. Tetapi jawaban kang eko selalu lembut “yo ojo ngonolah Car...! Yowes, aku manutlah...piye pena’e...! seng penteng aku melok” . Dia selalu merengek dan tak hanya sekali dua kali dalam setiap permainan. Hampir setiap permainan dia selalu merengek pada kami, termasuk aku.
Tapi sayang, aku ini bukan siapa-siapa dan aku bukan pahlawan, tetapi aku pahlawan kesiangan yang tak punya nyali dan kebranian. Aku hanya bisa ikut, ikut dan ikut, tiada kata lain selain ngikut. Itu kebiasaanku dari dulu.
Tapi kang Waluyo juga punya kreatif untuk membalas Carwadek. Ya, Carwadik diberinya asma laqab atau nama panggilan yang sampai sekarang nama itu masih melekat pada dirinya. Carwadek memang sedikit nakal anaknya. Dari sekian temanku, hanya dia yang sudah mencicipi bagaiamana rasanya tembakau rokok. Dia ahli hisap. Carwadek menurut cerita Asmadek memang dari negaraya sana, Indramayu sudah mulai merokok. Aku sendiri heran, zaman yang masih dini dia sudah mulai terpengaruh dengan dunia perokok.
Pada suatu saat, dia ikut bersama teman-teman yang lain bermain di halaman mushala kami. dia ternyata sengaja membawa rokok, kamipun tak heran karena sudah mendengar cerita panjang lebar dari Asmadek yang nampaknya tahu lebih jauh tentang profil Carwadek. Gaya merokoknyapun kali ini lebih unik dari yang kulihat ketika Pak Ayup dan Pakde Sakimen merokok. Ini ada bumbu baru yang dipakai Carwadek untuk menambah rasa nikmat gitu mungkin menurutnya. Ya, jaman dulu ada minyak kayu putih dengan merek “Caplang”. Setelah dia mengeluarkan sebatang rokok “JAMBU BOL” dari sakunya, langsung minyak kayu putih itu perlahan dioleskan pada batang rokok yang sudah dinyalakannya. Tunggu apa lagi, langsung dia sedot batang rokok itu dengan penuh peresapan yang luar biasa. Tak ubahnya para pecandu narkotin yang tidak bisa dibendung lagi nafsunya untuk terus mencoba.
Ya, kang Waluyo menyaksikan apa yang dilakukan Carwadek dengan penuh heran keharan-herannan. Langsung disambung dengan tawa ngakaknya yang tidak habis-habis hingg aku dan yang lain terpancing untuk tertawa ngakak. Perutku sampai sakit dan terguling di tanah bersama kang Waluyo, begitu juga dengan yang lain.
Suasana sempat tercengang sebelum kami tertawa, tapi suasana itu tak bertahan lama dan membuat kami berubah harus tertawa habis. Di tengah tawa itulah kang Waluyo sambil menyebut-nyebut nama merek minyak kayu putih yang dioleskan Carwadek pada batang rokoknya itu, CAPLANG. “Yah, Caplang...! ha ha ha...Caplang...Caplang...Caplang...!”, begitulah dia yang selalu tertawa dengan menyebut nama merek minyak kayu putih itu. “Rom-rom...Mentok...! Caplang...! ha ha ha... pas tenan pokoe...!” , lanjutnya dengan memanggil namaku, lalu menunjuk Wiwin yang namanya kami juluki mentok, terus dilanjutkan dengan jarinya menunjuk Carwadek yang maksud kang Waluyo adalah minta persetujuanku agar Carwadek dipanggil Caplang.
Ya, akhirnya itupun disepakati oleh kami semua. Nama Carwadek kini di mata kami telah berganti nama menjadi Caplang. Kecuali keluarga dan orang tuanya yang tidak mungkin ikut memangglnya Caplang. Kata orang tua jawa, gae lan ganti jeneng kuwi kudu jenangne abang .
Caplang dan keluarganya tinggal di komplek yang kebetulan satu komplek denganku. Namun, lokasinya sama halnya dengan kondisi rumah mang Darsok. Mang Suryak memilih lokasi jauh masuk ke dalam hutan. Namun jalurnya sejalur dengan rumahku, bukan sejalur dengan rumah mang Darsok. Kalau mang Darsok lokasi rumahnya berada di sebelah barat jalan, sedangkan mang Suryak berada di timur jalan.
Kenapa mang Suryak sampai punya inisiatif untuk mendirikan gubuk kecil yang berlokasi lebih jauh di dalam belantara? Karena beliau telah melihat jalan setapak yang dibuat oleh ayahku, tak lain sebagai jalan alternatif untuk menuju ke persawahanku. Dari situlah kutahu mang Suryak kemudian mengintrogasi ayah, jalan apakah itu? Menuju kemanakah jalan itu? Dan siapakah yang mebuat jalan itu? Manusia atau binatang?
Semua itu pertanyaan yang wajar dan bukan hal yang aneh bagi orang yang baru datang ke desa kami. Semua pertanyaan itu dijawab oleh ayah. Setelah semua pemaparan mampu memuaskan mang Suryak, kini baru beliau tahu bahwa diujung sana ada sebuah persawahan. Maka tak pikir lama, akhirnya beliau sepakat untuk membangun rumah kecil di pinggir jalan setapak itu, namun jaraknya lumayan jauh dengan rumahku. Akan tetapi tidak apalah, toh juga akan membuat keluarga kami tidak begitu takut kalau akan pergi kesawah. Karena sempat melintasi meskipun hanya satu rumah. Ya, di situlah mang Suryak menetap.
Ngomongin masalah penghasilannya, tentu tidak berbeda dengan ayahku, Pakde Parmen dan Lek Parmen. Mang Suryak juga penghasil padi dan sayur-sayuran. Hebatnya, karena lokasi sawahnya tepat di lokasi rawa-rawa yang sangat masih dalam. Sehingga hal itu membuat beliau tak dapat menggarap rawanya ketika musim hujan tiba. Karena jika musim hujan mengguyur jagad raya, jangankan setinggi orang, beberapa pohon yang tumbuh di tengah rawa-rawa itu saja hanya terlihat sebagian dari batangnya. Bayangkan sendiri kalau manusia yang masuk di dalamnya, tentu akan hilang ditelan kedalaman rawa-rawa dan abuk-abuk yang seakan memiliki daya tari tak ubahnya lumpur hidup.
Jadi, mang Suryak akan selalu menikmati musim panin padinya disaat musim kemarau tiba. Karena dengan dimikian, disaat panas dan musim telah mengeringkan dataran, justru rawa-rawa mang Suryak masih menyimpan air yang tepat sekali untuk ditanami padi. Inilah kelebihan lahan yang dimiliki oleh mang Suryak. Bahkan sering sekali terjadi, dimana ketika kami semua sudah kehabisan bahan makanan yang dikarenakan musim kemarau panjang, namun mang Suryak tetap masih enjoy dengan lumbung padinya yang justru masih sisa teramat banyak sekali. Luar biasa.
Disamping itu, salah satu putra mang Suryak memiliki daya pikir yang luar biasa ketika tak lama setelah menginjakkan kaki di desaku ini. Tidak tahu jelasnya sih aku, apakah itu hal yang baik atau buruk jika pemerintah memandangnya. Yang jelas, apa yang dilakukannya adalah hal yang dapat menghasilkan uang banyak. Dia putranya yang nomer satu, kang Tandek. Mungkin pengalamannya berkelana ke negeri perantauan sudah cukup lama dan baginya sudah dipandang hal yang membosankan, mungkin.
Kini aktifitas kang Tandik adalah menajor . Ya, menajur adalah hal yang baru lagi bagi kami anak-anak desa ini. Apa ternyata keluarga mang Suryak ini dulunya lebih ndeso dibanding kami ya? Ah, masa bodoh lah. Menajur adalah mencari ikan dengan kail pancing. Namun, jelas berbeda dengan memancing. Kalau memancing dalam pengertian kami adalah, mencari ikan dengan alat pancing yang menggunakan kail yang panjang, kemudian harus ditunggu dengan sekian lama sampai ikan itu memangsa umpan yang telah kita sediakan.
Namun kalau menajur tidak demikian. Sama menggunakan pancing, akan tetapi diberi alat pemegang yang seukuran tidak lebih dari tiga puluh meter, begitu juga dengan senar pancing yang ukurannya sama dengan pemegangnya itu. Cara mencari ikannyapun jauh beda dengan memancing. Dalam menajor harus menggunakan umpan dengan cacing kalung , kemudian cacing ini dipotong pendek-pendek seukuran menyesuaikan besar pancingnya. Kenapa harus menggunakan cacing kalung? Karena kalau menggunakan cacing biasa akan dimakan oleh ikan wader dan ikan-ikan kecil lainnya. Jika itu yang terjadi, maka akan membuat kang Tandik kecewa dengan hasil yang diperolehnya. Pertimbangannya, ikan tidak didapatkan namun umpannya akan habis sia-sia.
Ingat, tajor yang dimiliki kang Tandek tidak hanya seratus-dua ratus tajor, tetapi mencapai lima ratus bahkan seribu tajor yang digunakan untu mencari ikan. Dengan maksud, agar jika yang satu-dua tajor tidak berhasil mendapatkan ikan, maka tajor yang lain pasti ada harapan untuk mendapatkan ikan. Begitulah kiranya.
Waktu yang dugunakan untuk menajor bukanlah siang, akan tetapi malam hari. Kenapa? Karena malam kata ayahku ketika aku pernah bertanya “nyapo lo pak, kang Tandek kae lek najor mesti bengi?” . “Yo lek bengi kan iwae wes do luwe...!” , begitu jawab ayah. Mungkin jawaban itu benar.
Yang sangat aku kagumi, yaitu kebranian kang Tandek akan kesendiriannya ketika menajor, tanpa seorang teman satupun. Bayangkan, malam hari di tengah hutan belantara, di tengah rawa-rawa yang luasnya tak terhingga. Dia hanya berteman dengan sepatang lampu obor yang pernah di ciptakan kang waluyo pertama kali, di desaku. Meskipun tersesat adalah makanannya yang hampir setiap minggu sekali, namun itu tak pernah menjadi beban kekhawatirannya sama sekali.
Karena memang sesatnya itu tak pernah membuat orang di desaku sempat panik. Maka tidak membuat dia harus merasa sungkan pada orang lain. Setiap hilang selalu bisa pulang sendiri meskpun awalnya dia sempat bingung dan hilang neng oro-oro . Semakin sering dia hilang, nampaknya justru lebih mebuat dia makin semangat untuk terus mengarungi bakatnya sebagai tukang najor ini. Tantangan baginya.
Seperti orang memikul sekarung padi dipundaknya, dengan sekarung kosong yang dilipat dan diikatkan menyatu dengan kurang lebih seratus tajor dipundak itu. Kini setiap sore kang Tandek memulai menyusuri langkah demi langkahnya tak lain mengharap kilo-an ikan ada digenggamannya.
Setelah sampai di tengah rawa-rawa, dengan hati-hati dia menelusuri jalan setapak yang dirasa dapat dilaluinya. Karena bila sampai salah melangkah, dia akn terjerumus dalam lubang abuk-abuk yang mampu menenggelamkan manusia. Apalagi dia sebatang kara dan ditambah beban berat jumlah tajornya.
Sambil melangkah perlahan, di tangan kanannya tergenggam sebilah aret yang akan digunakannya untuk membuat lubang kecil berbentuk melingkar di tumbuhan rawa-rawa, agar dapat dimasuki umpan tajurnya itu. Satu tajornya telah terpasang, kini sambil melangkah dia terus meletakkan satu persatu dari tajor yang ia pikul, dengan jarak yang tidak lebih dari lima meter. Bahkan terkadang, baru lima atau enam tajor yang terpasang olehnya, belum-belum tajur yang pertama kali dipasang sudah menunjukkan tanda-tanda kalau ikan telah didapatnya. Hal itu sering terjadi dan tak hanya sekali dua kali.
Tak lupa pula, kang Tandek tidak lagi mau mengulangi kesalahan yang kedua kali. Sebelumnya kang Tandik pernah tidak membawa umpan cadangan sebagai penambah ketika umpan tajornya ada yang habis. Hal itu membuat kang Tandek sempat kecewa dan menyesal. Karena kondisi yang sangat enjoy dengan menikmati ikan-ikan yang selalu melahap umpan pancingnya.
Ya, sambil menikmati hisapan batang demi batang rokok GP alias Gede Pucok atau nama aslinya adalah rokok lintingan. Rokok lintingan adalah rokok yang di susun sendiri dengan bahan rokok yang sangat sederhana. Cukup menggunakan tembakau, paper dan cengkeh lalu semua itu dijadikan satu dengan susunan yang rapi, sehingga dapat digulung dengan praktis, kecil, bagus dan menarik. Namun berbeda lagi dengan bahan rokok yang dipakai oleh ayahnya kang Tandek, mang Suryak menambah lintingannya itu dengan satu resep yang menarik dan menghebohkan bagi kami, anak-anak kecil yang ketika melihat beliau sedang merokok. Apalagi kami selalu sering melihat dan memang sengaja melihat beliua kalau sedang melinting rokok yang akan beliau hisap.
Meskipun posisi kami bermain yang jaraknya agak berjauhan dengan di mana mang Suryak berada, tetapi kalau kami melihat mang Suryak duduk dan istirahat ketika kerja di ladang samping rumahnya itu, maka kami akan langsung berlari menuju beliau. Kami selalu terdiam dan sok banyak tanya gitu pada mang Suryak. Entah berkisar tentang apa saja yang kami tanyakan; “kesel yo mang? Enak to mang rokok’e? Iki sawahe sampean to mang?” , dan lain sebagainya yang mungkin beginya jelas gak penting dan pikrnya pasti “crewet banget kiye bocah” . Bagi kami masa bodoh dengan apa tanggapan beliau, yang penting kami bisa ikut menikmati bagaimana kenikmatan beliau disaat menikmati istirahatnya dengan hisapan lintingan rokok itu. Lagian beliau juga orangnya humoris kepada anak-anak kecil. Kami sering digodanya, terutama kang Waluyo yang dipanggilnya Gentong .
Entah kenapa, aku sendiri sering heran akan polah dan tingkah keluarga mang Suryak, terutama pada anak-anaknya, Caplang atau Ramadek dan kang Tandek sendiri dengan aktifitasnya yang tak sewajarnya bagi kami untuk dilakukan oleh seorang manusia.
Mang Suryak yang selalu tidak bisa melewatkan bumbu lintingannya dengan memberinya kemenyan untuk menambah rasa selera pada lintingan yang segede jempolan kaki. begitu juga dengan kang Tandek yang menurutku kurang wajar untuk ukuran kerja manusia. Coba bayangkan, dikala siang sinar matahari seakan memecah kepala, dia harus berada di rawa-rawanya yang akan ditanami padi.
Ya, di tengah-tengah kesibukannya untuk mendapatkan ikan buruan, dia harus membantu orang tuanya untuk membuka rawa-rawa itu tak lain untuk mengharap munculnya biji padi. Sore, setiap waktu menunjukkan pukul 14.00 dia harus menelusuri tengah-tengah hutan belantara untuk mendapatkan cacing kalung yang akan dijadikan sebagai umpan tajornya. Harus mendapatkan cacing yang jumlahnya tidak sedikit.
Kemudian malamnya, dia harus melembur semalam penuh untuk menyebar tangkai-tangakai tajornya di tengah-tengah rawa yang luas. Begitulah aktifiatas dalam hari-hari dilengkapi dengan malam-malamnya. Dia masih jejaka ting-ting. Jelas pastinya, bagaimana mau dapat pacar, kalau keluar saja ketika sedang merantau. Apalagi kini kang Tandek sudah lama tidak berkelana ke ujung dunia.
Begitupun dengan kang Erwan dan kang Dinok, mereka berdua sama halnya yang selalu setia menjomblo dalam hidupnya. Apalagi dia belum diperolehkan untuk keluar rumah yang terlalu jauh. Mereka berdua belum dapat SIM, alis Surat Izin Merantau dari orang tua. Dan, ditambah lagi dengan kondisi desaku yang belum ada gadis dewasanya. Masih ingatkan, cewek seusia mbak Karmik saja sama kang Erwan sudah di intap-intep teros . Wah, aku jadi gak bisa bayangin, kalau seandainya ada pendatang baru lagi, terus mereka membawa anak gadis yang sudah cukup usia. Pasti deh rumah orang itu akan ramai terus oleh polah-tingkah mereka berdua. Namun sayang, semua itu bakal sekedar impian.
Kembali pada ikan hasil tajuran kang Tandek. Kalian belum pada tahukan, seberapa besar ikan-ikan di desaku? Aku, teman-teman dan orang-orang di tempatku saja pada heran setelah melihat ikan hasil tangkapannya kang Tandek. Waw, ikan belut yang besarnya sepaha kalian pasti belum pernah lihat. Ya, kini ikan itu ada di desaku, kang Tandiklah yang memperolahnya. Yaitu hasil dia menajor. Mungkin, jika ikan belut sebesar itu masih ada sampai sekarang, pasti oleh pemiliknya akan dijadikan sebagai ajang pameran yang harus membayar untuk melihatnya.
Waktu itu lima ekor ikan belut yang besarnya sepaha, lalu ditambah lagi dengan ikan belut lain yang besarnya hanya sepetis orang dewasa dilengkap dengan ikan belut yang sebesar lengan orang dewasa maupun anak kecil. Beragam ukuran dari ikan belut yang diperolehnya. Makanya, kenapa pekerjaan najor ini harus ditunggu dan tidak diletakkan lalu ditiggal pulang dan esoknya baru diambil? Tidak mungkin demikan, seandainya ini terjadi, pasti ikan belut yang sebesar paha itu akan mampu mematahkan senar tajornya kang Tandek kalau sampai terlalu lama ditinggal pulang.
Apalagi ikan belut ini terkenal dengan kekuatannya mematahkan senar tajor. Pertama karena giginya yang kuat, dan dilengkapi dengan tubuhnya yang bundar serta memanjang itu mampu berputar berjuta kali sampai si belut mampu memutuskan senar tajor itu. Begitulah cara sibelut membebaskan diri dari tangkapan jenis ini. Dan jangan pernah meremehkan kekuatan lilitan ikan belut yang memiliki tubuh panjang ini. Meskipun licin, asalkan dia masih berada di habitatnya, di dalam air, dia akan memiliki daya tahan yang luar biasa untuk mempertahankan tubuhnya dari ancaman makhluk lain, termasuk manusia mungkin. Yaitu dengan lilitannya.
Itu tadi masih pendapatan ikan belut, belum ditambah dengan ikan-ikan lain sejenis; lele, kutok , lembat , toman . Ya, kuingat hanya ikan itu yang mau memakan umpan tajornya kang Tandek. Karena tidak mungkin kalau ikan wader dan betek sanggup memakan umpan tajor, karena mulutnya pasti tidak dapat menelan kail pancing yang ukurannya memang khusus untuk ikan-ikan yang besar. Maka kail pancingnyapun berukuran yang lumayan besar pula.
Melihat penghasilan kang Tandek yang lumayan dalam tiap harinya, nampaknya mampu untuk menghidupi kehidupan keluarganya sehari-hari. Jelas, harga ikan lele dan lembat setara, yaitu mencapai Rp. 5000, dan semua ikan yang lain selain jenis lele dan lembat harganya sama, berkisar antara Rp. 4000 – Rp. 4500-an. Kenapa, murah ya? Itu dulu dan posisinya ditempatku. Kalau sekarang jangan harap kalian bisa menikmati ikan-ikan itu dengan harga semurah itu. Kecuali datang ke desaku yang sampai sekarang akan tetap lebih murah dibanding di kota.
Itupun kami tidak pernah beli ikan meskipun kami belum bisa mencarinya sendiri. Kalau sekedar untuk lauk makan dalam satu kali hidangan dalam keluarga, kami selalu dikasih oleh kang Sarkek tanpa mengeluarkan sepeser rupiah. Begitu juga dengan tetanggaku yang lain. Wajarlah, kamikan orang desa dan memiliki ikatan jiwa emosional yang tinggi.
Waktu terus berlanjut, dan kang Tandekpun makin gencar dalam menelusuri di mana tempat-tempat yang nampaknya akan menjadi sasaran selanjutnya. Meskipun, di sekitar hutan yang tidak begitu jauh dengan rumah kami sebenarnya masihlah banyak ikan-ikan yang layak untuk dijadikan tangkapan. Namun bukanlah kang Tandek, kalau dia tidak mencari langkah yang lebih menantang. Tersesat saja dianggapnya sebagai tantangan yang harus diteruskan, apalagi persoalan tempat yang jauh dan itupun belum tentu akan menyesatkan dia. pikirnya yang jelas, “seng penteng entok iwak marem...!” .
Kini anak-anak seusiaku baru tahu kalau di desa kami banyak sekali ikan yang bisa ditangkap untuk lauk makan sehari-hari. Jangankan sekedar untuk lauk, kang Tandek saja bisa mendapatkan ikan sebagai kebutuhan hidup keluarganya. Intinya, siapapun dia dan apapun pekerjaannya kalau dia menekuni dan dijalani dengan penuh tekat yang kuat, maka dia akan memperoleh hasil yang telah dia perjuangkan.
Karena semua lokasi rawa-rawa yang dekat di desa kami sudah dijelajahi oleh kang Tandek, dan baginyapun gengsi kalau harus menjelajahi sangkar ikan yang berada di desa dekat desa. Maka kami hanya dapat mengikuti jejaknya dengan cara memancing ikan-ikan kecil di lokasi yang dekat dengan dengan desa kecil ini. Jelasnya, tidak mungkinkan kalau anak seusia kami harus mengikuti jejak orang dewasa yang satu ini, kang Tandek.
Ya, kami hanya mengikuti jejaknya dengan cara memancing ikan-ikan kecil di desaku. Sebelumnya pekrjaan ini tidak pernah kulakukan sama sekali. Jelas karena belum adanya tindakan yang bisa membudayakan aktifitas kami. Buktinya, kini setelah kang Tandik memulai pekerjaan menajor di desa terpencil dan mungil ini, semua itu bisa membudayakan pekerjaan kami.
Dulu, sebelum kang Tandek menekuni dunia penajuran yang sampai kini menjadi faktor pendukung dalam hidupnya, kami sangat sulit sekali meminta dibelikan ayah dan ibu sebiji kail pancing yang kecil. Harganya cuma Rp. 150 per biji, tapi harga itu seperti harga yang selangit bagi ibu. Sulitnya minta ampun aku mendapatkannya. Dengan menajor menjadi pekerjaannya kang Tandik, kini semua itu bisa dengan mudah kuperoleh. Tak hanya aku, ternyata teman-temanku juga mengalami hal yang serupa. Justru, terkadang dapat kuperoleh dengan mudah apa yang menjadi keinginanku. Ketika kail pancingku sudah mulai rusak atau patah, ibu dengan sadar sudah membawakan aku sekail-dua kail pancing yang kuinginkan.
Hari Rabu dan Minggu adalah hari yang meriah bagi orang-orang desaku, karena hari itu adalah hari dimana pasar Bunut mulai penuh dengan para pedagang dan pembeli. Hari itulah orang tua kami selalu memperhatikan kebutuhan kami terkait kail pancing. Bahkan orang tua kami seakan bersaing untuk selalu memenuhi kebutuhan anak-anaknya, mereka merasa tidak tega jika anaknya tidak memiliki apa yang dipunyai oleh teman-temannya yang lain. Begitulah sifat manusia. Tapi bagiku hal itu tidak masalah, karena semuanya untuk kebakan kami.
Ikan wader, betek, paten, baung dan licingan adalah sasaran pancing kami, bukan ikan lele, gabus, toman, lembat dan jenis ikan-ikan besar lainnya yang biasa ditangkap oleh kang Tandek. Ya jelaslah, jenis pancing dan umpannya saja sudah beda. Kalau memancing di tempat kami, itu pancingnya harus yang ukuran kecil dan kiranya mampu ditelan oleh jenis ikan yang mau menyantap pancing kami. Umpan yang kami gunakan adalah cacing yang berjenis cacing lor . Karena memang cacing inilah yang mau dilahap oleh ikan jenis pemacingan. Jangan sekali-kali memakai umpan pancing dengan cacing kalung, berjam-jam anda duduk menanti sang ikan tetap tidak akan dilahapnya.
Apalagi anda menggunakan umpan jenis modern, kalau orang jaman sekarang memakai umpan pleret apa pelet namanya itu yang biasa digunakan untuk memancing ikan di perkolaman. Yang jelas anda bakal kecewa dengan hasil yang akan anda dapatkan. Memancingpun bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Menurutku, memancing adalah skill dan bakat seseorang dari lahir. Coba bayangkan, secara sederhana memancing seakan-akan sangat mudah. Tinggal dimasukkan saja kail pancing yang sudah diberi umpan cacing ke dalam air yang dirasa strategis dan banyak ikannya, lalu diamkan beberapa saat sampai kail pancing itu dilahap ikan. Begitu seterusnya dan selesai.
Namun ternyata tak semudah itu, aku telah merasakan sendiri bagaimana aku kecewa, kecewa dan terus kecewa dengan kegagalanku atas aktifitas memancing ini. Dari sekian banyak temanku, hanya Carwadek dan lagi-lagi carwadek yang selalu dapat ikan banyak, kedua kang Eko dan ketiga Mentok dan yang lain selalu setara dalam perolehannya. Entah kenapa hanya aku yang selalu pulang dengan membawa hasil mengecewakan. “Hu...! Raiso manceng ono dadak manceng barang” , begitulah ayah selalu mengejek hasil dari perolehanku sepulang mancing. Sungguh, tidak pernah lebih dari tujuh ekor ikan yang selalu kubawa pulang dalam karung besar yang telah ibu sediakan khusus untukku memancing. Disisihkannya satu karung yang biasa digunakan ayah untuk wadah padi disaat musim panin padi tiba, dan sebagai wadah sayuran ketika musim kemarau menyapa.
Haduh, hal demikian mampu mebuatku malu saja terhadap tetanggaku yang lain. Bek Tarsem dan lek Tamjit, sepasang suami istri ini selalu menertawakanku kalau dia tahu kami pulang dari memancing bersama teman-teman. “Mesti Khoirom seng ra entok iwak dewe” , begitulah beliau berdua sambil tertawa selalu mengejekku. Masa bodoh, cibir manisku yang selalu menghadapi ejekannya. Ini semua gara-gara ayah dan ibu yang selalu cerita di sela-sela ngrumpinya sambil petanan . Dasar wong ndeso .
16. Hari yang Menyimpan Kenangan
Seingatku tahun 1990-an waktu itu, kemarau panjang menimpa desaku. Terik matahari hanya mampu bersahabat dengan para petani. Aku yakin, waktu itu tak satupun orang yang berkehandak untuk berada di bawah terik panasnya matahari, kecuali ada sebab yang harus mereka kerjakan. Di ibu kota, para pejabat mungkin selalu gelisah jika AC di ruangan kerjanya mati barang sejenak saja.
Pohon-pohon kehilangan daunnya, mereka seakan mati suri yang suatu saat akan hidup kembali. Pohon-pohon itu menyerupai manusia yang sebelumnya telah melakukan banyak dosa dan kesalahan, lalu dia menyesali perbuatannya. Maka, dimusim inilah mereka harus menanggung beban derita, karma, hukuman dan balasan yang sebenarnya belum setimpal dengan apa yang telah ia lakukan.
Hutan yang luasnya berhektar-hektar, sebelumnya gelap gulita tanpa sedikit cahaya yang mapu menerjang celah berlubang pada sela-sela dedaunan antara tumbuhan satu dan yang lainnya. Namun kini, semua itu jadi berubah dratis, hutan seakan mati, dan bahkan benar-benar mati pada beberapa pepohonan yang sebelumnya memang berusia tua dan telah beranjak usia kematiannya. Meskipun sinar matahari adalah salah satu sumber kehidupan seluruh makhluk di jagad raya ini, namun apalah artinya kalau semua itu tanpa adanya penyeimbang dalam sebuah kehidupan. Seorang lelaki bisa dikatakan sebagai manusia paling kuat dibandingkan dengan wanita dalam segi fisiknya, namun, apalah artinya kalau kekuatan fisik itu tidak di imbangi dengan kebutuhan rohani akan adanya sang kekasih di sampingnya, wanita.
Di bawah pepohonan hutan itu, penuh sampah dedaunan yang tak terhingga sebarapa tebalannya, jutaan bahkan milyaran daun berserakan, melayang-layang diterpa angin sahdu disiang hari, dengan diimbangi kesepurnaan panas setengah mati. Setiap atap rumah kami yang indah dan mempesona terbuat dari daun perdaun ilalang, kini telah berubah wujud menjadi daun yang beraneka jenis namun dalam satu warna, kering.
Kami, sekumpulan manusia kecil di tengah rimba ini bukanlah siapa-siapa, hanya manusia yang hidup dibawah gembala tuan-Nya. Kami hanyalah makhluk kecil yang sekecil-kecilnya, apa kata majikan, maka itulah yang kami lakukan. Apapun yang akan terjadi biarlah terjadi, kewajiban kami hanya berdo’a dan berusaha. Itu kata lelaki sebaya berkulit sawo matang di sela-sela percakapannya bersama saudara-saudaranya. Dia bertutur seakan-akan tahu dimana tuannya berada, lantunan kata penuh irama membuat dia bagaikan sosok para dewa. Pengalamannya bertahun-tahun akan memegang teguh sebuah keyakinan terhadap Tuhannya dibeberkan habis di depan para muridnya; baik kecil maupun tua.
Kala itu, persawahan kami menjadi mushala. Obrolan demi obrolan terus berlalu, pemandangan dan suasana rawa-rawa menjadi penghias ruang mushala kami. Di tengah sawah itulah kami harus mampu mendapatkan ilmu untuk mengisi hati, nurani dan jiwa kami, karena kondisi yang membingungkan ini tak mampu dihadapi dengan emosi dan keputusasaan. Hampir kami kalut, dengan perubahan cuaca yang sekaligus dratis merubah kesadaran hidup kami. Mushala kami yang menyimpan berjuta kenangan kini sirna tinggal puing-puing abu di mata kami. Tak menyisakan satupun tiang yang masih berdiri di tempat semula mushala itu berdiri.
Ah, mungkinkah peralatan yang digunakan untuk membangun mushala itu diharamkan oleh Allah karena mencuri milik negara, tanpa seizin pemilknya? Apakah karena tempat tinggal kami semua hasil rampasan milik negara? Atau karena apa? Pertanyaan yang selalu muncul dalam pikiran orang dewasa, namun tak temu jawabnya. Kami tetap tak beranjak selangkahpun dari desa yang sudah mendarah daging dengan kami ini. Kau ingin tahu apa yang dikatakan pak Ayup kepada ayahku? “nak mati di siko...man nak hidop yo di siko lah Ri...kito ni! Ndak usah nak banyak tingkah pulo.” .
Panas matahari begitu menyengat, temanku Jamalin tak sengaja membuang sampah yang baru diambilnya dari dapur usai beberapa jam lalu memasak. Ibunya pergi kesawah menanam kedelai sebagai pengganti padi dimusim hujan. Biasa, meskipun anak lelaki di desa kami selalu membantu pekerjaan orang tuanya meskipun itu adalah menyapu, memasak nasi dan mencuci piring. Itung-itung mengurangi sedikit beban pekerjaan ibu setelah pulang dari sawah. Begitu juga dengan maksud yang dilakukan sahabatku satu ini, Jamalin.
Usai sampah dibuangnya di hutan dekat mushala kami yang mungil itu, tanpa ia sadari ternyata ada secuil arang yang masih tersisa membawa api. Sama sekali hal itu tidak ia sadari. Lantas, suasana menjadi heboh oleh tingkah si jago merah. Dia dengan sekilas mampu melulu lantahkan seluruh hutan kami, termasuh mushala yang menjadi kesayanga kami semua. Kami semua hanya pasrah tentang apa yang aka terjadi. Seluruh orang berlarian menuju rumah Lek Parmen, namun sayang semua itu sudah terlambat.
Bagaimana dengan nasib rumah lek Parmen? Tidak usah dipertanyakan tentang keberadaannya, jika mushala itu hangus terbakar, maka secara otomatis kalau rumah lek Parmen akan termakan jago merah pula. Karena jarak antara rumah dan mushala adalah ukuran yang tidak bisa dipisahkan, anggaplah satu rumah. Orang tua kamipun tak mampu berbuat apa-apa, kecuali membawa keluarga lek Parmen kerumah lek Tamjit dalam kondisi sok berat lantaran rumahnya hangus terbakar.
Terpaksa amukan api yang sedang asyik melahap hutan-hutan belantara itu harus dibiarkan oleh orang tua kami semua. Mau apa dan bagaimana lagi. Berusaha memadamkan? Itu hal yang tidak mungkin, karena seluruh hutan telah kering, rawa-rawapun telah kering bagai krupuk usai di goreng. Kami hanya bersama menjaga rumah kami yang tiada henti-hentinya selama dua satu minggu beturut-turut. Sampai api itu benar-benar padam.
Mau memanggil pemadam kebaran? Suatu hal yang lebih tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang desa seperti kami. Jarak antara desa kami dengan perkotaan saja sangat begitu jauh. Sepeda motor tidak ada, HP apa lagi. Sudahlah, apapun yang terjadi semuanya tetap akan dibiarkan oleh orang-orang tua di desa terpencil itu. Tetangga desa kami, Bunut adalah jarak yang paling dekat meskipun jaraknya lima sampai enam kilo, itupun mereka keesokan harinya baru tahu pastinya kalau di tengah huta itu dihuni oleh sekelompok manusia. Sebenarnya mereka tahu adanya hutan yang terbakar, namun dikiranya tak ada penghuni yang bersemayam di dalamnya. Begitulah hasil dari obrolan ibu-ibu desaku ketika pergi ke pasar guna menjual sedikit barang dagangan hasil tanamannya sendiri.
***
Disaat musim kemarau panjang melanda inilah, orang-orang di desa kami tidak lagi sempat menanam padi. Jangankan ayahku dan yang lain, mang Surya saja yang memilki rawa-rawa seharusnya saat kemarau beliau menanam padi, kini semua itu telah berlalu tanpa terasa. Bahkan persediaan lumbung padi kami semua habis terkuras. Pun demikian dengan oyek milik ayahku juga ludes dimakan musim. Tanaman ketela yang tak luput punah karena panas yang menyengat tanpa keseimbangan air sebagai energi penambah.
Kini kami semua hampir beralih profesi, yang istri jadi pedagang dan sang suami jadi petani sayur-sayuran. Ya, dalam lingkup keluarga ada saling kerja sama dalam dunia bisnis. Sehingga untuk mencari barang dagangannyapun mereka tidak harus ambil kulaan milik orang lain. Tapi cukup hasil tanamannya sendiri.
Proses penanaman yang tidak mudah. Para petani ini harus menggali sumur di persawahan yang lokasinya di rawa-rawa bagian tengah, karena tidak menutup lkemungkinan disitu masih tersimpan sumber mata air sekedar untuk menyiram tanaman kami. ternyata hal itu benar, ternyata justru air sumur di rawa-rawa kami masih bisa mengeluarkan air meskipun dalam penggunaannya harus mengantri. Bukan mengantri karena banyaknya orang yang membutuhkan, tetapi dikarenakan begitu banyaknya kami menanam sayur-sayuran.
Air sumur persediaan kami tidak cukup dalam sekali pakai. Utuk menyiasati hal itu, maka orang-orang di tempat kami harus bergantian dalam menyirami tanamannya. Misalnya, pagi hari tanaman yang harus di siram adalah sebagian dari seluruh tanaman yang dimilikinya, kemudia nuntuk sore hari siraman dialihkan pada tanaman sayuran yang pagi belum disiram. Begitulah seterusnya.
Tak hanya untuk menyirami tanaman fungsi dari sumur kami itu. Tetapi juga selalu kami manfaatkan untuk mandi pula. Kalau tidak, dimana lagi kami harus mandi dan dan kebutuhan lain yang menggunakan air. Bukannya air adalah faktor utama dalam hidup manusia! Kali kecil yang menjadi harapan kami saja sudah tidak mendukung lagi untuk mandi, apalagi merebus air dan memasak nasi. Kalau kemarau itu kemarau biasa, air masih bisa ditampung oleh kali kacil kami, tapi semua kini jauh beda. Kami seakan kahausan dan butuh mengemis air pada tetangga desa, namun itupun tidak mungkin.
Bagaimana dengan kang Tandek yang kehidupannya selalu terpenuhi dari ikan-ikan hasil tangkapannya itu? Sama, kang Tandek juga mengalami hal serupa dengan kami. namun sekali lagi bukan kang Tandek kalau dia harus kehabisan akal tentang menyiasati ikan-ikan yang seakan sudah menjadi sahabat baiknya. Entahlah, apa karena dia sudah dijatuhi warisan oleh nenek moyangnya ikan, sehingga akalnya selalu muncul yang berkutat sekitar ikan. Kini kang Tandek menggogoh atau gogoh .
Sebenarnya trik gogoh semacam ini sudah pernah dipakai oleh ayah dan orang tua di desa kami yang lain, namun itu secara tidak sadar dan tidak pernah mereka budayakan. Itulah, mungkin semua karena faktor terbiasa dan konsisten. Sehingga semua hal bisa menjadi mebudaya dan tradisi. Kang Tandek telah membuktikan demikian, karena keseriusan, konsisten ia lakukan, sungguh-sungguh dan penuh ketekunan sekaligus keuletan akhirnya semua menjadi tradisi meskipun anak-anak kecil seusiaku mulanya. Namun kini para bapak-bapakpun ikut peran andil dalam dunia memancing. Apalagi mang Darsok si bapak muda pengantin baru ini, dia juga ingin serius di dunia penajuran, tetapi tetaplah kalah jauh dengan kang Tandek. Namun semua orang memang memiliki kelebihan dibidangnya masing-masing. Misalnya ayahku sendiri, beliau jangan pernah disuruh mancing, karena akan percuma dan membuang-buang waktu saja. Tidak akan pernah dapat sama halnya dengaku, justru lebih parah dariku.
Ketika ayah sedang mebolak-balik abuk-abuk tebal yang berada di rawa-rawa sawah kami, ayah teramat sering memergoki ikan yang ikut diatas abuk-abuk itu. Sehingga dengan mudah ikan-ikan itu dapat ditangkap oleh ayah. Tetapi karena pekerjaan khusus mencari ikan bukanlah menjadi bidang dan keahlian ayah, akhirnya semua itu tidak pernah ia seriusi. Dapat ikan dibawa pulang, kalau tidak dapat ya tidak mau mencari. Begitu prinsip ayahku.
Kang Tandek masih konsisten terhadap pekerjaannya. Hal membuatnya beda dengan menajor adalah dari segi pendapatan dan tempat pencarian. Jika menajor, ikan yang didapatkan adalah ikan yang berjenis besar dan menggiurkan, tapi kalau menggogoh, yah, dia harus menerima ikan apapun yang ditemuinya. Karena yang akan lebih mudah dan sering ditemui adalah ikan-ikan berjenis kecil. Betek, siem, sepat, licingan, baung, paten, anakan belut dan jenis ikan lainnya. Sekali dua kali juga kang Tandek menemui dan berhasil menangkap beberapa ikan gabus yang lumayan besar. Jenis apapun hasilnya, toh semua itu bisa dibawa kepasar oleh ibunya kang Tandek. Ya, konsumennya adalah ibunya sendiri.
Masalah dengan tempat atau lokasi pencarian, kang Tandek harus lebih rela untuk pergi ke tengah abuk-abuk yang lebih jauh dari ketika menajor. Karena hanya di situlah dia akan menemukan rawa-rawa yang masih terdapat air, itupun tidak sedalam biasanya.
Pasar Bunut. Itulah satu-satunya nama pasar yang sering dijadikan sebagai pusat perdagangan oleh orang-orang setempat, termasuk orang-orang desaku juga harus menebeng ikut serta demi memasarkan barang dagangannya. Nama pasar itu diambil dari nama desa yang kebetulan sebagai pusat didirkannya pasar, yaitu desa Bunut. Bukan menjadi hal yang aneh, dimana-mana seakan seperti itu. Untuk menamakan sesuatu harus berdasarkan apa yang menjadi tempat tinggalnya. Kenapa tidak diberi nama sesua dengan nama desaku saja, semisal pasar hutan, pasar belantara atau pasar ndeso gitu, kan justru lebih menarik dari pada pasar Bunut. Ah, sudahlah, semua itu sudah terjadi dan tidak mungkin mampu untuk dirubah, lagian juga bukan menjadi persoalan.
Dagangan orang-orang yang berasal dari desaku selalu laku cepat, termasuk ibu yang selalu membawa kangkung dan genjer . Begiru juga dengan bek Tarsem yang membawa dagangannya sejenis bayam, kacang panjang, ranggem dan barang dagangan lainnya. Ada beberapa dagangan yang sama dengan ibuku ataupun ibunya kang Dinok, namun itu hal yang sudah menjadi kebiasaan dan tak pernah dipersoalkan sakalipun. Meskipun ndeso, tetapi justru memiliki etika dan moral berbisnis yang baik.
Genjer dan kangkung bawaan ibuku bukanlah sayuran hasil tanaman sendiri, akan tetapi itu adalah tumbuh-tumbuhan alami yang hidup tanpa ikut campur tangan manusia. Awal mula kami datang ke desa inipun sayuran jenis genjer dan kangkung sudah teramat banya. Dan bahkan tidak ada yang memetiknya, mungkin hanya keluarga Pak Ayup dan itupun pasti sudah bosan dengan sayuran ini.
Meskipun pasar sudah menjadi tempat yang setiap hari Rabu dan Minggu dikunjungi ibuku dan ibu-ibu yang lain, namun itu tidaklah untuk aku dan teman-temanku yang lain pula. Aku belum pernah sama sekali melihat rupa dan suasana pasar itu seperti apa. Jadi penasaran. Tak apalah, yang penting sepulang dari pasar ibu selalu membawakan oleh-oleh untukku, martabak dan es cincau.
Tetapi, kalau ibu kelupaan untuk membelikan jajanan untukku, lucu kebohongan yang lakukan ibu terhadapku. Katanya, “oh, seng adol martaba mati” . Maaf ya bapak dan ibuk penjual martabak di manapun berada, hal itu dilakukan ibuku sambil menyembunyikan senyum dariku. Ibuku hanya membohongiku agar aku percaya. Ah, kenapa sih banyak orang tua yang melakukan kebohongan kepada anaknya untuk menutupi kesalahan dan kelupaannya. Bukankah tidak seharusnya hal itu dilakukan, dan apakah tidak ada cara lain untuk berterus terang?
Setahuku, secara tidak sadar hal demikian itu sama dengan mendidik anaknya untuk berbohong. Ada lagi yang aku bosan dengan ibu, ketika dia berusaha untuk mendongengiku sebelum tidur, yang beliau ceritakan hanya cerita kecerdikan si kancil dan si kera mencuri timun. Tidak ada cerita lain. Mungkin memang cerita yang ibu tahu hanya itu. Tetapi yang bikin aku aneh, ketika ibu bercerita tentang si kera mencuri timun, aku sering tertidur dikala ibu sampai pada kata-kata “ketek nyolong” . Maka jangan salahkan aku kalau setelah bangun tidur yang aku ingat dan ada di otakku adalah “si kera mencuri”. Yah, sebagai manusia biasapun akhirnya sekali dua kali aku juga pernah mencuri timunnya lek Tamjit bersama teman-teman yang lain. He he he...!
Disamping itu juga, kini aku mulai agak sedikit takut dengan muka geramnya ayahku. Padahal, meskipun ayahku bermuka sangar, dia tetap sayang padaku. Dikala aku tidur saja ayah selalu memelukku. Benar juga kata nenek dari ibu, kasih sayang orang tua dan kakak, itu lebih nampak ketika melihat anak atau adiknya sedang tidur, ditambah lagi ketika mereka sedang berpisah jauh. Tapi jujur, sekarang aku melihat muka ayah saja sudah mengerikan, apalagi kalau aku melakukan sedikit kesalahan, ayah langsung mengeluarkan nada kerasnya yang membuat aku langsung mengkirut tidak karuan. Diam seribu bahasa. Kini ayahku serasa berbeda dengan dulu awal-awal kami pindah dari Bumiagung ke desa pelosok ini.
Mungkin salah satu penyebabnya adalah, karena ibuku yang selalu mengucapkan kata-kata “nakal tak andakne bapakmu lo mengko!” disaat aku melakukan kesalahan terhadapnya atau kesalahan tindakanku yang dirasa nanti akan menyebabkan ayahku marah. Dari kata-kata itu aku sering berfikir, “ada apa sebenarnya dengan ayahku? Kok sampai-sampainya aku harus dibilangin ke ayah. Apa ayah sosok yang mengerikan? Atau manusia pemakan daging? Atau bahkan ayah berubah menjadi manusa pemakan manusia?”. Berjuta tanya dalam benakku yang selalu kuceritakan pada mentok dan handoko sebagi teman terbakku. Yah, sama-sama anak kecilnya yang tetap tidak kudapatkan apa-apa. Yang ada malah justru mereka juga bercerita tentang sifat ayah dan ibunya yang sedikit agak galak gitu.
Ada lagi cerita antara aku dan ibu. Bagiku ini adalah pengalaman yang mejengkelkan sekaligus menertawakan. Sering sekali ibu kesal atas ulahku, di satu sisi ibu juga menganggapku sudah dewasa. Kalau aku selalu menolaknya dan sering mengucapkan kata “lah, dan membunyikan suara lewat lidahku” dikala ibu menyuruh, maka ibu sering bilang “awakmu ki anak lek ku nemu neng adah resek, saiki wes gerang di kongkon angel!” . “Deg”, dadaku berdetak meskipun usiaku masih kecil. Aku tetap merasa kalau ibu mengucapkan kata-kata itu padaku. Namun, disaat yang lain ketika aku melakukan hal kesalahan yang sama, kini ibu mengucapkan padaku, “o...bocah biyen lek ngetokne angel-angel, di rewangi nyowo dadi taruhan, saiki gerang diomongi angel. Ngertio tak lebokne meneh!” . Kontan aku menyambar omongan ibuku ini “nah....! bien jere’e aku lek nemu...! saiki omong lek ngotekne angel. Seng pener seng endi iki...!” . Ibu jadi tertawa, maka akupun ikut larut dalam tawanya.
Selamanya aku selalu berharap, agar Allah tidak mengabulkan kata-kata buruk ibuku dikala beliau memarahaku. Aku yakin, apapun yang orang tua kami lakukan di desa terpencl dan tertinggal selamanya ini, tak lain hanyalah sebuah hiburan sekedar untuk meramaikan desaku. Tanpa bentakan ibu-ibu kami, tanpa teriakan ibu-ibu kami dari satu rumah ke rumah yang satu bagai burung yang sedang sahut-sahutan, dan tanpa ngrumpi sambil mencari kutu, tanpa itu semua mungkin desaku nampak sepi bagai rumah hantu.
17. Aku Sekolah SD (Sekolah Dasar)
Usia enam tahun telah menghampiriku, tiba-tiba ibu mengucapkan kata lirih di telingaku, “sesok bapak daftarne sampean sekolah”, di tengah-tengah aktifitasnya membersihkan rumput-rumput yang tumbuh di bawah pohon ubi tanaman keluarga kami.
Kontan, aku kaget bercampur bahagia. Sebuah sebutan kata “sekolah” yang belum pernah terlintas di benakku sebelumnya. Aku terus menanyakan tentang ini itu kepada ibu seputar dunia sekolah. Mulai dari sekolah itu apa? Bagaimana? Untuk apa dan bersama siapa aku nanti bersekolah? Ibuku sampai kualahan menjawab pertanyaanku yang sangat tolol ini. Mungkin yang ada di pikirannya adalah, “anakku sungguh bodoh”. Yah, tapi mau bagaimana lagi, begitupun aku tetap putra satu-satunya keluarga ayah dan ibuku.
Sekolah. Yah, kata-kata sekolah terus terngiang di benakku, hingga malamnyapun sebelum tidur aku tetap memikirkan tentang dunia sekolah. Rasanya aku ingin waktu ini bergerak sangat cepat, hingga esok hari segera tiba. Tapi perasaanku mengatakan hal sebaliknya, waktu justru terasa lama berjalan, “seperti pengantin baru yang berjalan dengan mengenakan pakaian adatnya”.
Untunglah, suasana malam yang dingin, kabut-kabut malam berusaha terus menembus celah-celah kecil ventilasi jendela kamar kami. kulirik sebelah kananku, ibu yang sudah terlelap dalam tidurnya dari kurang lebih beberapa menit yang lalu. Sebelah kiriku, ayah yang sudah mendengkur dengan suara ngoroknya asyik nada kecapean, sambil mengeloniku penuh kasih dan sayang terhadapku, ayah tertidur. Jangan heran, kalau diusia enam tahun aku masih tidur bersama kedua orang tuaku. Alasannya, pertama karena tempatku masih banyak hutan di sekitar rumah kami, sehingga aku masih belum berani untuk tidur di kamar yang berbeda dengan orang tuaku. Kedua, karena rumah kami juga memang belum menyediakan kamar pribadi untukku. Jelas, alasannya karena faktor finansial untuk memperluas rumah.
Meski dingin dan suasana yang menakutkan, aku terus mencoba untuk memejamkan mata ini, namun tetap susah. Kini bayanganku lari pada hari Minggu yang dua hari telah berlalu. Tentang sang ibu yang pulang dari pasar membawa baju warna putih, celana pendek warna merah, kain kecil dan agak memanjang berwara merah disertai gantungan leher berwarna putih, ujungnya lancip bak busur panah, dan satu lagi yang aku belum mengerti, di atas busur itu terdapat gambar garuda disertai tulisan kecil entah apa bunyinya, karna aku belum mampu untuk membaca. Tapi kira-kira begini bunyinya “TUTWURI HANDAYANI”. Yah, itu ternyata “dasi”, kata ibu. Cukup itu yang ibu bawa dari pasar.
Aku tak begitu pusing memikirkan untuk apa pakaian itu ketika ibu menyuruhku untuk mencoba pakaian unik itu padaku. Yang ada di pikiranku adalah, bahwa pakaian itu pakaian bermain yang tak ada bedanya dengan pakaian-pakaianku yang lainnya. Hanya saja anggapanku adalah, bahwa pakaian itu model baru dan pakaian terkini. Pikirku, ibu sengaja membelikan pakaian main yang unik kali ini.
Sekuat apapun daya tarik kata “sekolah” yang telah ibu ucapkan padaku siang tadi, akhirnya mampu juga dikalahkan oleh kekuatan tidurku malam ini, karena usiaku yang memang belum mencukupi untuk begadang selama satu malam penuh. Meski harus mengeluarkan kekuatan yang berimbang, antara tidur dan lamunan.
Tubuhku tergletak dipelukan sang ayah, kaki kananku kuletakkan di tubuh ibu. Yah, itulah kebiasaanku disaat akan tidur, dan mataku susah untuk dipejamkan jika kakiku tidak kulakukan yang seperti ini. Ibu menilai ini adalah kebiasaan burukku. Mataku terpejam, pikiranku hilang dan melayang entah kemana. Hingga pada akhirnya aku masuk dalam kehidupan baru yang seakan itu adalah nyata. Alam mimpi.
Celana merah, baju putih, topi merah putih, leher berdasi, namun sayang di pundakku melingkar kantong plastik warna hitam yang berisi satu buku dengan berlampirkan sepuluh lembar kertas dan satu pensil. Satu lagi, bukan sepatu yang menempel di kakiku, namun sandal teplek yang setiap harinya kupakai untuk kemana-mana; mulai dari main sampai pada acara penting sekalipun. Aku merasa bahwa diriku terlihat sangat gagah dari teman-temanku yang lain.
Wiwin, Mbak Karmik, kang Waluyo dan mbak Golok Sus, itulah teman-temanku yang bersekolah bersamaku. Aku juga merasa bahwa dirikulah yang paling gagah dari mereka semua. Jalanku terasa sangat bangga, namun juga terasa sedikit berat. Yah, mungkin karena pakaian dan nuansa baru yang kali ini sangat berbeda dan belum pernah sekalipun terngiang dibenakku. Kata “sekolah” memang sangat asing bagi kami. Sungguh!
Tahu-tahu kini aku telah berada di ruangan bergedung, sekolahan SD 1 Sukapulih. Aku dan keempat temanku yang berasal dari desa yang sama ini sangat seragam, seragam dalam segi berpakaian. Sama-sama tanpa sepatu dan tanpa tas, hanya dengan tas kantong plastik bekas ibu berbelanja di pasar. Awalnya aku mengira memang begitulah seragam bersekolah. Akan tetapi, setelah kakiku menginjakkan sekolah SD 1 Sukapulih, semua anak-anak yang lain memakai seragam yang sempurna. Mulai dari kaos kaki sampai pada perlengkapan alat tulis. Apalagi teman yang satu kursi denganku, namanya Jaya. Dia memiliki penggaris, penghapus, bukunya dua yang sedikit lebih tebal dibanding milikku, tasnya sedikit berkelas, sepatu merk ATT dan masih banyak perlengkapan lain yang belum bisa kumiliki. Ah, itu hanya mimpi.
Tapi mimpi itu memang kenyataan dengan apa yang aku dan teman-teman sedesaku alami. Tak apalah, toh itu hanya persoalan pakaian dan perlengkapan alat tulis. Bukannya yang sekolah adalah pikirannya yang harus main, bukan terletak pada pakaian dan penampilan semata. Begitu ibu memberi motifasi untukku. Biasa, bahasanya orang yang tidak punya.
Begitulah kehidupan nyataku bersama orang-orang transmigran sampai aku menginjakkan kaki di bangku sekolah SD (Sekolah Dasar).