PENJARA SUCI, ABADI

1. Sekolahan Suram
SLTP N 3 Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir (OKI) Tahun 1999...
Siang menyayat kulit para petani yang sedang bernostalgia bersama aktifitasnya, mereka bertaburan di tengah-tengah padang sawah rimba penuh menjajikan. Apa yang mereka harapkan? Tak lain hanyalah datangnya hasil panen yang memuaskan. Panas adalah tantangan, bukan halangan. Capek adalah kebiasaan, bukan alasan.
Kalub, atau warga sebelah sering menyebutnya desa Sukapulih IV (empat), Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. itulah nama desa di mana aku dibesarkan penuh harapan. Bersama para petani itu aku hidup penuh tantangan. Hidup dipedesaan adalah suatu hal yang mengasyikkan. Namun sayang, waktu itu bukan kehidupan suatu desa yang lepas dari lingkaran syaitan; bersih dari minuman yang memabukkan, pergaulan pemuda yang penuh perdamaian dan bebas dari nikotin serta heroin. Bukan, tapi yang terjadi adalah semua dari kebalikan itu.
Dari tujuh anak di desa kecil ini seangkatan denganku, menduduki bangku sekolah formal, SLTP N 3 Tanjung Lubuk. Namun begitu disayangkan, hanya dua yang mampu konsisten bersahabat dengan bangku SLTP itu hingga kelas-kelas terakhir, kelas III (tiga). Winarno salah satu temanku yang akrab disapa Iman, dia di damparkan dari sekolah itu atas kasus penamparan terhadap guru mati-matika kami, Pak Saiful namanya. Memang, Iman sudah lama tidak menyukai guru ini. Menurut dia, guru lelaki berwatak keras dan tidak menghargai seluruh mahasiswa, guru ini hanya memihak salah satu siswanya dan metode pengajarannyapun sangat monoton dan tanpa ada canda. Iman tak suka model itu.
Hari Senin, waktunya seluruh siswa harus melakukan kewajiban sekolah, upacara pendera. Ya, acara sakral yang dilaksanakan seminggu sekali ini membuat para guru harus datang lebih pagi dari siswanya. Hari yang penuh dengan kedisiplinan, begitulah kata salah satu guruku, Pak Made. Usai tiba di sekolah, para guru harus segera berkeliling ruangan kelas, toilet, kantin, kebun sekolah maupun halaman belakang sekolah kami, semua diperiksa tidak ada yang terlewati. Semua tempat yang biasa dijadikan sebagai tempat nongkrong para geng sekolah kami tak ada yang mampu menyisakan siswa satupun. Semua harus wajib berkumpul di halaman sekolah guna mengikuti penaikan “sang saka merah putih”.
Jam tangan para siswa menunjukkan pukul 07.45 wib. Semua siswa dan para guru sudah 30 menit melaksanakan upacara bendera. Namun, segrombolan anak-anak Kalub baru muncul dari arah pintu gerbang yang tak bersatpam itu, termasuk aku, Sugeng, Iman, Nanang, Handoko, Sutikno, Winarko dan tiga siswi; Sutilah, Dewi dan Isah. Kami semua terlambat. Kedatangan kami dicap oleh seluruh guru dan siswa lian yang pendiam, bahwa kami sengaja terlambat dan sengaja menyepelekan seluruh guru dan sekedar cari perhatian di hadapan seluruh siswa-siswi SLP N 3 Tanjung Lubuk.
Karena keterlambatan kami itu pulalah suasana keheningan upacara menjadi buyar dan seluruh siswa mengarahkan perhatiannya kepada kami, ditambah dengan suara sepatu kami yang ribut karena berlarian membuat suasana benar-benar jadi tidak karuan. Risih untuk didengar dan diperhatikan. Gaduh sagat menjengkelkan bagi guru dan Bapak Kepala Sekolah yang sedang berdiri tegap di baris paling depan dan berhadapan dengan seluruh siswa.
Lantas, apa tatapan para guru terhormat itu kami hiraukan? Tidak, masa bodoh dengan tatapan dan tanggapan mereka tentang kami. Cuwek masa bodoh. Terutama Iman, jauh-jauh hari ketika masih dperjalanan dia sudah mempropokatori kami semua, “engko lek enek guru seng macem-macem, tabok wae. Ok!” . Kebetulan hari senin itu, kelas Iman ada mata pelajaran olah raga, sehingga membuat dia tidak memakai seragam putih birunya dalam barisan upacara itu.
Dia nampak berbeda dari sekian banyak jumlah mahasiswa hari Senin ini. Hal itu membuat salah satu guru mengancam kehadiran kami dan tingkah Iman yang tidak merasa bersalah sama sekali. Setelah upacara selesai, kami semua distop ketika sedang berjalan menuju ruangan kelas kami masing-masing oleh salah satu guru gemuk, Pak Saipul. “Heh, kalian! Baris di lapangan, tepat di bawah bendera. Cepat!”, bentak Pak Saipul dengan nada keras dan tidak ada sopan dan bijaksananya sema sekali di hadapan seluruh siswanya. Kamipun hanya bisa mengikuti apa perintahnya, termasuk Iman dan tiga siswi yang telat bersama kami. Kami semua sedesa, berangkat kami selalu bersama, ermasuk tiga cewek tadi.
Setelah kami berbaris rapi di bawah tiang bendera. Aku yakin seyakin-yakinnya kalau Iman sudah tidak tahan ingin mengambil keputusan apapun bentuknya, yang penting tidak tinggal diam. Karena dalam barisan itu dia tidak bisa diam sama sekali, bawaannya hanya ngoceh sana ngoceh sini yang tidak jelas jluntrungnya. Perkataan buruk sudah tidak hanya satu dua keluar dari mulutnya. Nama anjing, nama babi bahkan kata-kata kotor yang sering diucapkan oleh warga pribumipun ikut meloncat, seperti kampang.
Tidak lama kemudian, Bapak gendut itu menanyai kami satu persatu dan dimulai dari para bidadari desa yang penuh mempesona. Pertanyaannya sama, “kanapa kamu terlambat?”, dengan sok sinis pak Saipul bertanya pada Isah. “Semalam hujannya lebat Pak, jadi jalan keluar di tempat kami becek banget dan tanah merahnya lengket. Sepeda kami saja tidak bisa jalan karena ada selebornya, lalu kami tinggal di tengah hutan di pertengahan jalan tadi pak. Kalau bapak tidak peraya, silahkan lihat kondisi baju dan sepatu kami semua”, Jawab Isah dengan lugunya. Ketiga putri sahabat kami ini sangat baik dan lugu-lugu, tidak mungkin mereka berbohong. Tepat, sangat tepat sekali alasan yang di sampaikan Isah pada Pak Saipul. Memang itulah realitanya. Mereka bertiga tidak seperti anak laki-laki yang sedasa nakal semua dan terbawa arus yang tidak karuan.
Ketika guru “Wedus”, begitulah Iman menyebutkan nama guru itu, “lek wedus mengko nekoi seng lanang-lanang, langsung jawab bareng wae, sama pak. Ngono yo...!” . Kini Pak Saipul bertanya pada Wiwin atau Winarko. “Kamu, kenapa kamu bisa terlambat? Mau sok hebat kamu, iya?”, tanya Pak Saipul dengan nada yang lebih panas didengar telinga ketika bertanya pada cowok. “Alasannya sama pak...!”, kami semua menjawab dengan bersamaan. Ya, apa lagi yang mau kami sampaikan, memang itulah kenyataannya. Tapi alasan itu dapat diterima Pak Saipul jika yang menggunakan alasan adalah siswi, dan itu tidak berlaku buat kami.
Meskipun kami biasa bohong pada guru ketika membuat alasan, tapi untuk kali ini kami bercerita dan memberikan alasan yang jujur sesuai apa adanya. Namun itu tetap tidak bisa diterima. Nasib kami pagi ini tidak semujur ketiga putri yang sedesa dengan kami. mereka sudah bersih-bersih tubuh yang sebelumnya geluprut lendot dan menikmati waktu istirahat sebentar setelah upacara dan sebelum memasuki pelajaran sekolah selanjutnya. Sedangkan kami, justru pertanyaan makin memanas dan Iman makin tidak tahan. Pak Saipul makin gencar pula untuk mebuat kami jadi bahan tontonan banyak siswa yang duduk-duduk manis di serambi sekolah.
Pikirannya mulai teringat pada pakaian yang dikenakan oleh Iman, yaitu pakaian seragam olah raga. Iman menghadap ketimur, sedangkan Pak Saipul berada di sebelah barat. Tiba-tiba Pak Saipul menggaplek pundak Iman dari belakang yang lumayan keras sambil berkata, “ini lagi, sok-sok’an hebat. Yang lain pakai baju seragam putih biru dia malah pakai pakaian olah raga!”. Karena kaget Iman jadi marah dan dia bisa melampiaskan emosinya yang dari tadi sudah menggebu-gebu. Ibaratnya, tinggal menanti secuil ulah Pak Saipul yang bisa dijadikan alasan untuk dia melampiaskan pukulannya.
Tidak tunggu lama, setelah gaplean Pak Saipul melayang ke punggung Iman, langsung saja Iman membalikkan tubuh dan melayangkan pukulan tangan kanannya tepat di dagu Pak Saipul. Sangat keras sekali. Langsung para guru mendekati kami semu yang sedang berbaris di lapangan. Seandainya tidak dipisahkan oleh seluruh guru yang ada, jelas pertengkaran itu makin seru dan berlangsung lama. Karena dari kejadian itu nampak sekali kalau Pak Saipul akan membalas pukulan si murid yang terbilang nakal ini. Tapi Iman nampaknya sama sekali tidak gentar akan perlawanan yang akan ditujukan oleh Pak Saipul. Untung para guru segera melerai pertengkaran seorang murid dengan gurunya sendiri. Ya, nampaknya kini Iman puas dengan perbuautannya itu, karena nafsu amarahnya telah terlampiaskan. Meskipun perbuautan itu dipandang banyak orang adalah lingkaran syaitan.
Handoko dan Nanang, dia juga mengikuti jejak Iman yang tak bertahan lama di kursi suram SLP N 3 ini. Dia telah mendapat peringatan lebih dari sepuluh kali, atas perkelahiannya dengan pemuda pasar dekat sekolah kami. Tak heran, jika mereka berdua menjadi buronan warga desa pasar Bunut. Usai sekolah, kami bertujuh memang sering mangkal dan bahkan menjadikan pasar Bunut sebagai tempat tongkrongan kami. Meskipun, pemudanya tidak bersahabat dengan kami semua. Namun jika itu adalah alasan kami untuk tidak nongkrong di pasar Bunut, maka bukanlah pemuda Sumatera dan bukanlah dikatakan pemuda.
Aku dan yang lain memang tidak seganas tingkah Handoko dan Nanang yang selalu bikin onar di manapun mereka berada. Katakanlah pendiam adalah sedikit menjadi watakku, begitu juga dengan yang lain, mereka tak berani berkutik jika Handoko, Nanang dan Sugeng tak ada di sampingnya.
Itu sebabnya, kenapa Handoko dan Nanang harus diburu pemuda pasar Bunut. Sebagai pelampiasan mereka, adalah penantian disaat-saat kami berada di sekolah. Kalau tidak waktu pulang, maka waktu istirihat jam pelajaran selalu menjadi waktu tepat untuk para siswa SLTP N 3 Tanjung Lubuk ini mengadu kehebatan.
Sutikno, dia kakak sepupuku yang sering dipanggil Sutik. Dia sebenarnya pintar, tapi dia juga tidak bersih dari kenakalan. Datangnya siswa baru memancing dia untuk bergerak meminta uang dan mengetes sejauh mana kedalaman mental. Kebetulan, siswa baru itu sedaerah dengan sekumpulan salah satu geng yang ada di sekolah kami, geng itu musuh bebuyutan dengan orang-orang Jawa, termasuk sekumpulan anak-anak desa kami yang semuanya adalah keturunan pendatang dari Jawa menjadi musuhnya yang tak penah damai, dan mungkin selamanya aka tetap bermusuhan.
Akhirnya, Sutik tidak hanya berurusan dengan satu siswa baru itu saja, namun sekumpulan geng itu menjadi musuh dan menantangnya setelah pulang sekolah, tempatnya adalah lapangan sepak bola yang berada di sebelah barat sekolahan kami. Tawuranpun akhirnya terjadi dengan serunya, antara siswa berasal dari pendatang Jawa dengan siswa warga priumi. Hampir ratusan dari seluruh siswa-siswi SLTP 3 ini menonton aksi yang dianggap menarik, tak lain ingin melihat siapa yang akan menjadi jago dari kelomok kami berdua.
Seingatku, dari kelompok kami terdiri dari lima belas anak yang termasuk gabungan dari anak Jamantras empat anak, desa yang agak jauh dari sekolahanku. Bahkan mereka harus naik bus untuk menuju sekolahan. Kemudian dari desa Jahe ada empat anak. Jahe adalah tetangga desa dengan Jamantras. Kemudian dari kelompok musuh kami yang diketuai oleh Aman. Dia adalah anak Talang Pangeran beserta kru-nya. Aman membawahi tidak kurang dari dua puluh anak, dan tidak lebih dari itu. Namun apa yang terjadi kemudian? Semua tidak seperti yang kelompok kami kira, dua puluh anak berhadapan dengan lima belas anak, yang bearti tiga puluh lima anak.
Tetapi tidak, tiba-tiba lari segrombolan pemuda desa pasar yang lari mendekati kami dari arah timur dengan membawa beraneka bentuk senjata. Kami yakin bisa memperkirakan kalau kelompok baru itu lebih dari tiga puluh anak. Akhirnya Nanang berteriak kepada kami semua untuk segera lari meninggalkan area pertempuran.
Yah, setelah kejadian itulah sekolah kami kehilagan si jago volly dan cerdas cermat, siswa yang menjadi kesayangan Pak Yanto guru, olah raga asal Jawa ini. Sebelum Sutik mendapat kebijakan kepala Sekolah yang mengenaskan ini, sekolah kami selalu juara satu dalam lomba tornamen bola volly tingkat kabupaten, dengan Sugeng yang menjadi toser-nya. Begitu juga dengan cerdas cermat, kalau tidak juara satu, pasti juara dua.
Namun usai dia dikeluarkan dari sekolah, juara itu selalu menjadi milik orang. Sugeng, dia mengikuti jejak kakakku, Sutik. Sutik adalah sahabat yang sehati dengannya, ke manapun dia pergi selalu berdua. Hampir tak pernah pisah, baik dalam bermain maupun belajar ke kontrakan Pak Yanto yang menjadi guru kesayangannya. Dia merasa kehilangan setelah Sutik dikeluarkan dari sekolah. Nasehat Pak Yanto tidak lagi dihiraukan, karena Pak Yanto tidak bisa dimintai kerjasama untuk melobi kepala sekolah agar menarik kembali Sutik duduk di bangku sekolah ini. “Aku wes nyobo Le...! tapi ora iso...! kuwi ki wes kebijakane kepala sekolah...!” .
Usaha Pak Yanto memang tiada habisnya, bahkan Pak Yanto pernah diancam untuk keluar dari sekolahan itu jika tetap memaksa kepala sekolah untuk menarik kembali Sutik yang dianggap melanggar aturan main sekolah. Meskipun, Pak Yanto telah memaparkan panjang lebar tentang kehebatan Sutik dalam kejuaran volly dan bahkan cerdas cermat. “Kita bisa membangun siswa lain untuk bisa memegang kejuaraan itu semu. Tidak harus dia!”, bentak kepala sekolah kepada Pak Yanto ketika bercerita pada kelompok geng kami, termasuk Sugeng.
Segeng orangnya pendiam, tidak seperti Handoko dan Nanang yang memang berani tetapi terlalu norak. Sugeng pendiam, begitu juga ketika dia sedang di desa, sama sekal tidak menunjukkan kalau dia anak nakal. Akan tetapi jangan dilihat kalau dia keluar dari desanya sendiri dan sedang panas hatinya. Apapun akan dilakukannya meskipun itu membunuh orang. Kenakalannya kini sangat ditunjukkan di tengah-tengah sekolahan kami. Dia membawa lima botol ASOKA. Ya, jaman dulu minuman memabukkan anak muda sumatera adalah asoka yang menjadi andalan.
Hal itu dilakukan tanpa sepengetahuan kami semua selaku teman dekatnya. Diminumnya sebotol ASOKA itu dan yang empat botol dikempit di ketiaknya di dalam kelas sambil berjalan keluar ketika Ibu Ade Trisno Tati, atau kelompok geng kami sering memanggil nama singkatannya Ibu SEPATU ATT. Ibu cantik bertubuh tinggi langsing ini kebetulan adalah pacar Pak Yanto, jadi tidak heran kalau geng kami dekat dengan guru cantik satu ini.
Namun Ibu ATT tak mampu membendung polah-tingkah Sugeng yang makin membabi buta ketika ditegur oleh ibu manis. Tanpa Bu ATT berteriak memanggil guru yang lain dan menyuruh si Sugeng menghadap ke TU, guru-guru yang lain sudah berhamburan menemui Sugeng yang lagi konyol ini. Semua guru tak dihiraukan, termasuk Pak Yanto. Dan semua guru tak mampu berbuat apa-apa karena takut melihat Sugeng yang memegang dua botol dan tiga botol di ketiaknya. Sambil mengancam dan megarahkan salah satu botolnya ke arah salah satu siswa putri, kalau dia akan melemparkan botol ASOKA itu kalau ada yang mendekat tubuhnya.
Tak hanya itu, kemudian dikeluarkan selinting kecil ganja dari saku bajunya yang rapi karena setrika. Lalu dengan nyantainya dia menghisap ganja itu setelah dinyalakan. Semua itu nampak sudah dipersiapkan dari sebelum dia berangkat ke kesekolah.
Dalam kondisi yang panik, tegang dan tak tahu apa sebenarnya yang akan dilakukan oleh segeng selanjutnya, tiba-tiba dengan santainya Aman si ketua geng Talang Pangeran ini berjalan mendekati Sugeng. Kami semua tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh si Aman ini. Apa mungkin dia mau jadi sok jago-an dihadapan para gadis-gadis SLTP kami atau ada maksud dan tujuan lain kami tidak tahu. Yang jelas dengan gayanya Aman melangkah penuh santainya.
Ketika langkahnya makin dekat dengan Sugeng, tatapan geram muncul dari mata Sugeng yang seakan menerkam tubuh Aman. Tak lama kemudian, tiba-tiba Aman mendorong pundak sebelah kiri Sugeng dengan kerasnya sambil berucap, “nak ngegeng apo kao heh!” , dengan terhuyung ke belakan Sugeng hampir terjatuh karena kerasnya dorongan Aman, pun demikian ditambah lagi dengan pengaruh muniman ASOKA yang mulai menjarah sekujur tubuhnya. Memang belum banyak, hanya dua botol lebih sedikit ASOKA yang telah singgah ditubuhnya, namun gerakan tubuhnya yang dari awal tidak pernah diam dan selalu ngoceh sambil gerak membuat minuman itu makin gencar menyerang tubuhnya, dan menghilangkan sedikit demi sedikit saraf kesadarannya.
Jika mereka berdua ditandingkan saat itu pula, adil tanpa membawa senjata. Aku yakin Sugeng akan babak belur melawan Aman. Karena kondisi Sugeng yang sudah teler dan Aman yang masih normal, sugeng bertubuh pendek, kecil tapi kekar, sedangkan Aman bertubuh tinggi besar dan gempal. Tapi ini semua tiada adu tanding dan bukan ajang pertandingan. Siapa cepat dan siapa ganas, maka dialah pemenangnya.
Meskipun kecil, tapi Sugeng lebih berani dan lebih nekat dibanding Aman. Maka tak harus menunggu lama kodisi cengang yang membuat semua jadi tegang. “Wah, geger neh iki!” , grutuku sama teman-teman yang lain melihat situasi yang makin panas. “Tar...prang...!”, botol ASOKA melayang dari tangan Sugeng yang berpindah posisi dan berubah rupa menjadi kepingan-kepingan tajam mengerikan. Dengan kenekatannya yang tidak lagi mampu dibendung oleh kelembutan seorang guru maupun orang tua, kini telah membuat si Aman harus berbaring di ranjang rumah sakit Kayuagung.
Tamatlah sudah usia Sugeng untuk duduk di SLTP N 3 Tangjung Lunbuk ini. Mungkin memang itu tujuan dari perbuatannya akhir-akhir ini. Dunia sekolah dirasa tiada artinya tanpa sahabat setia bagi dia. Permintaan yang tidak lagi dituruti oleh guru kesayangannya membuatnya kini merasa muak duduk di bangku sekolah. Rela dia mengorbankan masa depannya, demi sahabat yang tidak dapat dinilai dengan triliun rupiah harganya.
Anak dari desaku, tinggallah Wiwin, Stilah, Dewi, Isah dan aku yang masih bertahan di sekolah suram SLTP N 3 Tanjung Lubuk ini sampai detik-detik kelulusan kami. Kami sepakat mengatakan sekolahan kami suram, karena penuh dengan perkelahian dan pertengkaran anak-anak kecil yang masih usia Sekolah Menengah. Jangan dianggap masih kecil anak-anak SLTP saat itu kawan, kami semua beraneka poster tubuh, mayoritas bertubuh besar dibandingkan dengan yang bertubuh kecil. Berbeda dengan dunia sekarang, dimana anak-anak SMP memiliki poster tubuh yang kecil-kecil.
Ok lah, kalau memang mau dikatan kami semua masih kecil. Akan tetapi kekecilan kami bukan dijadikan sebagai tolak ukur kebranian kami. mereka semua pemberani, nekat dan tak pernah berfikir tentang resiko. Itu semua lantaran mereka dijadikan sebagai umpan para tetua preman yang bersembunyi dibalik layar. Setiap ada perkelahian di dalam sekolah kami, pelakunya hanya itu-itu saja, dan mereka selalu melibatkan orang-orang luar sekolah.
Sudahlah, sekarang kita tinggalkan dulu teman-temanku yang sudah terdampar dari sekolahan SLTP ini.

2. Lomba Minum ASOKA
Desa Sukapulih IV (empat), Kec. Pedamaran, Kab. OKI (Sumsel) Tahun 2000...
Sekali lagi saya katakan, meskipun desa pedalaman, plosok dan tertinggal. Pemuda desa Sukapulih IV (empat) bukanlah pemuda yang gagap akan dunia yang detik demi detik terus mengembangkan sayap kebobrokan. Justru mereka merasa lebih aman menggunakan barang-barang terlarang, karena jauh dari jangkauan bapak pilisi sebagai petugas keamanan negara kesatuan RI. Justru polisi hanya dijadikan sebagai bulan-bulanan oleh para preman yang jumlanya tak terkalahkan oleh jumlah polisi yang bermukim di pos-posnya.
Prah, nama itu seakan tak asing lagi di dengar oleh para preman sekitar pasar Bunut dan sekelilingnya. Dengan kebiasaannya menggarong dan menghajar orang, namun tak sekalipun pernah masuk dalam jeraji besi milik pak Polisi. Itulah yang membuat namanya membuming dan disegani banyak orang. Terutama para preman-preman kecil yang cukup mengenal dan menyegani namanya. Tak berani berbuat apa-apa jika mendengar namanya. Dia adalah andalan pemuda desa Sukapulih IV ini.
Suatu saat, namanya itu didengar oleh salah satu geng preman yang desanya lumayan jauh dari desa ini, desa Seberuk. Namanya Andi, dia sama premannya dengan Prah. Hanya saja batas wilayah yang dikuasai berbeda. Sugeng, Iman, Handoko, Sutik, Nanang dan anak-anak yang seangkatan dengan kami masih menjadi preman kelas teri, artinya tingkat kenakalan dan ketenaran kami masih di bawahnya Prah. Tak ada yang kami banggakan dan kami andalkan, kecuali terkenalnya salah satu preman tua yang ada di desa terpencil ini.
Andi, setelah lama dia mendengar kabar tentang nama Prah yang makin lama makin sering disebut-sebut oleh pemuda Seberuk, ternyata membuatnya makin penasaran dan ingin rasanya untuk menjajaki sejauh mana kehebatannya. Mungkin dia merasa panas hatinya bagai dibakar api ketika muncul sosok yang terdengar lebih hebat dikalangan dunia preman. Merasa tersaingi, begitulah mungkin tepatnya.
Malam begitu cerah penuh nuansa keindahan. Desa tertinggal yang gelap gulita tanpa satupun lampu PLN bersinar, namun terlihat terang benderang dan mengasyikkan. Namun sayang, keindahan malam ini tak berlangsung lama. Ketika para pemuda sedang berkumpul bercanda penuh tawa di lincak depan rumah temanku, Muhlisin namanya.
Tiba-tiba datanglah segrombolan pemuda bermotor, dengan gleyeran motor yang ributnya hampir mengusik ketenangan seluruh warga desa yang jumkahnya tidak lebih dari lima puluh keluarga ini. Namun semua orang tua memahami akan masalah ini, mereka pasti berfikir bahwa itu adalah urusan anak muda. Sehingga mereke tidak mau ikut campur dalam urusan ini tentunya.
Segrombolan pemuda bermotor itu langsung menuju kami yang sedang asyik bercanda antara yang satu dengan yang lainnya. Kebetulan yang di luar rumah adalah para pemuda tanggung semua sepantaran saya. Namun, seperti yang ceritakan sebelumnya, meskipun kami kecil, Sugeng, Handoko dan Nanang yang memiliki kebranian lebih dibanding yang lainnya, mereka bertiga langsung menuju grombolan bermotor itu dan akanmenghajar mereka. Dengan alasan bahwa “ini adalah desa sana, tanah saya dan daerah kekuasaan saya”, maka siapapun yang akan sok hebat di desa ini, tentu akan berhadapan dengan mereka bertiga, menurutnya.
Apalah daya, kehebatan dan kebranian mereka bertiga tidak memliki dukunyan yang maksimal dari pemuda desa setempat yang lainnya. Justru, pemuda lain malah merasa minder dan ada sebagian yang berinisiatif untuk meninggalkan tempat ini. Kenapa? Karena jumlah pasukan Andi yang datang menyerbu desa kecil kami ini lebih banyak daripada jumlah pemuda yang ada di desa kami. Wajar, Seberuk memang sudah menjadi kota, belum lagi ditambah dengan teman-teman gengnya dari luar desa.
Sugeng, Handoko dan Nanang kalang kabut dan akhirnya kabur meninggalkan grombolan yang diketua oleh Andi menuju rumah Lek Tatok yang di situ ada Prah yang dituakan oleh geng kecil desa kami. Dengan kilat Prah menuju keluar menghampiri kelompok Andi. Prah tahu dengan cepat kalau Sugeng, Handoko dan Nanang sudah terpukuli oleh Andi dan anak buahnya. “Keluar dulu kalian dari desa ini, kito selesaika bae di luar desa aku ika. Jangan nak macam-macam bae kalian dengan desa aku. Pacak kupecahka nian kepalo kau gek” .
Dengan ucapan itulah, Prah bermaksud untuk menyelesaikan persoalan ini di luar desa kami. Padahal, maksud kedatangan Andi belum jelas apa masalahnya, sehingga pasukan Andi datang dan bermaksud jahad kepada pemuda desa kami. Karena sebagai kesatria sejati, Prah bermaksud untuk tidak membuat desanya gundah, dan apapun yang akan terjadi, dia tidak akan memalukan desanya sendiri. Sifat itulah yang dengan sadar menitis kepada Sugeng. Tidak pada yang lain.
Jelas sebuah tragedi perkelahian yang pastinya akan menimbulkan kematian jika itu jadi diselesaikan di belakan nanti. Untungnya, salah satu dari anggota Andi ada yang bernama Tulus. Dia geng desa Bumiagung yang namanya juga sudah melalang buana, bahkan dia pernah beroprasi bersama dengan Prah. Tulus sebenarnya sempat terkejut ketika melihat ternyata orang yang akan didatagi oleh Andi dan kelompoknya itu adalah Prah. Padahal, Prah sudah kenal dekat dengan Tulus.
“Aeh...tak maju man baiko nak begocohan. Iko teman baek dengan aku Di. Kau nih mak mano pulo...!” . Ucap Tulus dengan sedikit agak marah dengan Andi. Tulus merasa kecewa, kalau dia diajak untuk menghajar orang yang ternyata adalah teman baiknya. “Bubar bae kito! Dak usah nak berantem-beranteman pula malam ika! Man tau wongnyo itu Prah, dak galak aku tadi nak melok” . Lanjut Tulus dengan nada keras kepada kelompok Andi.
Tapi tak semudah itu. Andi yang dianggap sebagai kepala geng desa Seberuk, jelas tidak mau menanggung malu dengan menarik kembali anak buahnya untuk kembali pulang tanpa adanya perlawanan sedikitpun. Hal itu jelas tidak mungkin dilakukan oleh Andi. Meskipun Tulus sedikit disegani oleh Andi, tapi untuk kali ini adalah tentang harga diri seorang preman, yang tidak mudah menyerah dihadapan banyak anak buahnya.
Andi memohon kepada Tulus agar tidak dengan mudah untuk menarik kembali pasukannya pulang, sebelum membawa hasil sebagai akhir dari sebuah keputusan. Dengan melalui perdebatan panjang, antara Andi dan beberapa anak buahnya, mereka membuat keputusan, “karna kito la dipermaluka samo budak siko, sekarang pacak kito damai, asalka mereka galak ngenjok kito se-krat ASOKA. Bak mano kak Andi?” . Yah, itulah ide konyol yang diajukan oleh salah satu teman Andi. Sebagai tebusannya, anak-anak muda desa Sukapulih IV, termasuk kak Prah pada intinya, dimintai untuk membelikan se-krat minuman memabukkan yang bermerk ASOKA ini.
Sebenarnya Tulus menolak akan keputusan itu setelah Andi mengutarakan ide salah satu anak buahnya, kepada anak-anak muda desa kami. Malah, hampir saja Andi dan Tulus akan beradu otot, tapi semua itu tidak dikehendaki oleh Prah. “Ini desa aku, keluar bae kalian man nak berantem” , lanjut Prah yang tidak ingin mengotori desanya dengan nuansa keributan.
Keributan makin menjadi, puluhan orang tua di desa yang tertinggal ini makin panik dan bingung apa yang sedang terjadi, serta bagaimana harus memberi solusi. Namun semua itu tidak memberikan dampak yang berarti pada suasana malam ini. Setelah keributan terus menggeruyuti suasana malam yang cerah, perdebatan yang saling menjaga gengsinya masing-masing kelompok dan tak satupun ada yang berkenan untuk megalah. Detik-detik inilah Prah kemudian mengambil satu kesimpulan, yang kira-kira nyawa menjadi taruhan.
“Man kalian ribut bae, Kau Andi, payo man kau nak ngegeng, sekarang bae kito lomba minum. Tapi jangan salahka aku man kau gek mati!”, lanjut Prah menantang Andi untuk lomba meminum ASOKA, meniman yang memabukkan itu. Tentunya kalian tahu, bahwa minuman itu bukan hanya memabukkan, jika kebanyakan dan keseringan maka akan berakibat fatal, yang menyebabkan nyawa akan melayang.
Langsung Prah dengan tidak berpikir lama dan tanpa memikirkan resikonya, dia menyuruh Sugeng untuk membelikan lima krat minuman asoka, yang tempatnya sangat jauh dipusat kota sana. Sebenarnya tak harus jauh-jauh lari ke pusat kota untuk sekedar mencari minuman yang memabukkan ini, sejenis ASOKA, Topi Miring dan jenis minuman yang lainnya. Karena barang memabukkan semacam itu seakan bukan menjadi barang yang terlarang untuk diperdagangkan. Namun yang menjadi persoalan kali ini bukanlah ada dan tidaknya minuman ini, namun jumlah lima krat itu yang membuat susah untuk mencarinya dalam satu dua toko.
Anehnya, polisi daerah tidak pernah sama sekali melakukan rasia tentang pelarangan penjualan minuman syaitan ini, sehingga membuat para pedagang kecilpun harus meyediakan minuman itu. Dan bahkan menjadikannya sebagai barang dagangan yang utama. Dengan alasan, bahwa barang itulah yang menghasilkan laba lebih tinggi dibandingkan dengan barang dagangan yang lain. Ironisnya lagi, dijualnya minuman itu tidak harus dengan cara sembunyi-sembunyi. Dijual dengan cara berjejer pada rak-rak yang telah disediakan secara khusus untuk tempat tersendiri. Tak ubahnya minuman sprit, aqua, kratindeng dan jenis minuman lainnya yang tidak memabukkan.
Setelah ASOKA berhasil didapatkan oleh Sugeng, dan diserahkan pada Prah untuk segera ditindak lanjuti langkah selanjutnya apa yang akan dilakukan. “Galo-galonyo aku bae yang menentukan persaratan ika Di, man kau bena-benar hebat dan nak melawan aku untuk menum. Kao melok bae.” , begitulah ungkap Prah dengan santainya menandangi keoutusan yang diinginkan oleh Andi.
Dengan atas persetujuan Tulus juga Prah kemudian meladeni Andi untuk menantangnya lomba minum. Semua perlengkapan telah disiapkan, mungkin ini semua ide gilanya Prah yang anak muda desaku sendiri belum pernah melakukannya. Jangankan melakukan, melihat prah minum dengan gaya kali ini saja belum. Nampaknya apa yang akan dilakukan oleh Prah ini sudah menjadi kebiasaannya yang telah dilakukan berulang kali, namun diluar desaku dan tanpa sepengetahuan anak-anak muda di desaku. Jelas alasannya, dia tidak ingin anak-anak muda desa suram ini lebih parah dan hancur oleh minuman yang terkutuk lebih dalam lagi. Cukuplah dia yang tergerus tubuhnya oleh minuman beralkohol.
Jenis perlengkapan yang dibutuhkan; baskom besar, kecubung, tembakau, cengkeh, micin merk SASA, air ACU (aki), ASOKA. Secara satu persatu Prah meracik semua bumbu yang telah disiapkan oleh Sugeng dan Handoko atas komando Prah. Semua botol ASOKA yang telah tersedia dan belum tersisa setetespun semua dimasukkan kedalam wadah baskom besar yang telah disiapkan. Setelah semua ASOKA masuk dalam baskom, lalu dimasukkanlah semua kecubung seadanya yang telah diambil Sugeng dari rumah Prah. Kecubung telah dimasukkan, lalu tembakau, cengkeh dan micin merk SASA menyusul sebagai bumbu pelengkap. Belum cukup, air aki kemudian menjadi bumbu untuk sementara terakhir dari bumbu yang telah tersedia di haapan seluruh hadirin yang ada dan dua peserta yang akan meminumnya.
Kini untuk sementara semua bumbu telah selesai diracik dan telah dimasukkan dalam baskom bersama minuman ASOKA ini. Semua menjadi satu. Handoko terus mengaduk-aduk ASOKA yang telah bercampur dengan bumbu yang dirasanya aneh ini. Adonan muinuman yang sama sekali belum pernah ia temukan, apalagi merasakannya. Sampai semua nyaris dan hancur lebur menjadi satu kesatuan yang bakal menghancurkan saraf siapa saja yang akan meminumnya. Mungkin tetaplah masih ada pegecualian untuk dia yang masih bertahan untuk hidup jika mereka telah meminumnya. Yaitu mereka yang masih diberi keberuntungan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk hidup. Dia yang mewarisi ilmu bejo .
“Jikokne parang bancah neng pawon Tris” , perintah Prah pada Sutris salah satu temanku juga. Ternyata masih belum cukup juga dengan sekian banyak campuran yang telah disediakan. Setelah parang yang panjangnya kurang lebih dari satu jengkal itu dihadapkan pada Prah, tak disadari bahwa Prah akan menyayat ibu jarinya. Dengan parang terhunus, dengan santainya dia iris salah satu jarinya itu dengan tanpa rasa ragu sama sekali.
Sebenarnya hal iris-mengiris tangan bukanlah hal yang baru bagi para pemabuk dan pemakai narkoba, termasuk anak-anak muda yang berkumpul di malam ini. Namun yang bikin mereka tercengang adalah campuran minuman ASOKA yang ada di hadapannya. Hal itu seakan fenomena baru yang kali ini mereka saksikan. Apa lagi menuman yang dicampur darah oleh Prah. Kecubung saja sudah dapat membuat orang teler tidak karuan, apa lagi ditambah dengan air aki yang mampu menyayat satu persatu sistem dalam tubuh manusia. Ditambah dengan tembakau dan lain sebagainya.
Entah ide dari mana yang Prah pakai malam ini, sehingga membuat orang banyak berfikir bahwa bakalan mati mereka yang akan meminumnya. Semua sudah siap untuk diminum setelah pelengkap ramuan yang terakhir dimasukkan, darah yang mengalir deras dari ibu jarinya Prah.
“Payo Di, siapo dulu yang nak minum? Kito habiske galo, gek siapo yang terkapar lebih dulu, dio tulah yang kalah. Ingat, minuman ika harus habis galo-galonyo” . Yah, persyaratannya sangat sedehana dan simple. Satu persatu mereka minum terlebih dulu, dengan menjadikan jebor sebagai alat ukur meminumnya. Prah mengawali permainan ini dengan meminum empat jebor secara teratur dan bermain rapi, setelah meminum Prah langsung bergoyang ria mengikuti irama dangdut koplo yang telah diputar sebelumnya. Kemudian disusul oleh Andi yang tidak mau kalah untuk meminum miuman yang menyegarkan itu. Mereka berdua harus menghabiskan seluruh minuman yang ada dalam ember. Empat jebor telah diminum Andi, diapun mengikuti jejak Prah yang bergoyang habis-habisan di tengah-tengah alunan musik dangdut ini.
Begitulah seterusnya permainan ini berjalan, sampai seluruh minuman ini tiada yang tersisakan. Di penghujung perlombaan, mereka berdua tiada yang mampu mengangkat kepalanya, akibat reaksi dari minuman yang mengganaskan. Belum ditambah lagi dengan alunan goyang dangdut koplo yang makin membuat reaksi minuman itu makin mengganas dan mempercepat reaksinya.
Mereka berdua terkapar tak berdaya, Andi sudah tak sadarkan diri sama sekali, sedangkan Prah hanya mampu mengucapkan kata “heh...heh...” ketika ditanya oleh Tulus kalau dia mau pamit pulang. Andi pulang dengan terpaksa harus di bopong oleh anak buah yang dianggapnya setia. Begitu juga dengan Prah yang harus di urus oleh beberapa anak muda yang setia bersama dalam hari-harinya.
Dua hari kemudian setelah peristiwa perlombaan itu berlangsung, cuaca sangat cerah dan panas matahari makin mentereng seakan melelehkan kulit manusia dan seisi bumi ciptaan-Nya. Para pemuda desa Sukapulih IV masih asyik mendengarkan lantunan lagu dangdot ciptaan Ike Nurjana, Bang Roma Irama, Megi Zakaria dan penyanyi dangdut yang sejaman dengan mereka di rumah Winarko. Tak tertinggal Prah juga hadir di tengah-tengah para pemuda tanggung desa ini. Dia sedang terbaring entah apa yang sedang dipikirnya.
Kemudian, motor king yang dikendarai oleh seorang pemuda dengan berjaket kulit tebal warna hitam dan bertubuh besar pula kekar datang menghampiri rumah Winarko. Pemuda ini adalah Tulus. “Ado Prah idak?” tanya tulus dengan terburu-buru kepada Handoko yang sedang duduk di depan rumah Wiwin (Winarko). “Ado di dalam. Ado apo kak?” , jawab Handoko yang kemudian tidak digubres oleh Tulus yang kemudia dia langsung menuju ke dalam guna meghampiri Prah yang sedang berbaring di ranjang tidurnya Wiwin. Yah, mungkin Prah baru saja menghabiskan cuma beberapa botol ASOKA. Jadi sedikit pusing dan kemudian membaringkan tubuhnya.
“Prah, Andi tewas pagi tadi. Man kato dokter dio kebanyakan minum. Kendak kau nak bakmano. Yang penting aku lah ngabari kau. Apo kau nak pergi apo nak bakmano kendak kau bae. Sebelom polisi nak nangkap kau” . Ya, begitulah kata Tulus yang kedatangannya bermaksud memberi kabar kepada Prah, kalau Andi tewas karena minum-minuman yang memabukkan. Atas kejadian dua hari berlalu. Karena belum maraknya HP, sehingga harus terpaksa datang langsung meskipun jarak antara Bumiagung dengan Sukapulih IV adalah cukup jauh.
Akhirnya Prah-pun kabur untuk sementara dari desanya. Sedangkan Andi bernasib lain. Namun, polisi tak pernah datang ke desaku ini untuk mencari Prah. Jelas, karena sehari sebelum dia meninggal, ada kabar kalau Andi sudah melakukan aktifitas minum lagi dengan teman-temannya yang lain. Jelas, jika di telusuri letak kesalahan bukan mutlak pada Prah.

3. Aku Tidak Jadi Sekolah SMA
Desa Sukapulih IV Pertengahan Tahun 2000...
Desa yang benar-benar belum mengalami perubahan sedikitpun selama dua tahun, 2000 sampai 2002. Baik dalam segi pendidikan, ekonomi, pembangunan, sosial, budaya, keagamaan dan terlebih kenakalan remaja makin menggelora. Entah apa yang terjadi pada desa kecilku ini. Dalam segi ekonomi, masyarakat banting tulang berangkat ke sawah subuh hari dan pulang larut malam. Namun tak kunjung pula menuai harta kekayaan. Mushala hanya sekedar berdiri meskpun lampu patroma selalu dinyalakan ketika maghrib menyapa oleh Pak Kumpul yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan mushala. Tak hanya itu, tanah yang didirikan mushala adalah tanah wakaf dari beliau.
Kesadaran yang kurang dari masyarakat setempat, baik dari kalangan tua maupun muda membuat Pak Kumpul harus merelakan dengan ikhlas mengurus semampunya demi kebersihan mushala. Ketika hari jum’at tiba, adalah waktunya kaum muslim harus melakukan ibadah shalat jum’at. Namun, yang melangkahkan kaki menuju mushala kecil ini hanya orang-orang itu saja yang tidak pernah lebih dari dua belas jama’ah. Bukannya syarat sahnya shalat jum’at adalah harus berjumlah empat puluh orang dan sudah baligh? Namun mau bagaimana lagi, meskipun harusnya orang yang hendak melaksanakan shalat jum’ah dari desa ini harus mengungsi ke desa tetangga yang jumlahnya memenuhi syarat untuk melakukan shalat jum’at, jika desa yang dia tempati jumlahnya tidak memenuhi syarat.
Tapi nampaknya itu dirasa oleh orang-orang yang sering melaksanaka shalat jum’at di desa Sukapulih empat ini adalah hal yang tidak mungkin. Karena letak desa tetangga sangatlah jauh, kurang lebih 45 menit-an jika ditempuh dengan sepeda ontel. Mau pakai kendaraan bermotor juga belum ada yang memiliki sepeda motor. Akhirnya mereka melaksanakan shalat jum’at dengan berpedoman pada sebuah keyakinan, bahwa “innama a’malu bin niat” (sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung pada niatnya), itulah yang membuat mereka yakin nampaknya.
Kehidupan bersosial yang sangat baik, antara satu dengan yang lainnya saling mengenal. Mulai dari kakek-nenek sampai pada anak-cucunya semua tetangga mengenalnya. Namun, semua itu juga berdampak yang kurang baik jika kondisi akhirnya harus menimbulkan banyak fitnah. Ngrumpi yang tiada henti dikala ibu-ibu dan bapak-bapak saling berkumpul ketika jam istirahat siang menyapa. Ibu-ibu sampil petan di bawah pohon rindang selalu menggosip tetangganya satu yang layak untuk digosipin. Bapak-bapak yang tak jauh beda dengan obrolan dunia sawah tetangga yang makin hancur dan makin membaik.
Di tengah-tengah kondisi yang makin hancur dan semrawut, polah-tingkah anak muda justru makin bertindak hebat yang jelas jluntrungnya. Pemuda makin mreman dan makin kehilangan moral, termasuk aku meskipun sekedar ikut-ikutan. Bagaimana lagi, sebenarnya aku tiak punya nyali apa-apa untuk pentas di panggung preman. Yang kuandalkan tak lain adalah teman-temanku yang memiliki hal yang lebih tentang dunia nakal. Namun apa boleh buat, siapa lagi yang akan menjadi temanku di desaku sendiri ini, kalau aku harus menjauh dan tidak berbaur pada mereka. Tak ada pilihan lain, kecuali harus mengikuti jejaknya.
Padahal, ayahku orangnya sangat keras dan berwatak tempramental. Selain ucapannya kasar, main tangannyapun tak tertinggal jika anak-anaknya selalu melawan ketika di suruh atau dibilangin tidak nurut. Aku capek dan sering menangis dengan sifat ayahku. Jujur, aku memang selalu mementingkan egoku juga. Begitu juga degan ayahku yang selalu mementingkan egonya dan tak pernah mau mengalah padaku. Aku anak pertama, dan adikku satu masih kecil.
Sebagai pemuda, aku tidak pernah mendapatkan kebebasan sama sekali seperti halnya anak-anak muda desaku yang lain. Akhir tahun 2000 aku sudah tidak menduduki bangku sekolah lagi, bukan berarti aku tidak lulus dari sekolahan suram SLTP N 3 Tanjung Lubuk. Tapi memang aku kelulusan tahun ajaran 1999-2000 dari SLTP N 3 itu. Ya, kalian tahu sendiri, selama mulai dari akhir tahun 2000-2002 aku jadi pengangguran, klontang-klantung bagai anak bangsa yang terbuang di kotak sampah. Itupun kalau sampahnya dimanfaatkan oleh pemulung masih terhitung lumayan. Aku tidak. Kehidupanku bagai sampah yang terbuang lalu terpendam dan membusuk tak berguna. Itulah yang kurasakan.
Sumpah, itu bukan harapan dan impianku selama ini. Mulai dari awal aku duduk di bangku kelas III (tiga) SLTP N 3 Tanjung lubuk, aku sudah mendapat kabar dari ayah, bahwa kalau nanti sudah lulus, aku akan disekolahkan oleh Pakdeku yang tinggal di desa Air Hitam, Lewa, Lampung Barat. Disekolahkan tanpa orang tua mengeluarkan biaya. Ya, bagitulah Pakdeku bilang pada ayah, masalah biaya akan ditanggung semua olehnya. Tidak heran, penghasilan kopinya saya rasa masih menyisakan banyak harta kalau sekedar untuk membiayai sekolahku.
Alasannya sederhana kenapa aku akan disekolahkan oleh Pakde. Karena kecelakaan, akhirnya putra keduanya meninggal dunia. Karena beliau sangat menyayangi ketiga putrinya; Farida, Tati dan Tuti, maka beliau tidak tega melepaskan putrinya yang SMA harus berangkat sendiri ke sekolah dengan membawa sepeda motor. Di samping itu pula, ketiga putrinya ini difasilitasi satu rumah yang terbilang jaraknya dekat dengan sekolahan. Tanda tanya muncul dalam benak orang tua jika seorang anak wanita harus dibiarkan tinggal jauh. Sedangkan Pakde dan Bude selalu disibukkan dengan pekerjaan di kebun kopi yang membuatnya tidak mungkin untuk mengontrolnya setiap hari. Tiga hari dalam seminggu saja sudah kualahan.
Apakah Pakde oang kaya, kok berani-beraninya menyekolahkan saya? Enahlah, kaya dan miskin adalah relatif bagaimana orang yang menilainya. Namun, bagiku pakde keluarga yang lebih dalam tingkatan ekonomi. Taraf hidup ekonomi keluargakulah yang saya jadikan barometer kekayaannya. Dibandingkan keluargaku, Pakde memang berpenghasilan lebih. Tapi, hal demikian sesuai dengan kerja keras dan banting tulangnya setiap hari yang tak lain demi anak dan keluarganya. Itulah alasan kenapa aku akan disekolahkan Pakde.
Yang lebih membuatku nangis dan benar-benar aku merasa tersiksa adalah, ketika pleaning yang diidam-idamkan ayah selama ini ternyata menyakitkanku. Karena ekonomi alasannya, ayah sama sekali tidak ingin menyekolakanku ketingkat jenjang yang lebih tinggi. Jangankan menyebut kata “KULIAH”, makanan apa lagi itu bagi orang di desaku, STM, SMA dan yang setarapun tak pernah telintas dibenak ayah.
Maunya, setelah SLTP aku harus langsung terjun kedunia yang selama ini ditekuni oleh sang ayah, PETANI. Ya, mungkin aku akan dijadikan kader terbaiknya untuk meneruskan karir ayah. Ayah hanya mengizinkanku sekolah, jika memang Pakde jadi menyekolahkan saya ketika nanti sudah lulus SLTP. Jika tidak jadi, maka akupun tak jadi sekolah. Sungguh terbelenggu hidupku.
Selama ini aku memang nakal, tetapi hanya ketika aku keluar dari rumah malam hari. Tak ada siang hari waktu untukku berkumpul bersama para preman desa alias preman kampungan ini. Sama sekali tak ada. Ketika aku masih sekolah dulu, aktivitasku sangat pasti dan termanaj. Karena memang semua itu telah dijadwal secara manual tanpa diketik dan dan dipasang di didnding kamarku. Pagi hari sekolah, pulang sekolah pukul 14.00 aku langsung ganti baju, shalat dhuhur. Ya, aku masih mau melakukan shalat dhuhur, karena aku sangat memegang kuat amanah ibuku yang telah diajarkan padaku mulai dari aku masih kanak-kanak. Tapi entahlah, syah dan tidaknya shalatku itu bukan urusan, pikirku. Setelah itu makan, lalu aku harus menambang kerbau beliharaan keluarga kami. Setelah itu harus segera pulang dan langsung ke sawah. Pulang dari sawah pukul 17.00 lalu aku harus mengambil kerbau di mana aku menambangnya tadi untuk dibawa pulang. Sampai di rumah pukul 17.30 bahkan terkadang lebih, waktu sisa yang tinggal sedikit menjelang maghrib inilah yang ku gunakan untuk mengikuti permainan bola volly, hibuaran satu-satunya yang ada di desa plosok ini.
Meskipun aku memimpikan diriku akan berada di tengah-tengah siswa Sekolah Tingkat Menengah (STM), yang suatu haru mereka akan menjadi ahli tekhnisi motor, mobil, pesawat seperti BJ. Habibi, dan alat-alat mesin lainnya yang berbau oli, bensin, solar, bengsol dan lain sebagainya. Itulah yang ada dalam bayanganku ketika masih duduk di bangku SLTP dulu. Namun, apalah daya impian itu sedikit demi sedikit mulai terkikis ketika ayah menyampaikan khabar berita yang telah diminta oleh Pakde untuk menemani sekolah putrinya di SMA. Akhir kelas III (tiga), setelah Ujia Akhir Nasional (UAN) usai menyapa, kini jelas sudah bahwa tak ada lagi di otakku harapan untuk menjadi sang tekhnisi handal seperti BJ. Habibi yang pernah kudengar dimasa ini tentang kiprahnya di dunia perbengkelan pesawat terbang. Jujur, sempat aku memimpikannya. Tapi aku yakin kalau itu hanya kembang tidur .
Jam demi jam, hari demi hari silih berganti, minggu demi minggu terus berlalu. Aku selalu menanti datangnya pengumuman yang menyatakan “BERKAS IJAZAH SUDAH BISA DIAMBIL”. Namun bagitu lama pengumuman itu kutunggu-tunggu, tetap saja menjadi penantian yang tabu. Tidak ada sama sekali dari sekolahan yang memberi tahu kalau “bagi yang mau meneruskan silahkan meminta surat pernyataan lulus dari sekolahan”. Sama sekali tidak ada. Aku anak bodoh, apalagi orang tuaku yang sama sekali tidak tahu jalur prosedur untuk hal semacam itu. Kalau aku minta tolong ayah untuk menanyakan ke sekolahan, jawabnya malah “lawong awakmu seng tak sekolahne, yo haruse leweh ngerti piye carane. Ra paedah lek ku nyekolahne lek ijek ngongkon wong tuek” , begitulah ketus ayah.
Entahlah, apa yang membuat ijazah itu lama keluarnya. Sehingga aku benar-benar harus menunggu sampai ijazah itu resmi dikeluarkan. Namun, di satu sisi yang membuat aku khawatir, sangat khawatir sekali adalah bahwa sekolahan di mana saudara-saudaraku tinggal sudah banyak yang keluar sejak lama tentang ijazah itu. Aku jadi takut, takut kalau pendaftaran sekolah SMA yang dituju Pakde sudah tutup. Maka tamatlah semua harapanku kalau benar-benar sudah ditutup pendaftaran. Aku sangat bingung dan khawatir, namun hanya mampu kupendam dalam-dalam dan sedikit kuceritakan pada sang ibu yang lebih bijaksana tentang menanggapi keluhanku. Mau mengadu pada ayah? Oh, hal yang tidak mungkin. Keributan yang akan mengiringi keluhannku kalau sampai aku ceritakan pada ayah tentang kekhawatiranku ini.
Aku adalah anak yang paling tidak berani sama ayahku. Mungkin karena wataknya yang keras membuatku jadi anak yang minder, penakut dan mudah down terhadap orang-orang yang baru kukenal, atau dia orang yang usia dan poster tubuh lebih tinggi di atasku. Itu yang kurasakan. Sekali ayahku bicara, satu patah katapun tak pernah kuimbangi. Jika sampai aku menjawab, maka tangan bisa melayang di kepalaku. Yang bisa kulakukan hanya melakukan apa yang diminta. Kalau ibuku sering menasehatiku tentang sifat ayah, ibu bilang seperti ini, “sampean ki kudu manot-not karo opo seng diomongne bapakmu. Lek ora manot bapakmu ki pasti maen tangan. Ibarate mbok kon nyemplong kakos yo nyemplong tenan kudune” . Nasehat itu selalu ibu sampaikan padaku, karena ibu tidak tega melihat aku yang teramat sering dipukul ayah. Kemudian menangis di kamar dan ibu menghiburku.
Tapi di satu sisi dalam dunia kenakalanku dengan anak-anak desa ini. Aku sama sekali tidak takut dengan yang namanya perkelahian. Kenapa? Karena aku sudah kebal dengan yang namanya pukulan. Mungkin hanya seperti itulah kerasnya pukulan anak-anak muda. Tidak sekeras pukulan ayahku. Sering aku beranda dengan teman-temanku kalau aku habis baru dipukul ayah, “aku mau tas latihan karo bapakku. Dasku tas dites karo jotosane” . Padahal, di sisi lain batinku sangat menderita. Bukan karena kerasnya pukulan ayahku, tapi kok teganya ayahku memukul aku. Dan mengapa perjalanan hidupku jauh berbeda dengan yang lain. Sudahlah, itu adalah tabir Tuhan yang belum terungkap.


***
Setelah ijazah dari sekolahan SLTP N 3 Tangjug Lubuh ini keluar, masih harus menunggu seminggu kemudian baru ayah mengantarkanu ke Lampung Barat di mana keluarga Pakdeku tinggal. Jarak antara rumahku dan rumah Pakde lumayan jauh, dare desa Bunut harus memakan waktu sehari penuh untu sampai ke Lampung Barat. Sedikit melelahkan.
Setalah sampai di rumah Palde, esok harinya Pakde bilang bahwa pendaftaran telah ditutup dua minggu yang lalu. “Deg”, hatiku hancur dan terpukul. Dalam batin aku sangat marah pada ayah yang selalu bertetangan dan ngeyel kalau aku sedang bilang. Namun mau bagaimana lagi, marah sama ayah? Yang ada tambah brabeh urusan. Aku hanya mengelus dada dengan menyebut sabar...sabar...! Benar kata ibu, aku hanya diam dan menuruti apa kata ayah dan keputusan Pakde serta saudara-saudaraku yang lain di desa Air Hitam ini.
Yang lebih membuat aku makin marah dan rasanya ingin aku menyimpan dendam ini selama-lamanya seumur hidupku. Dan tak akan kumaafkan Pakdeku satu ini, namanya Pakde Waris. Bagaimana tidak, aku hanya diantar ke sekolahan SMA di mana Mbak Faridak putrinya itu sekolah. Ya, sama sekali tidak ada bedanya antara mendaftar dengan status terlambat dengan tidak. Hanya datang ke bagian petugas pendaftaran, yang kami dapatkan adalah kata “sudah tutup pak pendaftarannya”. Setelah kata-kata itu muncul, Pakde hanya bilang “oh, sudaah tutup ya...! Makasih kalau begitu Bu...! permisi...”. Jawaban yang sangat aku benci sampai kapanpun jika aku mengingatnya.
Kenapa tidak ada usaha sedikitpun untuk mempertanggungjawbkan perkataannya kalau dia akan menyekolahkanku, kecuali hanya mengajakku datang ke sekolahan itu. Bagitu itu adalah sekedar melihat suasana sekolahan yang membuatku justru makin kuat untuk ingin bersekolah. Itu ucapan setahu yang lalu, meskipun sekolah yang dituju bukanlah 100% yang kuharapkan, tapi aku tulus untuk menerimanya. Pikirku, daripada aku tidak sekolah, maka SMA juga jadilah. Tapi ternyata hanya angan-angan yang tak sampai. Sebagai manusia, aku sudah memaafkan Pakde sekeluarga. Apapun yang ia lakukan padaku, meskipun itu menyakitkan, tetaplah kumaafkan.
Akhirnya kekhawatiranku kini terjadi. Bahwa aku harus menjadi pengangguran sejati. Tamatlah hidupku dari dunia pendidikan, itu pikirku. Mulai detik inilah, sama sekali tak ada gambaran dibenakku untuk bersekolah lagi. Aku pasrah pada nasib, karena aku kalah dengan ayahku. Berarti kini aku harus mengikuti apa kata ayahku. Selamat tingal dunia pendidikan, selamat melanjutkan apa yang menjadi beground keluargaku selama ini, petani.
Sekolah tidak, kini apalagi aktifitasku selain bangun pagi, kesawah tanpa harus menunggu sarapan pagi dihidangkan ibu. Karena ibu nanti yang akan mengirim nasi ke sawah untuk aku dan ayah. Ketika siang pukul 12.00 aku pulang untuk istirahat, lalu jam dua menambang kerbau lagi, lalu pukul 14.00 ke sawah lagi dan ayah mencari rumput untuk makanan kerbau. Pulang dari sawah seperti biasa pukul 17.00 lalu mengambil kerbau lagi. Baru sisa waktuku yang tinggal secuil ini aku gunakan untuk bergabung dengan teman-teman di lapangan volly. Ya, begitulah aktifitasku sehari-hari yang tak pernah berubah sama sekali. Sangat monoton.
Sesekali aku ingin tahu dunia luar, yaitu pergi merantau ke desa lain atau ke kota lain bersama taman-temanku untuk mencari kerja di negeri orang. Namun sama sekali tidak pernah diizinkan oleh ayahku. Padahal, semua temanku sudah melalang buana ke kota manapun di Sumatera untuk mencari kerja. Sedangkan aku, aku hanya mendekam di desa kecil yang sangat pengap bagiku. “Kita punya ladang, kita punya sawah. Itu saja di garap tidak selesai-selesai, kenapa harus pergi kerja di tempat orang”, begitulah mungkin keinginan ayahku jika dibahasakan. Sangat baik sebenarnya, namun aku yang tidak betah dengan kehidupan yang semacam itu. Aku merasa masih muda dan butuh banyak pengalaman. Namun apa daya, lagi-lagi aku harus kalah dengan ayahku. Akulah satu-satunya pemuda penjaga desa. Begitu mungkin tepatnya.
Ditinjau dari segi keilmuan bisnis, pemuda desaku memang kurang benar menerapkan pengembaraannya ketika merantau mencari uang. Hasil dari perantauannya ketika pulang sama sekali tidak ada yang masuk dalam tabungan untu kemudian hidup di masa depan. Yang ada, merantau, pulang membawa uang, lalu minum sampai teler. Begitulah seterusnya. Tapi, dalam segi kepemudaannya zaman ini, mereka memang mendapat sorotan yang bagus karena telah memiliki banyak pengalaman dan pahit-senangnya hidup dalam perantauan. Oh...bagaimanakah rasanya merantau dan kemudian punya uang dari penghasilan yang didapat dengan jerih payahnya sendiri? Itu tanda tanya yang terus menyelimuti pikiranku.
4. Hari Misterius
Sukapulih IV (empat) Tahun 2002...
Panas mencekam, para petani bagai semut yang merayap menuju pulang ke sarangnya usai mencari makan selama setengah hari berlalu. Sinar matahari yang panasnya bagai menyayat kulit, seakan tak terasa oleh petani desa kecil yang tak kunjung kaya raya.
Tanah persawahan berair meskipun tak berhujan siang ini. Musim memang rendeng , namun entah mengapa siang ini panas tak sedetikpun tertutup mendung. Pagi, para petani disibukkan dengan pekerjaannya untuk menanam padi di sawahnya masing-masing. Ada yang posisinya sebagai bos, dan ada pula yang jadi pem-buruh. Ada juga sebagian dari mereka yang menerapkan tradisi gantenan .
Siang hari kebanyakan dari mereka sejenak pulang untuk beristirahat meskipun tidak terlalu lama. Meski demikian, ada beberapa petani yang terlalu giat dalam bekerja, hingga siang mereka tak lagi pulang. Karena, sore hari rata-rata dari mereka ada yang harus berganti pekerjaan. Para suami ada yang harus mencarikan rumput untuk memberi makan sapi, kambing dan kerbau mereka, bagi yang memiliki hewan peliharaan. Sedangkan sang istrilah yang sore harinya harus melanjukan pekerjaan di sawah. Setelah sang suami usai mencari rumput, baru kemudian suami menyusul ke sawah. Begitulah aktifitas rutin di siang hari bagi petani terpencil ini.
Tidakkah kau tahu, bagaimana kondisi desaku ini? Katakan saja masyarakat abangan dan awam. Kondisi agama yang tertinggal tanpa dihiraukan, mushala terlantar penuh rumput dan sampah daun-daun pepohonan. Nampak sekali mushala yang tak pernah dipakai dalam kesehariannya. Fitnah, cek-cok, perkelahian baik pemuda maupun kalangan tua yang satu dua orang tampil ikut andil sebagai sok muda. Semua itu terjadi bukan hanya pada desa satu dengan desa lainnya, namun fitnah dan permusuhan sering kali terjadi antar tetangga.
Bagaimana dengan lingkungan pendidikan? Lebih parah dan mengenaskan. Anak-anak yang diharapkan kelak menjadi pemuda harapan bangsa, dapat menjunjung tinggi harkat dan martapan bangsa dan agama. Namun, semua itu hanya bagaikan mimpi sang pemimpin Indonesia yang takkan pernah terealisasi. Anak-anak sekolah yang selalu dituntut oleh orang tuanya untuk selalu membantu pekerjaan sawah, dan tak pernah sedikitpun diberi peluag untuk mendalami satu-dua materi pelajaran yang baru saja didapatkan dari sekolahan.
Jangankan memahami, untuk membuka halaman perhalaman buku pelajaran saja sudah muak. Apalagi mau membaca atau memahaminya. Minyak tanah yang digunakan untuk menyalakan lampu ublik mungkin lebih baik digunakan untuk kebutuhan lain seperti memberikan penerangan pada kamar-kamar dan ruang tamu atau dapur dari pada untuk memahami satu-dua materi pelajaran anak-anaknya. Ya, semua itu siapa yang akan disalahkan? Orang tua yang kurang memberikan dukungan, atau anak-anaknya yang kurang kreatif? Entahlah, silahkan pikir sendiri.
Memang, tak ada lagi waktu yang fresh untuk sang anak menenangkan pikiran barang sejenak guna membuka buku pelajarannya. Siang mereka sudah tenggelam dalam pekerjaan bersama kedua orang tuanya, pulang terkadang juga sampai larut malam. Malam, mereka sudah teler bagai anak kekurangan gizi. Pukul 19.00 mereka sudah terlelap dalam mimpi. Demikian terjadi pada anak-anak yang sedang duduk di bangku kelas satu SD, mereka sudah ditutut untuk membantu pekerjaan orang tuanya. Sampai mereka yang sudah duduk dibangku SLTP, sedangkan tidak ada pemuda dari desa ini yang melanjutkan ke tingkat SMA dan setaranya. Ironis bukan? Meskipun, katanya adalah proses pendidikan untuk berbakti pada orang tua.
Karena hal demikian sudah ditelorkan pada sang anak mulai dari dini. Sehingga sang anakpun merasa “inilah sebuah kehidupan”, dan “beginilah kita harus hidup”. Mereka nampak asyik dan enjoy menjalaninya, tanpa adanya rasa yang seakan membelenggu mereka. Bagi yang lulus sampai Ujian Akhir Nasional dari sekolah SLTP, mereka langsung berfikir pada orientasi yang menghasilkan uang, yaitu bekerja dan merantau jadi anak buah orang. Bahkan, ada yang tergiur dengan kata “uang” sebelum mereka berhasil mengikuti Ujian Akhir Nasional.
Namanya Handoko, masih ingat tentunya. Dia adalah salah satu temanku yang sebenarnya juga disayang beberapa guru di SLTP N 3 Tanjung Lubuk. Namun apa daya, katanya, dia merasa tergiur dengan mendengar cerita teman-temannya yang selalu mengobrolkan pengalamannya ketika merantau mencari uang. Baik dari segi pengalaman maupun dari segi materi. Di samping itu juga, dia sedang terkena kasus yang mebuat dia harus di keluarkan dari sekolahan. Sehingga tidak ada usaha sama sekali bagi dirinya untuk mempertahankan sekolahnya. Mungkin kasus itu justru dijadikan salah satu alasan pada orang tuanya. Padahal sebenarnya, dia juga sudah muak dengan yang namanya sekolah, namun tak berani berkata pada kedua orang tuanya.
Begitulah hari demi hari terus berlalu, jam demi jam terus berdetik tanpa memperdulikan nasib manusia akan jadi apa. Yang penting dia terus menjalankan tugasnya untuk memberi petunjuk pada manusia akan waktu. Waktu yang tida kenal kompromi, silahkan manusia mati kalau memang mau mati. Silahkan kelaparan kalau memang dia kelaparan karena malas bekerja dan lain sebagainya. Silahkan manusia menjadi pengangguran bagai sampah masyarakat yang tak pernah dikelola untuk kembali menjadi barang yang berharga kalau dia tidak mau berusaha. Silahkan dia jadi bajingan, kalau memang itu yang diinginkan dan tak mau berusaha untuk berubah dan berusaha keras untuk melawannya. Silahkan manusia menjadi makhluk yang berguna bagi sesama kalau dia mau menjalani langkah yang mempu mendukungnya. Itulah waktu.
Begitu juga dengan tanah yang kini menjadi desa dan sekaligus tempat di mana aku dibesarkan. Meskipun desa ini bukan tempat kelahiranku, tapi di siniah tempat di mana aku mampu memahami bahwa inilah kehidupan kawan. Dari sebelum aku beranjak bangku sekolah SD, aku sudah berada di desa terpencil dan suram yang kini kutempati. Meskipun penghuninya para manusia yang tak jelas arahnya, desa ini selalu pasrah. Mau dijadikan apakah aku, itu terserah kamu. Lewat aku, mau jadi apapun kalian itu terserah kalian. Begitulah mungkin andai desa ini bisa berkata. Sungguh kasihan bumi Tuhan yang satu ini. Dia diciptakan bukan untuk dirusak, dan ukan pula untuk dibuat dan dikelola semaunya.
Keluargaku adalah bagian dari mereka. Jangan salah, kami semua hidup dalam satu rumpun yang tak berbeda sama sekali dalam segi apapun, kecuali prinsip dan cara pandang dalam berfikir. Prinsip ayahku yang sama sekali tidak memberikan kebebasan sama sekali kepadaku dalam bergaul, itulah mungkin prinsipnya dalam mendidik anak. Cara pandang tentang bagaimana ayahku dalam mengelola sawahnya agar tetap menuai hasil yang memuaskan. Namun, nyatanya Tuha tetap belum memberikan hasil yang memuaskan. Tak pernah bertambah penghasilan keluargaku dalam setiap tahunnya.
Hanya bersyukur, beryukur dan bersyukur yang selalu dilantunkan lewat bibir. Tak pernah melakukan hal yang lebih dalam ibadah kepada-Nya. Seperti shalat, zakat dan jenis ibadah lainnya. Padahal, aku sudah tidak disekolahkan. Tapi mengapa ekonomi tetap belum menghasilkan nilai yang lebih? Alasan salah satunya mengapa aku tidak disekolahkan adalah faktor ekonomi, kata ayahku. Berbeda dengan ibu yang sebenarnya ingin sekali menuruti apa keinginanku, namun apalah daya wanita bijak ini tak kuasa melawan kehendak ayah.
Waktu demi waktu prinsip ayahku makin kuat dan siapapun seakan tak pernah menentangnya, termasuk nenekku dari ibu. Jangankan nenek dari ibu, nenek dari ayah atau ibunya sendiri tak mampu melawan prinsip dan cara hidupnya. Dia adalah sosok lelaki yang tegas dan keras. Aku sebagai pemuda yang memiliki rasa egois dan emosi, ingin rasanya aku selalu melakukan apa yang selalu dilakukan oleh teman-teman di sekelilingku. Namun selalu tak kuasa. Sempat terlintas dibenakku bahwa aku akan pergi dari rumah dan tidak lagi perduli dengan nasib hidupku, apalagi nasib keluargaku dikala ayah usai memarahi atau bahkan memukulku dikala aku melakukan hal yang dirasa tidak sesuai dengan nelurinya.
Aku akan pergi, dan selama kepergianku aku tidak mampu mencari sesuap nasi dan lalu mati, itu terserah dan aku tak peduli. Begitu juga jika dalam kepergianku terjadi apa-apa dengan keluargaku, aku juga tak lagi perduli. Semua serba bodoh. Itulah yang pernah terlintas dalam benakku ketika aku lagi kesal dengan sifat kelakuan ayah terhadapku. Namun, entah kenapa semua itu hanya sekedar terlintas dan terlintas saja, hingga aku tak kuasa membukikannya. Aneh.
***

Hingga suatu hari siang yang sangat panas karena terik matahari tepat diubun-ubun manusia. Suasana yang sejuk dan sangat tepat untuk istirahat memejamkan mata usai para petani pulang dari kerja, termasuk aku dan keluargaku. Entah apa yang menyebabkan panas siang ini seakan misterius bagiku. Aku, seorang bocah yang selama ini tak mampu berbuat apa-apa untuk melawan semua kehendak ayahku, aku yang sangat lugu selama berada di hadapannya, bagai patung manusia tak berdaya.
Kekuatan mistik siang hari ini bagaikan ilmu sirep yang tak mampu bagiku untuk melakukan aktifitas apapun, kecuali hawa yang terus ingin tidur. Ya, mungkin pengaruh kerja berat di sawah yang kulakukan hari ini mulai dari pagi hingga siang ini salah satu faktor mengapa aku ingin selalu tidur. Ditambah lagi dengan suasana siang yang panas dan diiringi alunan angin yang perlahan menebarkan kekuatan mistiknya.
Aku lelah, sangat lelah siang ini. Dua ekor kerbau yang kugunakan untuk membajak pagi tadi ternyata sangat menguras tenagaku, tak seperti biasanya. Tanpa mandi, jangankan mandi, membersihkan badan dari lendot yang menempel di tubuhku saja tidak. Sampai di rumah aku makan dan langsung kubaringkan tubuhku di ranjang kamar yang tak berkasur, apalagi ber-springbed. Perlahan aku melamunkan sesuatu yang tak jelas arahnya, yang pasti tentang diriku dan masa depanku yang akan jadi seorang petani.
Lalu siapakah istriku? Oh...Tuhan, mungkin aku sedang gila hari ini. Jangankan mengenal wanita, pergi dari luar desa saja tak pernah. Yang kuincar hanyalah gadis-gadis di desaku yang tak lain adalah teman dekatku sendiri. Itupun aku merasa minder dan kalah bersaing dengan yang lain. Mereka memiliki wawasan dan wacana bercerita yang jauh lebih menarik untuk menggoda para gadis-gadis yang terbilang lumayan cantik di desaku ini. Ceritanya bahkan sampai pada negeri luar dan kota-kota diluar sana yang belum pernah dikunjungi oleh si gadis, begitu juga denganku. Jelas, si para gadis akan lebih tertarik mendengar cerita mereka dan selalu ingin lebih lengket dengan para pengembara itu, ketimbang aku yang setiap jam, hari dan minggu bahkan sampai bertahun-tahun ditatapnya terus. Bosan si gadis padaku.
Apalagi ketika pemuda desaku yang baru saja pulang dari perantauannya, mereka tentunya membawa banyak uang katakanlah. Mereka langsung bergaul pada muda-mudi setempat dan kemudian mengadakan sedikit acara pesta kecil-kecilan, begitulah mungkin. Wah, berarti yang baru datang ini banyak uang donga...! Jelas, si gadis akan lebih tertarik dengan mereka. Aku, hanya jadi si gembel desa yang tak pernah punya harga. Eh, emang barang.
Itulah yang terlintas di pikiranku selama aku membaringkan tubuhku di ranjang keras, bukan empuk seperti di kasur. Sambil perlahan mataku menatap langit-langit kelambu kamarku. Bukan langit-langit kamar, karena langit kamarku terhalang oleh kelambu yang berfungsi untuk melindungiku dari para nyamuk yang jumlahnya tak mampu terhitung dikala tidur. Wajar, di tengah-tengah hutan, rawa-rawa dan persawahan. Aku ingin rasanya membalas dendam pada kelebihan teman-temanku yang lain yang kuanggap hari ini itu semua dalah kehebatan mereka. Yang ada di bayanganku adalah bahwa aku harus bisa lebih jauh dibanding mereka, dan bisa menaklukkan sekian banyak wanita. Ah, tidak, itu berdosa. Ya, tapi memang itulah yang terlintas dibenakku hingga aku terbuai dalam tidur siangku kali ini.
Selama aku tidur siang, ternyata berbeda dengan ayahku yang siang ini ternyata masih sangat sibuk dengan sepeda ontel kesayangannya. Sepeda yang selalu ia pergunakan untuk mencari rumput guna memberi makan kerbau peliharaan kami, ternyata rusak. Ban bagian depannya bocor dan rantainya putus ketika dipakai ayah pulang dari sawah dengan membawa dua karung buang muntol .
Sungguh, aku tak tahu kalau ayah sedang kesulian dengan kesibukannya itu. hingga aku tak terlintas untuk membantunya. Lagian siang tadi aku pulang lebih awa dari ayah dan tanpa sepengetahuan dia. Karena aku capek dan kesal telah di hajar habis-habisan oleh dua ekor kerbau, sehingga aku setengah putus asa dan langsung pulang tanpa sepengetahuan ayah. Padahal, hasil dari bajakankupun carut marut, hancur mumur tak karuan. Mungkin ayah tahu setelah aku pulang. Ayah kesal? Itu hal yang pasti dan tidak mungkin tidak. Sungguh hebat jika ayah tak kesal melihat hasil kerja anak lelakinya yang begok ini, bajakan tak ubahnya ceker ayam.
Ditambah lagi setelah beliau sampai di rumah dengan kondisi sepedanya rusak parah, capek menuntunnya dengan beban berat karena ubi rambat, sampai rumah melihat saya sedang tertidur pulas dengan nikmatnya mungkin dirasa. Mungkin ayah teramat kesal dengan tingkahku yang mungkin dianggap bekerja semaunya dan seakan menyepelekan orang tua. Pokoknya ayah sangat sibuk siang bolong yang panas ini, karena dikerjain oleh sepeda kesayangannya. Tak ada yang membantu sama sekali, termasuk ibu. Karena ibuku sangat tahu bagaimana sifat ayah. Ibu takut kalau mau membantu dan nanti justru ada yang salah atau kurang benar, yang ada justru ayah tambah marah dan ngomel seadanya. Jangankan membatu, untuk mendekat saja ibu harus berfikir dua kali.
Di tengah-tengah kesibukan ayah itulah, tiba-tiba tubuhku yang bagai bangkai hidup bangkit dari tidurku yang telah dua jam berlalu dalam alam kehidupan baru. Perlahan mataku kubuka, namun masih terasa sangat berat. Antara bangun dan tidak, itulah yang ada dalam perasaanku. Belum lagi tanah-tanah liat yang masih basah dikala aku akan mulai tidur, kini mengering dengan sendirinya dalam tidurku. Keringat-keringatku yang bercampur dengan tanah dan kotoran lembut lainnya seakan terasa kering menempel ditubuh. Semua terasa lengket, hingga tubuhku sangat terasa berat untuk kuajak bangkit, terasa sakit karena kulitku seakan harus membuka dikit demi sedikit kulitku yang terasa lengket.
Hingga akhirnya aku harus menjalani proses siksaan tidur yang terasa bagaikan surga dan neraka. Bangun-tertidur lagi, bangun-tertidur lagi dan bangun lalu tertidur lagi. Ya, surga. Siapa yang tidak mau jika hidup mereka disuruh tidur melulu, sedangkan biaya makan ditanggung seumur hidup oleh seseorang. Yang jelas, tidur adalah hal yang sangat nikmat dan menjerumuskan orang jika terlalu banyak tidur. Neraka, aku tidak bisa harus tidur terus menerus, sedangkan pukul 14.00 aku harus digiring lagi ke sawah untuk menampeng galengan . Jika aku meneruskan tidurku siang ini, tentu ayah akan turun tangan. Serba bingung, yang jelas aku harus bangun.
Akhirnya perlahan kubangkitkan tubuhku tanpa harus membuka mata terlebih dahulu, karena masih terasa berat mata ini untuk dibuka. Aku harus melalui proses satu persatu; mulai kugerakkan sedikit demi sedikit seluruh anggota badanku, mulai dari tangan, kaki, kepala dan tubuhku yang lain. Setelah terasa lemas, barulah aku mampu mendirikan tubuh ini dan duduk di bibir ranjang kayu dan bambu, tanpa beludru.
Beberapa menit lamanya aku duduk terdiam bagaikan seseorang yang sedang menanti sesuatu, entahlah apa itu. Yang jelas, jujur tubuh ini masih sangat ingin kurebahkan kembali dibantal jelek dan berukirkan peta yang terbuat dari ilerku . Namun, ibuku tiba-tiba datang menghampiriku yang sedang duduk diantara sadar dan tidak. “Heh heh, tangio konolo. Biapae repot dandani sepedah ra kenek-kenek kudu nesu wae kat mau kok, malah die’e panggah turu wae. Ra gek dang tangi gek nandangi opo-opo kono, men bapae ra ngamok kok” . Nada suara dan gerak langkahnya yang seketika itu membuatku sangat terkejut dan takut.
Aku berfikir kalau ayahku sedang mengamuk dan sedang ada ribut di dalam rumahku ini. Namun memang begitulah gaya ibuku setiap membangunkanku dari tidur dikala jam kerja sudah mulai menyapa. Dengan nada bentakan yang namun tertekan karena sengaja ditahan agar suara itu tidak terdengar keras dan luput dari pendengaran ayah. Kalau sampai ayah mendengar ibu sedang ngomel, ayah bukan malah meredam kemarahan ibu, tapi justru akan menambah suasana panas makin terbakar hebat. Ibu selalu menjadikan ayah sebagai alat untuk membangunkanku, agar aku segera bangun dan segera bertindak apa yang harus kukerjakan.
Setelah ibu ngomel panjang lebar di sampingku, ibu beranjak pergi dari kamar. Kemudian, ayah berteriak kepada ibu dengan nada bertanya “Rom mau rong tangi to? Bocah panggah merem ae. Tangekne!” . Mendengar suara ayah yang sangat keras, ibu menjawab bahwa aku sudah bangun, karena tentunya tidak ingin kalau ayahku malah bertamgah marah. Lalu tak lama kemudian aku menyusul ibu keluar dengan langkah demi langkah yang tak karuan arah. Aku berjalan dengan mata yang belum terbuka. Karena sudah kucoba mata ini kubuka sedikit ketika aku sampai di depan pitu kamarku, namun sinar matahari yang begitu panas menyelusup masuk rumahku lewat cendela ruang tamu dan langsung menuju tepat di mataku, sehingga mata ini tak berdaya dan harus kupejamkan lagi. Antara sadar dan tidak.
Sambil berpegangan dinding papan rumahku, aku bermaksud akan menuju sumur belakang rumah yang masih menggunakan kerek manual dan tanpa tadeng aleng-aleng . Suasana yang sangat malas untuk menyentuh air, berat untuk bangun dan bekerja, hawanya ingin selalu tidur. Tak lama kemudian, aku berdiri sejenak di ruangan kosong yang biasanya kami gunakan untuk menumpuk padi seusai panin, maksudku tak lain adalah untuk mencoba membuka mataku dengan sempurna sebelum aku menginjakkan kaki di ruang dapur milik ibuku.
Mata belum terbuka. Tiba-tiba ayah menyuruhku dengan nada berteriak, sangat keras. Hal itu membuatku sangat dan sangat terkejut. Dada berdetak kencang dan alirah darah seakan berhenti sejenak. “Jikokne petel rom!” , ayah menyuruhku mengambilkan palu yang mungkin untuk keperluannya memperbaiki sepeda yang kini sedang ia kerjakan. Karena mata ini masih sangat berat dan sangat kurang mungkin untuk dipaksakan, meskipun dalam kondisi apapun. Aku merasakan itu. Akhirnya dalam panggilan ayah yang pertama aku tak mampu bereaksi apa-apa. Ayah bertambah kesal, nada suara akhirnya ditambah oleh ayah dengan sedikit membalik kata panggilan yang pertama, “Rom, jikokne petel!” .
Belum juga panggilan yang kedua ini kuturuti perintah ayah. Aku masih dalam kondisi lemas dengan kepala nengkleng bagai orang teler kebanyakan minum alkohol. Masih antara sadar dan tidak, sehingga aku belum mampu untuk menuruti apa kata ayah yang kedua ini, intinya sama, untuk mengambilkan palu yang tempatnya entah di mana. Pastinya tidak sedang berada bersama dengan peralatan bengkel yang lain. Karena tempat peralatan semuanya telah berada di samping ayah, nampaknya hanya palu yang belum tersedia.
Mungkin ada di tempat lain, dan mungkin saja sedang dipinjam tetangga yang belum dikemalikan. Biasa, saking merakyatnya hingga persoalan pinjam-meminjam adalah hal yang biasa dan bahkan ada beberapa tetangga yang sering menyepelekan persoalan pinjaman milik orang. Tidak berfikir bahwa yang punyapun sedang membutuhkan. Dan kebetulan yang punya juga pelupa. Ya, ayah paling kesal dengan tipe orang peminjam semacam ini.
Panggilan kedua yang tak kuhiraukan, aku masih dalam dunia yang tak jelas antara nyata dan impian. Hingga aku tak sepatah katapun merespon teriakan ayah, “iya, nanti” kek “iya, bentar” kek “ada apa” kek “di mana” kek dan lain sebagainya yang penting ada kata yang keluar dar mulutku untuk mespon teriakan ayah. Semua itu tak kulakukan. Mungkin hal itulah yang membuat ayah sangat kesal dan kumisnya bagai terbakar.
Namun, ayah belum putus asa sampai dua kali panggilan ini. Sekali lagi ayah ingin memastikan sifatku kali ini yang mungkin dianggapnya paling melawan dari sikapku yang lain. Kini teriakan ketika hanya nampaknya disingkat dengan kata yang lebih sempel, dan karena mungkin sudah muncak kekesalannya, “Rom, petel” . Mulutku dalam kondisi diam dan tak terucap mendengar seruan ayah yang ketiga kalinya ini, namun kakiku kupaksakan untuk melangkah kali ini dengan serius, meski benar-benar terpaksa.
Dalam otakku yang tolol dan dedel ini sama sekali tak terlintas bahwa ayah akan melakukan tindakan apapun. Padahal, kalau aku dalam kondisi sadar tidak bangun tidur, aku sudah berfikir bahwa ayah akan melakukan tindakan anarkis terhadapku, apalagi tindakan ini sangat melewati batas keinginan ayah. Sehingga aku setidaknya sudah mempersiapkan tenaga cadangan untuk menahan seberapa keras pukulan ayah, yang jelas bukan persiapan untuk melawan, karena itu jelas tak mungkin. Tapi entah kali ini, di hari yang misterius ini. Begitulah mungkin kalau orang sedang bangun tidur, terutama aku. Wajar, namanya bangun tidur, apa yang menjadi kebiasaan akan punah dalam sekejap. Tak ada persiapan, apalagi kekuatan.
Dalam jalanku yang penuh dengan keterpaksaan ini, aku berniat mencari di mana palu itu bersembunyi. Namun, karena aku tak bersuara sama sekali mendengar peritah ayah, mungin aku dipikir masih belum bangun dan belum juga menjalankan perintahnya. Dalam kondisi kesal, nampaknya aku juga setengah sengaja untuk tidak bersuara menanggapi panggilan ayah itu. Menurutku, seruan ayah yang begitu keras dan kasar membuatku makin kesal saja dan tidak pantas untukku. Itu menurutku sebagai anak yang dalam usia muda, penuh ego dan emosi.
Akhirnya, kondisi jalan yang masih setengah geloyongan, ketika mata sedikit terbuka tiba-tiba sanar matahari dalam hari yang begitu panas menyorot mata, kepala pusing baru bangun dari tidur, sama sekali tak terlintas dibenakku kalau ayah akan melakukan hal yang membuatku sangat terkejut. Ayah tiba-tiba saja melayangkan pukulan tangan kanannya tepat di telingaku bagian kanan. “Nging...!”, rasanya telingaku merasakan pukulan ayah kali ini. Benar-benar terasa. Apakah ini rasa yang nikmat? Tentunya tidak, namun nikmat bagiku. Jangan seklai-kali ingin mencobanya, apalagi dalam kondisi yang sama denganku.
Aneh, entah syaitan apa yang merasup dalam otakku. Hingga tiba-tiba aku teringat prinsip salah satu dari temanku tentang kenakalan terhadap ayahnya. “Bapak ngaplok, dewe ngaplok. Bapak nujah, dewe nujah. Bapak mestol, dewe yo mestol” . Namanya Anto, dia anak Bumiagung temanku bermain jika aku sedang bermain di tempat nenek. Dia preman kelas tanggung begitulah, yang satu group dengan kakak keponakanku, namanya Ari Wahyudi yang sering kupanggil kak Yud. Namun teman-temannya lebih akrap dengan panggilan Belang. Tak tahu jelas apa alasannya.
Setelah aku teringat kata-kata Anto yang pernah diucapkan di hadapanku, kemudian sesaat setelah ayah memukul telingaku sambil ngomel-ngomel panjang lebar entah apa isinya, yang jelas aku sudah tak lagi peduli. Mataku kini terbuka lebar dan aku dapat melihat denga jelas apa yang ada di sekelilingku. Terutama tepat sekali dengan apa yang ada lurus di hadapanku. Parang bancah yang terselip di papan dapur ibu nampak jelas sekali di mataku, kebetulan letak parang itu tepat sekali di depan ketika aku membuka mata lebar-lebar dan mataku telah sempurna melihat isi dunia.
Ayah terus bicara panjang lebar yang tetap saja belum dengan pasti dapat kuresapi apa yang dikatakannya padaku. Aku sama sekali tak sadar bahwa aku adalah manusia dan yang berbicara di sampingku adalah ayahku sendiri. Aku tak sadar bahwa aku kini berada di dalam rumahku sendiri. Entah, jangan tanyakan mengapa ini bisa terjadi. Jika aku mampu menjawab, berarti tak ada yang bisa kubicarakan dan kupertanyakan dalam diriku.
Dengan cepat, secepat kilat. Dengan tingkat emosi yang begitu tinggi, setinggi manusia kerasupan jin iprit. Dengan langka tegap, setegap Patih Gadjah Mada. Begitulah kira-kira apa yang kulakukan untuk lari mengambil golok yang sedang terselip di papan dapur itu. Aku harus mengambil parang itu dan kamudian akan ku tebas di tubuh ayah. Akan kulawan dengan dengan tangan kosong rasanya tak mungkin dan aku pasti akan kualahan. Akhirnya jalan syaitan inilah yang merasuk dalam pikiranku.
Aku lari mengambil parang panjang itu, dan kemudian ayah langsung kukejar seketika tanpa menunggu aba-aba apapun. Mungkin ayah kaget, dan mungkin tak pernah terlintas dibenaknya kalau aku akan melakukan hal demikian. Jangankan harus sampai menebasnya, melawan dengan mulut saja sama sekali aku tak pernah. Namun, sekali lagi entah mengapa kali ini aku begitu berani tanpa berfikir apapun resikonya.
Dalam seketika, mungkin ayah hampir tak percaya kalau aku akan benar-benar menebasnya dengan parang yang sangat panjang itu. Namun, setelah langkahku makin dekat mendekati ayah, dan klebatan itu dengan optimis aku ayunkan, barulah kemudian ayah lari terbirit-birit untuk menghindari kelakuanku. Aku tak berhenti sampai di sini ketika ayah lari, namun kemanapun ayah lari tekadku ayah akan terus kukejar sampai kena.
Langkah demi langkahnya terus menghantar ayah sampai pada lokasi persawahan yang lumayan jauh dari rumahku maupun perumahan desa kecil ini. Aku tak peduli, akan kukejar terus ayah sampai dia kena. Herannya, akupun belum lelah dan bahkan aku terus makin keras melajukan lariku. Namun entah mengapa, ayahku juga nampaknya makin kencang saja larinya dan bahkan tidak makin surut sedikitpun. Kami berdua selalu dalam jarak yang tak pernah berubah, makin dekat tidak, makin jauhpun tidak.
Untung waktu sudah pukul 15.00 wib, sehingga para ibu-ibu dan bapak-bapak tani sudah bertaburan di sawahnya masing-masing guna meneruskan penanaman padi yang belum kelar.
Akhirnya, aksi kejar-kejaran antara ayah dan anak ini menjadi hiburan para petani yang sedang capek bekerja. Namun, juga menjadi tragedi yang membuat para petani juga panik tak karuan. Terutama ibu-ibu yang memiliki jiwa lembut dan selalu main perasaan. Begitu kata banyak orang. Namun, para bapak-bapak tidak tinggal diam melihat pertunjukan ini, mereka ikut mengejarku dengan maksud untuk menghentikan pengejaranku kepada ayah. Pakde Suminto, Lek Tatok dan Pakde Sodek diantaranya yang petama kali mengejarku.
Di tengah-tengah sawah ketika aku sedang berlari mengejar ayah, kami berdua berlari di atas galengan sawah yang begitu kecil. Sehingga membuat kami sempat jatuh bangun di persawahan milik orang yang sebagian sudah tertanami padi. Heran, ayah yang sebelumya memiliki jiwa keras dan kolot terhadapku, bisa ketakutan dan lari kalang kabut kukejar. Ada apakah? Aku juga tak tahu. Setelah banyak ibu-ibu yang berteriak meminta agar aku berhenti melakukan pengejaran tehadap ayahku, entah mengapa tiba-tiba aku sadar bahwa aku melakukan hal yang kurasa itu adalah gila.
Namun aku tak berhenti, kepalang tanggung pikirku sudah dalam pertengahan. Akan tetapi kemudian aku menangis sambil berlari, menangis karena banyak hal yang kurasa itu adalah sesuatu yang sangat menyedihkan bagiku. Hampir tak bisa kubahasakan dalam kata dan tulisan. Berlari, karena untuk mengobati rasa maluku terhadap orang-orang yang sudah menyaksikan kelakuan bejatku. Rasanya aku masih gengsi untuk menghentikan pengejaranku terhadap ayah. Ya, akhirnya mengejar sambil menangis itulah yang mampu kulampiaskan.
Jujur, dalam hati sebenarnya aku ingin menghentikan pengejaranku ini. Namun itu tadi, rasa gengsiku yang masih melekat sebagai anak muda masih tinggi. Pengejaranku detik-detik terakhir adalah sebuah hal yang aku paksakan. Hatiku sudah mulai lunak dan seakan sadar bahwa ini adalah hal yang salah. Memang, aku merasa bahwa hal yang salah dan tak mampu untuk kulakukan tidak bisa kupaksakan. Detik inilah, kemudian aku merasakan hal yang mengejutkan.
Aku merasakan ada sesuatu yang melempar kakiku dengan keras dari belakang, hingga aku terjatuh di tengah-tengah sawah milik pakde Sumito. Dalam jatuhku itu, sebenarnya aku benar-benar ingin berhenti melakukan pengejaran terhadap ayah. Namun, kemudian ada sosok manusia yang menindihku dengan tiba-tiba, dia mendekap tubuhku erat-erat. Hampir aku tak mampu untuk menghembus napas dengan leluasa. Apa lagi mukaku yang baru saja jatuh masih dalam kondisi hidung yang menempel dengan tanah liat persawahan. Aku sempat tak mampu bernapas beberapa saat.
Lek Tamjit. Ternyata beliau yang menyerimpung kakiku dari belakang tadi, begitu juga dengan yang mendekapku tiba-tiba. Alasannya, beliau takut kalau kenekatanku untuk membunu akan dilampiaskan kepada orang yang beranai menghalangiku. Yah, akhirnya semua itu lek Tamjit lakukan terhadapku. Dan beliaupun mendapat dukungan dari banyak orang. Hah, dikirnya aku dijadikan sebagai bahan sayembara, siapa yang berhasil menangkapku maka dia akan mendapat penghargaan. Payah.
Sekrumpulan orang datang untuk mengintrogasiku dengan gayanya yang sok mirip wartawan, bahkan lebih licin pertanyaannya dari wartawan. Sedangkan ayahku disarankan oleh orang-orang yang ada untuk segera saja pulang ke rumah. Begitu juga dengan aku yang tak lepas dari pegangan lek Tamjit. Mungkin masih dikhawatirkan kalau aku akan melakukan hal yang serupa lagi. Hah, padahal aku sudah sadar dan normal, dalam pikirku aku tidak lagi aka melakukan hal konyol itu lagi.
Ibuku. Oh, setelah tibaku di rumah, ibuku sedang terkapar di rumahku. Tak sadarkan diri melihat kelakuan putranya yang satu ini. Apapun yang terjadi dengan aku dan ayahku tadi, mungkin ibuku tidak akan tahu apa-apa. Ayahku meninggal karena dibunuh anaknya sendiri, atau sebaliknya andaikan terjadi perkelahian dan aku yang tewas dibunuh ayahku sendiri, dan lain sebagainya yang terkait dengan kejadian kami berdua mungkin ibuku tidak tahu sama sekali. Pasrah terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Begitulah mungkin.
Ibu tak lepas dari sekrumunan orang yang menolong kondisi ibu ketika aku sampai di rumah. Aku masih dalam kondisi menangis, entah apa yang aku tangisi. Antara kegilaanku dan lagi-lagi kekerasan ayah yang kurasakan. Belum lagi kondisi ibu pastinya yang membuat aku jadi tambah bingung. Bagaimana tidak, karena hanya ibu selama ini yang dapat menjadi sandaran curhat atas kegelisahanku tentang hidup. Tiada yang lain. Tapi, disatu sisi karena saking dekatnya ibu denganku dalam keluarga, aku sangat sering membuat ibuku sakit dan menangis karena ulahku. Aku sering melawan dengan perintah dan pitutur ibu. Aku hanya berfikir dalam kondsi ibu kali ini. Yang aku pikirkan, andaikan ibu akan dipanggil oleh Sang Illahi, maka siapa lagi yang akan menjadi tempat kumengeluh dan mengadu. Siapa lagi yang akan menjadi penengah ketika aku dan ayah akan ribut kembali. Karena selama ini hanya ibu. Aku merasa bersalah dan bedosa pada ibu.
Ayah. Kami berdua sangat jarang sekali saling tutur sapa, meskipun kami adalah anak dan bapak yang hidup dalam satu atap dalam gubuk kecil dan mungil. Aku adalah anak yang mutlak dari ayah dan ibu. Tapi, untuk saling sapa saja aku dan ayah hanya seperlunya. Jangan pernah peranggapan kalau kami berdua selalu ngobrol santai usai makan malam. Itu semua tak pernah terjadi. Serasa kurang sempurna nuansa keharmonisan keluarga ini kawan. Karena apa? Karena aku menganggap bahwa ayahku adalah sosok yang paling sangar di dunia, melebihi sangarnya harimau dan singa serta binatang-binatang lain yang sering kusapa hampir setiap hari di desa yang sebagian masih hutan belantara ini. Belum lagi sifat ayah yang sama sekali tidak pernah menganggap apa yang kubicarakan adalah hal yang tidak pernah bermutu dan tanpa bobot kualitas. Aku bagai anak tak berguna, mutu dan tolol.
Hatiku lega, setelah melihat ibu yang mampu menggerakkan sedikit tubuhnya. Nampaknya ibu kini akan mulai siuman dari tidak sadarkan diri yang cukup lumayan lama. Ya, ibu sadar dan kemudian diberi minum oleh bek Tarsem yang kemudian dibantu oleh ibu-ibu tetanggaku yang lain. Lagi-lagi ibu menangis. Jelas kalau ibu menangis, jangankan melihat fenomena yang baru saja terjadi, dengan kata-kataku yang sedikit nylekit saja ibu sudah mngucurkan air mata. Ibu memang penangis. Ya, mungkin itulah sifat kebanyakan wanita yang memiliki jiwa perasaan sangat kuat.

5. Keluarga dan Desa Kutinggalkan
Aku, Tahun 2002...
Setelah semua kondisi telah labil, aku tidak diberkenankan oleh ibu untuk tidur malam di rumah. Takut, jika ayahku akan melakukan tindakan nekad yang mampu membahayakan diriku. Rasanya tidak mungkin jika seorang ayah akan membunuh anaknya sendiri. Tapi, problematika sosial demikian telah banyak terjadi dan ibu telah sering kali mendengar tentang itu, anak dibunuh oleh ayah kandungnya sendiri.
Namun jika pagi hari menyapa, ibu menyarankanku agar segera pulang sebelum matahari muncul dari ubuh timur. “Sampean turuo mae bokde Wiji opo mae Nanang opo terserah mae sopo aelah, seng penteng ojo turu neng omah disek. Tapi, lek isuk-isuk banget kae sampean dang-dang balek, gek nandangi gaean opo ae senga pantes ditadangi; makan mentok, ngetokne kebo apo-opo lah. Seng penteng ojo manceng nesune bapakmu” . Begitulah ibu menasehatiku untuk mencegah munculnya amarah ayah lagi. Lalu ibu menambahkan, “Wes wateke bapae kolot, ditambah anae yo dablek ragelem ngalah pisan”.
Aku sangat kasihan melihat perjuangan ibu untuk selalu mendamaikan aku dan ayah. Namun, entah sampai kapan perjuangan yang penuh memakan beban jiwa dan raga seorang ibu ini akan terus berlanjut. Semoga Allah akan segera memberikan jalan yang terbaik. Amiin!
Makin lama, dalam hitungan hari pikiranku berubah makin sedikit dewasa, menuruku. Aku sudah sedikit mengerti akan perasaan kasihan terhadap ibu. Namun, entah apakah ini dewasa atau tidak. Memiliki jiwa kasihan pada ibuku hari ini adalah pikiran dewasa bagiku. Aku merasa bahwa keberadaanku di rumah hanyalah makin menambah beban berat bagi ibu. Hubunganku dengan ayah yang tak pernah harmonis hanya akan terus membuat ibu makin pusing dan terus tak pernah tenang jiwanya.
Apalagi setelah kejadian hari kemarin, sama sekali dalam waktu tiga hari ini aku dan ayah tak pernah saling sapa. Ayahpun tak pernah menyuruhku melakukan apapun, baik itu pekerjaan ringan maupun berat. Sedangkan aku, aku hanya menuruti perintah ibu yang dirasa tidak akan menimbulkan ayah marah. Gerakku dikendailakan oleh ibu. Aku bagai robot yang setiap langkah harus diremot oleh seorang penciptanya, wanita handal dari desa kecil.
Ya, hidupku terasa lebih kaku akhir-akhir ini. Berpapasan dengan ayah saja kami berdua hanya saling diam dan tanpa saling tatap muka. Aku selalu salah tingkah ketika secara tidak sengaja kami berdua berpapasan atau dalam satu tempat yang tidak kami rencanakan untuk bersama. Akhirnya kebersamaan itu tidak berlangsung lama, dengan gayaku aku selalu ingin menyibukkan diri agar kemudian kami berdua berpisah pada tempat yang berbeda.
Yang aku lebih kasihan pada ibu, ternyata hal demikian juga terjadi pada ibu. Ibu ikut-ikutan tidak pernah disapa oleh ayah. Karena ibu dianggap membela aku sebagai anak yang salah. Itu memang kejadian yang bukan kali ini saja, namun memang setiap kali aku dan ayah berantem ibu selalu ingin memisah dan sebagai penengah. Namun, ayah selalu tidak mau mengalah dan menganggap bahwa ibu ingin membela anaknya yang salah. Aku jadi kasihan melihat kondisi ibu kali ini.
Hari-hariku hanya penuh dengan perenungan dan hayalan. Aku bingung dan sibuk mencari di mana aku harus lari. Semua itu hanya pleaning yang tak penah diketahui ayah dan ibu. Di sawah, di kamar, di teras rumah, di bawah pohon belimbing deman rumahku bahkan di mana saja aku berada selalu berfikir ke mana aku akan pergi. tapi siapapun tiada yang tahu, termasuk teman dekatku, Nanang. Keinginanku ini menggeluti pikiranku selama empat hari, hingga genaplah satu minggu sampai hari ini dari kejadian aku bertengkar denga ayah yang sampai hari ketujuh ini aku belum juga saling sapa dengan ayah. Ini adalah dosa besarku pada orang tua. Ya, dosa besar yang tak tahu harus kutebus dengan apa dosaku ini. Jangankan selama satu minggu, tiga hari saja tidak saling sapa dengan orang di sekelilingnya dengan latar belakang pertengkaran adalah hal yang dosa, apalagi ini dengan ayahku sendiri. Tapi fenomena ini adalah kejadian yang menjadi rutinitas antara aku dan ayah. Aneh!
Minggu, 10 November 2002, tepat sekali dengan hari dan tanggal kelahiranku. Aku tidak mengatakan hari ulang tahunku. Karena aku tidak mengenal kata ulang tahu, sebab tak pernah satu kalipun yang namanya aku memperingati hari ulang tahun, meskipun sekedar among-among . Pada hari inilah, ketika aku sedang melakukan agenda rutinitasku, yaitu di sawah untuk menyelesaikan tampingan . Nampaknya kerja hari ini sangat nampak lelah bagiku, pikiranku resah dan gundah. Yang terlintas di benakku adalah hanya mencari ke mana aku harus pergi. Dan jika perlu, ada satu teman yang senasip denganku agar bisa kuajak pergi bersama entah kemana, biar lebih tenang jika bersama teman. Namun tak ada nasip serupa datang menyapa hari ini.
Aku duduk termangu di galengan sawah, dengan daguku kuletakkan diujung pegangan cangkul yang kugunakan untuk menamping sawah. Hanya dengan berteman sebatang cangkul sebagai sahabat sejatiku tiap hari dan disaksikan tanah-tanah berlumpur yang akan siap ditanami padi oleh ibu. Aku melamun, memikirkan nasipku yang begitu malang. Ah, mungkin ini berlebihan. Tidak, ini adalah kenyataan yang kurasakan.
Tiba-tiba, terlintas dibenakku soal obralan tadi malam bersama orang-orang tua di desa kecilku. Lek Usup, beliau adalah tetangga yang rumahnya berdampingan dengan rumahku. Beliaulah yang mengatakan tadi malam, tentang putra Mbah Syahri yang baru saja datang entah dari mana. Maklum jika putra Mbah Syahri ini belum terlalu dikenal oleh masyarakat desa kecil ini. Karena Mbah Syahri sendiri saja belum begitu lama tinggal di desaku. Beliau adalah pendatang baru, namun memiliki wibawa yang luar biasa. Dengan cepatnya beliau dituakan oleh penduduk Sukapulih IV (empat), yaitu karena ilmu yang dimilikinya. Ya, beliau ditinggikan derajatnya karena ilmunya, tapi bukan karena pangkat dan jabatan.
Mbah Syahri pandai mengaji dan pandai ilmu agama, beliau sudah tua berputrakan tujuh dan semua sudah dewasa. Di sinilah mungkin letak wibawanya, karena ilmu. Tak satupun putra beliau yang tinggal bersamanya, letak kepergiannyapun kurang kupahami kemana seluruh putranya berada. Yang jelas hanya satu yang sudah menikah, namanya mbak Ruroh, dia adalah putri pertamanya. Aku hanya tahu namanya dan tahu kalau Mbk Rurah sudah menikah, tak lebih dari itu. Karena kebetulan dia dan suaminya, Kang Salam pernah main ke rumahku saat pertama kali Mbah Syahri datang ke desa ini. Aku lebih paham Mbah Syahri dibanding putra-putranya.
Jelas, karena pertama kali beliau menginjakkan kaki desa kecil ini, yaitu rumahku sebagai tempat tinggal sementara. Menunggu semua perlengkapan dan kebutuhan tempat tinggal Mbah Syahri siap untuk di tempati. Aku tidak tahu bagaimana sejarah hubungan antara ayahku dengan keluarga Mbah Syahri, yang jelas bahwa ayah sudah kenal dengan Mbah Syahri sebelumnya, sehingga kemudian alasan itulah yang menjadikan kami hidup dalam satu rumpun, meski sementara.
Badrun, itulah nama panggilan putra mbah Syahri yang dimaksud oleh lek Usup tadi malam. Aku cukup memanggilnya dengan singkatan saja, kang Ron. Kalau tidak salah, tadi malam aku mendengar kalau kang Ron ini baru pulang dan tinggal di ramah sudah dua hari ini. Kemudian esok ia akan segera pergi lagi. Namun kemana tempat ia pergi itu yang tak diketahui pula oleh lek Usup. Sayang.
Lalu semua itu tidak kupikirkan lama dalam lamunanku bersama si cangkul tajam yang sebenarnya milik ayah ini, berhubung ayah tidak ke sawah, akhirnya aku yang memakainya. Langsung aku meluncur menuju rumah mbah Syahri menyusuri kotak demi kotak sawah yang ada. Ini adalah jalan alternatif, karena tidak memakai sepeda, jadi sangat mudah untuk menuju rumah mbah Syahri dengan berjalan kaki. Bahkan lebih cepat dari pada lewat jalan yang biasa dilewati dengan sepeda.
Sampai di halaman rumah mbah Syahri aku langsung saja berteriak memanggil mbah Syahri. Aku memang sudah memiliki ikatan emosiaonal yang kuat dengan beliau. Itu terjadi ketika beliau masih tinggal bersama keluargaku. Disamping itu, beliau juga sangat memprihatinkan kondisi desaku, baik itu dari segi anak muda maupun kalangan tuanya dalam segi bergaul dan beragama. Tak heran pula ketika mbah Syahri sangat dan sangat sering menasehatiku untuk sekolah dan kalau tidak mondok saja di pondok pesantren untuk menuntut ilmu, katanya.
Ah, mondok, pikirku dalam hati di setiap beliau menasehatiku. “Opo penae neng pondok!” , grutuku. Bahkan aku pernah tawuran diajak kakakku yang bernama kak Yudi dengan anak pondok yang berada di daerah Bumiagung, yang diasuh oleh Kiai Mudakir. Pasalnya, salah satu anak pondok ada yang sumbar dengan mengaku bahwa anak pondok pandai berkelahi dan tidak takut sama siapapun. Ah, kakakku Yudi yang mreman satu sekolahan MTS Nurul Huda tidak ada yang berani akhirnya panas dan akhirnya turun tangan. Akupun harus terlibat karena diajak.“Bujang prapatan” , begitulah mbah Syahri memberi julukan kepada pemuda yang ada di desaku, secara otomatis aku juga termasuk di dalamnya dong.
“Mbah Syahri...! mbah...! mbah Syahri...! nendi sampean?” , teriakku memanggil beliau untuk mengetahui keberadaannya. Sayang, aku belum mampu menerapkan bahasa jawa halus atau romo inggel kepada beliau. Ceplas-ceplos saja aku bicara dengan mbah Syahri. “Hem...kae...putumu teko kae pak...! dengaren rene enek opo kae?” , teriak mbah Nah istri tercinta mbah Syahri yang muncul dari samping rumah. Terlalu dekatnya mungkin aku dengan keluarga ini sehingga aku dianggap cucu sendiri. Oh...asyiknya, nuansa desa yang benar-benar menggoda.
“Enek opo to yo, kok bengak-bengok ki...? kono, madang neng pawon kono. Teko ngendi tasan iki mau?” , sapa mbah Syahri yang kayak wartawan kehausan informasi. Setelah kuturuti dan kujawab semua pertanyaan dan perintah mbah Syahri, aku tidak langsung menanyakan dan menceritakan maksud dan tujuanku datang. Aku hanya basa-basi dengan berbagai pertanyaan dengan criwisnya, entah tentang apa saja yang tak jelas jluntrungnya. Sambil mataku lirik sana lirik sini, tak lain untuk melihat di mana keberadaan putranya yang berdasarkan kabar burung dia pulang ke rumah dan akan pergi lagi hari ini juga.
Namun, tak lama kemudian muncullah sosok pemuda bertubuh pendek tapi dempal. Ya, tubuhnya pendek sependek saya, namun besar badannya jauh beda denganku, dia lebih besar. “Ki anae lek Sari...! seng bien aku manggon sementara pas saurunge manggon omahe dewe iki...!” , begitu mbah Syahri memperkenalkan saya dengan putranya yang bernama kang Badrun Machmud. “La kae anae mbah seng nomer telu...!” , lanjutnya beliau menjelaskan padaku tentang kang Badrun.
Aku melihat memang kang Ron sedang sibuk membereskan perbekalan sesuatu yang nampaknya akan melakukan perjalanan jauh. Kemudian mbah Sahri menjelaskan padaku kalau putranya yang satu ini akan pergi bersama dengan anak lek Parmen. Ya, kata mbah Syahri sih memang kang Ron pulang hanya untuk mengambil putranya lek Parmen yang bernama Jamalin. Katanya dia akan melanjutkan sekolah SMA di daerah yang kebetulan dekat dengan tempat tinggalnya kang Ron, di sana juga ada saudaranya. Selalu berputar cerita mbah Syahri, namun tak sekalipun beliau menyebutkan lokasi di mana dan mau kemana putranya itu tinggal.
“Aku melok mbah! Pokoe aku melok. Raenek tapi-tapian” . Teriakku sama mbah Syahri yang secara otomatis berarti aku telah meng-cancel penjelasan mbah Syahri yang begitu panjang lebar. Sebenarnya, selama mbah Syahri menjelaskan yang ada dalam pikiranku hanya, “ikut, ikut dan ikut”. Apa lagi ditambah dengan adanya jamalin, putra lek Parmen yang waktu itu belum terlalu dekat denganku. Karena memang pergaulannya agak berbeda sedikit. Dia aliran agak putih, sedangkan aku aliran hitam nan kelam.
“He, adoh lo aku lungone...! Emoh aku lek mengko sampean ora betah. Aku males ngeterne balek pokoe” . Begitulah kang Ron meneriaiku disaat aku sedang berlari menuju pulang guna ingin mempersiapkan kebutuhan dan mencari uang pesangon, dari sang ibu pastinya. Teriakan itu tak lagi kuhiraukan, apalagi kudengar, sama sekali tidak. Aku terus berlari menyusuri persawahan menembus jalan penuh berduri milik lek Tatok yang belum tergarap. Ah, hanya demi kepergianku semua rasa tak lagi menjadi kendala.
Aku sangat semangat sekali, bahkan lariku sampai jatuh bangun di persawahan milik lek Supadi yang sudah tertanami padi. Aduh, dia marah-marah padaku, dia berteriak habis-habisan terhadapku. Memang, orang satu ini adalah tipe orang desa yang sok kritis, galak dan sok tegas. Namun sayang, di desa sekecil ini tak akan berlaku sifat kritis. Bersifat kritis hanya akan menjadi orang yang diasingkan, karena justru cenderung tidak merakyat. Kecuali tidak tanggung-tanggung. Artinya, seseorang yang kritis namun berani bertindak untuk mengambil satu sikap dan keputusan yang mampu merubah desa dalam segi apapun yang positif. Kalau hanya sekedar setengah-setengah, maka akan membuat dirinya makin terpinggirkan. Harus tahu, bahwa masyarakat itu sebenarnya sangat kejam.
Keringat bercucuran membasahi seluruh tubuhku, nafasku ngos-ngossan bagai anjing yang baru saja lari jauh mengejar mangsanya, urat nadiku berdetak kencang bagai beduk yang sedang ditabuh. Namun aku tak mau merasakan itu semua. Ibu terkejut yang sedang asyik dengan racian bumbu untuk menyiapkan makan siang nanti. “Nyapo to sampean ki? Koyo wong diuber maleng ae” .
“Aku jalok duwi’e, aku arep melok kang Ron budal” , aku memaksa ibu agar memberiku uang untuk biaya transportasi. “Melok nendi lo? Aneh-aneh ae. Memange kang Ron arep nengendi?” , ibu menjawab dengan penuh pertanyaan dan kebingungan. Nemun lansung kujelaskan bahwa aku sendiri tidak tahu ke mana kang Ron mau pergi. Yang kutahu pokoknya aku harus ikut serta bersamanya, ke manapun dia pergi.
Terus terang, aku hanya berani memaksa ibu meminta uang ketika ayah sedang tidak ada. Ayah sedang bernostalgia dengan kerbau peliharaan keluarga kami di kandang kerbau belakang rumah. Ya, begitulah hari-hari ayah yang sedang suntuk maupun dilanda masalah. Menurutnya, dengan menatap peliharaan-peliharaan itu bisa membuat hati dan pikirannya lega dari sekian masalah ringan yang menimpa. Sama sekali ayah tidak tahu tentang rencanaku ini.
Sedangkan ibu, beliau sebenarnya mendukung akan kepergianku, namun beliau mengharap agar aku izin pada ayah supaya semua tidak menjadi beban jika ayah megizinkan. Menurut ibu, kehadiranku di rumah hanya membuat emosi ayah terus bangkit. Kedua, ibu juga tidak tega melihat keadaanku yang selalu berantem antara anak dan ayah. Di sisi lain, ibu juga sangat percaya dengan kang Badrun, putra mbah Syahri yang sudah memiliki pemikiran dewasa ini. Meskipun ibu juga merasa tidak enak karena mungkin hanya akan merepotkan kang Badrun saja.
Akhirnya, ibu memberiku uang sangu sebesar Rp. 200.000,-. Ya, tak lebih dari itu. ibu memang benar-benar tidak memiliki uang banyak waktu itu, muslim lagi peceklik. “Cukop gak kae? Rom mek tak gawani sangu rongatos” , begitu ibu bertanya pada kang Ron ketika kami semua akan berangkat. Aku ingat sekali, uang itu ibu curi dari tabungan keluarga yang akan digunakan untuk keperluan penanaman padi. “Engko mboan bapakmu tekok entok duwek teko endi? Awakmu jawab, nyileh mae bek Ton ngono yo.” , begitulah ibu memasang strategi pembohongan guna menyukseskan kepergianku. Aku ikuti saja saran ibu, karena aku sayang dan setengah tidak tega meninggalkannya. Aku takut kalau ayah berbuat kasar pada ibu, hanya itu.
“Gowo sarung, ge jogo-jogo mboan adem. Lek enek yo klambi-klambi seng enek kerahe, utowo klambi lengen dowo, lek duwi. Oyo bek, ijazah-ijazah lek enten dibetakne mawon. Boan enten gunane damel nglamar pekerjaan” . Begitulah kang Ron mengingatkan kebutuhan yang harus dibawa olehku. Entah, apa yang tersembunyi dibalik semua yang kang Ron harapkan. Ya, nampaknya ada yang sedikit disembunyikan dari kami. Ah, masa bodoh. Toh sama sekali aku tidak punya pikiran apapun saat ini tentang semua itu. Yang kutahu pokoknya aku pergi dari rumah dan selamat tinggal papahku yang galak. Ah, XL (Extra Lebay).
Kepergianku hanya disaksikan oleh bek Tarsem dan bek Har. Ya, kebetulan beliaulah yang tetanggaku yang rumahnya berjejeran dengan rumahku. Namun tak luput juga ibu dan ayah menyaksikan kepergianku. Akan tetapi, ayah sepatah katapun memberikan wejangan kepadaku sebagai bekal kepergianku. Ayah hanya diam, diam entah apa yang beliau pikirkan. Hanya lirikan mataku yang selalu melihat ayah sedang duduk bersandarkan dinding ruangan tamu rumahku.
Entah ada apa dengan perasaanku ini. Aku seakan tidak tega melihat ayah kutinggalkan dalam posisi duduk penuh kasihan. Nampaknya ayah benar-benar capek karena pekerjaan petani yang sangat memeras tenaganya. Yang ada dalam pikiranku ketika saat ini adalah, siapa yang akan membantu ayah bekerja di sawah, betapa capeknya ayah menggarap sekian banyak pekerjaan berat di sawah seorang diri, hanya ditemani seorang wanita yang tidak seberapa hasilnya jika bekerja di sawah, ibu. Oh...aku sangat kasihan dan seakan tak tega meninggalkannya.
Namun, di satu sisi jika aku teringat semua akan perlakuan ayah terhadapku, aku benar-benar kesal dengan ayah dan serasa ingin meninggalkan jauh-jauh ayah selamanya. Kini aku hanya kasihan pada ayah dan ibu. Takut kalau ibu akan disakiti oleh ayah, kasihan dengan ayah atas semua pekerjaan berat yang harus beliau selesaikan. Ah, masa bodoh. Aku tak jarang melirik ayah yang tetap duduk memelas, sekali dua kali lirikanku berbenturan dengan ayah yang juga sedang melirikku. Aku jadi kikuk sendiri. Adakah anak dan bapak yang senasip dengan kami diantara kalian kawan? Semoga tidak.
Akhirnya kami berpamitan untuk segera meluncur menuju sasaran yang belum jelas ke mana aku akan pergi bersama tuan yang akan membawaku, kang Badrun. Beliau seorang diri bagai bapak atau induk ayam yang harus melindungi anak-anaknya. Aku, Jamalin dan mbak Rumanah adik kandung kang Badrun sendiri. Kami semua bersalaman dengan semua orang yang ada di rumahku; bek Tarsem, bek Har, ibu dan ayah yang tetap tak menyampaikan sepatah katapun. Berbeda dengan ibu yang sedikit meneteskan air mata dan melantunkan ucapan “ati-ati neng ndalan. Moco bismillah. Manot karo opo wae seng diomongne kang Badrun” .
6. Di Sepanjang Jalan
Dalam Perjalananku Meninggalkan Kota Halaman, Tahun 2002...
Di sepanjang jalan, di atas bus SAN kami semua harus berdiri karena tidak lagi dapat jatah tempat duduk. Maklum, kami semua memang naik tidak melalui loket, akan tetapi menyegatnya di pinggir jalan. Kata orang, jika naik dengan mekanisme seperti kami ini, uangnya adalah ceperan supir dan penumpang. Terlepas dari benar dan tidaknya aku tak tahu.
Kang Badrun duduk di atas barang bawaan orang yang diletakkan di tengah-tengah antara dua baris kursi yang berjejer, dengan penghuninya yang sedang asyik membaringkan tubuhnya sampai ada yang mengorok. Kang Ron sempat tertidur di atas barang itu. sedangkan Jamalin dan mbak Rumanah juga duduk di kursi serep kecil yang sengaja disediakan oleh kondekturnya jika ada penumpang yang tidak kebagian jatah tempat duduk. Sayang hanya cukup untuk dua orang. Aku, sengaja ingin berdiri dan menolak tempat duduk kang Ron yang sebelumnya sudah ditawarkan kepadaku. Namun aku tak mau. Kenapa? Karena aku tidak ingin menyia-nyiakan perjalananku ini. Aku harus tahu seluruh desa, kecamatan, kabupaten, kota dan apa saja yang akan kami lalui. Bagiku perjalanan ini sangat mengasyikkan. Apa karena aku memang tak pernah keluar jauh dari desaku? Mungkin itu salah satu alasannya.
Dalam perjalanan, tak ada waktu banyak bagi aku dan kang Ron untuk saling mengobrol banyak hal. Jika di dalam mobil, mungkin kang Ron tiada henti-hentinya mengingatkan kami semua untuk memeriksa semua barang bawaan kami masing-masing. Dikala bis sedang berhenti istirahat di rumah makan, waktu itu selalu kami gunakan untuk membersihkan anggota tubuh, kemudian shalat dan diteruskan untuk makan. Shalat. Ya, shalat. Aneh, kini selama diperjalanan shalatku makin aktif saja, padahal, biasanya di rumah hanya maghrib saja. Itupun harus di oprak-oprak ibu.
Entah kenapa, aku tak berani sedikitpun mengelak dari semua tindakan yang diambil oleh kang Ron ini. Padahal, beliau tidak menyuruhku sama sekali. Dia dan adiknya dan Jamalin melangkah ke tempat wudhu, akupun secara otomatis melangkah mengikuti jejaknya. Mereka menuju mushala, akupun mengikutinya. Mereka shalat, akupun harus shalat. Sampai-sampai kang Ron menganggap bahwa shalatku setiap hari sudahlah aktif dan aku seakan-akan tahu semua tata cara dalam shalat; mulai dari meng-qadha, meng-qashar, jama’ ta’khir sampai pada jama’ ta’khir tentang shalat. Padahal, entah niatku itu benar atau tiak, syah atau tidak, yang penting aku hanya mengikuti gerak-gerik kang Ron. Ah, sungguh tololnya aku ini.
Roda bis terus beputar mengikuti jalan lintas timur entah arahnya ke mana. Yang kutahu dan membuatku makin merasa nyaman dalam perjalanan ini adalah, aku nampaknya akan menyebrangi laut yang sangat luas sekali. Nampaknya ini adalah semacam pelabuhan, tapi pelabuhan mana? Aku tak pernah tahu sebelumnya. Jangankan tahu, mimpi dan berharappun tak pernah. Aku memang tak pernah berharap dan bermimpi sejauh perjaanan yangku lakukan ini. Karena menurutku, orang bermimpi dan berharap itu jika dia pernah melihat apa yang akan ia impikan meskipun dalam gambar, berita, baca dan lain sebagainya. Sedagkan aku, aku belum pernah melihat semua hal yang saat ini kulakukan meskipun dalam tayang berita di televisi. Apalagi membaca, sama sekali aku tak pernah. Yang kubaca setiap hari adalah fenomena sawah yang tak pernah berkembang dalam otakku.
Hasil cangkulan yang tak pernah makin bagus dan indah seperti cangkulan ayahku. Hasil tanaman yang selalu tak pernah subur jika aku yang menanam, tak selayaknya biji-bijian hasil dari tanaman ibu. Jika suruh mencari rumput pakan kerbau, yang kudapat hanya rumput-rumput tua yang telah menguning hingga kerbau kami selalu tak doyan memakannya. Hal itu menimbulkan ayah marah-marah dan selalu tiap malam ayah menaburi garam di atas rumput hasil carianku, agar kerbauku mau memakannya meski sedikit. Yang bikin aku makin kesal, jika ayah dan ibu selalu membandingkanku dengan hasil kerja teman-temanku. “Dadi bocah ki mbok koyok Wiwin kae lo, lek kerjo mesti pener ra koyo awakmu” , begitu ibu kalau membandingkanku dengan temanku yang bernama Wiwin ini.
“SELAMAT DATANG DI PELABUHAN BAKAWUNI”. Oh, Tuhan, nama belabuhan ini ternyata bakawuni. Aku tahu nama itu dari tulisan yang terpampang besar di pintu masuk pelabuhan. Sebelumnya memang aku gengsi mau tanya sama kang Ron. Dari sini, aku tetap saja tak tahu ke mana aku akan pergi. Aku hanya melihat satu persatu dari desa, kecamatan, kabupaten dan kota yang akan kulewati. Kota yang berada di seberang sanapun aku tidak tahu, kota apakah di sana? Terangnya bukan main oleh lampu-lampu yang berpijar entah berapa ribu watt untuk menghabiskannya dalam satu malam. Karena kebetulan malam hari kami sampai di pelabuhan Bakawuni. Namun kemerlap lampu di seberang sana nampak jelas nan indah dari kejauhan.
Perlahan bis yang kunaiki merangkak jalan menuju trowongan pintu kapal laut yang sangat besar itu bagiku. Wah, antrinya bukan main. Butuh waktu kurang lebih satu jam untuk sampai di dalam kapal besar itu. Rasanya aku sudah tidak sabar lagi ingin segera berada di dalam kapal yang belum pernah kunaiki, kulihat saja belum. Ternyata di luar benak dan kehidupanku ada kapal yang sebesar ini. Padahal, yang hampir setiap hari kunaiki adalah perahu dayung milik tetanggaku, kang Tandik dan Mang Darsok, yang sering mereka gunakan untuk mencari rumput di tengah rawa-rawa guna membari makan sapinya. Maklum, kalau musim hujan memang susah cari rumput, adanya hanya di tengah rawa dengan jenis rumput yang bernama rumput blembem. Kalau tidak, perahu itu mereka gunakan untuk mencari ikan di rawa.
Sedangkan yang kusaksikan ini, adalah kapal laut yang sangat besar, besar sekali hingga puluhan mobil dengan berat agkutan yang berbeda-beda mampu terangkat di dalamnya. Oh, Tuhan, Maha Suci Engkau dengan segala firman-Mu. Bagaimana sebenarnya Engkau menciptakan segala yang ada di dunia ini? Mulai dari diriku sendiri yang tak pernah berfikir untuk melihat apa yang kusaksikan dan kualami kali ini, namun semua ini benar-benar terjadi.
Setelah menahan rasa ingin yang sangat besar, akhirnya kini kami semua yang ada dalam mobil telah berada di atas kapal besar ini. Menurutku semua ini sangat asyik sekali. Diiringi dengan alunan kapal yang diterpa ombak laut, sangat perlahan kapal besar ini bergoyang mengayun, seakan-akan hanya aku yang merasakan nikmatnya ayunan kapal yang kami naiki, yang lain tidak. Kapal ini bagai milikku seorang. Yang lain syaitan kali...!
Ada hal yang membuatku lebih kaget. Yaitu ketika kang Ron bilang pada kami bertiga, “yo munggahyo. Barange di delekne seng tenanan disek” . Apa! Naik, memangnya mau naik ke mana. Memang ada tempat lagi di atas kapal ini? Dalam benakku penuh dengan tanya. Kalau memang benar-benar ada, sungguh sudah gila dunia ini ternyata, pikirku makin tambah gila mungkin.
Ternyata benar, kami berempat kini mencoba untuk menerobos celah demi celah yang ada di samping kanan dan kiri, depan-belakang mobil-mobil yang ada di dalam kapal ini. Akhirnya kang Ron sebagai komandan kami berhasil menemukan semacam tangga kecil untuk menuju ke atas kapal ini. Tangga demi tangga telah kami lalui, hingga kami semua berada pada lantai kapal paling atas, lantai tiga. Dunia ini memang benar-benar sudah gila, pikirku. Rumah saja yang bertingkat aku belum pernah menginjakkan kaki, melihat rumah bertingkat tak lebih dari setahun dua kali kalau aku sedang bermain ke rumah nenek di Bumiagung. Tetapi ini kapal bertingkat yang bagiku tidak ada di dunia justru aku naiki, ini bukan mimpi.
Dua jam lebih tiga puluh menit laju kapal mampu menyebrangi lautan lepas itu. Gemerlap lampu makin terang, ketika kapal akan melabuh di pelabuhan yang juga belum pernah ketemui, kudengar juga belum apalagi kuinjakkan kaki di pelabuhan ini. Ketika kapal telah berhenti, dan seluruh mabil telah keluar dari perut kapal ini, termasuk bis yang kami tumpangi telah sempurna berada di daratan yang nampaknya telah berada di suatu kota besar. Entah kota apa.
Lagi-lagi aku melihat tulisan yang terpampang besar di pintu gerbang bagian dalam pelabuhan, ketika bis yang kami naiki akan melaju keluar meninggalkan pelabuhan ini. “SELAMAT DATANG DI PELABUHAN MERAK”. Begitulah tulisan yang kubaca, namun aku tak tahu pelabuhan merak itu berada di daerah mana. Yang kutahu detik ini adalah bahwa aku telah sampai pada pelabuhan merak. Tiada lain yang kuketahui.
Ya, akhirnya aku mengikuti saja ke mana bis yang kunaiki ini akan berjalan. Selama kang Ron belum memberi intruksi kepada kondektur untuk berhenti dan menyuruh kami turun dan bekata “kalau kita sedah sampai”, maka akupun tidak akan turun. Hidup kami seolah-olah ada di tangan kang Ron, bukan Tuhan. Karena aku belum mengenal jauh tentang Tuhan.
“Ngerti ra Rom iki teko ngendi?” , kata kang Ron yang mungkin sedikit mengujiku. “Gak ngerti kang” , jawabku dengan sedikit malu. Masa bodoh dengan kamaluan. Kini selama diperjalanan aku selalu merasa, bahwa betapa katroknya diriku, betapa lemahnya aku dihadapan sekian banyak orang di sekelilingku. Apa lagi orang-orang yang baru saja kukenal, seperti kang Ron dan mbak Rumanah. Sama sekali aku serasa tak bernyali.
Teramat sering gambaran wajah ayah dan ibu di rumah dalam benakku. Dalam perjalanan tak mampu kuhitung berapa kali air mata ini menetes dengan sendirinya, karena terbayang-bayang kehidupanku bersama orang-orang yang kusayangi. Aku memang benci dengan ayah, namun kini aku merindukannya. Aku sering melawan perintah ibu, namun kini aku rindu akan bentakan dan suruhannya. Aku rindu adik perempuanku yang masih kecil, Juriah namanya. Dia adik perempuanku satu-satunya yang selalu kumarahi hampir setiap hari. Ya, mungkin sebagai pelampiasanku jika aku kesal sehabis bekerja dan apalagi kalau aku sehabis dimarahi ayah, adikkulah sebagai sandaran amarahku. Aku merindukannya, aku sangat rindu dia.
Ah, sudahlah, sepertinya aku tidak perlu menyesali keputusanku untuk pergi meninggalkan rumah. Tanggung, perjalanan sudah kulalui selama satu malam lebih. Aku tidak tahu, apakah perjalananku ini sudah menempuh sebagian dari tujuan. Yang pasti, aku merasa bahwa perjalananku kini sudah cukup jauh. Biasanya aku naik mobil hanya jika aku ingin ke rumah nenek di Bumiagung, selain itu aku belum pernah pergi jauh dengan naik kendaraan mobil.
“Iki ki teko Jakarta, piye to” , kata kang Ron padaku. Entah, apakah nada itu nada mengejek ataukah nada memberitahukanku tentang lokasi yang saat ini sedang dilalui bis yang kami tumpangi. Aku tidak tahu. Ya Allaah...benarkah ini Jakarta? Jika benar, aku hampir tak percaya dengan realita ini. Sama sekali aku tidak pernah bermimpi dan berkeinginan untuk bisa melihat ibu kota negeriku ini. Mengapakah aku tidak pernah bermimpi dan tak berkeinginan untuk melihat dan mendatangi suatu hal yang menurutku besar dan terlalu berlebihan? Jelas, karena aku selalu merasa bahwa diriku adalah hanya seorang bocah dari keturunan petani. Jika aku memimpikan semua itu, maka aku seakan memimpikan yang menurutku bagai punggung merindukan bulan.
Aku selalu menganggap, bahwa “hidup adalah pilihan”. Akan tetapi menurutku itu salah, tepatnya mungkin “hidup itu adalah tujuan”. Menurutku dua hal ini adalah beda. Hidup adalah pilihan, berarti hidupku sama sekali tak pernah terkonsep dan tak pernah memikirkan masa depan. Selama ini aku hanya menjalani hidup ialah apa adanya. Untuk esok, aku pikir besok. Dan sekarang harus kulakukan apa yang harus kulakukan sekarang. Hanya itu. Jika hidupku adalah tujuan, tentunya aku harus memiliki impian hari ini, untuk masa depan. Dan kemudian apa yang harus kulakukan saat ini untuk meraih impianku.
7. Penjara Suci
Penjara Suci, Tahun 2002...
Selama dalam perjalanan aku selalu penuh dengan hayalan, lamunan dan impian. Membayangkan tempat yang sangat belum terlintas dibenak, harapan dan impianku setelah sampai ditepat tujuan. Tentunya aku akan segera mencari kerja untuk mendapatkan uang sebagi upaya menyambung hidupku. Kalau tidak bekerja, lantas siapa yang akan menghidupiku, dan apa serta siapa pula yang akan peduli padaku. Kang Ron? Itu tidak mungkin jika selama kepergianku harus ditanggung beliau. Aku sendiri tidak tahu apa pekerjaan kang Ron. Pengalaman sebagai buruh saja aku belum pernah. Haduh, jadi takut dan bingung nih. Sudahlah, aku harus menjalani sebuah kenyataan yang menimpaku ini.
Masih terbuai dalam alunan bis yang kami naiki, samar-samar mata ini ingin kupejamkan sesaat lagi. Namun, “siap-siap, barange ojo ngasi enek seng ketinggalan. Wes teko iki” , tiba-tiba suara kang Ron menggema dengan nada lirih namun meyakinkan, bahwa kami telah akan turun dari bis yang kami naiki selama dua hari dua malam. sungguh menjenuhkan, namun mengasyikkan kawan.
Ketika bis telah berhenti dan kami berempat sedang merangkak di sela-sela penumpang bis yang sangat padat, aku tatap tulisan besar di depan bis kami berhenti, “PONDOK PESANTREN HIDAYATUL MUBTADI’IN NGUNUT TULUNGAGUNG JATIM”. Begitulah bunyi tulisan itu. Namun aku memiliki pikiran apa-apa sedikitpun tentang tulisan itu. No coment. Ya, mungkin kebetulan saja tempat tinggal kang Ron adalah dekat pondok pesantren ini, pikirku. Jadi, wajar jika kami harus berhenti di depan halaman pondok yang nampaknya dihuni oleh ratusan santri.
Akhirnya kami semua turun dari bis ini dan mulai melangkah menuju kemana kami akan tinggal. Kuikuti langkah demi langkah ke mana kang Ron melangkah. Semakin lama langkah kang Ron semakin mendekati gerbang utama pondok pesantren Hidayatul Mubtadi’in yang baru saja kubaca tulisannya ketika masih berada di dalam bis tadi. Kini aku mulai berfikir, antara apakah aku akan tinggal di pondok pesantren ini atau kami hanya sekedar lewat di depan pondok pesantren untuk menuju tempat tinggal kang Ron.
Pikiranku makin sedikit kalut, do’aku makin tak tentu dan nglantur tak karuan. “Mugo-mugo ojo neng pondok, mugo-mugo ojo neng pondok” , begitulah do’aku ketika mengiringi langkah kang Ron berjalan. Namun, apa boleh buat takdir memang tidak bisa dirubah oleh manusia, apalagi manusia semacam diriku. Tetapi hanya nasib yang mungkin bisa dirubah. Langkah kang Ron malah makin menuju masuk ke dalam gerbang pondok pesantren ini. “Waduh...payah!”, pikirku dalam hati yang tak berani sedikitpun menolak kehendak jalannya kang Ron, aku hanya terus melangkah mengikuti ke mana kang Ron akan membawa kami semua.
Aku selalu berfikir, jika aku memang benar-benar akan tinggal di pondok ini, apakah aku akan bertahan lama? Rasanya tidak mungkin. Sebab, aku pernah membenci sebenci-bencinya dengan dunia anak-anak pesantren. Masih ingat ketika aku tawuran dengan anak-anak pesantren yang di asuh oleh beliau KH. Mudaqir bukan? Berbuatan itu adalah salah satu bentuk aku dan kakakku, Ari Wahyudi terhadap anak-anak pesantren. Wah, jadi ngeri. Jika pondok yang kumasuki kali ini adalah pondok yang diasuh oleh Kiai Mudaqir, mungkin aku bagai masuk dalam kandang singa.
Akhirnya benar, semua tidak bisa dipungkiri. Kami semua seakan dituntun oleh kang Ron untuk masuk ke dalam ruangan pondok pesantren ini. Masuk dan terus masuk ke dalam, suasana makin sedikit gelap karena sinar matahari tidak lagi mampu menembus ruangan itu. hanya percikan cahaya yang mampu menyelusup ruangan lewat celah-celah kecil, hingga ruangan yang menyerupai terowongan goa itu memiliki sinar cahaya matahari.
Kami berjalan masuk, dengan melewati masjid kecil khusus shalat berjama’ah para santri bersama dengan pengasuh pondok pesantren ini. Aku melihat ada banyak pemuda yang sedang bertafakur, bermunajah, memutar-mutar tasbih dengan khusuknya di dalam masjid. Ada juga yang sedang melantunkan ayat-ayat al-Qur’an dengan suara merdu yang sangat jarang kudengar di desaku. Tak sebatas itu, ada suara tanpan rupa dari pendapa sebelah timur masjid ini, katakanlah bergandengan antara masjid dengan pendapa, karena memang pondok ini sangat sempit dengan bangunan-bangunan. Karena belum masuk lebih dalam, sehingga aku tidak tahu bangunan apa sebenarnya yang membuat suasana pondok ini nampak terlihat penuh degan ruangan-ruangan.
Pagi yang cerah, itu mungkin bagi anak-anak pesantren di pagi ini. Namun, bagiku kali ini adalah pagi yang sangat menyedihkan. Pagi yang menjerumuskanku dalam ruangan pengap tak tahu aku harus berbuat apa. Tak hanya itu yang menyambut kedatanganku pagi ini, akan tetapi ada beberapa santri yang sedang menyapu membersihkan halaman pondok pesantren, ada juga yang memegang kitab kecil, entah apa itu namanya, yang kutahu anak itu mengucapkan lafadznya diulang-ulang, diulang-ulang dan diulang-ulang lafadz yang sama. “Nyapo...kae ki? Gendeng opo piye!” , pikirku dalam hati karena sangat banyak sekali yang bagiku sangat baru di lingkungan ini.
Para santri yang sedang lalu lalang membawa ember dengan bersarung, berkaos serta berkopyah, sandalnya saja pakai sandal teklek , isi embernya berisi pakaian. Mungkin para santri ini akan mencuci pakaiannya, begitulah kiranya. Memang beginikah tradisi anak pesantren? Pikirku dalam hati. Yang lebih membuat aku tambah heran, adalah para santri yang sedang berjalan hampir mengelilingi kota di mana pondok ini berdiri dengan berpakaian lengan panjang, bersarung dan berkopyah. Apa tidak malu dilihat banyak orang?
Aku selalu memikirkan semua hal yang masih mengambang dipikiranku, tetang dunia pesantren atas semua realita yang baru saja kulihat di sepanjang jalan masuk menuju penjara bagiku. Akhirnya, sampailah langkahku pada satu ruangan kecil, sangat kecil sekali yang membuatku makin pengap dan sangat sulit untukku bernafas. Suasana sangat panas, mengucur deras keringatku yang masih berbau tanah sumatra.
Dan taukah kawan, di setiap pinggir dinding ruangan kamar itu dikelilingi oleh puluhan santri yang menyambut kedatangan kami. sosialisasi yang sangat bagus menurutku. Ketika ada teman yang baru saja datang, mereka langsung menyambut dengan ramah dan tamah, menanyakan kabar kesehatan dan kabar rejeki keluaga yang ditinggal. Kami larut terlalu dalam terbawa arus obrolan yang makin lama makin konyol; penuh canda yang membuatku heran dan bercampur kejengkelan. Aku tak tahan dengan keramaian ini. Apalagi aku sendiri yang merasa sangat capek dan rasanya sedang muak dengan obrolan ini. Canda dan tawa. Aku ingin istirahat dan membaringkan tubuhku di atas ranjang. Namun sayang, jangankan ranjang, alas untuk tidur saja tak satupun ada, apalagi ada salah satu dari mereka yang berkenan untuk menawarkan satu saja alas untuk tidurku. Sama sekali tidak. Sungguh keterlaluan! Pikirku, akukan tamu.
Kang Ron malah mempersilahkanku untuk tidur di lantai tanpa sehelai kainpun. Yah, ok lah kalau begitu. Apa boleh buat, semua kuturuti. Tapi sebenarnya aku mengharap satu hal dari para santri edan yang ada di kamar ini, aku mengharap mereka untuk segera pergi meninggalkan kamar ini. Biar suasana tidak gaduh dan membuat istirahatku makin nyenyak. Namun nampaknya itu harapan yang sia-sia.
Akhirnya dengan terpaksa mata ini kupejamkan dengan susahnya. Akhirnya aku tertidur, lumayan pulas. Sampai aku terbangun ketika seorang berbadan kecil, bepakaian rapi dengan mengenakan baju kemeja putih lengan panjang, bersarung dan berkopyah, serta tangan kanannya memegang kain putih, katanya itu bernama surban. Dia menggedor pintu dengan nada teror “dor dor dor...! yo yo yo kang... kang..! sholi-sholi...”. Aku hanya plonga-plongo tak tahu apa maksud orang ini. Setelah semua santri yang tidurnya sekamar denganku bangun, lelaki tadi berjalan dengan mengelilingi seluruh kamar yang ada dengan nada dan ucapan yang sama. Setelah kupikir-pikir kini aku tahu apa maksudnya. Ternyata orang itu tadi adalah salah satu guru ngaji di pondok pesantren ini. Dia menyuruh santrinya untu beranjak melaksanakan jama’ah shalat ashar.
Kang Ron tidak menyuruhku shalat, tapi beliau bilang padaku, “sarong karo klambine sampean tak deleh neng gotaan kae. Terus wudhune neng sebelah kono” , ucapnya padaku sambil menunjuk salah satu kotak tempat menaruh pakaian dan sekaligus tempat berwudhu. Dengan langkah lemas, sama sekali tak bersemangat aku berjalan mengikuti perintah kang Ron. Heran, entah kenapa kali ini aku tidak mampu melawan ataupun membrontak akan sesuatu hal yang sebelumnya sama sekali tidak kusuka. Malah bisa dibilang adalah hal yang paling kubenci. Perkataan kang Ron bagai malaikat yang tidak bisa ditawar oleh manusia semacamku. Meski lembut dan sama sekali tidak berisi dengan paksaan, namun semua itu bagai suatu hal yang nampak wajib harus kuturuti dan kulakukan.
Kang Ron tidak pernah menyuruhku, sama sekali tak pernah. Beliau hanya memberitahuku. semisal, “Rom, shalat dulu! Rom, kamu harus begini dan begitu”, sama sekali kang Ron tidak pernah mengucapkan kata-kata itu. Beliau bagai orang yang paling bijak yang ada di sekeliligku selama ini. Ayahku saja belum pernah menggunakan metode ini untuk menasehati diriku. Namun meski begitu, aku selalu merasa bahwa apa yang selalu dikatakan kang Ron adalah ilmu bagiku.

8. BIOGRAFI
Pendiri dan Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiien Ngunut Tulungagung…
Ali Shoddiq, demikian nama aslinya, lahir sekitar tahun 1929 M di Gentengan Lingkungan IV Ngunut. Sebuah kota industri yang berada di sebelah timur dan termasuk wilayah Tulungagung. Dimana masyarakat Ngunut waktu itu sangat minim pengetahuan agamanya atau boleh dikata “abangan”. Ayahnya, pak Uman adalah seorang kusir dokar yang sederhana dan taat beribadah, dan ibunya Marci, pasangan suami istri yang datang dari Leran, kecamatan Manyar, kabupaten Gresik ini sangat mendambakan seorang anak yang ‘alim ‘allamah dalam masalah agama. Sehingga pak Umman sangat senang dan hormat kepada kiyai dan santri-santri, setiap santri yang menumpang dokar beliau, beliau siap menghantar kemanapun santri itu pergi tanpa memungut upah darinya.

Diasuh Paman dari Ibu
Ali Shodiq adalah anak ketujuh dari 18 bersaudara. Namun yang hidup hingga dewasa adalah sepuluh orang. Masing-masing adalah Intiamah, M. Syarif, Markatam, Abdul Syukur, Abdul Ghopni, Umi Sulkah, Ali Shodiq, Amini, Khoirul Anam dan Marzuqi. Sedang yang delapan wafat ketika masih kecil sehingga tidak jelas namanya.
Sejak umur sepasar beliau diasuh oleh paman beliau, pak Tabut yang masih adik ibu Marci. Pak Tabut adalah seorang pedagang batik dan pemborong palawija yang cukup mapan perekonomiannya. Beliau tinggal bersama istrinya, ibu Urip di Olak Alung Ngunut yang konon daerah ini merupakan basis PKI yang tepatnya di Jl. Raya I No. 34 Ngunut yang sekarang menjadi Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiien (PPHM) Pusat. Beliau sangat disayang oleh Pak Tabut dan istrinya ibu Urip, yang tidak dikaruniai seorang anakpun. Dalam momongan pak Tabut, Ali Shodiq kecil hidup dalam kecukupan, segala keinginannya terpenuhi, sejak itu pula beliau sangat suka dengan kuda. Namun dibalik itu semua, beliau yang masih muda merasa prihatin dengan keadaan atau kondisi masyarakat Ngunut yang dalam pola hidupnya jauh dari nilai-nilai agama. Hingga sejak kecil belau mulai belajar mengeja huruf-huruf Al-Qur’an dan cara-cara beribadah kepada bapak Mahbub di Kauman Ngunut.
Setelah menamatkan sekolah rakyat, Ali Shodiq mulai melanglang dari satu pesantren ke pesantren lainnya selama 26 tahun. Diawali dengan pondok Krapyak Yogyakarta, beliau di sini tidak begitu lama, kemudian beliau nyantri di pondok Jampes yang waktu itu diasuh oleh K.H. Ihsan Dahlan, seorang ‘ulama ahli Tasawuf pengarang kitab Shirojut Tholibin, sebuah sarah atau komentar dari kitab Minhajul ‘abidin karya Imam Ghazali, dimana sampai sekarang kitab tersebut populer di kalangan Pesantren, bahkan menjadi literatur wajib di universitas saentero dunia. Sepeninggal kiyai Ihsan beliau pindah ke pondok Lirboyo Kediri. Untuk bulan puasa, beliau sering mondok di Treteg Pare Kediri yang diasuh oleh K.H. Juwaini, dan pernah juga ke Mojosari Nganjuk asuhan K.H. Zainuddin, juga pernah tabarukan ke Pondok Tebu Ireng Jombang asuhan K.H. Hansyim Asy’ari dan pada K.H. Ma’ruf Kedonglo Kediri.
Sewaktu beliau masih mondok di Jampes Kediri, beliau meminta kepada ibu angkat beliau, mbah Urip untuk mendirikan sebuah langgar kecil yang kelak kemudian menjadi cikal bakal berdirinya pondok pesantren Hidayatul Mubtadiien Ngunut.



Dari Lirboyo ke Pelaminan
Menurut K.H. Ihsan (Pengasuh Ponpes Abdul Faidl Bakalan Winodadi Blitar) setelah K.H. Ihsan Jampes wafat sekitar tahun 1952, K.H. Ali Shodiq Umman pindah ke ponpes Lirboyo yang waktu itu masih diasuh oleh K.H. Abdul Karim. Diwaktu beliau mondok di sinilah, ada peristiwa yang penting yakni sekitar tahun 1958, ada seorang kiyai dari Mbaran Kediri, K.H. Umar Sufyan yang menghendaki beliau sebagai menantu untuk dijodohkan dengan putrid beliau yang bernama Hauliyah (setelah ibadah haji diganti menjadi Hj. Siti Fatimatuzzahro’) yang waktu itu masih berumur 7 tahun. Akad nikahpun dilaksanakan dengan sederhana namun cukup meriah, hari bahagia nan penuh berkah, akad nikah seorang kiyai dengan putrid seorang kiyai berlangsung jua, dengan diantar beberapa santri Lirboyo, beliau berangkat dari ponpes Lirboyo menuju Mbaran Kediri, yakni rumah mertua beliau.

Santri yang Tekun
Dimata kawan sesame santri Ali Shodiq muda dikenal sebagai santri tekun, cerdas dan sangat ta’dhim kepada guru-guru beliau. Hingga beliau menjadi kiyai kharismatik di wilayah Tulungagung, beliau masih ta’dhim kepada dzurriyah-dzurriyahnya.
Walaupun mereka sudah berada di alam kubur bahkan ketika sowan ziyarah ke makam guru-guru beliau sudah melepas sandal dan berjalan dengan jongkok. Setiap beliau mbalah , selalu mencari waktu yang tidak bersamaan dengan qari’ atau pengkaji yang lain, yaitu diatas jam 12 malam yang biasanya bertempat di panggung lama atau di Al-Okhwan karena biasanya beliau banyak diminati santri, akhirnya para qori’ yang lain sepi dari pengikut jika dilakukan bersamaan.
Beliau juga dikenal sebagai ahli “tahqiq”, sebab setiap akan mbalah jika belum memahami apa yang akan dikaji beliau tidak jadi melakukannya dan menunggu sampai faham betul terhadap apa yang akan dikaji oleh beliau tersebut. Juga beliau sering mengikuti pengajian satu kitab secara berulang-ulang, dengan setiap ikut kitabnya juga baru. Menurut pak Ghufron ketekunan beliau sulit digambarkan sehingga tidak pernah diketahui kapan beliau tidur. Seakan-akan waktu hanya dicurahkan untuk mathla’ah atau belajar. Beliau juga menyoroki Al-Qur’an para santri yang bertempat di kamar beliau pada waktu setelah jama’ah shalat maghrib sampai lonceng sekolah berbunyi.
Hari-hari belaiu senantiasa dilewati dengan berpuasa dan beliau juga seorang yang qona’ah terbukti dengan makan beliau sedikit dan seadanya sesuai dengan yang disajikan oleh juru masak beliau. Sampai-sampai dalam sehari-harinya beliau memakai bengkungan di perut yang sangat kencang, dikarenakan sedikitnya makan walaupun menurut beliau sering juga diberi uang saku oleh keluarga padahal uang saku bulan sebelumnya belum habis. Satu hal yang menunjukkan ketekunan dan himmah beliau dalam thaabul ‘lmi adalah walaupun beliau sudah menikah beliau tetap mukim di Ponpes Lirboyo Kediri. Sebab, disamping untuk memperdalam ilmu, tenaga dan pikiran beliau masih diperlukan di sana. Hanya saja kalau memasuki bulan Ramadhan beliau mengadakan pengajian pasan di Mbaran Kediri, rumah mertua beliau.
Sekitar tahun 1958 pengajian pasan pertama yang dilakukan di Mbaran Kediri diikuti oleh 7 orang santri Lirboyo. Lalu pada tahun berikutnya diikuti oleh 40 orang santri. Hal ini berlangsung beberapa tahun, hingga tahun 1966. Selama itu beliau telah menamatkan kitab Sirojut Thalibin karya K.H. Ihsan Jampes yang menjadi guru beliau sendiri, juga beberapa kitab kuning lainnya, karya ulama-ulama pesantren. Bahkan Almaghfurlah juga pernah membaca kitab Muhadzdzab dan khatamnya sudah pada tanggal 1 Syawal pukul 13.00 WIB, (siang).

Berdirinya Hidayatul Mubtadiien
Pada tahun 1967 K.H. Ali Shodiq Umman dengan berat hati pindah ke Ngunut meninggalkan Mbaran untuk mengemban amanat dari guru beliau sewaktu nyantri di Lirboyo yakni K.H. Marzuki Dahlan dan K.H. Mahrus Aly untuk mengemban ilmu beliau dan mendidik masyarakat Ngunut yang waktu itu masih belum mengenal ajaran agama Islam (abangan).
Pada masa perintisan, aktifitas dakwah beliau dipusatkan di sebuah langgar kecil yang telah didirikan oleh pak Tabut, juga ikut mengajar di PGA Ngunut . Dari sinilah kemudian muncul sebuah pesantren yang mula-mula hanya terdiri dari ndalem dan tujuh orang santri, yang sebenarnya belum pantas disebut sebagai kamar, karena dua kamar dibangun dari bekas WC yang ditutup, 2 kamar terletak di selatan jalan, 2 kamar lagi terletak di balae ndalem yang hanya disekat dengan anyaman bamboo, dan satunya lagi terletak di sebelah timur ndalem . Kalau itu tantangan dan rintangan silih berganti terutama dari masyarakat sekitar yang masih buta agama Islam. Terror fisik maupun non fisik tak henti-hentinya, tetapi dengan penuh kesabaran beliau tetap mensyiarkan agama Allah SWT.
Bukti kesabaran beliau terlintas dalam sebuah kejadian pada saat pondok mengadakan acara yang dihadiri oleh K.H. Mahrus Aly dari Lirboyo, saat itu (K.H. Mahrus Aly) berkenan ke kamar kecil, beliau melihat masyarakat di sekitar pondok melakukan kegiatan yang sangat mengganggu acara tersebut dan kegiatan pengajian rutin setiap hari. Lalu, K.H. Mahrus Aly berkata, “mbok di hizib nashor wae ban ndang bar”. Kemudian K.H. Ali Shodiq Umman menjawab, “egkang kawulo rantos putro lan anak turun ipun”.
Ketika itu pesantren masih terdiri dari dua tingkatan yaitu : Ibtidaiyah dan Tsanawiyah, meski masih dua tingkatan jumlah santri kian hari kian bertambah, hingga sarana belajar tidak lagi memadahi.
Kesulitan itu sedikit teratasi ketika seorang tetangga, H. Shobirin merelakan balai rumahnya dijadikan sarana belajar, ditambah gedung SD yang digunakan pada malam hari. Namun hal ini tidak berlangsung lama. Pada saat gedung SD diminta kembali, pondok kembali kesulitan. Atas inisiatif K.H. Ali Shodiq bersama para santri, sebuah bangunanpun berdiri, kendali sangat sederhana.
Bangunan itu beratap dan berdinding anyaman daun kelapa. Setahun kemudian bangunan itu dibongkar dan diganti dengan yang lebih baik dan permanent. Manakala bangunan itu selesai para santri dari berbagai daerah terus berdatangan. Tak pelak kemudian untuk kebutuhan pendidikan Diniyah, tempat madrasah dipindah ke gedung bekas kantor PKI Kawedanan Ngunut yang semula dipinjam dari Koramil dan kemudian dibeli oleh K.H. Ali Shodiq dengan merenovasi beberapa bagian gedung sehingga pantas dijadikan gedung madrasah. Pembangunan PPHM-pun terus bertambah. Surau diubah menjadi Masjid, begitu juga dengan tiga kamar yang lain, diubah menjadi kamar santri berlantai dua yang berdiri di sebelah utara masjid. Animo masyarakat yang hendak memesantrenkan putra-putrinya semakin besar dan bersamaan dengan itu pada tahun 1984, K.H. Ali Shodiq Umman menambah jenjang pendidikan sampai tingkat Aliyah. Disamping juga merintis Pondok Pesantren Putri Sunan Giri yang bertempat di sebelah timur PPHM.
Dulu ketika pasan, pertama kali diikuti oleh 50 santri Lirboyo yang dilaksanakan dengan penuh hidmat. Hingga empat tahun kemudian beliau berhasil menamatkan kitab Ihya’ Ulumuddin karya Hujjatul Islam Imam Ghazali. Tahun berikutnya jumlah santri semakin banyak, terutama santri senior Lirboyo serta dari daerah Ngunut dan sekitarnya. Sehingga K.H. Ali Shodiq menetapkan tanggal 1 Januari 1967 bertepatan dengan tanggal 21 Rajab 1363 sebagai hari berdirinya PP. Hidayatul Mubtadiien, sebuah nama yang diambil dari nama PP. Lirboyo dengan niat Tafa’ulan .




Unit-Unit Pendidikan
Menyadari berbagai perubahan social karena perkembangan zaman dan efek ilmu pengetahuan dan teknologi, menjadi keniscayaan akan pengembangan untuk transformasi nilai ritual-religius da pewaris keilmuan antar generasi.
Selaras dengan itu, lembaga pendidikan yang diasuh K.H. Ali Shodiq Umman agaknya terus berupaya mengoptimalkan kadar pendidikan. Untuk mempermudah pengelolaan maka Hadrotul-Syaikh membentuk yayasan pendidikan dengan nama Yayasan Giri yang terdaftar di kantor pengadilan negeri Tulungagung denga nomor : 4/x/92/PN/TA pada tanggal 3 Desember 1992.
Untuk mengaktualisasikan peran berbagai unit pendidika formal maupun non formal telah berdiri, disamping aktifitas intern maupun ekstra, tercatat beberapa unit pendidikan sebagai berikut ;

1. Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiien.
Sebagai cikal bakal pengembangan, PPHM adalah sentral lembaga pendidikan yang ada. Di lokasi ini K.H. Ali Shodiq beserta keluarga tinggal, di samping para santri. Di sini juga, Hadratus Syaikh membacakan berbagai kitab baik fiqh, akhlaq, tasawuf, maupun yang lain. Selain membacakan untuk kalangan santri, juga pengajian yang khusus diikuti oleh orang tua dan diselenggarakan setiap malam Minggu dan Selasa pagi. Disamping pengajian kitab-kitab kuning dan tartil al-Qur’an, PPHM juga mendirikan Madrasah Hidayatul Mubtadiien yang memiliki jenjang dari Ibtidaiyah sampai tingkat Aliyah.
Sementara untuk tempat tinggal santri PPHM telah menyediakan berbagai asrama yang kini disebut (dengan santri HS sebanyak 6 HS). Masing-masing HS memiliki kepengurusan sendiri dan diperolehkan mengadakan aktifitas-aktifitas yang bermanfaat disamping untuk mempermudah pengkoordinasian. Juga dimaksudkan untuk fastabiqul khoirot.
Pertama, organisasi santri madrasah (OSMA). Organisasi ini berada dibawah naungan MHM dengan berbagai aktivitasnya yang memiliki andil besar dalam dinamika perkembangan intelektual santri seperti seni baca Al-Qur’an, forum syawir atau diskusi, pelatihan kaligrafi, jurnalistik seni pencak silat Pagar Nusa, Koran dinding dan majalah dinding FOKUS. Kedua, jam’iyyah PPHM, adalah organisasi santri yang bernaung dibawah bendera PPHM dan juga berbagai aktifitas santri seperti pelatihan pidato atau khitobah, forum dialog dan festifal da’I. Ketiga, Bahtsul Maasa’il, organisasi ini khusus untuk membahas berbagai persoalan yang terjadi pada seputar fiqh. Disamping ketiga organisasi ini, PPHM Ngunut Tulungagung juga menjadi sentral beberapa organisasi lain seperti Himpunan Santri Tulungagung Timur (HISTUTIM), Forum Komunikasi Santri Tulungagung (FOSSTU), Perhimpunan Santri Andalas (PERSADA), dan Santri Ngunut Asal Blitar (SANGASTAR).
Begitu perjuangan beliau mulai dari perintisan sampai pengembangan pondok pesantren yang tak kenal lelah guna mempersatukan generasi Islam yang siap menghadapi tantangan zaman. Bukan hanya pendidikan saja yang K.H. Ali Shodiq perhatikan, dalam tuntunan hidup sehari-hari beliau sering memberikan mauidzoh hasanah dengan tutur bahasa yang khas. “Cho, neng ngendi wae awakmu manggon ojo lali karo pesenku, siji akhlaqul karimah, loro pinter-pintero ndelehno awak, telu ngekeh-ngekehno bali maring Allah, Fafiruilallah, cho lek enek wong jalok warah warahono sak isomu”.
Beliau sangat sabar dan istiqomah dalam mendidik santri-santrinya. Setiap pagi beliau dengan halus membangunkan santri-santrinya dari satu kamar ke kamar yang lainnya untuk melaksanakan jama’ah shubuh. Karena beliau dalam membina para santri-santrinya sangat menekankan shalat jama’ah.

Jama’ah Dengan di Papah
Setelah menunaikan ibadah haji yang ketiga, tahun 1997 kondisi kesehatan K.H. Ali Shodiq Umman sering terganggu, maklum usia beliau sudah mulai beranjak sepuh. Sementara tugas sebagai pengasuh pesantren yang kian berkembang pesat cukup menyita waktu, tenaga dan pikiran beliau.
Akan tetapi yang cukup menyedihkan kesehatan beliau mulai menurun, sehingga kaki kiyai tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Adapun untuk menjalankan tugas sehari-hari, memberi pengajian, menjadi imam jama’ah beliau harus dipapah untuk satu atau dua orang santri.

Sabtu Duka
Pada hari Jum’at, 23 Juli 1999 K.H. Ali Shodiq Umman jatuh sakit kemudian beliau dibawa ke RSI ORPEHA Tulungagung. Beliau dirawat di vaviliun Arafat, perawatan intensif terus menerus dilakukan, namun keadaan tak semakin membaik, akhirnya atas kesepakatan keluarga dan saran dari pihak kedokteran RSI ORPEHA T. Agung, pada hari Rabu, 10 Agustus 1999 beliau dibawa ke Rumah Sakit Darmo Surabaya.
Selama empat hari beliau menjalani opname di Surabaya, namun kondisi beliau tak kunjung membaik, bahkan harapan untuk kesembuhan beliau semakin tipis. Mungkin inilah pengalaman duka yang sangat mendalam bagi santri PPHM Ngunut. Disaat warga Indonesia diujung kegembiraan menyabut HUT RI di tahun 1999. Namun ternyata Tuhan berkata lain. Awan yang cerahpun seakan turut mengerti dengan hujan gerimisnya, juga bus-bus yang berjalan bak meteor saban hari di jalan raya begitu tenang dan tertib hari itu.
Hari itu Sabtu tanggal 14 Agustus 1999, pukul 10.00 wib, dengan samutan tangis ibu pertiwi dan dengan Husnut Khatimah, berpulanglah seorang tokoh kharismatik Hadrotus Syaikh K.H. Ali Shodiq Umman, pendiri Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiien Ngunut. Innalillahi w inna illaihi rooji’un. Ratusan bahkan ribuan manusia di jagad pertiwi berbondong-bondong dating untuk memberikan penghormatan terakhir.
Beliau wafat pada usia ke 71, dengan meninggalkan seorang istri (yang akhirnya 7 bulan kemudian juga berpulang ke hadirat illahi robbi), sembilan putra-putri (6 putra dan 3 putri), serta 12 cucu perempuan dan laki-laki. Berita wafatnya K.H. Ali Shodiq Umman diterima keluarga di Ngunut jam 11.00 wib. Lewat telepon, 30 menit kemudian orang-orang yang melayat mulai berdatangan. Mereka menunggu kedatangan jenazah K.H. Ali Shodiq Umman sambil berdzikir. Jenazah tiba di Ngunut pukul 16.00 WIB.
Keesokan harinya (Ahad) pukul 10.00 setelah dilakukan sebanyak 47 kali, lalu jenazah beiau dimakamkan di sebelah masjid lama Sunan Gunung Jati, sampai di liang lahat jenazah beliau disambut menantu beliau K.H. Darori Mukmin, K.H. Mahrus Maryani dengan disertai putra-putra beliau K.H. Badrul Huda Ali, K.H. Agus Ibnu Shodiq Ali, K.H. Agus Minanurrohman Ali, dan K.H. Agus Minanurrahim Ali.
Tak habis surut pershalatan jenazah, dengan tatapan curahan tangis air mata, tokoh legendaries itu meninggalkan kita untuk selama-lamanya, menggoreskan kenang-kenangan sebongkah jasa untuk kita, beliau menuju alam damai yang abadi. Ya Allah, sambutlah kedatangan beliau yang telah mengukir keemasan di dunia, dan ridhoi serta lapangkanlah kubur beliau. Amiin

Jum’at Kelabu
Ya Allah, belum genap satu tahun duka menyelimuti hati para santri dengan memanggil pulang figur dan uswah mereka. Tahun telah menambah lagi duka pada diri santri dengan memanggil Ibu Nyai Hj. Siti Fatimatuz Zahro, yang merupakan pendamping Hadrotus Syaikh Almaghfurlah K.H. Ali Shodiq Umman (Alm) pada hari Jum’at. Tak mampu lagi mereka mengugkapkan kesedihan ini, linangan air mata yang mampu mengungkapkan ini semua. Keesokan harinya dilakukan upacara pemakaman yang bertempat di samping pusara Hadrotus Syaikh yang berada di Astra Sunan Gunung Jati.

Beberapa Keistimewaan K.H. Ali Shodiq Umman
Pada waktu mbah kyai Ali Shoddiq Umman menjadi kepala pondok Lirboyo, saat itu ada acara Rapat Umum tahun ajaran baru bertempat di serambi. Sudah menjadi hal yang wajar dan lumrah bila semua santri berkumpul dalam suatu majlis, suasana menjadi gaduh dan ricuh, pada waktu itu pengurus memberikan arahan atau membacakan peraturan-peraturan pondok pada santri baru, para santri bersorak sorai, ramai dan sangat ricuh, setelah itu mbah kyai melewati sebelah barat santri yang ramai, para santri seketika langsung terdiam.
Mbah kyai Ali Shoddiq seorang pendekar pencak yang sangat mumpuni, beliau salah satu murid kesayangan dan andalan Mbah Ali Shoddiq Bahri Tanen.
Mbah Kyai Ali Shoddiq seorang sosok yang sangat sakti dan jaduk. Tapi beliau sangat pandai dan rapat dalam menutupi dan menyimpan hal tersebut.
Ada cerita yang bersumber langsung dari Mbah Kyai Ali Shoddiq Umman yang dawoh pada momongan beliau. Mbah Kyai baru saja pindah dari pondok Jampes ke Lirboyo. Pada waktu itu ada kekosongan Mustahiq kelas III Tsanawiyyah (Jauharul Makmun). Sebelum mbah kyai bermimpi diajak terbang oleh K. Marzuki Dahlan tetapi dawuhe Mbah kyai terbangnya Kyai Marzuki tidak kelihatan dan mbah kyai terbang di bawahnya. Pada akhirnya mbah kyai diutus menjadi mustahiq kelas III Tsanawiyah, padahal beliau belum pernah mengaji kitab Jauharul Makmun. Berkat kelimpatan, ketekunan, rasa tawadhu’ beliau terhadap sang guru, pada akhirnya beliau dapat menjadi mustahiq kelas III Tsanawiyah tersebut. Yang diantara santri kelas itu ada putra K. Marzuki, yakni Agus Idris Marzuki.
Setiap mbah kyai tidur sore, beliau pesan agar dibangunkan pada jama’ah atau waktu mengaji kepada salah seorang khodim dekat beliau denga memakai satu jari dan 3 ketukan ringan, setiap jari tangan menyentuh kaki atau tangan beliau langsung memukul apa saja yang ada di dekatnya, sampai-sampai dinding kamar akan roboh. Begitulah haliyah k.H. Ali Shoddiq Umman yang tak dimiliki orang lain.

9. 30 Hari di Pondok Pesantren
Aku, Tiga Puluh Hari di PPHM Ngunut Tulungagung, Tahun 2002...
Mulai dari sejak dua minggu aku berada di penjara suci ini, aku menyaksikan teramat banyak sekali fenomena-fenomena yang membuatku terasa aneh dan rasanya tak mungkin untuk kulakukan. Mulai dari mencuci baju sendiri, masak sendiri, bahkan sampai pada aktifitas belanja ke pasarpun sendiri. Dan yang membuatku terasa aneh dan sangat aneh adalah ketika pergi ke pasar dengan memakai sarung, berkopyah dan harus memakai lengan panjang. Pasar Ngunut lumayan jauh dari lokasi pondok Hidayatul Mubtdi’in ini, sekitr satu kilo.
Ketika aku mencoba bersama temanku yang bernama Habibi untuk berbelanja aneka ragam kebutuhan memasak ke pasar dengan berjalan kaki, rasanya ada yang aneh dengan diriku. Entah itu pikiranku sendiri karena belum terbiasa atau memang benar apa yang ada di pikiranku. Aku merasa bahwa setiap orang yang ada di sepanjang jalan, semua melihat diriku. Padahal, Habibi temanku ini juga berpakaian yang sama denganku. Tapi seakan setiap orang yang kulihat mereka tidak menatap Habibi, tapi seakan aku yang selalu mereka lihat. Aku jadi kikuk sendiri, apa ada yang alah dan aneh dengan caraku berpakaian dan bersarung? Tanda tanya itu besar di otakku.
Ah, ternyata itu semua adalah halusinasiku saja. Karena memang semua tergantung pada tradisi. Masyarakat setempat sudah memaklumi terhadap semua pola tingkah santrinya Kiai Ali ini. Dengan melihat santri bersarung ke mana-mana adalah hal yang biasa dan bukan lagi menjadi fenomena yang aneh bagi masyarakat Ngunut.
Selama satu bulan aku diam di pondok pesantren, aku selalu aktif dalam mengikuti seluruh aturan main pondok pesantren; shalat berjama’ah yang sangat ditekankan, syawir , sekolah madrasah paling dasar (ibtidaiyah), ro’an , kegiatan ekstra; sepak bola, volly, futsal dan kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan oleh santri PPHM. Permainan dan seluruh agenda para santri membuatku selalu tertawa dan makin penasaran untuk ikut nimbrung bersama. Baru kali ini aku tahu, ternyata ada orang bermain sepak bola, futsal dan volly dengan memakai sarung dan berkopyah siluman anak santri menyebutnya. Ya, kopyah siluman.
Ingin tahu mengapa disebut kopyah siluman? Karena kopyah ini sangat mudah dibawa oleh para santri untuk melarikan diri jika mereka ingin keluar dan main kemana mereka ingin melepaskan kejenuhan, setelah berhari-hari selalu menghadap kitap berwana kuning, huruf arab tanpa harakot dan tanpa sedikitpun bertuliskan makna. Kopyah itu sangt mudah untuk dilipat, sehingga setelah santri keluar dari radius pondok pesantren, kopyah tersebut langsung mereka masukkan dalam saku celana mereka.
Udara segar pulau jawa perlahan menghembus sukmaku, lembutnya hembusan angin malam selalu terasa dalam mengandung makna bagi si anak desa. Suara perlahan nan merdu dari ayat al-Qur’an yang dibaca santri PPHM setiap tengah malam membuat hatiku yang bagai batu perlahan mencair bagai batu es terkena terik matahari. Yah, cairan batu es itu kini menetes lewat relung mataku. Aneh, hampir setiap malam selama satu bulan mataku selalu berlinang air mata. Entah ada apa dengan ini semua. Di satu sisi, selama satu bulan kutinggalkan keluarga, rasanya bagai satu tahun, namun itu terasa jika waktu tengah malam tiba. Jika siang, rasanya hatiku lupa akan semua, yang ada hanya kebahagiaan bersama aktifitas bersama teman-teman santri yang guyonanya sangat klasik dan belum pernah kutemui di dunia luar pesantren.
Semua telah aku jalani mulai hal yang paling dasar, untuk bagaimana aku bisa menyesuaikan diri di dunia baruku ini. Aku sangat ingin sekali mendengar suara keluargaku, ibu, adik, dan bahkan ayahku yang pernah sangat-sangat aku benci. Tapi, kebencian itu kini telah benar-benar hilang. Semua berubah menjadi kerinduan dan kasih sayang. Aku tinggal menunggu bagaimana untuk bisa melepas kerinduan ini. Tak perlu yang lebih spesial, seperti pertemuan dan lain sebagainya. Cukup aku mendengar suaranya saja bagiku sangat-sangat luar biasa. Untuk melepas kerinduan memang susah. HP belum ada, telpon sudah difasilitasi sbenarnya dari kantor pondok, namun keluargaku masih belum tahu apa itu telepon dan bagaimana cara menggunakannya. Wartelpun belum ada di desaku, meskipun ada, mereka harus keluar jauh ke daerah perkotaan sana. Semua memang susah. Tapi ya sudahlah, hidup tak harus tergantung pada perkembangan teknologi, begitulah kiranya pola pikir masyarakat desa.

10. Tiada Waktu Untuk Bersantai
Masa Kerjaku di Perusahaan Sendok Bu Semi, Tahun 2002…
Satu bulan lebih aku tinggal di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin ini. Namun, belum juga aku terdaftar secara resmi dalam data base sebagai santri di PPMH. Hanya secara kultural aku sudah berusaha sowan dalem kepada dewan pengasuh PPHM. Aktifitas mulai dari hal yang paling kecil sampai hal yang terbesar sudah aku lakukan bersama kawan-kawan baruku. Kinilah aku baru mulai merasakan, bahwa tiada aktifitas yang membosankan bagiku. Justru fenomena baru yang tiada tara kutemukan kali ini dari sebelumnya.
Sampai aku terlena, selama ini aku makan dengan uang siapa, barang siapa dan siapa yang mencari. Hampir tak pernah aku terpikir akan hal itu, aku hampir tak sadarkan diri. Tinggal di tempat yang sebelumnya sangat aku tidak suka, bahkan pernah terucap olehku, bahwa aku anti masuk pesantren. Namun apa daya, semua telah terbalik dari pikiranku. Angan dan harapan memang tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Kehidupanku sekarang justru mampu menghipnotisku hingga tak lagi aku ingat siapa yang menghidupiku selama kurang lebih satu bulan dalam pondok pesantren. Padahal, mulai dari detik pertama aku menginjakkan kaki dalam PPHM, sepeserpun uang sakuku tidak ada. Bahkan untuk ongkos transportasi pemberangkatanku di pulau Jawa ini, negeri asal ayah dan ibuku uangku minus.
Kang Badrun. Dialah sosok laki-laki yang setiap waktu siangnya sama sekali tidak pernah kulihat keberadaannya di dalam pondok. Namun tak sekalipun beliau bercerita tentang ke mana kepergiannya ketika usai subuh menjelang. Maklum, setiap usai shalat subuh aku langsung ikut bersama teman-temanku yang sudah resmi dan bahkan bertahun-tahun di PPHM melakukan sawwir atau musyawarah tentang mata pelajaran untuk malamnya nanti. Usai aku melakukan sawwir, aku selalu tidak mendapatkan di mana kang Ron.
Tapi aku selalu mendapatkan uang Rp. 3.000,- yang yang diletakkan di gotaan setiap harinya. Itu pasti uang yang sengaja ditinggal kang Ron untuk persiapan makanku. Usut temu usut, akhirnya aku mencoba untuk menjadi detektif kecil-kecilan. Aku coba terus introgasi seluruh teman-temanku, mulai dari yang sekamar denganku sampai pada santri yang lebih dekat dengan kang Ron yang aku belum terlalu dekat dengan mereka.
Sampai akhirnya, aku menemukan sedikit titik terang. Mulai dari temanku yang sering dipanggil kembar cilik ini, dia menceritakan panjang lebar tentang kehidupan kang Ron selama di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in ini. Kembar cilik, nama asliya Iswandi dan kakanya bernama Iswanto yang sering dipanggil kembar gede . Mereka memang saudara kembar yang berasal dari daerah Belitang, BK Nol, Sumatera Barat. Kata kembar cilik, “Badron kui neng pondok nyambi kerjo. Ingat, mondok nyambi kerjo, uduk kerjo nyambi mondok”. Penjelasannya dengan sok ustadz beneran dia menerangkan padaku tentang aktifitas kang Ron yang sekaligus diselingi dengan ceramahnya itu. Gayanya yang benar-benar lucu ternyata mampu membeberkan semua yang telah disampaikan KH. Makhrus Maryani dalam membalah kitab kuning kepada para santrinya.

***
Pabrik sendok, itulah yang menjadi pelampiasan kang Ron sebagai wadah penampungan agar aku mampu menyambung hidup di pulau Jawa. Tulungagung, terutama Ngunut yang menjadi area Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in adalah area sentra indutri. Teramat banyak perusahaan-perusahaan kecil yang berdiri di kota Tulungagung, seperti pabrik sendok yang menjadi tempat bekerjaku, pabrik tas, pabrik makanan seperti sanghai dan masih banyak lagi perusahan-perusahan kecil lainya.
Anak-anak mudanya juga terbilang pemuda yang penuh dengan kreatifitas dan imajinasi cukup kuat, terutama dalam bidang modifikasi elektronik. Seperti motor, mobil sampai pada mesin-mesin merk sanghai dan domfleng yang dimodifikasi hingga menjadi kendaraan yang sangat berfungsi. Masyarakat Ngunut menyebutnya LEDOK. Entah kendaraan merk apa itu aku belum tahu. Yang jelas kendaraan ledok itu persis menyerupai mobil, lengkap dengan alat setir dan memiliki gardan tak ubahnya mobil.
Upah yang seharinya Rp. 7.500 perharinya bekerja di pabrik sendok adalah upah yang sangat besar bagiku. Aku sangat merasakan kepuasan yang tak terhingga. Alasannya sangat sedehana, saya merasa bangga karena uang yang kudapatkan adalah uang dari hasil jerih payahku. Selamanya saya belum pernah merasakan uang yang kumiliki adalah uang dari hasil yang kudapatkan sediri. Selama ini, ayah selalu melarangku untuk bekerja di tempat orang lain, bahasanya adalah merantau sebagaimana teman-teman di desaku lakukan. Keluargaku selalu menekanku untuk menggarap pekerjaan apa adanya yang menjadi milik keluarga kami.
Memang, dari satu sisi apa yang diharapkan oleh ayahku adalah baik. Namun, di satu sisi juga merantau atau bekerja di tempat orang lain adalah suatu proses pembelajaran untuk bagaimana seseorang menjadi pandai dalam bekerja. Untuk menjadi nomer satu, seseorang haruslah menjadi nomer dua terlebih dahulu. Begitulah mungkin kata pepatahnya. Bekerja bukanlah menjadi pecundang, akan tetapi bekerja adalah sekolah. Kecuali seorang karyawan tersebut memiliki cita-cita untuk selamanya menjadi karyawan di tempat orang lain.
Yah, tak ada waktu untukku bersantai di Pondok Pesantren ini. Jam empat sepulang kerja aku harus segera mempersiapkan diri untuk menjalankan rutinitas sekaligus kewajibanku sehari-hari sebagai seorang santri, mengaji kitab kuning. Sangat rugi, sangat rugi jika harus meninggalkan pengajia ini. Meski pembalahan kitab kuning ini adalah untuk tingkatan santri yang telah senior dan lincah dalam memaknai kitab kuning, akan tetapi sangatlah merugi jika bagi santri-santri baru seperti saya dan santri baru lainnya harus melewatkan begitu saja pengajian yang setiap sore di bacakan di pondok pesantren hidayatul mubtadi’in.
KH. Makhrus Maryani. Yah, beliau langsunglah yang membacakan kitab kuning pada seluruh santrinya di sore menjelang malam ini. Kiai yang meneruskan PPHM ini memiliki sosok yang penuh kharismatik luar biasa, meski sedikit dibawah almaghfirullah KH. Ali Shodiq Uman, menurut cerita para santri. Suara Cetekan tangannya seperti telah dirasupi oleh sosok malaikat utusan Allah untuk membuat para santrinya bertawadu’ kepada beliau. Untuk membangunkan para santri di pagi hari, untuk megingatkan para santri ketika waktunya mengaji tiba, megingatkan santri untuk shalat berjama’ah di masjid yang sangat ditekankan, kebetulan suronya berdekatan dengan kamar-kamar para santri.
Suara cetekan itu memang sangat berbeda, tidak satupun santri atau orang lain yang mampu menyerupai suaranya. Kalau sekedar menggesekkan antara jari jempol dengan jari tengah lalu memunculkan suara apa adanya, anak kecilpun bisa. Namun untuk suaranya, tidak satupun orang bisa menyamai. Jangankan menyamai, untuk mirippun tidak bisa, atau mungkin belum kutemui selama saya bermukim kurang lebih lima empat tahun di PPHM ini. Sangat memunculkan suara yang berwibawa dan kharismatik, kata santri senior, ora enek seng iso madani suoro cetekane mbah yai Makhrus, mbok kiai lio to. Soale setiap kiai dikei cirikhas masing-masing neng Allah.
Tek tek tek tek tek tek...co co co ngaos co ngaos...! begitulah kiai Makhrus mengingatkan santrinya agar segera mempersiapkan diri untuk mengaji kitab kuning. Yah, kitab kuning, selalu kitab kuning dalam setiap mengaji. Karena PPHM sangat menekatkan kuat kepada santrinya agar mampu membaca dan memahami isi kitab kuning mulai dari huruf perhuruf, kata demi kata dan kalimat, lalu kemudian bagaimanapun juga para santri harus mampu menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sekaligus menjelaskan apa maksud dari ayat yang sedang dibacanya itu. Dengan begitu, berarti santri juga diwajibkan, sangat diwajibkan untuk memahami ilmu nahwu dengan detail sedetail-detailnya.
Mulai dari mubtada’-khobar, mengapa setiap ada mubtada’ pasti kemudian ada khobar di belakangnya, jer majrur, mudhof-mudhof ilaih, mengapa ini dibaca nashob, mengapa ini dibaca jer, mengapa ini dibaca rofa’ dan mengapa pula ini harus di jazm -kan. Setiap kali ustadz yang mengajar para santri, sebelum mengajar, sang ustadz wajib terlebih dahulu menyuruh dua atau tiga santri agar membaca pelajaran pada bab yang telah diajarkan pada pertemuan yang lalu. Ketika santri membaca, selalu di tengah-tengah membacanya itu santri yang dapat jatah membaca ditanya, “hop, teng nopo niku di waos rofa’?”. Kalau santri yang sudah cerdas tentu dia akan mampu menjawab pertanyaan yang diberikannya dengan gampang. Akan tetapi, berbeda dengan santri yang ukur-ukur, pasti dia akan berfikir lama dan jawaban yang keluar dari mulutnyapun belum tentu benar.
Apalagi kembar kecil, dia selalu menjawab pertanyaan ustadz-ustadz kami dengan jawaban yang salah, lalu pada akhirnya selalu menjadi oloan teman-teman ketika usai mengaji dengan becanda. Akan tetapi dia sudah memiliki jawaban yang selalu menjadi andalannya, “yoben, jenenge wae belajar. Lek pinter aku yora mondok. Guwoblok ki nyapoto”. Itulah jawaban kembar kecil untuk membalikkan serangan dari teman-teman, dengan logat bahasa Tulungagungannya.
Pengajian kitab kuning yang dibacakan langsung oleh K.H. Makhrus Maryani di sore hari itu, berakhir kurang lebih sepuluh menit sebelum waktu shalat maghrib menyapa. Setelah azan maghrib berkumandang, maka aktifias kamipun harus segera mempersiapkan diri untuk menjalankan jama’ah shalat maghrib. Yah, jama’ah, tidak ada kata tidak kecuali sakit parah dan tidak memungkinkan untuk shalat berjama’ah berama. Kalau sekedar sakit ukur-ukur seperti pusing, sakit perut, demam dan sakit biasa lainnya, mereka tetap harus ikut shalat berjama’ah. Sakit seperti itu dalam PPHM hanya dianggap sebagai sakit-sakitan atau sering disebut oleh santri PPMH sebagai jenis “penyakit malas”. Masih ingat bagaimana kisa perjuangan Imam Syafi’i, Imam Hambali, Imam Ghazali dan imam-imam lainnya bukan! Begitulah yang diterapkan oleh pesantren kami untuk memotifasi dan membuat agar santrinya tekun dalam ber-thalabul ‘ilmi.
Para ulama tersebut tidak mengenal lelah dan rasa sakit yang dideritanya, demi ilmu beliau rela menjalani banyak hal yang zaman sekarang mungkin perjuangan beliau adalah hal yang mudah untuk dilakukan. Mulai dari perjalanan kaki, semangat tinggi dan niat kuat untuk ditempuhnya. Akan tetapi, kini adalah kebalikan dari kata mudah. Sekarang yang dulu mudah di jangkau, tapi manusia telah kehilangan niat tulus dan kobaran semangat yang tinggi.
Setelah jama’ah shalat maghrib usai, maka pengajian Al-Qur’an tidak bisa ditinggalkan. Ini adalah salah satu poin terbesar yang ditekankan oleh Hidayatul Mubtadi’in (HM). Setelah pengajian Al-Qur’an berakhir sampai pukul 19.00, maka bagi yang tingkatan ibtida’ mereka harus segera mengambil kitab-kitabnya untuk segera menuju kelasnya masing-masing dan mulailah pengajian wajib bagi seluruh santri. Sedangkan bagi yang tingkatan stanawiyah dan aliyah, mereka harus mengikuti pengajian sunnah muakad di PPHM, yang dibacakan oleh K.H. Darori Mukmin. Khusus untuk pengajian sehabis maghrib adalah kitab Jalalain karangan ..... sampai khatam dua juz. Jika kitab jalailain ini sudah khatam, maka akan diulang lagi dari awal dan seterusnya. Karena setiap tahun akan ada tingkatan santri yang waktunya harus mengaji kitab ini. Sedangkan untuk senior yang sudah pernah mengaji kitab ini, dia akan mengulang lagi untuk bagian yang kosong-kosong. Maklum, tidak sedikit santri yang selalu bikin peta di kitabnya dengan air liurnya. Yah, banyak yang tertidur ketika mereka sedang mengaji.
Bagi yang masih kelas Ibtida’ atau pemula seperti saya, dan stanawiyah maka jam sembilan malam sudah pulang dan berada di kamarnya masing-masing. Setelah aktifitas sekolah, banyak hal yang mereka lakukan, mulai dari ngopi dan merokok, ada yang kreatif mereka harus menghapal nadhom sesui dengan tingkatan kelasnya masing-masing, ada juga yang harus menyalin arap dari kitab sesuai dengan tingkatannya ke buku tulis. Yah, HM (Hidayatul Mubtadi’in) memang mewajibkan pada santrinya untuk pandai menulis arab. Sehingga pada tingkatan awal, mereka harus menyalis semua kitabnya ke dalam buku tulis. Berbeda dengan kang-kang santri yang sudah tingkatan Aliyah, mereka sudah tidak lagi menjalani proses ini. Karena kemampuannya sudah dibilang telah teruji.
Kebiasaan santri, ternyata ngomongin begadang justru lebih hebat dibanding orang-orang desa yang kutemui selama ini. Jam dua bahkan sampai jam tiga mereka masih banyak yang ngobrol ngalor-ngidul. Entah apa saja yang mereka bicarakan. Mulai dari membahas pelajaran nahwu, fiqh, falaq dan bahkan sampai yang hanya sekedar becandapun ada. Namun, yang kkurasakan selama ini, terlalu banyak dari mereka yang membicarakan dunia pesantren dan problematika sosial. Seperti bagaimana metode dakwah di desa, bercerita tentang kondisi desanya masing-masing, anggapan desa terhadap anak pesantren. Dari sinilah aku jadi sadar, ternyata aku orang yang sangat bodoh da tolol. Beberapa hari dan bahkan beberapa bulan, aku sempat banyak terdiam ketika ikut nimbrung ngumpul bersama teman-temanku. Aku bagaikan anak bodoh. Tapi tak selamanya.

11. Hampir Tak Ingat Lagi Siapa Keluargaku
Awal 2003, Dimana Aku Benci Mengingat Masa Lalu…
Hanya enam bulan telah berlalu aku di dunia pesatren Hidayatul Mubtadi’in Ngunut Tulungagung. Yah, hanya enam bulan. Enam bulan seakan aku selalu disibukkan dengan berbagai aktifitas dunia pesantren. Mulai dari mengaji, menghafal nadhom, yasin, al-waqi’ah dan berbagai ayat-ayat penting yang telah kang Badrun katakan padaku sedikit demi sedikit aku mencoba untuk menghafalnya. Dunia kerja juga telah menghipnotisku, sehingga pikiranku melayang-layang ke dunia yang penuh dengan kebahagiaan. Hilang sudah dunia luar yang sebelumya selalu hinggap di pikiranku, mereka yang selalu membuatku rindu, kangen dan selalu ingin aku pulang ke kampung halaman.
Terutama ayah, aku sangat ingin melupakan raut wajahnya yang selalu menampakkan kesangarannya. Meski kang Badrun selama ini terus menghibur dan menyadarkan atas semua sifat ayah dan bagaimana seharusnya aku menanggapi kekejaman ayahku. Yang jelas arah positif, itulah yang kang Ron sampaikan padaku. Namun aku tak peduli, hanya kebencian dan kebencian yang masih tertanam di benakku untuk sang ayah. Sifat dan watak kerasnya sangat sulit untuk kulupakan. Meski aku tahu apa yang seharusnya kulakukan sebagai anak santri terhadap ayah yang memiliki sifat demikian, namun sampai hari ini aku tetap belum bisa melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh sang anak terhadap ayahnya.
Untuk sang Ibu dan adik-adikku, mereka yang memang tidak bisa kulupakan. Apalagi yang memberiku uang untuk berangkat ke pondok adalah sang ibu. Adikku, aku sangat rindu padanya, karena kepergianku tak sempat aku pamit pada mereka. Karena kepergianku jujur terbawa emosi. Hingga tak tahu kanan dan kiri. Namun, karena berbagai aktifitas pondok pesantren dan kerjaku mampu untuk menghipnotis diriku tentang orang-orang yang kurindukan.
Akan tetapi, meski aku berfikiran untuk melupakan dunia desaku, disaat-saat menjelang tidurku aku selalu terbayang wajah mereka. Adik yang selalu hampir setiap hari kumarahi dan kubentak-bentak, ayah yang selalu kubenci dan tidak kusuka raut wajahanya, ibu yang terkadang selalu kubantah ketika beliau menyuruhku. Semua kejadian itu tetap menjadi kenangan yang tak bias kulupakan. Tangis air mata inilah yang mampu menemani kerinduanku pada mereka jika aku terkenang masa lalu. Semua akan terasi penuh arti, jika kita berada jauh pada orang-orang yang kita saying, meski selama bersama selalu penuh dengan kejadian yang menjengkelkan. Itulah kehidupan social.

12. Sekolah SMK N 1
Sekolahku yang Baru, Tahun 2003
Hari demi hari, setiap pagi seusai sawwir aku selalu melamun dan merenung di atas madrasah lantai dua. Perenuganku setiap pagi pastinya beda dengan perenungan disaat malam menjelang tidur. Bukan lagi masalah kerinduan pada orang-orang yang kusayang. Akan tetapi, perenunganku kali ini muncul karena setiap pagi aku selalu melihat anak-anak SMA dan setaranya berangkat ke sekolah. Setelah sawwir pasti aku tidak langsung menuju kamar, selalu nongkrong terlebih dahulu di serambi madrasyah yang kebetulan tepat sekali di pinggir jalan lintas, tentunya bersama bebera teman santri yang juga mungkin memiliki keinginan seperti mereka yang asyik bersekolah.
Setiap hari. Yah, hampir setiap hari hal seperti ini kulakukan. Jika terlewatkan, maka sama saja aku menghapus bagian dari impianku. Namun, aku tak tahu apa yang dilakukan kang Badrun di balik perenunganku setiap pagi ini. Aku tak tahu. Hingga akhirnya, pada suatu hari kang Ron menanyakan padaku di saat kami berdua sedang berbincang-bincang di kantin ndalem berdua. Basa-basinya kang Ron memang luar biasa, meski usiaku kecil dan jauh lebih muda di banding kang Ron, akan tetapi aku di coba dengan berbagai pertayaan yang sebenarnya itu adalah bahan diskusi tentang wacana social. Namun aku tak maksud. Mulai dari “kuat berapa tahun kira-kira kamu di pondok? apa yang akan kamu lakukan terhadap desa kita setelah usai mondok sampai pada bagaimana menurutmu tentang kehidupan di desa kita?”.
Ah, aku jadi tak mengerti tentang pertanyaan itu, hingga aku hanya mampu terdiam dan tersipu malu. “Alangkah bodohnya aku ini”, batinku bicara. Namun, semua pertanyaan kang Ron itu selalu kucoba untuk kujawab sendiri dan kutemukan sendiri jawabannya ketika aku sedang merenung. Tema di penghujung obrolan kami berdua, kang Ron menanyakan hal yang paling kunanti-nanti. “Gak pengen sekola Rom?” . Deg, dadaku rasanya berdetak ketika kang Ron menanyakan itu padaku. “Yo pengen, tapi piye meneh. Duwek we ora dikirimi kok arep sekolah piye” . Jawabku dengan bangga dan penuh dengan kepolosan. Kuakui, aku memang orang yang paling selalu tidak percaya diri.
Kang Ron, beliaulah selama saya di pondok yang selalu menuntun langkah perjalanan hidupku, mulai dari apa yang harus kulakukan hari ini sampai pada karir ke depan. “La sampean kiro-kiro lek gajihan ngono kae iso nyicel nyelengi titik-titik opo ra. Limangewu opo piro ngono? Yo mboan sok lek wayah enek pendaftaran baru sekolah iso daftar”. Ungkap kang Ron selanjutnya. Jujur, ketika kang Ron menyuruhku untuk menabung, aku benar-benar seketika teringat pada ibuku. Dulu, mulai aku sekolah SD kelas satu, ibu sangat menekankanku untuk belajar menabung.
Ibu membelikan tabungan dua yang terbuat dari tanah liat untukku. Satu tabungan berbetuk harimau dan satunya lagi berbetuk ayam jantan. Aku tidak pernah mendapat jatah uang saku ketika sekolah, sama sekali tidak. Kecuali, kalau berangkat sekolah ibu belum selesai menyiapkan sarapan pagi untukku, baru kemudian ibu memberiku uang Rp. 1.00,- untuk membeli jajan di sekolah nanti. Anehnya, uang Rp. 100,- itupun tetap saja untuh sampai saya pulang ke rumah. Yah, akhirya uang-uang seperti itulah yang dapat kumasukkan di tabunganku. Selain itu, kalau ibu sepulang dari pasar selalu memiliki sisa uang receh yang biasa beliau pakai untuk memberi kembalian kepada para pembeli sayuran ibu. Lalu ibu menyuruhku untuk memasukkan ke tabungan. Lumayan juga.
Hal yang membuat saya bangga dan lesu waktu itu, ketika ibuku akan melahirkan adikku yang cewek, namanya Juriah. Katakan kelahirannya adalah di waktu-waktu yang sangat belum memungkinan dalam segi financial keluarga kami. Peceklik. Yah, kemarau panjang menerpa hampir seluruh desa yang berpenghasilan dari tanaman padi mengeluh. Tanah mengering dan debu bertaburan menutupi warna dinding rumah penduduk di desa kami. Pohon-pohon di hutan belantara yang mengelilingi rumah penduduk tak lagi hijau, namun berubah kuning warna demu yang mengering. Tuhan seakan kejam, tapi inilah kenyataa yang harus tetap diterima oleh umat-Nya dengan kata “tulus dan keikhlasan”.
Hampir tak ada uang di setiap saku kepala rumah tangga di desa terpencil ini, hutang kesana-kemari, yang ada hanya kata “wah, ngapuntene jan boten gadah blas-e kulo kang” . Ayahku sempat kebingungan dan panik, harus dengan apa bayi kecilku yang akan lahir ke dunia ini? Kata yang mungkin terungkap dalam hati sang ayah. Namun tetap tertahan dalam batin, karena merasa tak mungkin sebagai kepala rumah tangga harus mengeluh pada istri, apalagi padaku yang masih usia tidak memungkinkan.
Si harimau dan dan si ayam jantanku inilah yang ternyata masih dalam kondisi kaya disaat-saat seperti ini. Meski terbuat dari tanah liat dan berupa benda mati, akan tetapi mampu memberikan manfaat bagi makhluk hidup seperti kami. Yah, tabunganku. Malam, pukul 00.05 ayah duduk melamun di samping tidurku dan sang ibu, dengan menghadap tepat di depan siharimau dan ayam jantan kesayanganku. Mungkin ayah berfikir, apa aku harus memecah tabungan putraku ini tanpa sepengetahuannya, dan akan kuganti setelah kodisi uang stabil? Ataukah aku harus bilang padanya bahwa aku akan meminjam uang yang dia tabung? Kebimbangan karena ketidak tegaannya padaku mungkin menyelimuti benaknya.
Mungkin lama ayah melamun, hanya suara jangkrik dan lembutnya suara benda-beda lain di malam hari yang setia menemani. Kunang-kunang sebagai pelegkap dan penghias apa yang ayah lakukan mala itu. Di tengah kesunyian malam mencekam, tiba-tiba entah apa yang terjadi pada diriku dalam dunia tidur. Aku bermimpi sedang bermain wayang bersama teman-temanku. Dalam mimpiku, aku selalu kalah dan wayangku hampir habis. Ini saatnya detik terakhirku dari wayang milikku yang harus kupasang, jika ini kalah maka wayang milikku habis sudah dan artinya kekalah berpihak padaku.
Setelah kartu diucut oleh temanku yang menjadi blandar, kemudian kupasang setumpuk wayang milikku yang terakhir ini. Lalu kubuka perlahan dari kucutan kartu yang telah di tumpuk sesuai dengan jumlah pemain, ternyata angka di kartu yang kubuka dan menjadi pilihanku adalah angka “27”, dan pilihan temanku kebetulan angka dibawah angka keberuntunganku itu, ada yang 24, 20 dan 19, dan blandar hanya 15. Angka terbesar adalah pilihanku, berarti sayalah pemenangnya kali ini. Yah, mungkin karena ini adalah kemenanganku pertama kalinya dalam permainan kali ini, dan berada pada posisi yang bagiku adalah posisi yang sangat tragis. Akhirnya dengan bangga aku berteriak menyebut agka 27 itu berulang kali. Hingga aku tak sadarkan diri ternyata teriakan dalam mimpi itu terbawa pada ngigauku.
Akhirnya, ayah membangunkan dan mengambilkan setengah gelas air putih untukku. “sampean mau ngimpi opo?” Tanya ayah padaku. “Maen wayang Pak”, jawabku. Lalu ayah terdiam dan menyuruhku untuk tidur kembali. Paginya, hari Minggu tak tahu mengapa tiba-tiba ayah pergi ke pasar. Ibu bingung, karena sengaja Minggu ini ibu tida jualan sayuran seperti biasanya, karena kondisi perut ibu yang tidak memungkinkan, dan tidak ada rencana dari sebelumnya untuk pergi ke Pasar. Pertanyaan itu tidak menjadi beban berat bagi ibu, apalagi untukku.
Keesokan harinya, hari Senin pagi ada blandar togel datang ke rumahku, lalu memberi uang kepada ayah sebesar Rp. 200.000,-. Ternyata ayah pergi ke pasar kemarin hanya untuk menemui tukang blandar yang tinggalnya di pasar Bunut, pasar yang menjadi pusat perdagangan desa kami dan sekitarnya. Ayah menang togel. Yah, ayah memasang angka 27 yang sebelumnya ayah dapat dari igauanku itu. Padahal, sebelumnya sama sekal ayah tidak pernah dan tidak mau ikut memasang permainan ini. Hanya sekali ini ayah memasang dan entah kebetulan atau tidak dia menang. Dan sampai sekarangpun ayah tidak pernah memasang yang namaya togel dan sejenisnya.
Dua hari setelah kedatangan blandar togel ke rumah dengan memberi uang Rp. 200.000,-, lahirlah adikku yag kemudian di beri nama Juriah. Uang dua ratus ribu sangatlah besar. Yah, sangat besar sekali pada waktu itu, apalagi bagi keluarga di sekitar desa kami. Namun entah mengapa, uang ayah yang dua ratus ribu itu tidak digunakan untuk pembiayaan kelahiran adik perempuanku yang bayi ini? Akan tetapi ayah justru berbicara padaku di hadapan sang ibu yang baru saja melahirkan. Kata ayah, “le, celengane sampean dipecah yo, mengko lek bapak panen kacang diijolei. Duwek seng bapak nembos deingi dige tuku sepedah ge sampean wae. Men sampean sekolah gowo pedah. Yo...!”. Ketika ayah berbicara seperti itu, mataku lalu memandang ibu yang sedang memangku adik bayiku. Ibu meneteskan air mata.
Meski bodoh, namun sebenarnya aku berfikir, “mengapa ayah tidak menggunakan uang hasil togel itu? Kan sangat cukup daripada uang yang ada dalam tabunganku”. Namun hati kecilku ini tetap tidak tega disaat ibu meneteskan air mata sambil memandangku entah apa maksud pandanga itu. Akhirnya pertanyaan ayah yang sudah panjang lebar dengan berbagai jurus rayuannya kesana-kemari hanya kujawab dengan kata, “ho’oh”. Sebenarnya yang membuat saya terpikat dari semua bujuk rayu ayah adalah sepeda ontel. Saya sangat mengharapkan sepeda buat sekolah.
Waktu terus berjalan, pikiranku makin sedikit berkembang, akhirnya aku mampu mengambil kesimpulan mengapa ayah tidak berani menggunakan uang togel buat membiayai kelahiran adikku. Meski orang desa dan tidak memiliki kelulusan sekolah formal, namun ayahku tahu mana yang baik dan mana yang tidak untuk kehidupan anak dan istrinya. Tahu mana yang baik dan mana yang tidak.

***
Dari fenomena dan kejadian itulah, kemudian aku mencoba untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh lelaki singleku andalanku di PPHM ini, kang Ron. Yaitu menabung sedikit demi sedikit dari hasil upah kerjaku. Memang tidak salah apa kata pepatah, “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit” dan “menabung pangkal kaya, rajin pagkal sehat”. Aku jadi meyakini akan kebenaran kata pepatah itu, karena aku sendiri telah membuktikan dengan jelas apa yang kuhasilkan dari tabungan yang lakukan setiap aku menabung. Seperti tabungan yang pertama ketika di rumah tadi, yaitu mampu untuk membiayai segala keperluan yang kami butuhkan dalam acara kelahiran adik perempuanku.
Kedua adalah saat ini, di PPHM Ngunut Tulungagung nampaknya aku akan menemukan hikmah besar atas apa yang kulakukan terhadap kegiatan menabungku. Setelah mendengar penuturan banyak hal dari kang Badrun, aku mulai langsung menabung. Lalu uang dari mana lagi yang akan kusimpan? Dari mana lagi kalau buka dari upah kerjaku setiap hari. Dengan sabar aku lakukan itu setiap kali menerima kajiah. Tetapi kali ini tidak mungkin kulakukan hanya dengan Rp. 100,- per-setiap kali memasukkan. Targetku menabung kali ini adalah besar, yaitu untuk mengejar cita-cita dan keinginanku masa lalu yang pernah tertunda, bukan keinginan yang gagal bagiku. Tapi tertunda. Yaitu sekolah di STM atau sekolah yang berbasis utak-utik mesi lah pokoknya.
Untuk mengejar waktu yang tidak lama lagi adalah masa penerimaan siswa baru di setiap sekolahan, berarti aku harus mampu mengejar targetku ini secepatnya. Rp. 5000,-, Rp. 10.000,- itulah jumlah uang yang harus kumasukkan dalam tabunganku. Upah kerjaku Rp. 7.000,- perhari, berarti dalam sebulan gajiku adalah Rp. 182.000,- karena terpotong hari libur empat hari dalam sebulan. Jumlah uang gajihan jelas larinya ke mana, Rp. 5000 atau Rp. 10.000 buat tabungan, Rp. 15.000 buat bayar syari’ah pondok pesantren, Rp.100.000 buat beli perlengkapan dapur untuk memasak sediri di pondok. Mulai dari beras, bumbu, dan beraneka ragam sayuran. Rp. 10.000 buat perlengkapan mandi dan mencuci. Dan sisanya mungkin bisa masuk dalam tabungan dan kalau tidak masuk buat pegangan guna kebutha yang lain, seperti kitab-kitab yang menjadi kebutuhan dalam memperdalami ilmu di PPHM ini.
Hampir delapan bulan aku menabung dari hasil kerjaku di perusahaan sendok milik ibu Semi yang baik hati. Yah, baik hati karena karyawannya adalah para santri yang memang benar-benar membutuhkan biaya sendiri untuk mendalami ilmu di PPHM. Untuk para santri, sampai difasilitasi kamar bagi mereka yang ingin tidur di rumahnya. Akan tetapi hanya cukup semalam santri diperbolehkan tidur di rumah beliau, karena ibu Semi tidak ingin melihat para santri ini kemudian menurun niatnya dalam belajar mengaji. Maksud beliau kamar tersebut adalah sebagai kamar yang disediakan olehnya untuk para santri yang bekerja di tempat beliau ketika ingin butuh istirahat dan menenangkan pikiran dari kegiatan yang setiap hari harus memegang dan membaca kitab kuning dan gundul lagi. Baginya para santri juga harus diberi fasilitas untuk itu. Hanya hari-hari libur pondok, satri boleh tidur di kamar yang sengaja difasilitaskan kepada santri.
Aku tidak pernah mencari info dan kabar berita tetang kapan dan bagaimana persyaratan untuk bisa masuk di sekolah yang sesuai dengan keinginanku. Aku memang lemah dalam perluasan jaringan waktu itu. Jadi, lagi-lagi kang Ron yang selalu mencarikan ke sana-ke mari terkait keperluan apa yang menjadi kebutuhanku. Mulai dari sekolahan mana yang akan kumasuki, persyaratannya apa dan bagaimana. Dan yang paling penting dan menjadi pertimbangan pertama baik bagi kang Ron ataupun saya sendiri adalah informasi tentang berapa biaya yang dibutuhkan untuk masuk ke sekolahan terkait.
Dapatlah beberapa brosur tentang nama-nama sekolahan, baik jenis SMA, STM dan SMK. Namun dari sekian banyak info yang didapatkan kang Ron, yang masuk dalam kategori seleksi kami berdua adalah SMK, yaitu SMK N I Tulungagung. Jangan salah, huruf “N” setelah kata SMK bukanlah sigkatan dari “Negeri”, akan tetapi Ngunut. Lengkapnya adalah Sekolah Menengah Kejuruan Ngunut Tulungagung 1, yang kemudian disingkat dengan SMK N 1 Tulungagung.
Kami berdua sengaja memilih sekolah terbaik bagiku ini karena atas berbagai pertimbangan, diantaranya; pertama, sekolahan ini masih baru berdiri satu tahun. Artinya, jika saya masuk ke SMK N I ini, berarti saya adalah angkatan alumni kedua setelah satu angkatan kakak kelasku. Perimbangan kang Ron, biasanya kalau sekolahan masih baru berdiri, dia akan membuat kebijakan untuk menerima siswa sebanyak-banyaknya. Apalagi tradisi di Indonesia. Huh....! Selain kemungkinan besar ditrimanya saya, disatu sisi sekolaha baru biasanya juga masih menerapkan biaya pendidikannya sebagai ajang promosi. Kebiasaan dalam dunia pendidikan yang seperti itu ternyata sudah tertanam di pikiran kang Ron.
Kedua, masalah lokasi yang kebetulan juga sangat dekat dengan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in sebagai pusat pendidikan non formalku. Sehingga, dengan demikian kang Ron berfikir tidak akan terjadi adanya penurunan dalam kegiatan mengajiku di PPHM. Ketiga, SMK N I ini terdapat tiga Prodi; Tekhnik Mesin, Tata Busana dan Kesekretariatan. Nah, tekhnik mesin ini adalah yang menjadi sasaranku. Artinya, sekolah yang menjadi minatku ada di dalam sekolahan ini. Itulah alasan kenapa kami berdua harus mengambil pilihan di sekolahan SMK N I Tulungagung ini.
Namun ada faktor yang lebih penting lagi selain pertimbangan-pertimbangan di atas. Faktor finansial. Itulah yang menjadi prioritas utama bagi kami berdua. Sekolah tanpa biaya orang tua memang susah, tapi jangan salah, bahwa dibalik fenomena itu semua menyimpan seribu hikmah dan keindahan. Lalu kenangan yang takkan pernah terlupakan.
Cukup dengan waktu delapan bulan saya mampu mengumpulkan uang Rp. 500.000,-. Yah, hanya dengan uang itulah aku mampu memposisikan diriku untuk duduk bersama mereka yang sedang asyik menuai ilmu di bangku sekolah formal. Akhirnya aku bisa kembali meraih impianku untuk bersama menikmati indahnya dunia sekolah. Hanya saja kerja keras dan perjuangan kami yang berbeda. Namun tidak, kami satu sekolahan rata-rata sama, bahwa saya dan mereka ternyata juga sama-sama anak petani. Meski ada beberapa anak yang orang tuanya memang sebagai bos perusahaan industri. Dan ada juga beberapa temanku yang orang tuanya adalah tenaga kerja di luar negeri. Apalagi saat-saat ini memang sangat gencar TKI (Tenaga Kerja Indonesia), terlebih wilayah Jawa Timur yang menurut analisis melalui obrolan teman-teman santri, memang JATIM adalah warga terbanyak yang pergi merantau ke luar negeri.

13. Tiba-Tiba Ayah...!
Hari Raya Idul Fitri 1425 H...
Hari demi hari telah berjalan, hampir tidak ada kejadian yang menyimpang dari harapanku. Menyimpangpun bukan menjadi hal yang harus terpikirkan berat oleh otakku. Tak sesulit sebelum delapan bulan yang lalu. Hingga akhirnya aku mampu masuk di sekolah SMK N I Tulungagung ini. Tanggal 5 Juli 2003, itulah tepatnya pertama kali kakiku menginjakkan bangku sekolah. Rasanya memang indah, tak seidah sebelum sekolah. Yah, mungkin itu adalah perasaan yang dirasakan oleh anak-anak sepertiku. Karena mungkin juga masih banyak mereka yang lebih senang dan menikmati hidup tanpa sekolah.
Aktifitasku kini bertambah, yaitu mulai dari pagi, jam 05.00 seperti biasa, yaitu syawir atau mendiskusikan pelajaran yang akan di ajarkan oleh ustadz di madrasah malamnya nanti. Selama kurang lebih 60 menit, setelah itu aku mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah SMK N I, Jurusan Tekhnik Mesin. Inilah yang menurut banyak orang aneh. Anak pondok pesantren, akan tetapi sekolah di pendidikan formalnya mengambil jurusan tekhnik mesin. Ah, masa bodo, pikirku. Aku memang selalu cuek dengan apa yang dikatakan orang lain. Akan tetapi dalam hati aku selalu merenungi apa yang orang lain katakana setelah mereka selesai berbicara. Aktifitas sekolah SMK-ku sampai jam 14.00, setelah itu shalat lalu memakai pakaian dines pondok pesantren. Biasa, sarungan, pakaian yang rapi, berkopyah lalu menuju ke lokasi kerja di tempat bu Semi. Yah, bikin sendok lagi.
Kini aku bukan lagi tinggal di asrama atau kamar teman-teman santri yang berada di Asrama Pondok Pusat. Akan tetapi tinggal di asrama Al-Arafah. Yah, Asrama Al-Arafah adalah salah satu Asrama PPHM yang disediakan untuk menampung para santri yang berminat belajar mengaji sekaligus menuntut ilmu di pendidikan formal, artinya pendidikan yang bukan berada di wilayah PPHM, atau sekolah di luar Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in.
Yah, di sini aku menemukan banyak hal tentang ilmu, mulai dari ilmu umum bahkan sampai pada ilmu agama. Orang-orang yang lebih dewasa ada di sekelilingku, karena asrama ini campuran para santri yang sekolah di luar PPHM, baik mulai dari SMP, SMA/SMK, STM, bahkan sampai pada anak-anak perkuliahan. Ngomongin kampus di PPHM, tentu tiada lagi kampus lain kecuali STAIN Tulungagung yang menjadi sasaran utama para mahasiswa PPHM ini.
Bahasa Intelektual yang para mahasiswa pakai ini dalam diskusi dan ngobrol, lama kelamaan membuatku untuk bermimpi jadi mahasiswa. Dasar otak manusia, batinku. Tapi asal gila dan haus akan ilmu, bagiku tak masalah. Aku akan mencoba untuk menanamkan cita-cita baru dalam otakku, yaitu MENJADI MAHASISWA.
Melihat kondisi yang saat ini, harus mencari uang sendiri, mengaji sambil sekolah, rasanya aku bagai mimpi yang tak pasti. Bayar sekolah saja masih harus dibantu oleh kang Ron, jika uang gajiku belum cukup untuk membayar semua keperluanku di pondok pesantren dan sekolahan. Aku sangat berterima kasih pada Bu Semi, karena beliau telah mengizinkan saya untuk bisa tetap kerja meski tidak full sehari. Untuk kang Ron, masalah terima kasih itu hal yang mutlak. Tapi rasanya justru tak pantas untuk diucapkan, entah mugkin karena terlalu bayaknya jasa yang diberikan padaku.
Waktu demi waktu, hari demi hari, dan bulanpun cukup satu bulan setengah dimasuk pertamaku ini. Yah, karena harus tertunda dengan hari lubur puasa.
Bulan Puasapun telah menyapa. Tradisi Negara Indonesia, bahwa lima belas hari di bulan puasa sekolah formal harus lubur dan pemerintah menutup sekolahnya masih-masing untuk sementara, sebagai penghormatan akan datangnya hari raya Idul Futri. Namun, berbeda dengan tradisi yang terjadi di dunia Pondok Pesantren, salah satunya di PPHM Nguut Tulungagung ini. Pondok ini juga sudah tradisi setiap tahunnya, yaitu ketika bulan puasa tiba, harus mengadakan yang namanya pengajian pasan. Kitab-kitab baru dan yang belum pernah diajarkan oleh para ustadz di PPMH yang biasanya disampaikan kepada santri di bulan puasa ini. Sangat asyik deh pokoknya. Benar-benar tradisi pesantren yang sangat tak terlupakan.
Tak sedikit santri yang aktif mengikuti pengajian pasan ini. Mereka yang rumahnya jauh di luar Jawapun banyak yang harus merelakan pulang di akhir bulan puasa. Tak lain utuk mengikuti pengajian pasan di PPHM terlebih dahulu. Begitu juga dengan para santri yang rumahnya di sekitar Ngunut atau Tulungagung, bahkan mereka justru lebih akhir pulang ke rumahnya. Dengan alasanan, bahwa di rumah sepi, di rumah budrek, di rumah capek dan alasan lain yang entah itu logika ataupun tidak. Mungkin karena mereka sudah terbawa arus dan tradisi di PoPes yang setiap harinya belajar dan diskusi, ngobrol sampai malam dengan orang-orang yang setidaknya meski sedikit otaknya telah terisi ilmu. Yah, begitulah keasyikan tersendiri bagi mereka yang sudah terkena candu ilmu dan tradisi pesantren. Namun, ada juga bagi santri yang sengaja tidak memulangkan diri karena mereka ingin membantu dalem . Hari raya Idul Fitri adalah hari yang sangat sibuk bagi keluarga dalem. Orang-orang desa yang sowan ke dalem Yai bagai air deras yang tak mampu lagi terbendung oleh penampungnya.
Dan ada juga kriteria yang menurutku ini adalah criteria terakhir. Yaitu santri yang sengaja tidak pulang, akan tetapi dia akan pergi ke tempat teman, saudara atau sanak family yang ada ada di pulau jawa. Kebetulan kriteria ini adalah yang kualami di hari raya Idul Fitri kali ini, bersama siapa lagi kalau bukan bersama kang Ron. Yah, kang Ron kebetula memliki saudara di daerah Blitar, yang kebetulan hanya di sebelah Timur desa Ngunut.
Akhirnya kang Ronpun mengajak saya untuk bermain sekaligus silaturrami ke rumah sanak famili yang tinggal di Blitar ini. Kebetulan, selama saya di PPHM, belum pernah sama sekali saya main jauh sampai ke luar kota Ngunut, paling jauh hanya di Kota Tulungagung.
Lebaran hari pertama, setelah para santri melaksanakan Shalat ‘idul Fitri, mereka saling bersalam-salaman, berjabat tangan seakan menyesali dan sadar bahwa mereka banyak dosa. Ada yang berjabat tangan sambil melantunkan kata “hey, minal ‘aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin yo. Sepurone aku biyen nyolong lombokmu, brambangmu, karo uyahmu. Ha ha ha!” . Dasar santri, mau bagaimana lagi kalau sudah seperti ini. Untuk menanggapinya, yang lain justru malah tertawa dalam kondisi hari raya seperti ini. Jelas dimaafkan, karena mereka saling menyadari akan tradisi pesantren dan kondisi teman-teman santri yang lain. Tidak mungkin dan tidak pernah marah ketika tradisi ini setiap tahun harus terjadi.
Setelah mereka saling berjabat tangan, akhirnya banyak fenomena aneh yang terjadi di sudut-sudut kamar para santri. Kamar yang ketika hari biasa selalu penuh oleh para santri, yang perkamarnya tidak lepas dari 25 sampai 30 anak, kini sunyi senyap bagai kuburan di malam hari. Ini sangat aneh dan hal baru bagiku. Aku penasaran dengan kejadian ini, apakah ini hanya kamarku, atau kamar lain juga sama halnya? Tanyaku dalam hati. Langsung aku mencoba untuk menyusuri satu persatu dari kamar yang ada di PPHM ini. Mulai dari lantai satu sampai pada lantai tiga.
Wah, ini justru lebih aneh. Setiap kamar yang kubuka pintunya, selalu kutemui di setiap pojok kamar itu seorang dan dua orang yang sedang menangis dan meneteskan air mata. Yah, aku jadi malu sendiri, meski mereka yang kutemui sedang dalam kondisi menangispun sebenarnya malu. Begitulah, mungkin mereka sedang meratapi nasibnya yang jauh dengan kedua orang tua dan saudaranya. Mereka mungkin sedang membayangkan bagaimana bau tangan ibu dan ayahnya, bagaimana rasanya kebahagiaan di hari Raya Idul Fitri bersama keluarga dan saudara-saudara mereka. Sudah hal manusiawi bagiku.
Sedangkan aku sendiri meneteskan air mata bukan pada saat-saat seperti ini, akan tetapi disaat aku sedang beramai-ramai bersama warga dan yang lainnya berjabatan tangan seusai menunaikan shalat Idul Fitri. Rasanya habis disaat itu kepedihan air mataku menetes. Syukur deh.
Setelah selesai seluruh aktifitasku yang mungkin tidak terlalu penting itu, yah cuma keliling-keliling kamar seperti tadi. Akan tetapi, banyak hikmah yang kudapat dari kejadia itu. Seperti betapa pentingnya keluarga dan saudara disaat kita jauh dari mereka. Setelah itu aku dan kang Ron langsung pergi menuju kota Blitar, kota dimana mantan Presiden Indonesia dimakamkan. Wah, saya jadi tahu kota-kota terkenal yang dulu pernah ada di pelajaran sejarahku. Jadi tak terbayangkan betapa indahnya. Hal ini sama sekali tak pernah terlintas dibenakku sebelumnya.
Yah, meski tak ada yang menarik dan indah yang kudapatkan di kota Blitar ini, akan tetapi aku menemukan banyak saudara. Saudara kang Ron, berarti juga saudaraku. Begitulah. Sayangnya, kami berdua hanya menginap satu malam di Blitar. Karena etah mengapa kang Ron tiba-tiba mengajakku untuk kembali ke pesantren. Kang Ron sih bilang kalau aku akan diajak keliling di tempat kang Ron kerja. Mungkin ditempat bos dan tetangga-tetangganya. Karena kang Ron memang sangat pandai bersosialisasi dengan orang-orang desa. Itu yang membuatku sangat salut dan bangga dengan beliau.
Akhirnya sampailah kami bedua di Penjara Suci kami, PPHM. Namun, setelah kami baru saja membaringkan badan untuk sejenak beristirahat, jam dinding menunjukkan pukul 10.00 wib. Suara pintu kamarku diketok oleh seseorang, maka aku dan kang Ron penasaran. Di waktu sepi seperti ini, siapa kira-kira yang datang, dan nampaknya orang asing. Karena kalau santri, tidak mungkin memakai main ketuk pintu, tapi langsung dibuka saja. Itu sudah tradisi di PPHM. Akhirnya kupaksakan tubuh ini untuk berdiri beranjak membuka pintu. “Oh, woten nopo pak?” , ternyata Pak Baidhowi, salah satu ustadz sekaligus hafidz di PPHM. “Jenengan kang Khoirom?” , sambung beliau menanyakan namaku. “Injeh Pak. Wonten nopo jeh?” , jawabku. “Wonten engkang madosi jenengan niko teng kamar inggel (kamar hafidz)” . Begitulah dialog pendek yang terjadi antara aku dan pak Baidhowi.
Meski kujawab siapa yang mencariku, beliau tetap tidak memberi penjelasan. Akhirnya, yasudahlah, aku ikuti saran kang Ron untuk menemui orang yang katanya mencariku. Setelah langkah kakiku mendekati tangga naik akan menuju kamar para hafidz PPHM, dadaku bergetar dan kakiku mulai ragu, hatikupun selalu bertanya, siapa yang mencariku? Soalnya, tidak pernah ada orang yang mencariku selama ini. Panggilan di sepeker yang biasa digunakan untuk memanggil santri yang dapat weselan saja tidak pernah menyebut namaku. Tapi kali ini mengapa ada, siapakah dia?
Tapi ok lah, apapun yang terjadi dan siapapun dia aku harus tetap menemui orang ini. Aku tidak mau kalah dengan kang Ron yang berani menghadapi segala apapun yag akan terjadi. Sampai sudah aku di depan pintu kamar Pak Baidhowi, “Assalaamu’alaikum...”, salam yang kutujukan buat orang-orang yang ada di dalam kamar itu. Mataku mencoba untuk memutarkan bola mata, meski sambil sedikit melirik untuk melihat siapa saja yang ada di ruangan kamar itu. Arah tujuan mataku yang pertama belum sempat kulihat dengan jelas siapa dia, akan tetapi aku merasa bahwa wajah yang pertama kali kulihat tidak asing lagi. Akhirya, setelah aku masuk dan duduk di samping pintu kamar pak Baidhowi, baru aku menulang kembali tatapan mataku kea rah orang yang kurasa tidak asing lagi.
Ternyata benar, orang itu bukan lagi tidak asing bagiku, akan tetapi orang itu adalah ayahku, ayak kandungku, ayah yang mendidikku dari kecil hingga aku dewasa bersama sang ibu. Dan juga sekaligus orang yang pernah kubenci dalam hidupku, karena kerasnya dalam mendidikku. Orang yang pernah akan ku bacok sebelum aku pergi ke Pesantren. Akan tetapi, entah mengapa tiba-tiba hatiku tergetar untuk menjabat tangan sang ayah dan mencium tangan beliau. Yang lebih aneh menurutku, adalah ketika aku menyapa ayah tidak lagi dengan bahasa jawa yang kasar. Misanya “piye kabare, kapan teko, karo sopo?”, tidak. Akan tetapi tanpa sadar dan tak terasa aku menyapa ayah dengan bahawa jawa yang halus (room injel), yah, meski tidak sesempurna bahasa yang dimainkan para dalang, akan tetapi masih itulah yang kumampu.
“Pripon kabare pak? Engkang teggrio pripon, sehat? Jam pinten dugi ngriki, kalian sinten”, itulah beberapa pertanyaan pertama yang meluncur dari mulutku buat sang ayah ketika bersamaan dengan menjabat tangan beliau. Tak terasa dan tak sadar, kami berdua sama-sama meneteskan air mata. Ayah menangis mungkin karena meliahat saya sadar, meski belum sempurna. Sedangkan saya sendiri menangis karena melihat ayah yang masih peduli dengan saya dan tidak lagi marah denganku. Komunikasi antara aku dan ayah yang sama sekali tidak pernah terbangun selama aku pergi meninggalkan Desaku, baru kini mulai terbangun dengan baik lagi.
Cukup. Akhirnya aku dan ayah berpamitan kepada pak Baidhowi untuk pergi menuju kamarku. Dan bertemulah ayah dengan kang Ron yang masih berbaring sambil membaa buku yang berjudul, Tasawuf. Yah, kang Ron sempat kaget juga sih melihat ayah yang datang ke PPHM. Ngobrol ngalor-ngidolpun terjadi, sampai akhirnya terdengarlah adzan dhuhur sebagai penutup sementara obrolan kami.
Dalam obrolan yang sangat panjang membuat ayah tahu kalau aku sekarang mondok, sekolah SMK dan sambil kerja. Hal itulah mungkin yang membuat ayah tidak tega melihatku untuk langkah selanjutnya. Akhirnya, ayah bilang padaku, “le, saiki sampean gak usah kerjo yo. Yo mondok karo sekolah tok wae. Mengko bapak kirimi ko ngomah”. Itulah kata ayah yang dilantunkan dengan penuh bersahaja, penuh melas. Hampir aku menangis lagi mendengar ayah berbicara, namun harus kubendung, karena aku tidak ingin terlihat sangat cengeng sebagai seorang lelaki. Apalagi anak mantan preman tahun 60-an. Hem hem hem...!
Aku jadi sangat kasihan melihat ayah ketika berada di Pondok Pesantrenku ini. Ayah belum menjalankan shalat lima waktu sebelumya, shalat jum’at yang seminggu sekali saja belum pernah. Hanya shalat Idul Fitri yang setahun sekali. Jadi, ketika melihat ayah agak kebingungan setiap mengikuti tradisi dan budaya PPHM, dan kewajiban dalam Islam, aku jadi kasihan.
14. Ayah Berubah Total
Saat Setelah Ayah Menyambangku Dihari Raya Idul Fitri...
Ternyata kerasnya batu tetap akan berlubang juga, dengan lembutnya air yang menetes padanya. Begitulah aku menggambarkan ayahku ini. Orang yang sebelumnya memiliki watak sangat keras, bagiku benar-benar sangat keras. Mungkin sudah tak terhitung berapa perabotan rumah dan alat-alat dapur ibu yang telah hancur dilahapnya, sebagi pelampiasan atas kemarahannya kalau sedang marahan dengan ibu. Bukan hanya barang-barang dan perabotan rumah tangga, akan tetapi tangannya pun akan melayang pada bagian tubuh orang yang dimarahinya. Aku dan Ibu yang selalu menjadi sasaran amarah ayah, karena adik-adikku masih terlalu kecil.
Ternyata hanya dengan sesuatu yang nampaknya sangat sepele, akan tetapi hal itu sebenarnya mengandung hikmah besar bagi ayahku. Yah, mungkin bisa dikatakan mulanya ayah malu dengan anaknya yang lebih pintar tentang keagamaan. Siapa lagi kalau bukan saya. Disampig itu aktifitas dan fenomena yang ayah lihat selama lima hari di PPHM memang benar-benar mampu membuka hati ayah untu bekal refleksi. Ya maaf, karena aku sendiri awalnya merasakan hal demikian.
Lantunan anak-anak santri yang setiap malam membaca Al-Qur’an, sepertiga malam selalu melihat santri yang sedang shalatul lail, pagi juga melihat santri yang sedang menjalankan shalat dhuha, fenomena-fenomena itulah yang mungkin mampu membuat ayah sadar. Begitu juga dulu dengan saya. Ayah kini shalat lima waktu, shalat Jum’at, apalagi shalat Idul Fitri.
Tak hanya dari segi itu ayah berubah. Ayahpun telah bersedia membiayai sekolah formal dan pondokku, sehingga aku diminta oleh ayah untuk tidak lagi bekerja. Cukup berserius dalam menuntut ilmu di sekolah formal, terutama di Pondok Pesantrenku yang harus diperdalam. Itulah pesan ayah yang tak terlupakan olehku. Mondok sambil sekolah, bukan sekolah sambil mondok.
Ketika ayah pulangpun, ayah tidak lagi sering marah-marah di rumah, tidak seperti dulu. Ketika marahpun tidak harus dengan main tangan lagi. Aku sangat bangga mendengar kabar itu dari surat-surat yang kukirimkan ke rumah yang kemudian dibalas oleh ibu, meski yang menulis adalah kakak keponakanku. Maklum, karena ibu tidak bisa menulis dengan baik. Setiap aku membaca balasan surat dari ibu, sering air mata ini menetes dengan tak sadarkan diri. Yah, kini surat mulai sering kukirim ke rumah, meski hanya untuk menanyakan kabar keluarga, itu rasanya bagai HP yang sekarang sudah merebah. Aku jadi merasa sangat dekat dengan keluargaku, meski posisi kami berjauhan, akan tetapi keberadaan mereka bagai ada di hatiku.
Kiriman ayah tak hanya berlanjut sampai aku lulus sekolah SMK, akan tetapi sampai kini, sampai aku sekarang duduk di pendidikan formal yang kucita-citakan mulai dari kelas satu SMK. Yaitu sebagai mahasiswa. Sama sekali aku tidak menyangka, bahwa impian yang kujaga selama tiga tahun akan dapat kuraih. Tuhan, sungguh aku sangat bangga dan berterimakasih pada-Mu. Semoga cita-citaku untuk mengabdi pada rakyat dapat tercapai. Bukan impian yang tinggi yang kuharap, hanya untuk membantu supaya desaku berubah dan terlepas dari belenggu yang kata mereka “Negara ini tidak adil”. Desaku yang masih hidup tanpa lampu listrik, jalan-jalan yang masih ber-aspalkan tanah liat dan berlumpur, perekonomian yang masih di bawah garis kecukupan. Hanya itu. Semoga aku sukses mewujudkan harapanku bersama rakyat.
Hanya dengan berbekal pendidikanku yang selama ini kugeluti di dunia pesantren, sekolah SMK yang kata orang gak nyambung denganku, perkuliahan yang kata banyak orang juga prodiku ini prodi buangan, yaitu kuliah di Fakultas Dakwah, Jurusan Manajemen Dakwa, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ada apa sebenarnya denganku, sehingga semua pendidikan Formal yang kutempuh selalu mendapat kritikan dari setiap orang mendengar sejarah perjalanan pendidikanku? Atau mereka yang bagaimana, sehingga aku harus melakukan bagaimana agar mereka faham? Ini adalah PR bagi pembaca dan bagi saya.